Indonesia Berpeluang Tampung Relokasi Investasi dari Tiongkok
INDEX

BISNIS-27 491.129 (0)   |   COMPOSITE 5612.42 (0)   |   DBX 1062.36 (0)   |   I-GRADE 168.858 (-6.97)   |   IDX30 478.794 (0)   |   IDX80 131.904 (-5.19)   |   IDXBUMN20 373.781 (-18.36)   |   IDXG30 136.463 (-5.44)   |   IDXHIDIV20 450.262 (-18.14)   |   IDXQ30 146.101 (-6.28)   |   IDXSMC-COM 248.411 (-4.72)   |   IDXSMC-LIQ 303.864 (-9.61)   |   IDXV30 127.988 (-5.5)   |   INFOBANK15 946.8 (0)   |   Investor33 429.105 (-16.64)   |   ISSI 165.112 (0)   |   JII 597.802 (0)   |   JII70 213.196 (-7.01)   |   KOMPAS100 1134.88 (0)   |   LQ45 920.112 (-37.05)   |   MBX 1552.46 (0)   |   MNC36 321.125 (-12.61)   |   PEFINDO25 308.232 (0)   |   SMInfra18 281.756 (0)   |   SRI-KEHATI 352.482 (0)   |  

Indonesia Berpeluang Tampung Relokasi Investasi dari Tiongkok

Kamis, 28 Mei 2020 | 19:21 WIB
Oleh : Lona Olavia / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 telah mengganggu rantai pasokan global yang dalam dua dekade terakhir berpusat di Tiongkok. Hal ini menyebabkan negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS) berencana memutus ketergantungan rantai pasokan global industrinya dari Tiongkok.

Fenomena ini merupakan suatu kesempatan emas bagi Indonesia yang membutuhkan investasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan menggaet investor untuk menanamkan modalnya di tanah air.

Baca Juga: Rencana Relokasi 59 Pabrik Tiongkok ke Jateng Disambut Baik

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, Indonesia sebetulnya memiliki peluang untuk menarik investasi yang akan keluar dari Tiongkok ke tanah air.

“Salah satu daya tarik investasi Indonesia adalah pasar yang besar. Investor luar negeri juga menganggap Indonesia sebagai negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang besar,” ujar Tauhid di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Meski begitu, untuk menjadi tujuan relokasi dari Tiongkok, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain seperti India, Thailand, Vietnam dan Filipina. Tahun lalu, setidaknya sebanyak 33 perusahaan hengkang dan merelokasi pabriknya dari Tiongkok. Namun, alih-alih merelokasi ke Indonesia, perusahaan-perusahaan tersebut memindahkan basis produksinya ke Vietnam dan Thailand, salah satunya karena persoalan harga lahan.

Baca Juga: RI Bersaing dengan India Bidik Investor yang Relokasi dari Tiongkok

Menurut Tauhid, selain harga lahan ada beberapa faktor yang menjadi kekhawatiran investor asing saat ingin berinvestasi di Indonesia. Pertama, kenaikan upah yang terlalu tinggi. Setiap tahun kenaikan upah tenaga kerja di Indonesia mencapai 7 persen hingga 8 persen, sedangkan di Vietnam maupun India hanya 4 persen hingga 5 persen.

Kedua, infrastruktur untuk jaringan logistik yang masih kurang. Ketiga, investor asing enggan melirik Indonesia yang terkenal dengan birokrasi yang berlapis, salah satunya urusan perpajakan. "Investor Jepang, misalnya, masih menganggap prosedur perpajakan di Indonesia cukup rumit,” kata Tauhid.



Sejumlah perubahan telah digagas Pemerintah dengan memberikan wewenang yang lebih luas kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai upaya untuk memangkas jalur birokrasi. Namun, langkah reformasi struktural serupa belum ditemukan merata di lapisan birokrasi lain, sehingga investor dari luar negeri masih menemui hambatan di lapangan.

Baca Juga: Upah Tinggi dan Etos Kerja, Dua Masalah Utama Industri

Karena itu, pemerintah, imbaunya harus bisa menjawab kekhawatiran investor tersebut untuk menarik peluang investasi asing ini dengan cara memberikan kepastian hukum bagi pengusaha yaitu meningkatkan produktivitas tenaga kerja lokal, mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, memberikan fasilitas yang memudahkan investasi dan menawarkan insentif terkait perpajakan yang menarik, serta mengakselerasi reformasi birokrasi dan regulasi terkait penanaman modal.

Selain itu, demi mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi destinasi investasi, pemerintah dinilai perlu terus meningkatkan kebijakan pro investasi untuk mendorong masuknya permodalan asing yang diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, khususnya pascapandemi Covid-19.

Tauhid menambahkan, relokasi investasi dari Tiongkok, yang sebagian besar di sektor manufaktur dipercaya dapat memperbaiki tren investasi yang selama ini didominasi sektor tersier dan sektor jasa. 
Selain itu, insentif yang tepat untuk industri manufaktur juga perlu dipertimbangkan, tidak sekedar tax holiday.

Baca Juga: Panasonic Relokasi Pabrik AC dari Malaysia ke RI

"Selayaknya pemerintah bergegas mengambil langkah untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, sebelum Indonesia kehilangan kesempatan lagi karena investor kembali memilih Vietnam dan Thailand,” pungkas Tauhid.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Alami Surplus Januari-April 2020, Ekspor Industri Pengolahan Naik 7%

Ekspor hasil industri pengolahan membaik.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Bendungan Meninting Tambah Pasokan Air Irigasi di Lombok

Kempupera tengah menyelesaikan pembangunan Bendungan Meninting di Lombok Barat.

EKONOMI | 28 Mei 2020

KKP Usulkan Tambahan Anggaran Stimulus Nelayan Rp 1,024 Triliun

KKP menyatakan, tambahan anggaran stimulus nelayan ditujukan untuk beberapa sektor.

EKONOMI | 28 Mei 2020

PTPN XII Siap Terapkan Skenario New Normal

PTPN XII tengah fokus pada penerapan new normal sesuai arahan Menteri BUMN.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Pelindo III Sediakan 50.000 Rapid Test Gratis

Pelindo III akan melakukan sistem jemput bola dalam pelaksanaan bantuan rapid test gratis.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Kempupera Salurkan Bantuan 40 Rusus untuk Masyakat Papua Barat

Kempupera membangun 40 Rusus tipe 36 tersebut dengan total anggaran Rp 7,64 miliar.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Rupiah Melemah Tipis ke Rp 14.715

Pelemahan rupiah sejalan dengan pelemahan mata uang negara Asia lainnya

EKONOMI | 28 Mei 2020

BI Optimistis Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 2% PDB

Defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2020 mencapai US$ 3,9 miliar atau 1,42% dari PDB

EKONOMI | 28 Mei 2020

Pengembang Siap Laksanakan New Normal

Era normal baru mendorong pengembang untuk tetap semangat membangun rumah bagi rakyat.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Kuartal I, Laba BNI Syariah Melonjak 58,1%

BNI Syariah sudah melakukan simulasi atas beberapa skenario dari dampak pandemi.

EKONOMI | 28 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS