Dagang Batik, Gadis 19 Tahun Ini Hasilkan Rp 3,5 Miliar
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-1.58)   |   COMPOSITE 4934.09 (-26.37)   |   DBX 924.804 (-0.87)   |   I-GRADE 130.838 (-0.94)   |   IDX30 413.425 (-2.74)   |   IDX80 108.094 (-0.68)   |   IDXBUMN20 272.657 (-4.14)   |   IDXG30 115.379 (-0.01)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-3.53)   |   IDXQ30 120.916 (-0.62)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-1.01)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.89)   |   IDXV30 102.468 (-0.69)   |   INFOBANK15 776.883 (-4.79)   |   Investor33 360.093 (-1.24)   |   ISSI 144.765 (-0.53)   |   JII 523.909 (-1.89)   |   JII70 177.568 (-0.65)   |   KOMPAS100 966.07 (-5.52)   |   LQ45 756.376 (-4.73)   |   MBX 1366.8 (-8.24)   |   MNC36 270.277 (-1.77)   |   PEFINDO25 258.891 (-2.54)   |   SMInfra18 233.321 (-2.16)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-1.91)   |  

Dagang Batik, Gadis 19 Tahun Ini Hasilkan Rp 3,5 Miliar

Senin, 20 Januari 2014 | 04:09 WIB
Oleh : Shesar Andriawan / FER

Jakarta - Normalnya, seorang yang baru lulus dari universitas (fresh graduate) memiliki pendapatan bulanan pada kisaran jutaan atau belasana juta. Bagi Dea Valencia Budiarto hal tersebut tak berlaku. Masih dalam usia 19 tahun, ia sudah memiliki pendapatan miliaran rupiah per tahun. Semua itu berkat ketekunannya menggeluti bisnis fesyen budaya, Batik Kultur by Dea Valencia.

Sejak usia 16 tahun, Dea sudah menggali kreativitasnya. Ketidaksanggupannya membeli batik yang ia inginkan justru menjadi awal mula kesuksesannya. Dea menggeledah batik-batik lawas, menggunting sesuai pola yang ia suka, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi.

"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga-bunganya. Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea kepada Beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/1).

Dari situ terciptalah kreasi Batik Kultur. Awal produksi, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan.

Dea memulai Batik Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Wajar karena wajah Dea terbilang cocok di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Salah satu prinsip yang dipegang Dea dalam memasarkan produknya sederhana dan menarik. Ia tak mau menjual barang yang ia sendiri tak suka.

"Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak cuma batik, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.

Dea menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Batik Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Namun sama seperti bisnis sukses lain, Batik Kultur menapak bukan tanpa hambatan. Dea pernah dibuat depresi selama seminggu dan menjadi tak produkti karena masalah hak paten.

"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture. Tapi waktu diurus nama mereknya ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Saya sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat saya. Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.

Melihat segala pencapaian Dea, sulit mempercayai Batik Kultur ada di tangan seorang perempuan muda usia 19 tahun yang sudah memegang gelar sarjana komputer.

"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.

"Setelah lulus pulang ke rumah di Semarang fokus bisnis. Tiap bulan nambah dua tiga pegawai, jadi kini sudah ada 36," imbuh Dea yang tinggal bersama orangtuanya di Gombel, Semarang.

Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya.

"Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society (timbal balik kepada masyarakat)," terang Dea.


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Tampilan Mata Cantik dengan "The Butterfly Look"

"Wanita Indonesia menginginkan bulu mata yang lentik, tebal, dan terbuka," kata Monika.

GAYA HIDUP | 18 Januari 2014

Riasan Mata Andalan Dian Sastrowardoyo

"Karena umumnya wanita Indonesia suka rias wajah yang natural, tetapi tetap mau kecantikannya terpancar," pungkas Dian.

GAYA HIDUP | 18 Januari 2014

Sambut Imlek, Sebastian Gunawan Hadirkan Koleksi "Le Jardin Chinois"

Sejumlah koleksi untuk menyambut Imlek ditampilkan.

GAYA HIDUP | 17 Januari 2014

Elzatta dan Dauky Targetkan Total 80 Toko di 2014

"Di 2014 ini, kita berharap menambah hingga total 80 toko dimana 14 di dalamnya adalah target untuk Dauky."

GAYA HIDUP | 17 Januari 2014

Sambut Imlek, Alleira Rilis Batik Bunga Chrysanthemum

Aplikasi prada emas dan motif bunga warna-warni jadi aksen yang terdapat pada setiap koleksi.

GAYA HIDUP | 17 Januari 2014

Hindari 4 Kesalahan Ini Saat Keramas

Jangan sampai setelah keramas rambut Anda terlihat kusam dan kering.

GAYA HIDUP | 17 Januari 2014

Aktris Hollywood Pakai Busana Perancang Indonesia

Odette Annable, salah satu aktris yang membintangi film The Double (2011) bersama Richard Gere mengenakan busana karya Peggy Hartanto dari koleksi Spring 2013.

GAYA HIDUP | 17 Januari 2014

Converse Lansir Sepatu dengan Sol "Wedges" Tersembunyi

Converse kenalkan anggota baru yang unik dan menarik menjelang musim panas 2014.

GAYA HIDUP | 16 Januari 2014

Gaun Inaugurasi Mewah Michelle Obama Dimuseumkan

Sekaligus membuat tradisi baru dalam pameran gaun dan aksesori Ibu Negara AS.

GAYA HIDUP | 16 Januari 2014

Inovasi Terbaru Rexona Hilangkan Noda Kuning dan Putih Pada Ketiak

Produk terbaru Rexona melindungi pakaian dari noda putih dan kuning pada ketiak.

GAYA HIDUP | 15 Januari 2014


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS