Faktor Budaya, Penyebab Pemanfaatan Lahan Budidaya Ikan Belum Maksimal
INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.29)   |   COMPOSITE 5099.84 (-2.99)   |   DBX 964.111 (0.24)   |   I-GRADE 139.821 (-0.09)   |   IDX30 426.948 (0.87)   |   IDX80 113.317 (0.27)   |   IDXBUMN20 291.67 (3.2)   |   IDXG30 118.931 (0.29)   |   IDXHIDIV20 379.8 (0.34)   |   IDXQ30 124.715 (0.06)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.44)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.66)   |   IDXV30 106.644 (0.76)   |   INFOBANK15 836.821 (-4.09)   |   Investor33 373.706 (-0.46)   |   ISSI 150.561 (0.38)   |   JII 547.285 (1.78)   |   JII70 187.054 (0.64)   |   KOMPAS100 1020.57 (-0.41)   |   LQ45 786.439 (1.69)   |   MBX 1410.93 (-1)   |   MNC36 280.006 (-0.35)   |   PEFINDO25 280.13 (1.79)   |   SMInfra18 241.99 (0.7)   |   SRI-KEHATI 316.197 (0.07)   |  

Faktor Budaya, Penyebab Pemanfaatan Lahan Budidaya Ikan Belum Maksimal

Rabu, 10 Juni 2020 | 17:40 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia sebetulnya memiliki potensi lahan yang sangat besar untuk budidaya ikan. Luasnya mencapai sekitar 17,9 juta hektare (Ha). Tetapi dari jumlah tersebut, baru sekitar 6,7 persen yang termanfaatkan.

Baca Juga: Menteri KKP Resmikan Ekspor Perdana Tuna Sirip Kuning

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Safri Burhanuddin menyampaikan, masih minimnya pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan ini utamanya karena faktor budaya.

"Kendala utamanya itu culture atau budaya. Walaupun di halaman rumah kita ada lahan, kalau kita memang tidak manfaatkan, ya terbengkalai. Artinya secara fisik itu bisa dimanfaatkan sebagai lahan budidaya, tapi belum termanfaatkan, dari sisi ada kemauan yang pertama,” kata Safri Burhanuddin dalam acara sharing session yang digelar secara virtual oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi, di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Selain faktor budaya, hal lain yang disebutkan Safri adalah faktor pengungkit. Apalagi seringkali tren budidaya perikanan berlangsung dalam beberapa saat, kemudian muncul tren baru lainnya.

"Yang kedua tentu harus ada yang namanya pengungkit. Pengungkit itu bisa karena kondisi ekonomi di mana ikan ini lagi ramai, lagi booming, dilihat ada kesempatan dilakukan. Tapi kan semua harus terintegrasi, makanya jadi panjang," jelas Safri.

Baca Juga: Bertanam Jadi Solusi Penghasilan di Tengah Pandemi

Tahapan terintegrasi yang dimaksudkan Safri dimulai dari pemilihan lokasi. Hal inilah yang menurutnya sangat penting dalam melakukan budidaya ikan.

"Lokasi itu sangat penting. Kalau ditanya apa persyaratannya, jawabannya itu lokasi, lokasi, dan lokasi. Habis itu baru kita berbicara apa yang dibutuhkan mulai dari bibit, benih, pakan dan bagaimana permodalan,” katanya.

Terkait adanya pandemi Covid-19, menurut Safri produksi budidaya ikan tidak terpengaruh dan tetap konstan. Masalahnya hanya di sisi pemasaran menyusul banyaknya rumah makan yang tutup karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah.

"Rumah makan dan warung pecel lele banyak yang tutup, sehingga kebutuhannya berkurang yang membuat ikan di tempat produksi banyak menumpuk. Yang pemerintah perlu lakukan adalah ikan yang seharusnya sudah dipanen harus bisa dipindahkan. Sebab kalau tidak akan mengganggu sirkulasi operasional. Cara memindahkannya tentu saja harus ada yang menampung, dibutuhkan cold storage supaya harganya tetap stabil,” paparnya.

Safri mengatakan, harga ikan memang sempat turun sekitar 20 persen hingga 30 persen akibat permintaan yang turun, tetapi saat ini kondisinya sudah kembali normal.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Program Padat Karya BSPS Serap 231.186 Tenaga Kerja

Melalui Program BSPS, pemerintah ingin masyarakat dapat meningkatkan kualitas rumah.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Kurs Rupiah Melemah ke Kisaran Rp 13.980

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Rabu(10/6/2020), melemah ke kisaran Rp 13.900.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Data Inflasi Tiongkok Meleset, Bursa Asia Ditutup Mixed

Bursa Asia ditutup bervariasi pada perdagangan hari ini, Rabu (10/6/2020). Data inflasi Tiongkok untuk bulan Mei meleset dari estimasi analis.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Profit Taking, IHSG Kembali ke Kisaran 4.920

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,27 persen ke kisaran 4.920,68 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (10/6/2020).

EKONOMI | 10 Juni 2020

PIP Beri Relaksasi untuk Kredit Ultra Mikro

Mekanisme relaksasi UMi dilakukan melalui yaitu penundaan kewajiban pokok dan pemberian masa tenggang.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Wika Gedung Catatkan Laba Bersih Q1-2020 Rp 82,88 Miliar

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mencatatkan kinerja positif dengan raihan laba bersih (unaudited) sebesar Rp 82,88 miliar di triwulan pertama 2020.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Kemkop dan UKM Gandeng Taspen Dukung ASN dan Pensiunan Berwirausaha

PT Taspen dukung ASN dan pensiunan berwirausaha.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Siang Ini Rupiah Masih Berkutat di Zona Merah

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 13.915-Rp 13.995 per dolar AS.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Wapres Dorong Bank Syariah Bantu Pulihkan Ekonomi Akibat Pandemi

Wapres mengingatkan agar bank syariah dijalankan sesuai kaidah berlaku.

EKONOMI | 10 Juni 2020

Per 2 Juni, Restrukturisasi Perbankan Tembus Rp 609,07 Triliun

OJK catat 99 dari 101 bank umum konvensional maupun syariah yang terdaftar telah merestrukturisasi kredit kepada 5,94 juta debitur yang terkena pukulan Covid-19

EKONOMI | 10 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS