Cara Cerdas Berinvestasi yang Aman untuk Milenial

Cara Cerdas Berinvestasi yang Aman untuk Milenial

Kamis, 13 Agustus 2020 | 22:29 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Sosialisasi dan edukasi mengenai investasi sangat penting untuk terus digaungkan, khususnya bagi kalangan milenial agar tidak mudah terpedaya investasi ilegal.

"Kalangan milenial harus dibekali literasi keuangan, sehingga menjadi budaya yang akhirnya membentuk karakter yang terbiasa untuk menabung dan berinvestasi," ujar anggota dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, dalam acara Literasi Keuangan Goes to Campus yang diselenggarakan BeritaSatu Media Holdings bekerja sama dengan OJK, Bank Mandiri, Prudential, BRI Insurance, Panin Asset Management, dan Universitas Katolik Parahyangan melalui webinar, Kamis (13/8/2020).

Tirta memaparkan, setidaknya ada empat langkah aman untuk berinvestasi, yaitu kenali kebutuhan dan kemampuan, kenali produk dan jasa keuangan, kenali manfaat dan risiko, serta kenali hak dan kewajiban. Empat hal ini, menurutnya, sangat penting, apalagi sekarang ini banyak sekali investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak logis. Ribuan entitas memang sudah ditutup oleh satgas investasi, rinciannya 792 entitas investasi ilegal, 2.588 entitas fintech ilegal, dan 93 entitas gadai ilegal. Namun setiap harinya selalu bermunculan investasi dan fintech ilegal baru.

"Secara umum investasi ilegal itu memiliki karakteristik menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat, menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru, memanfaatkan tokok masyarakat atau tokoh agama, janji aset aman dan jaminan pembelian kembali, klaim tanpa risiko, dan legalitas tidak jelas. Jadi harus hari-hati dan perlu dicek,” kata Tirta.

Karenanya, lanjut Tirta, investasi yang dipilih harus memiliki dua prinsip, yaitu legal dan logis. "Bila tidak logis, ini harus hati-hati. Kemudian terkait legalitas, ini harus kita cek, sehingga kita bisa melakukan investasi secara cerdas dan aman,” kata Tirta.

Instrumen Investasi

Dalam berinvestasi, ada banyak instrumen yang bisa dipilih, salah satunya di pasar modal melalui saham, reksadana atau obligasi.

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto menyampaikan, untuk memilih investasi di pasar modal, para investor perlu melihatnya dari sisi jangka panjang, tidak hanya setahun atau dua tahun ketika saham sedang turun. Rudiyanto memberi contoh, jika di tahun 2009 kita berinvestasi Rp 100.000, maka di tahun 2019 untuk uang yang ditaruh di saham akan menjadi Rp 255.000, di obligasi negara menjadi Rp 206.000, sementara di emas Rp 138.000.

"Dalam jangka panjang, pasar modal memiliki tingkat keuntungan yang secara historis bisa lebih baik dibandingkan dengan investasi yang lebih tradisional seperti emas. Betul, investasi di pasar modal itu berfluktuasi. Tetapi dalam jangka panjang juga menawarkan keuntungan yang tidak kalah dengan investasi tradisional,” kata Rudiyanto.

Selain itu, para investor juga perlu memahami adanya risiko investasi di pasar modal, misalnya risiko pasar. Sehingga perlu langkah antisipasi melalui langkah diversifikasi, dan juga investasi berkala atau market timing.

"Risiko pasar itu ketika kita beli saham, sahamnya turun. Kalau kita beli obligasi, karena mungkin asing sedang banyak jual, harganya turun. Tetapi penurunan atau kenaikan itu adalah hal yang umum di pasar modal,” kata Rudiyanto.

Risiko lainnya yang terkait likuiditas, risiko gagal bayar, risiko pembubaran, hingga risiko penipuan. Karenanya, penting sekali untuk memahami prosedur dan peraturan yang berlaku, serta menghindari transaksi tunai atau transfer ke perorangan.

“Walaupun perusahaan atau produknya itu legal, kadang-kadang ada saja satu dua oknum yang dalam menjalankan bisnis tidak sesuai aturan, sehingga mereka mendapatkan sanksi pembubaran dari regulator. Makanya kita perlu melihat, misalnya dalam menjalankan pemasaran apakah telah sesuai aturan atau tidak, apakah ada janji-janji return yang tidak masuk akal. Kemudian apakah dalam presentasi mereka menjelaskan semua proses atau tidak. Kalau perusahannya tidak mengikuti aturan, baik dalam pengelolaan maupun pemasaran, dia berisiko dibubarkan,” papar Rudiyanto.

Selain di pasar modal, polis asuransi juga bisa menjadi instrumen investasi. Direktur Utama PT BRI Asuransi Indonesia Fankar Umran menyampaikan, kesadaran akan pentingnya memiliki asuransi di Indonesia saat ini masih rendah, terutama di kelompok milenial. Padahal kepemilikan asuransi sangat penting untuk melindungi diri dan juga perencanaan keuangan.

“Asuransi, khususnya general insurance itu melindungi diri dari berbagai risiko. Pengelolaan keuangan tanpa menyertakan asuransi akan mengancam perencanaan keuangan di saat terjadi risiko finansial. Misalnya ketika gaji sudah direncanakan untuk investasi, kemudian tiba-tiba mengalami kecelakaan, uang yang tadinya diinvestasikan untuk tabungan masa depan akhirnya malah digunakan untuk membayar perbaikan mobil yang mengalami kecelakaan,” papar Fankar.

Hal senada disampaikan Chief Investment Officer Prudential Indonesia, Novi Imelda. Memiliki asuransi, menurut Imelda, sangat penting agar ketika terjadi misalnya sakit yang membutuhkan biaya besar untuk pengobatan, uang yang selama ini sudah kita simpan melalui tabungan atau investasi tidak sampai terganggu. Selain itu, asuransi juga bisa memberikan manfaat proteksi dan investasi sekaligus melalui unit link.

Investasi, termasuk juga memiliki asuransi menurut Novi harus dimulai sedini mungkin, supaya kita memiliki passive income dan tidak perlu kerja terus sampai tua ketika kondisi fisiknya sudah tidak sebugar dulu.

"Uang yang dimiliki perlu diinvestasikan agar lebih optimal lagi, mulai dari deposito, obligasi, saham, atau yang lain. Seluruh instrumen investasi ini harus dipahami betul risiko-risikonya. Selain itu, kita juga harus punya asuransi karena sakit itu mahal,” pesan Novi.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Johannes Gunawan lebih menyoroti perjanjian atau kontrak yang dibuat antara lembaga jasa keuangan dengan investor. Pada masa sekarang ini, hampir seluruh kontrak tersebut dinilainya sebagai kontrak baku dan dibuat sepihak. Seringkali investor atau konsumen juga tidak mengetahui istilah-istilah yang digunakan dalam kontrak yang disodorkan.

“Dalam berinvestasi, kita harus mengetahui hak dan kewajiban. Ini bisa diketahui di dalam kontrak atau perjanjian. Tetapi ini sekarang menjadi persoalan besar karena 99 persen dari kontrak yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari berupa kontrak yang baku. Jadi ketentuan yang ada di dalam kontrak ini perlu dicermati betul oleh setiap investor,” kata Johannes.

Ia mengusulkan agar sebelum kontrak-kontrak standar tersebut digunakan, model kontraknya harus disetujui terlebih dahulu oleh Pemerintah, asosiasi pelaku usaha atau lembaga jasa keuangan, dan juga asosiasi konsumen, sehingga tidak sampai ada pihak yang dirugikan dalam kontrak standar tersebut.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Ajaib Group Bidik 10.000 Investor Saham Baru

Ajaib mencetuskan program #AksiGapaiCuan dalam bentuk kompetisi trading, dengan total hadiah tunai dan koin Ajaib sebesar Rp 100 juta.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

PTPP Torehkan Karya Monumental di Seantero Nusantara

Berdiri sejak tahun 1953, PTPP berhasil menorehkan sejumlah prestasi dan karya-karya gemilang dalam membangun negeri.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Ini Syarat IRT dan Korban PHK Dapat KUR Super Mikro Bunga 0%

Sasaran program KUR Super Mikro adalah pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan kerja (PHK).

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Wamendag: Utilisasi Ekspor Naik, Dampak dari IC-CEPA

Cile juga bisa jadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar Amerika Latin.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Korban PHK dan IRT Bisa Dapat KUR Super Mikro Bunga 0%

Pemerintah memperluas program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 0 persen yang menyasar segmen Super Mikro.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Pengamat: RUU CIpta Kerja Dorong Percepatan Pemulihan Ekonomi

RUU Cipta Kerja yang merupakan Omnibus Law sebagai suatu UU sapu jagad.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Solusi Belanja Sehat dan Aman di Masa Pandemi

CIMB Niaga menyediakan pembayaran secara non-tunai dan tanpa kontak fisik melalui aplikasi Octo Mobile.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

OJK Cabut Izin Usaha BPR Lugano

OJK mencabut izin usaha BPR Lugano disebabkan kelemahan pengelolaan manajemen BPR yang tidak memperhatikan prinsip kehati-hatian.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Sasar Milenial, BTN Gelar Pameran Properti Virtual

BTN kembali menggelar acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2020 pada 22 Agustus hingga 30 September 2020.

EKONOMI | 13 Agustus 2020

Dukung UMKM, Bank Mandiri Luncurkan Program Diskon Hingga 75%

Bank Mandiri menggandeng Bukalapak untuk mempromosikan produk

EKONOMI | 13 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS