APJII Sebut 80% Perusahaan Jasa Internet Terdampak Covid-19
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-2.86)   |   COMPOSITE 4879.1 (-9.06)   |   DBX 933.193 (7.61)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 404.523 (-3.21)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 767.134 (-9.65)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.565 (0.25)   |   JII 517.566 (1.34)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 953.068 (-3.09)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1347.52 (-4.53)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 258.006 (2.03)   |   SMInfra18 230.699 (-0.73)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-2.35)   |  

APJII Sebut 80% Perusahaan Jasa Internet Terdampak Covid-19

Selasa, 9 Juni 2020 | 18:57 WIB
Oleh : Lona Olavia / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Kian meningkatnya kebutuhan akan internet di tengah pandemi virus corona (Covid-19), ternyata tidak membuat semua perusahaan penyelenggara jasa internet meraup keuntungan.

Baca Juga: Penetrasi Broadband Dinilai Perlu Ditingkatkan

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Jamalul Izza menyebutkan, dari 500 anggotanya, hanya 20 persen yang bermain di broadband dan masih bisa meraup keuntungan dalam kondisi sekarang ini. Sementara, sebanyak 80 persen sisanya mengalami kerugian karena sifatnya bussiness to bussiness (B2B) yang mana banyak sektor industri mengalami guncangan.

"Ada perilaku pengguna internet di masa ini, dari yang biasanya pakai internet di publik, sekarang di rumah selama work from home. Dari traffic memang ada kenaikan 10 persen hingga 15 persen di sektor perumahan atau broadband. Sedangkan, secara keseluruhan pendapatan sangat menurun, karena tidak semua teman-teman punya bisnis broadband," kata Jamalul Izza dalam acara Zooming With Primus bertajuk 'Bisnis Yang Tetap Berkilau Di Tengah Covid-19' yang ditayangkan secara langsung di Beritasatu TV, Selasa (9/6/2020).

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Muhammad Arif menyebutkan, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sektor perusahaan jaringan telekomunikasi, hingga 86 persen responden mengaku demikian menurut hasil survei. "Sebabnya, mayoritas perusahaan jaringan telekomunikasi masih sangat bergantung pada segmen korporat," jelas Arif.

Baca Juga: Industri Broadband Internet Berkibar di Tengah Covid-19

Bahkan, lanjut Arif, 100 persen responden menyatakan pendapatan sektor korporat turun. Dengan rincian, ada 18 persen yang mengaku pendapatannya turun 0 persen hingga 10 persen, 20 persen responden turun sekitar 11 persen hingga 20 persen, 32 persen responden turun 21 persen hingga 30 persen, 12 persen responden turun 31 persen hingga 40 persen, dan 16 persen turun hingga diatas 50 persen pendapatannya. Sehingga, dari data tersebut 62 persen dari responden mengaku tidak akan berinvestasi atau ekspansi di masa pandemi ini.

"Ada perpindahan trafik, tapi penggunanya yah dia lagi, dia lagi, hanya beda pemakaiannya di rumah. Kalaupun bertambah yah paling sedikit sekali, jadi secara market tetap sama. Berkilaunya kalau menurut kacamata saya karena ini telah menjadi kebutuhan primer," tegasnya.

Presiden Direktur dan CEO PT Link Net Tbk, Marlo Budiman mengatakan, ada kenaikan 40 persen bila dibandingkan sebelum periode Covid-19 yakni Januari hingga pertengahan Maret. Kenaikan itu, karena bertumbuhanya kebutuhan akan bandwith tambahan.

Baca Juga: Apjatel Harapkan Kelonggaran Jatuh Tempo BHP dan USO

"Meski demikian, akan ada tantangan yang besar di masa new normal, khususnya menyangkut daya beli konsumen. Secara short term yang residensial naik, tapi secara korporasi flat bahkan menurun," jelas Marlo Budiman.

CEO MNC Play, Ade Tjendra mengakui, di segmen korporasi dampak negatifnya amat besar. Apalagi, banyak konsumen di sektor perhotelan yang tutup atau memperkecil daya bisnis mereka, sehingga terjadi penurunan pendapatan hingga 50 persen dalam tiga bulan terakhir.

"Kita harus waspadai jika ini berlarut, maka buying power dari mass segment tetap akan turun, tinggal tunggu waktu saja. Jadi, kita tidak ingin berlama-lama, meski ada positifnya di sisi perumahan. Kita bahkan sudah siapkan kuda-kuda untuk siap-siap dengan efisiensi, baik dari operasional dan juga penundaan capex yang tidak primer. Selain itu, harus ada promo juga yang harus kita lakukan," tandas Ade Tjendra.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Kemperin Apresiasi Pengembangan Kendaraan Ramah Lingkungan Gelis

Kemperin terus dorong produksi mobil ramah lingkungan.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Penetrasi Broadband Dinilai Perlu Ditingkatkan

Keberadaan akses internet di masa pandemi membuktikan telekomunikasi telah menjadi kebutuhan primer.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Lion Air Kembali Layani Penerbangan Domestik Mulai 10 Juni

Lion Air meminta calon penumpang pesawat mencermati masa berlaku dari dokumen kesehatan yang digunakan.

EKONOMI | 9 Juni 2020

New Normal, Mal Bukan Lagi Tempat Cuci Mata

Mal atau pusat perbelanjaan di DKI Jakarta tengah bersiap untuk beroperasi kembali pada 15 Juni 2020.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Kempupera Bangun 34 Rusun Pendidikan Senilai Rp 101 Miliar

Kempupera diberikan tugas untuk membangun infrastruktur pendukung pendidikan seperti rusun santri dan mahasiswa.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Kurs Rupiah Stabil di Kisaran Rp 13.890

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Selasa (9/6/2020), stabil di kisaran Rp 13.800.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Kemhub Tetapkan Kapasitas Penumpang Pesawat Maksimal 70%

Kemhub menetapkan aturan baru tentang isian pesawat untuk penumpang maksimal 70 persen.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Bursa Eropa Melemah di Awal Perdagangan

Indeks Stoxx6000 turun 1,22 persen, DAX turun 1,88 persen, FTSE turun 1,58 persen, CAC turun 1,8 persen, dan FTSE MIB Italia turun 2,24 persen.

EKONOMI | 9 Juni 2020

Mayoritas Bursa Asia Ditutup Positif

Nikkei 225 Tokyo turun 0,38 persen ke 23.091,03, Indeks Komposit Shanghai naik 0,62 persen ke 2956,11, Hang Seng Hong Kong naik 1,13 persen ke 25057,22.

EKONOMI | 9 Juni 2020

IHSG Ditutup Melemah 0,7%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,7 persen ke kisaran 5.035,05 pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2020).

EKONOMI | 9 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS