Konsumsi Gizi Mikro Rendah Jadi Tantangan Penurunan Stunting
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Konsumsi Gizi Mikro Rendah Jadi Tantangan Penurunan Stunting

Selasa, 14 Januari 2020 | 22:18 WIB
Oleh : Dina Manafe / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Kekurangan zat gizi mikro, seperti vitamin A, zat besi, asam folat, dan zinc berhubungan dengan tingginya jumlah balita pendek atau stunting di Indonesia. Persoalannya, konsumsi suplementasi zat gizi mikro ini masih rendah.

Kulonprogo Berhasil Memproduksi Padi Penangkal Stunting

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) menjadikan program suplementasi zat gizi mikro (mikro nutrient) untuk intervensi masalah stunting melalui pemberian tablet tambah darah (TTD), kapsul vitamin A, dan tablet zinc. Sayangnya, konsumsi zat gizi mikro ini masih sangat rendah. Rendahnya kepatuhan konsumsi zat gizi mikro, menjadi tantangan dalam penurunan angka stunting.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemkes, dr Kirana Pritasari mengatakan, munculnya permasalahan gizi di Indonesia termasuk stunting dikarenakan banyak faktor, di antaranya asupan makanan yang kurang.

Survei Total tahun 2014 menunjukkan, ada 52,2 persen ibu hamil yang asupan energinya kurang dari 70 persen, dan 80 persen ibu hamil yang asupan proteinnya kurang dari cukup. Kondisi ini bukan hanya terjadi pada ibu hamil di perdesaan, tapi juga perkotaan. Ibu hamil dengan asupan energi dan protein kurang berisiko anemia, dan berpotensi melahirkan anak stunting.

Pernikahan Dini Pengaruhi Kekerdilan Pada Anak

"Artinya ada 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia yang menderita anemia dan memiliki asupan energi maupun protein di bawah kebutuhan seharusnya. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan banyak ibu hamil anemia, dan melahirkan anak stunting," kata Kirana pada acara diseminasi hasil program Mitra kerja sama pemerintah Indonesia dengan Nutrition International di Provinsi NTT dan Jawa Timur, di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Selain masalah anemia, lanjut Kirana, asupan vitamin A dan zinc untuk pengobatan diare juga rendah. Padahal, diare merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi balita, di mana penurunan angka kematian ini menjadi salah satu prioritas nasional. Di 2013 angka balita dengan diare sebesar 2,4 persen, tetapi kemudian meningkat menjadi 11 persen di 2018.

Menurut Kirana, program pemberian tablet tambah darah (TTD), vitamin A, dan zinc bukanlah program baru di Indonesia. Sejak 20 tahun silam program ini sudah menjadi program nasional, tetapi implementasinya belum sesuai harapan. "Tingkat kepatuhan baik petugas kesehatan untuk memberikan obat atau tablet zat gizi mikro ini masih kurang. Demikian pula kepatuhan masyarakat untuk mengonsumsinya sangat rendah," jelasnya.

Menko PMK: Cegah Stunting Harus dari Akar Permasalahan

Dikatakan Kirana, seharusnya ketersediaan TTD, vitamin A dan zinc ini bukan lagi jadi masalah. Sebab, melalui Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Ditjen Kefarmasian Kemkes, pemberian zat gizi mikro ini sudah jadi program nasional.

"Pemberian zat gizi mikro ini merupakan intervensi spesifik yang jadi tanggung jawab sektor kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia," tegasnya.

Kirana menjelaskan mengapa penting bagi remaja, ibu hamil dan balita untuk mengonsumsi zat gizi mikro. Pada ibu hamil, misalnya, kebutuhan energi dan protein lebih besar dari biasanya. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat gizi tersebut, misalnya dari sayuran. Tetapi dalam jumlah yang banyak sehingga lebih sulit untuk memenuhinya.

Kader Posyandu Dinilai Bisa Turunkan Stunting

Karena itulah, lanjut Kirana, kebutuhan itu dikemas dalam bentuk tablet/suplementasi, sehingga sekali minum sudah bisa terpenuhi asupan zat gizi mikro baik untuk ibu hamil maupun bayinya. Dalam satu tablet tambah darah mengandung zat besi, vitamin B6, dan asam folat. Ini sangat berguna untuk kesehatan ibu hamil dan janin. Untuk remaja putri yang adalah calon ibu, mengonsumsi TTD mencegah mereka menderita anemia.

"Vitamin B mendorong pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf janin, dan akan mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah dan risiko stunting maupun kecatatan,” kata Kirana.

Persoalannya, tingkat kepatuhan petugas dan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi masih jadi masalah. Suplementasi tambah darah sudah dilakukan sejak 1990 tetapi data Riskesdas 2018 menunjukkkan, hanya ada 1,4 persen remaja putri yang patuh mengonsumsi TTD sesuai standar 52 tablet. Sedangkan pada ibu hamil, baru 38,1 persen yang patuh mengonsumsi TTD sebanyak 90 tablet.

Di tahun 2019, angka stunting menurut Kemkes sebesar 27,6 persen. Ada penurunan dari 30,8 persen di 2018, tetapi ini masih jadi masalah kesehatan masyarakat karena menurut standar WHO harus di bawah 20 persen.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Riset: Kombinasi Madu dan Akar Bajakah Redakan Sakit Lambung

Madu hijau mengandung terpenoid, steroid, tannin, alkonoid, fenolik, dan saponin yang merupakan kandungan alami dari akar bajakah.

KESEHATAN | 12 Januari 2020

Jangan Anggap Remeh Masalah Alergi

Pencegahan alergi sejak dini perlu menjadi perhatian orang tua karena dapat memengaruhi asupan nutrisi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

KESEHATAN | 12 Januari 2020

Pentingnya Masyarakat Menjalani Hidup Aktif dan Sehat

Anlene dari Fonterra Brands Indonesia, mendukung Superball Run 2020 untuk bersama menginspirasi masyarakat Indonesia.

KESEHATAN | 12 Januari 2020

Duh! Skizofrenia Bisa Dipicu Polusi Udara

Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir dan perubahan perilaku.

KESEHATAN | 12 Januari 2020

Tiga Pakar Kesehatan Asal Belanda Berbagi Ilmu di Seminar Ilmiah NIF

NIF Scientific Workshop berlangsung di kota Padang dan Jakarta pada tanggal 6 – 9 Januari 2020 dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta.

KESEHATAN | 10 Januari 2020

Cegah Pneunomia, Lakukan Hidup Sehat

Dokter spesialis Paru RS Persahabatan Erlina Burhan mengatakan mencegah pneumonia dengan perilaku hidup sehat.

KESEHATAN | 9 Januari 2020

Menristek Dukung Pengembangan Obat Modern Asli Indonesia

Dexa Group mendukung program kesehatan pemerintah melalui produk OGB dan mendorong kemandirian pengembangan produk farmasi yang berdaya saing tinggi.

KESEHATAN | 9 Januari 2020

Kemkes: Waspadai Pneumonia dari Tiongkok

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat, tenaga kesehatan, dan fasilitas kesehatan mewaspadai penyakit pneumonia berat yang kini meningkat di Wuhan, Tiongkok

KESEHATAN | 9 Januari 2020

Kini, Pasien JKN Bisa Cek Jadwal Operasi Lewat Aplikasi

Dengan adanya penyesuaian iuran maka tantangan BPJSK saat ini bukan lagi soal defisit, melainkan pelayanan yang lebih berkualitas.

KESEHATAN | 8 Januari 2020

Eka Hospital Perluas Jangkauan Pelayanan ke Bekasi

Total keseluruhan investasi pembangunan Eka Hospital Kota Harapan Indah Bekasi mencapai sekitar US$ 40 juta.

KESEHATAN | 7 Januari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS