Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Dekati Angka 5,1%
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.86)   |   COMPOSITE 5112.19 (36.4)   |   DBX 973.986 (4.58)   |   I-GRADE 139.714 (1.66)   |   IDX30 428.304 (3.33)   |   IDX80 113.764 (0.8)   |   IDXBUMN20 291.927 (4.3)   |   IDXG30 119.182 (0.36)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.94)   |   IDXQ30 124.656 (1.28)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.81)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (0.68)   |   IDXV30 107.478 (0.8)   |   INFOBANK15 831.648 (10.85)   |   Investor33 374.125 (2.66)   |   ISSI 151.171 (0.41)   |   JII 550.867 (0.41)   |   JII70 188.056 (0.33)   |   KOMPAS100 1022.34 (5.97)   |   LQ45 789.815 (5.74)   |   MBX 1412.7 (10.57)   |   MNC36 280.331 (1.85)   |   PEFINDO25 282.464 (4.5)   |   SMInfra18 241.575 (1.18)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.9)   |  

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Dekati Angka 5,1%

Selasa, 30 Juli 2019 | 19:01 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan lebih mendekati angka 5,1 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,17 persen. Sebelumnya pada November 2018 lalu, CORE Indonesia telah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 akan berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen.

"Setelah mencermati perkembangan sepanjang paruh pertama 2019, CORE Indonesia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2019 ini maksimum 5,1 persen, dan akan lebih mendekati angka 5,1 persen sampai akhir 2019," kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, di acara CORE Midyear Review, di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Faisal juga menyoroti tekanan global yang ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi perekonomian dunia hingga akhir 2019 diperkirakan akan tumbuh lebih lambat dibanding 2018. Sejumlah badan internasional termasuk IMF juga melakukan koreksi tajam terhadap pertumbuhan ekonomi dunia di 2019 ini.

"Pada Oktober tahun lalu, IMF sebenarnya masih optimistis ekonomi dunia akan tumbuh lebih cepat dari 3,6 persen pada 2018 menjadi 3,94 persen di tahun ini. Tetapi pada April 2019, IMF mengoreksi pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 3,33 persen. Perlambatan ini terutama dipicu oleh melambatnya pertumbuhan tiga ekonomi terbesar, yakni Amerika Serikat (AS), Tiongkok dan Uni Eropa,” ujar Faisal.

Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan PDB, Faisal menambahkan, volume perdagangan dunia diperkirakan juga akan tumbuh lebih lamban di tahun ini. Melambannya perdagangan dunia ini tidak hanya dipicu oleh perlambatan ekspor dan impor dua negara yang sedang terlibat perang dagang, yakni AS dan Tiongkok, tetapi juga negara-negara lain termasuk Jepang.

Dikatakan Faisal, melemahnya permintaan dunia juga berakibat pada penurunan harga komoditas, termasuk minyak sawit dan batu bara yang merupakan andalan ekspor Indonesia. Selain itu, lemahnya permintaan global juga berdampak pada harga minyak dunia yang secara rata-rata dari Januari hingga Juni 2019 masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Perang dagang antara AS dan Tiongkok sebetulnya juga membuka peluang bagi sejumlah negara untuk meningkatkan penetrasi ekspor ke kedua negara tersebut. Sayangnya, Indonesia belum mampu memanfaatkan peluang ekspor tersebut dengan baik,” kata Faisal.

Sepanjang paruh pertama 2019, ekspor Indonesia ke AS maupun Tiongkok masih mengalami penurunan. Sebaliknya, sejumlah negara seperti Vietnam justru menikmati peningkatan ekspor secara signifikan ke pasar AS. Vietnam, menurutnya, mampu mengambil sebagian dari pangsa pasar ekspor Tiongkok di AS yang mengalami penurunan tajam akibat perang dagang.

Dari faktor domestik, Faisal melihat pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini akan lebih banyak bergantung pada stabilitas daya beli dan konsumsi masyarakat dan dorongan belanja pemerintah. Pasalnya, perlambatan ekonomi dunia akan Iebih banyak menekan dua sumber pertumbuhan lainnya, yakni investasi dan ekspor.

Dari sisi perdagangan internasional, perlambatan permintaan global juga akan menekan pertumbuhan ekspor maupun impor di tahun ini. Secara year on year, ekspor terkontraksi -8,8 persen pada semester pertama 2019, padahal pada semester pertama 2018 mampu tumbuh hingga 10 persen. Impor juga mengalami kontraksi -7,6 persen pada semester awal 2019, jauh lebih rendah dibanding semester yang sama tahun 2018 yang tumbuh hingga 23 persen.

"Dengan kecenderungan tersebut, defisit neraca perdagangan masih akan menahan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia," tandas Faisal.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Link Net Catat Penambahan Pelanggan Tertinggi Sejak 2017

Link Net akan mengadakan RUPSLB pada 29 Agustus untuk meminta persetujuan mengurangi modal.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Ada "Negeri Sakura" di Transpark Mall Bintaro

Di Transpark Mall Anda akan merasakan pesona alam dan budaya Jepang dari masa ke masa yang diwujudkan dalam interior mal.

EKONOMI | 28 Juli 2019

Tempo Scan Pacific Kuasai Pasar Produk Perawatan Tubuh

Marina menjadi salah satu kontributor terbesar penjualan Tempo Scan pacific.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Rupiah Ditutup Tergerus saat Mata Uang Asia Menguat

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.104- Rp 13.964 per dolar AS.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Semester I-2019, Pelangi Indah Canindo Raih Penjualan Rp 407 Miliar

Perusahaan juga berencana untuk melakukan penambahan pabrik baru di daerah Marunda Jakarta Utara.

EKONOMI | 30 Juli 2019

IHSG Ditutup Meroket 1,23%, Ini Daftar Top 10 Market Cap

Sebanyak 292 saham menguat, 170 saham melemah, dan 150 saham stagnan.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Kemhub Gandeng IATA Tingkatkan Pelayanan Navigasi Penerbangan

Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan, kelancaran, dan efisiensi pelayanan navigasi penerbangan.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Panasonic Relokasi Pabrik AC 2,5 PK dari Malaysia ke RI

Akhir tahun akan ekspor AC ke Nigeria.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Kejar Target Inklusi Keuangan 75%, OJK Sasar Mahasiswa

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama kementerian/lembaga terkait dan lembaga jasa keuangan menggelar kegiatan Aksi Mahasiswa dan Pemuda Indonesia Menabung.

EKONOMI | 30 Juli 2019

Askrindo dan Pegadaian Jalin Sinergi BUMN

Agen penjualan Askrindo dan Pengadaian akan berfungsi sebagai resiprokal untuk memasarkan produk.

EKONOMI | 30 Juli 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS