Prospek Bisnis Fintech P2P Lending Diyakini Masih Cerah
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Prospek Bisnis Fintech P2P Lending Diyakini Masih Cerah

Kamis, 9 Juli 2020 | 17:29 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Industri layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi atau Peer-to-Peer Lending (P2P) Lending dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Apalagi masih cukup banyak kebutuhan pendanaan yang tidak bisa dipenuhi oleh perbankan. Meskipun ikut terhantam pandemi Covid-19, para pelaku di industri ini juga masih meyakini bahwa masa depan industri fintech P2P lending masih sangat cerah.

Baca Juga: OJK Minta Pegawainya Berpikir Out of The Box

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menyampaikan, saat ini total jumlah penyelenggara fintech P2P lending di Indonesia sebanyak 158 perusahaan, di mana yang terdaftar ada 125 perusahaan dan yang sudah berizin 33 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 147 perusahaan perupakan fintech P2P lending konvensional, sementara sisanya syariah.

"Di tengah pandemi Covid-19, bisnis fintech P2P lending juga mendapatkan tekanan yang sama beratnya dengan sektor lain. Tetapi kami di OJK dan juga pelaku di industri ini tetap optimistis bahwa ke depannya akan semakin berkembang. Apalagi jika melihat data dalam beberapa tahun terakhir ini yang menunjukkan perkembangan signifikan,” kata Munawar Kasan dalam acara Zooming with Primus bertajuk 'Prospek Bisnis Fintech' yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (9/7/2020).

Diskusi kali ini juga menghadirkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko, Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, serta CFO Koinworks Mark Bruny.

Munawar menyampaikan, akumulasi penyaluran pinjaman secara nasional lewat perusahaan fintech P2P lending sampai dengan Mei 2020 mencapai Rp 109,18 triliun, atau naik sebesar 166,03 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Baca Juga: Penyaluran Pinjaman Akseleran Tumbuh 6%

Meskipun di bulan April 2020 terjadi penurunan penyaluran pinjaman akibat pandemi Covid-19, Munawar mengatakan secara agregat masih memberikan pertumbuhan yang tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan juga pertumbuhan industri lainnya. Penurunanya sendiri lebih disebabkan oleh kehati-hatian para pemain di industri ini dalam menyalurkan pinjaman untuk menjaga tingkat keberhasilan pengembalian tetap tinggi. Tetapi di bulan Mei 2020 mulai kembali terlihat adanya perbaikan.

"Kenapa pertumbuhan fintech P2P lending sangat tinggi? Karena memang demand-nya ini sangat tinggi. Kalau berdasarkan data yang pernah diriset oleh OJK tahun 2016, ada sekitar Rp 1.600 triliun kebutuhan pendanaan, dan yang bisa didanai oleh lembaga finansial sekitar Rp 600-an triliun. Artinya sekitar Rp 1.000 triliun tidak bisa ada yang mendanai. Sehingga ada kebutuhan yang sangat besar terhadap fintech P2P lending, makanya industri ini terus tumbuh,” kata Munawar.

Selain penyaluran pinjaman yang terus meningkat, akumulasi rekening borrower dan lender juga terus bergerak naik. Sampai Mei 2020, akumulasi rekening borrower secara nasional mencapai 25.189.941 entitas (naik 187,87 persen yoy), sementara akumulasi rekening lender keseluruhan 654.201 entitas (naik 36,22 persen yoy).

Dukung UMKM dan Sektor Produktif

Salah satu pemain di bisnis ini adalah Amartha yang fokus memberikan pendanaan untuk usaha mikro dan kecil di pedesaan. Andi Taufan Garuda Putra mengungkapkan, hingga saat ini Amartha sudah menyalurkan total pinjaman Rp 2,4 triliun kepada sekitar 550.000 perempuan pengusaha mikro dan kecil di daerah.

Untuk wilayah penyaluran, menurut Andi, penyaluran di Jawa cukup stagnan, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini karena posisinya yang dekat dengan episentrum Covid-19, serta kebijakan pembatasan sosial yang cukup merata. Sedangkan di luar Pulau Jawa seperti Sumatera dan Sulawesi, tren pertumbuhan bisnisnya terlihat lebih baik.

"Kita melihat peluang bisnisnya (di luar Jawa) lebih positif ke depan, meskipun sekarang ini ada tantangan pandemi Covid-19,” kata Andi.

Amartha sendiri saat ini fokus memberikan permodalan untuk perempuan pengusaha mikro dan kecil yang menjalankan bisnis produktif. "Memberikan permodalan ke perempuan itu secara signifikan memberikan kesejahteraan untuk keluarga. Fokus kita adalah bagaimana perempuan ikut menggerakkan ekonomi di pedesaan,” kata Andi.

Baca Juga: P2P Lending Setujui Restrukturisasi Pinjaman Rp 237 M

Sektor yang menjadi fokus Amartha dalam memberikan pembiayaan adalah ekonomi informal seperti perdagangan, pertanian, hingga peternakan. "Di masa pandemi ini, prioritas kami justru di sektor pertanian dan peternakan. Sebab dari credit scoring tim data analytic, kami melihat risikonya lebih rendah dibandingkan sektor yang memerlukan interaksi fisik,” kata Andi.

Sebagai dampak dari pandemi, Andi mengakui Tingkat Keberhasilan 90 hari (TKB90) memang mengalami penurunan sekitar 2,5 persen dari sebelumnya 99,95 persen menjadi 96 persen. Mayoritas karena usahanya terdampak pandemi Covid-19, sehingga mengalami kesulitan untuk membayar cicilan pinjaman. Namun, sejak dibukanya kembali aktivitas ekonomi, Andi melihat ke depannya akan lebih baik.

"Saat ini kita melihatnya justru lebih positif ke depannya. Ekonomi piramida bawah secara bertahap mulai bangkit, sehingga kami meyakini TKB90 akan kembali naik di angka 99,95 persen,” kata Andi.

Terkait rencana pemerintah yang akan memungut pajak untuk layanan fintech P2P lending, Andi menyampaikan, para pemain di industri ini pastinya akan mengikuti aturan yang berlaku. Saat ini para pemain P2P lending juga tengah menunggu aturan pajak tersebut.

Baca Juga: Rentenir Online dan Investasi Bodong Menjamur

Pemain lainnya di industri ini adalah Koiworks. Menurut Mark Bruny, saat ini pengguna aplikasi KoinWorks telah mencapai lebih dari 400.000 yang terdiri dari borrower dan lender. Jumlah ini juga diprediksi akan terus bertambah lantaran banyak pelaku UKM membutuhkan pinjaman untuk memulai kembali usahanya. Sedangkan total dana yang sudah disalurkan mencapai lebih dari Rp 2 triliun.

"Di masa Covid-19, kami juga mendapatkan pendanaan baru dari institusi keuangan global untuk mendukung UMKM dan sektor produktif di Indonesia,” kata Mark Bruny.

Mark menambahkan, KoinWorks juga terus menjaga kualitas pinjamannya dengan melakukan pendekatan berbasis data yang dikombinasikan dari proses perbankan tradisional untuk credit scoring.

Terkait profil risiko peminjam ini, Sunu Widyatmoko menambahkan, saat ini Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia juga sudah memiliki Fintech Data Center (FDC) untuk pengintegrasian data penyelenggara fintech lending. Dengan sistem ini, para anggota lebih mudah dalam melakukan credit assessment untuk melakukan penyaluran kredit, dan juga menghindari risiko terjadinya kredit macet.

Baca Juga: Julo Financial Restrukturisasi Pinjaman Nasabah

"Saat ini AFPI sudah memiliki Fintech Data Center yang didalamnya berisi track record dari seluruh pengguna fintech lending, termasuk juga yang masuk dalam black list. Sehingga secara signifikan profil risiko akan berkurang dengan adanya data center ini,” kata Sunu.

RUU Perlindungan Data Peribadi yang saat ini tengah digodok di Parlemen, menurut Sunu, juga bisa menjadi angin segar bagi bisnis fintech P2P lending ke depan.

"Ini sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu karena akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk mengakses pinjaman yang bersifat digital. Ini juga menjadi alat yang penting untuk menghilangkan praktik-praktik fintech ilegal,” kata Sunu.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

IPC Optimistis Jalan Tol Cibitung-Cilincing Beroperasi Tahun 2021

Progres pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing saat ini sudah mencapai 74 persen.

EKONOMI | 9 Juli 2020

IHSG Terkoreksi, Rupiah Menguat Tipis

IHSG di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis (9/7/2020) ditutup terkoreksi, sementara nilai tukar rupiah menguat tipis dan bertahan di level Rp 14.400.

EKONOMI | 9 Juli 2020

Hunian Berkonsep TOD Jadi Pilihan Investor di Masa Pandemi

Hunian yang terintegrasi transportasi atau TOD, menjadi nilai plus dalam berinvestasi properti.

EKONOMI | 9 Juli 2020

Sharp Optimistis Pasar Elektronik Membaik di Tengah Pandemi

Merayakan capaian 20 juta produksi lemari es, Sharp meluncurkan Kirei Sakura.

EKONOMI | 8 Juli 2020

Dorong Transaksi Digital, Bank Mandiri Hadirkan Kantor Cabang Modern Edukatif

Bank Mandiri meresmikan pengoperasian kantor cabang modern dengan konsep edukatif (edu-branch) di Menara Astra

EKONOMI | 9 Juli 2020

2022, Wapres Optimistis Ekonomi Indonesia Bakal Kembali Pulih

Wapres meyakini bahwa Indonesia dapat kembali meningkatkan produktivitas dan kemampuan dalam negeri pada 2022.

EKONOMI | 9 Juli 2020

Menteri BUMN Rombak Direksi Perum Perindo

Erick Thohir melakukan perombakan jajaran direksi dan dewan pengawas Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo), Kamis (9/7/2020).

EKONOMI | 9 Juli 2020

Wakil Ketua Komisi III Dorong Merger Bank Syariah

Ace Hasan Syadzily mendorong rencana merger bank-bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diwacanakan Menteri BUMN Erick Thohir.

EKONOMI | 9 Juli 2020

Kuartal I 2022, Menteri BUMN Prediksi Ekonomi Kembali Pulih 100 Persen

Menteri BUMN Erick Thohir memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan kembali pulih 100 persen pada kuartal pertama 2022.

EKONOMI | 9 Juli 2020

Gagas Energi Indonesia Bagi Sembako untuk Pelanggan Terdampak Covid-19 di Batam

“Para pengemudi angkutan umum yang biasanya bergantung dari pendapatan harian, merasakan dampak dari pandemi Covid-19

EKONOMI | 9 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS