Ketahanan Industri Perlu Dijaga Selama Pandemi Covid-19
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Ketahanan Industri Perlu Dijaga Selama Pandemi Covid-19

Jumat, 5 Juni 2020 | 21:37 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com – Mulai meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok saat memasuki tahun 2020 sempat memunculkan optimisme akan kembali stabilnya perekonomian dunia. Namun, merebaknya pandemi Covid-19 kemudian memunculkan ancaman baru bagi ekonomi dunia dan juga Indonesia.

Baca Juga: Kemperin Tetap Kawal Investasi Sektor Industri

Ekonom Australian National University dan Anggota Dewan Pengawas Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Arianto Patunru menyampaikan, sektor industri tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 karena adanya disrupsi pada sisi permintaan dan penawaran. Implementasi berbagai kebijakan yang umumnya berorientasi kepada pembatasan atau restriksi pergerakan manusia juga turut memengaruhi kinerja sektor ini.

Menurutnya, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta dengan pengecualian pada 11 jenis industri perlu dilakukan dengan cermat untuk memastikan keberlangsungan industri dan juga terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

“Dari 11 jenis industri yang dikecualikan, tiga sektor saya kira memang sangat perlu ditangani hati-hati yaitu kesehatan, pangan, serta logistik karena ketiganya berperan sangat vital dalam jalannya perekonomian,” kata Arianto dalam acara diskusi yang digelar CIPS melalui webinar, Jumat (5/6/2020).

Arianto mengatakan penanganan pada sektor dan industri pangan menjadi sangat penting karena makanan merupakan kebutuhan pokok atau primer. Sekalipun orang bisa bertahan tidak melakukan aktivitas perekonomian beberapa hari, ia tidak bisa untuk tidak makan.

Baca Juga: Dunia Usaha Butuh Stimulus Modal Kerja

Di saat yang bersamaan, harga pangan cenderung naik dengan volatilitas tinggi dan hal ini merugikan terutama bagi mereka yang miskin. Untuk itu, kestabilan harga dan ketersediaan komoditas pangan di pasar juga sangat penting untuk memastikan keterjangkauan masyarakat.

Arianto melanjutkan, industri manufaktur di semua negara hampir dapat dipastikan terkena hantaman pandemi Covid-19 ini. Di ASEAN, indutri manufaktur Singapura misalnya, yang terkena hantaman keras karena mereka bergantung kepada jasa jual beli dan pelabuhan yang semuanya terkena kebijakan pembatasan.

Dampak pandemi ini terhadap negara-negara ASEAN selain Singapura memang terlihat nyata, misalnya melalui purchasing managers’ index (PMI). Malaysia, misalnya, pada akhir April menunjukkan penurunan aktivitas kegiatan manufaktur sangat drastis seperti Indonesia.

Namun dalam survei Mei, ada indikasi bahwa para manajer mulai melakukan pemesanan bahan baku dan bahan pendukung lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur mereka sedang bersiap-siap untuk berproduksi kembali. Hal yang sama ditunjukkan oleh indeks untuk Vietnam.

Baca Juga: Pemerintah Pacu Investasi Sektor Padat Karya

Menurut Arianto, beberapa hal selain Covid-19 tentu saja memengaruhi perilaku sektor manufaktur. Misalnya, keterlibatan dalam global value chain (GVC) memaksa beberapa perusahaan untuk memenuhi kewajiban mereka sesuai kontrak, walaupun dalam skala yang lebih kecil. Malaysia dan Vietnam sudah berpartisipasi lebih dalam GVC daripada Indonesia. Hal lain yang berpengaruh terutama dalam jangka panjang adalah kondisi struktural, seperti iklim investasi.

"Walaupun perang dagang sudah mereda, perekonomian global saat ini masih diwarnai ketegangan antara AS dan Tiongkok. Kita melihat adanya 'de-China-isasi' di mana banyak perusahaan multinasional memindahkan sentra usaha mereka dari Tiongkok ke negara lain. Indonesia sangat berpotensi memanfaatkan momentum ini, salah satunya melalui keterlibatan dalam GVC. Namun kita masih perlu melakukan berbagai pembenahan untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Arinto.

Relokasi kegiatan usaha seperti ini sebenarnya berita baik bagi negara seperti Indonesia. Namun Indonesia harus bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam. Karenanya, menurut Arianto, perlu sekali untuk tetap meneruskan reformasi di bidang industri, perdagangan, serta investasi. Perlu menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia terbuka dan menyambut baik investasi asing. Salah satunya lewat penyederhanaan regulasi dan pelonggaran berbagai hambatan.

“Yang sangat diperlukan saat ini adalah menentukan prioritas yang tepat. Benar bahwa pelonggaran hambatan atau restriksi harus dilakukan bertahap, dimulai dengan yang paling esensial dan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Satu hal yang jangan sampai dilupakan adalah perlunya mempertimbangkan kompensasi bagi mereka yang masih terkena restriksi,” imbuhnya.



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Di Luar Dugaan Wall Street, Pengangguran AS Menurun

Dow Jones Industrial Average naik 2,61 persen, S&P 500 naik 2,19 persen, dan Nasdaq naik 1,54 persen.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Menpupera Dorong Transaksi Digital di Sektor Perumahan

Seluruh tahapan transaksi lainnya di bidang perumahan diharapkan segera hadir dalam bentuk digital.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Developer Tunda Naikkan Harga, Saat Tepat Beli Properti

Di masa pandemi sebagian besar developer menunda kenaikan harga.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Waskita Karya Tebar Dividen Sebesar Rp 46 Miliar

Jumlah dividen yang akan dibagikan mencerminkan 5% dari perolehan laba bersih tahun 2019 yang tercatat Rp 1,03 triliun.

EKONOMI | 5 Juni 2020

KAI Perpanjang Kebijakan Refund Tiket

Terdapat 7.077 tiket yang belum dibatalkan atau 20 persen dari total 36.097 tiket yang sudah terjual pada periode 5-17 Juni 2020.

EKONOMI | 5 Juni 2020

OJK Cabut Izin Usaha BPR Syariah di Kabupaten Subang

OJK mengimbau nasabah BPRS Gotong Royong Kabupaten Subang agar tetap tenang

EKONOMI | 5 Juni 2020

Terdampak Covid-19, 2.000 Hotel dan 8.000 Restoran Tutup

Pariwisata dan perhotelan merupakan sektor yang paling terpukul akibat adanya pandemi Covid-19.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Apindo: Dunia Usaha Butuh Stimulus Modal Kerja

Apindo sudah membuat usulan untuk beberapa sektor.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Haji 2020 Ditiadakan, Garuda Berpotensi Kehilangan 10% Pendapatan

Penerbangan haji rata-rata berkontribusi sekitar 10% dari total pendapatan Garuda Indonesia.

EKONOMI | 5 Juni 2020

Bursa Asia Terus Menguat Dekati Level Sebelum Wabah Covid-19

Meski tren menguat, tetapi bursa Asia belum kembali ke level tertinggi dalam 52 minggu terakhir yang terjadi Januari lalu.

EKONOMI | 5 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS