Hary Suwanda: Virus Corona Mewabah, Investor Jangan Panik
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Hary Suwanda: Virus Corona Mewabah, Investor Jangan Panik

Kamis, 12 Maret 2020 | 21:26 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Kondisi terkini wabah virus corona mengakibatkan pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia memberlakukan stimulus fiskal maupun maupun moneter.

Baca: IHSG Terjun Bebas Terendah Sejak 2016, Ini Pemicunya

Pakar investasi pasar modal, Hary Suwanda, mengingatkan agar investor tetap tenang dan tidak panik dengan investasinya. Sebaliknya, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor.

"Memang akhir-akhir ini banyak orang yang khawatir akan investasinya, apalagi di bursa saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah menurun 17,9 persen dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan. Namun, kondisi ini bisa dikatakan akan berubah seriring upaya negara-negara melakukan berbagai program pencegahan penyebaran virus corona," kata Hary yang juga merupakan master trainer Akela Trading System dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2020).

Hary mengungkapkan, beberapa kebijakan fiskal ekstrem memang diambil oleh para pemimpin dunia saat virus corona merebak. Sebagai contoh, bank sentral Amerika (The Fed) mengumumkan pemangkasan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 50 bps di luar jadwal resmi FOMC (federal open market committee).

Sementara, Presiden AS, Donald Trump, mengumkan pemangkasan pajak karyawan (payroll taxes) menjadi 0 persen hingga akhir tahun 2020. Langkah yang sama juga diambil oleh Pemerintah RI, yakni penghapusan PPh 21 untuk sementara waktu.

Baca: Imbas Corona, Pemesanan Tiket ke Luar Negeri Anjlok 70%

Pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps di luar jadwal resmi FOMC hanya terjadi dalam situasi mendesak. Menjelang krisis keuangan subprime mortgage di bulan Agustus 2007, Ben Bernanke, Fed Chairman saat itu juga melakukan hal yang sama. Pemangkasan payroll tax hingga 0 persen baru terjadi di era pemerintahan Trump ini.

"Kedua stimulus ini, baik moneter maupun fiskal adalah stimulus besar-besaran yang dilakukan AS. Keduanya bertujuan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi akibat wabah virus corona. Selain Amerika, Bank of England (Bank Sentral Inggris) juga mengikuti langkah The Fed, dan memangkas suku Bunga sebesar 50 bps dari 0.75 jadi 0.25," jelas Hary.

Hary menuturkan, kondisi ini memaksa pemimpin dunia untuk mengucurkan stimulus baik moneter (pangkas suku bunga) maupun fiskal (pangkas pajak) hingga tingkat ekstrem. Namun demikian, pasar belum merespon stimulus tersebut karena saat ini perhatian dunia bukan pada likuiditas, melainkan solusi dari wabah corona, yaitu vaksin.

"Kondisi ini akan menciptakan peluang yang sangat langka, yakni harga saham yang sangat under value, dimana pada saat yang bersamaan ada likuiditas yang sangat berlimpah," tegasnya.

Baca: Bursa Global Terbakar, IHSG Diprediksi Tergerus

Jika dibandingkan, meski dalam situasi kondisi berbeda, pada krisis mortgage di tahun 2008, IHSG mengalami penurunan yang jauh lebih dahsyat. IHSG terkoreksi hingga 61 persen dari level 2.830 ke level 1.089. Namun, dalam waktu kurang dari 3 tahun seluruh penurunan itu sudah kembali.

"Selepas tahun 2010, IHSG meroket bahkan ke level di atas 6.000. Jadi kondisi penurunan ini hanya sementara, pasar akan kembali membaik setelah badai finansial berlalu,” kata Hary.

Mengutip Warren buffet, Harry menyarankan agar para investor jangka panjang tetap tenang dan tidak panik sehingga bisa melihat peluang investasi. Sementara bagi trader jangka pendek, agar tetap disiplin dengan rencana trading dan sabar menunggu sembari melihat peluang di luar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bisa dilirik. "Bursa saham Amerika memungkinkan short selling, sehingga investor justru bisa memperoleh keuntungan ketika saham turun," kata dia.

Selain itu, Harry menambahkan, peningkatan likuiditas global, pemangkasan suku bunga dari bank sentral dunia, adalah faktor yang sangat kondusif bagi investasi emas. "Jika selama ini bursa saham Amerika terasa asing maka sudah saatnya investor mulai belajar menjadi investor global," pungkasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Dongkrak Utilitas, Kemperin Pacu Investasi Industri Pelumas

Kemperin dorong investasi di industri pelumas.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Hoffman Agency Tunjuk Thomas Franky sebagai GM Indonesia

Thomas Franky memiliki tugas memperkuat jejaring agensi di Asia Tenggara dan layanan komunikasi yang ditawarkan.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Indonesia-Belanda Kerja Sama Perkuat Koperasi Pertanian

Indonesia dan Belanda sepakat kerja sama koperasi.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Kempupera Tawarkan Investasi Lima Proyek Pengembangan Jalan Rp 57,18 Triliun kepada Swasta

Kempupera tawarkan lima proyek infrastruktur kepada swasta.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Peluang Pasar Bisnis Digital di Indonesia Sangat Besar

Digitalisasi adalah keniscayaan dan perekonomian Indonesia tergolong berpotensi besar menyerap arus digitalisasi tersebut.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Palapa Ring Dinilai Belum Bisa Diandalkan

Model bisnis yang dikembangkan BAKTI dalam menggelar jaringan di wilayah USO dinilai terkesan melenceng dari tujuan.

EKONOMI | 12 Maret 2020

OJK Paparkan Tiga Pemicu IHSG Kena Trading Halt

Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan IHSG sudah anjlok hingga 21 persen year to date atau 24 persen year on year.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Airlangga: Insentif Pajak Karyawan Khusus untuk Industri Manufaktur

Untuk tahap pertama, stimulus fiskal khusus diberikan kepada industri manufaktur.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Wamendag Dorong Pelaku UMKM Kuasai Pasar Asia Tenggara

Ekspor produk UMKM menjadi sorotan utama pemerintah untuk dikembangkan.

EKONOMI | 12 Maret 2020

Pekerja Sektor Industri Kreatif Butuh Aturan Ketenagakerjaan yang Lebih Luwes

Anak muda sekarang tidak ingin bekerja di satu tempat tertentu dalam waktu lama serta pekerjaan yang sama atau dengan orang-orang yang sama.

EKONOMI | 12 Maret 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS