Perkuat Daya Saing, Industri Harus Berani Lakukan Terobosan
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.76)   |   COMPOSITE 4917.96 (-77.25)   |   DBX 928.196 (-9.36)   |   I-GRADE 130.286 (-2.47)   |   IDX30 412.166 (-7.81)   |   IDX80 107.727 (-2.12)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.52)   |   IDXG30 115.773 (-2.54)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.14)   |   IDXQ30 120.761 (-2.28)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.04)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-5.64)   |   IDXV30 101.893 (-1.72)   |   INFOBANK15 773.605 (-10.83)   |   Investor33 359.92 (-6.33)   |   ISSI 144.524 (-2.78)   |   JII 524.265 (-12.36)   |   JII70 177.451 (-4.14)   |   KOMPAS100 962.885 (-18.61)   |   LQ45 754.177 (-13.97)   |   MBX 1360.94 (-22.51)   |   MNC36 269.191 (-4.8)   |   PEFINDO25 256.961 (-3.11)   |   SMInfra18 232.003 (-3.38)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.01)   |  

Perkuat Daya Saing, Industri Harus Berani Lakukan Terobosan

Selasa, 20 Agustus 2019 | 19:59 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memprioritaskan penguatan sektor industri manufaktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih positif. Fokus pada perbaikan fundamental ketimbang meributkan harga bahan baku dan energi. Selama dua tahun terakhir, kontribusi sektor industri manufakur terhadap PDB nasional terus menurun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut di tahun 2018, sektor ini hanya berkontribusi 19,82 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 14, 837 triliun. Sementara pada tahun sebelumnya industri manufaktur menyumbang 21,22 persen dari PDB sebesar Rp 13,588 triliun.

"Kontribusi yang melambat, secara persentase, tapi harus hati-hati melihat angka itu. Saya lebih setuju melihatnya dari sisi pertumbuhan, bukan kontribusi. Kalau dari pertumbuhan ada perlambatan. Naik tapi melambat. Ini yang perlu diwaspadai,” ujar Ekonom Universitas Indonesia (UI), Lana Soelistianingsih, di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Lana yang juga Ekonom PT Samuel Asset Management sepakat, perkembangan saat ini teknologi menjadi sangat berperan. Tidak terkecuali untuk sektor industri dan manufaktur. "Jadi kalau mau inovasi ya teknologi walaupun pasti ada disrupsi di situ. Memang akan lebih efisien menggunakan teknologi dan jadi satu-satunya jalan," terang Lana.

Lebih dari itu, Lana menilai, solusi untuk manufaktur bukan dari pelaku industri itu sendiri. Memang, menurutnya, saat ini terdapat banyak hal yang menjadi daftar keluhan. "Kalau lihat list keluhan yang ada di Kadin itu panjang sekali,” ucapnya.

Tidak terkecuali aspek non teknis seperti pungli dan kemacetan. "Salah satu faktor yang membuat biaya produksi mahal, aspek non teknis, pungli, macet, kadang ada bajing loncat. Itu membuat biaya-biaya tadi oleh perusahaan dimasukkan biaya produksi," ungkap Lana.

Data BPS juga mencatat bahwa praktik pungli bisa memakan biaya sampai 10 persen dari total biaya produksi. Belum lagi ditambah biaya yang muncul akibat kemacetan. "Biaya pungli sampai 10 persen, itu besar sekali,” tegasnya.

Harga energi seperti harga gas juga termasuk yang dikeluhkan. Berkaitan dengan itu, Lana menegaskan, hal tersebut juga bukan menjadi faktor fundamental yang perlu diperjuangkan saat ini. "Bukan itu problem-nya. Harga gas itu nomor sekian lah ya. Yang penting fokuskan dulu pada perbaikan industri," ujar Lana.

Untuk memperkuat sektor industri, Indonesia perlu meningkatkan rangking Ease of Doing Business (EoDB). Dalam riset yang dirilis Bank Dunia (World Bank), rangking kemudahan bisnis Indonesia saat ini level 73. Jauh lebih baik dibandingkan level 123 pada 2014 saat Jokowi kali pertama memimpin. Namun, level tersebut masih jauh di bawah Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan, kalah dibandingkan Vietnam yang berada di level 60.

"Dari 10 parameter penilaian, kita hanya unggul dua parameter dari Vietnam," terang Lana.

Lana menegaskan, untuk memerkuat sektor manufaktur, sebaiknya kemudahan investasi dan bisnis di Indonesia perlu ditingkatkan. "Kemudian, fokus kepada empat industri prioritas seperti ditetapkan Kementerian Perindustrian,” tegasnya.

Dengan begitu manufaktur akan bisa lebih baik di tengah pesatnya perkembangan sektor jasa pada saat ini. ”Sektor jasa biarkan saja tumbuh secara alami karena trennya begitu. Pemerintah fokus saja perbaiki manufaktur," saran Lana.

Beberapa sektor industri saat ini merupakan pengguna utama gas bumi. Dengan tingkat kebutuhan yang berbeda, struktur biaya produksinya juga berlainan. Misalnya pupuk memiliki kebutuhan bahan baku gas mencapai 70 persen, petrokimia, baja dan logam, pulp dan kertas (8 persen hingga 32 persen), keramik (20 persen hingga 24 persen) kaca (20 persen hingga 25 persen) dan makanan minuman (15 persen hingga 25 persen).

Dengan harga gas yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, kinerja sektor industri pengguna gas bumi juga solid. Contohnya, pelaku usaha keramik. Meski sering mengeluh harga gas kemahalan, namun banyak perusahaan yang justru mendulang untung besar.

Contohnya, PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk yang pendapatannya naik hingga 47,37 persen menjadi Rp 84 miliar di kuartal I 2019. Sementara, laba bersihnya tumbuh 50 persen menjadi Rp6 miliar.

Direktur Cahayaputra Asa Keramik, Juli Berliana, mengatakan, kinerja positif sepanjang kuartal I/2019 itu didorong pengenaan bea masuk tindakan pengamanan terhadap impor ubin kemarik mulai Oktober 2018.

PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) jug mampu meraih pendapatan Rp 561,22 miliar, naik 13,44 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, Rp 494,71 miliar. Laba bersih ARNA juga melesat 41,20 persen menjadi Rp55,69 miliar. Pada periode sama 2018, laba bersih ARNA Rp39,86 miliar. Program lean manufacturer Arwana mampu menurunkan biaya biaya produksi.

Selama beberapa tahun ini, pengusaha keramik seringkali mengeluhkan harga gas yang tinggi membuat produknya kalah bersaing. Salah satunya dengan produk keramik asal Tiongkok. Padahal, harga gas ke industri di Indonesia rata-rata sebesar US$ 8,8 per mmbtu dan di Tiongkok USS 15,0 per mmbtu.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Sinar Mas Agribusiness & Food Targetkan 100% Kemamputelusuran Produk di 2020

Pada akhir 2018, sudah 62 persen rantai pasok kelapa sawit perusahaan telah sepenuhnya dapat ditelusuri hingga ke tempat asal buah sawit.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Kemenperin dan Industri Cari Cara Kerek Harga Sawit

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama pelaku industri berupaya mencari terobosan yang strategis untuk mendongkrak harga minyak sawit mentah.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

BNI Syariah Targetkan Rp 50 M Lewat Islamic Tourism Expo

Pameran ini digelar untuk menjawab antusiasme masyarakat Indonesia beribadah haji dan umroh.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Kemhub Tunda Sanksi Pengaktifan AIS Kapal

Seluruh kapal berbendera Indonesia serta kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia wajib untuk memasang dan mengaktifkan AIS.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Kemperin Revitalisasi IKM Pasca-Bencana di Sulteng

Sektor industri diyakini akan semakin menggeliat karena komitmen pemerintah yang terus menciptakan iklim usaha yang kondusif.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Pemerintah Bentuk Tim Divestasi Vale

Saham yang dilepas Vale sebesar 20 persen dengan jatuh tempo pada Oktober nanti.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

RedDoorz Raih Pendanaan US$ 70 Juta

Sebagian besar dari hasil pendanaan terbaru ini akan digunakan untuk membangun pusat teknologi di Vietnam.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Dirjen Pajak: Target Rp 1.861 Triliun Tidak Mustahil

"Karena tahun 2018 pernah juga penerimaan perpajakan itu tumbuh sekitar 13 persenan."

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Ini Pergerakan Top 10 Market Cap Hari Ini

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) memimpin kenaikan terbesar dengan mencatat gain 4,41 persen.

EKONOMI | 20 Agustus 2019

Narada Aset Management Dukung Literasi Keuangan Kader PKK

Pengetahuan yang baik tentang keuangan menjadi kunci peningkatan kesejahteraan masyarakat.

EKONOMI | 20 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS