Pemerintah Diminta Pertimbangkan PSBB Nasional Serentak
INDEX

BISNIS-27 450.793 (0.85)   |   COMPOSITE 5144.05 (7.69)   |   DBX 982.653 (0.75)   |   I-GRADE 141.194 (0.47)   |   IDX30 430.883 (1)   |   IDX80 114.327 (0.2)   |   IDXBUMN20 295.098 (0.61)   |   IDXG30 119.385 (0.18)   |   IDXHIDIV20 382.257 (1.19)   |   IDXQ30 125.574 (0.19)   |   IDXSMC-COM 221.901 (0.38)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (0.28)   |   IDXV30 107.621 (-0.12)   |   INFOBANK15 842.759 (1.9)   |   Investor33 376.322 (0.84)   |   ISSI 151.265 (0.01)   |   JII 550.5 (-0.33)   |   JII70 187.95 (0.04)   |   KOMPAS100 1026.39 (1.31)   |   LQ45 794.213 (1.54)   |   MBX 1420.94 (2.29)   |   MNC36 281.737 (0.44)   |   PEFINDO25 284.937 (-0.51)   |   SMInfra18 242.709 (-0.26)   |   SRI-KEHATI 318.969 (0.69)   |  

Pemerintah Diminta Pertimbangkan PSBB Nasional Serentak

Senin, 28 September 2020 | 23:31 WIB
Oleh : Dina Manafe / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Dharmawan mengatakan, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) nasional serentak mungkin perlu dipertimbangkan kembali oleh pemerintah.

"Pembawa virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19 ini adalah manusia. Artinya, virus ini bergerak mengikuti pergerakan orang. Mobilitas tinggi dari satu daerah ke daerah lainnya semakin memperluas penyebarannya," kata kata Ede kepada Suara Pembaruan, Senin malam (28/9/2020).

Ede mengatakan, kondisi penyebaran Covid-19, diperparah dengan fakta sebagian besar atau sekitar 86 persen orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala dan gejala ringan. Mereka bisa beraktivitas seperti biasa dan bepergian berpotensi menularkan kepada orang sekitarnya. "Dengan semua berdiam selama 14 hari diharapkan tidak ada lagi kasus baru,” tegasnya.

Menurut Ede, ekspektasi terhadap PSBB sangat tinggi. Karena itu, lanjutnya, diharapkan PSBB dapat diterapkan oleh seluruh provinsi, kabupaten dan kota, terutama yang memiliki kasus tinggi. "Faktanya, saat ini hanya di 3 provinsi dan 24 kabupaten/kota yang terapkan PSBB," katanya.

Ede mengatakan, PSBB nasional diperlukan karena laju penambahan kasus positif masih tinggi. Selama enam bulan pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, pembatasan sosial yang parsial dan terkesan sporadis ternyata tidak efektif mengurangi kasus. PSBB nasional atau minimal di semua provinsi yang kasusnya tinggi sudah sejak lama diusulkan IAKMI, tetapi tidak pernah terealisasi.

"Kalau hanya di DKI Jakarta yang PSBB ya susah. Mestinya semua daerah, minimal Pulau Jawa yang kasusnya tinggi semua,” kata Ede.

Sementara itu, Juru bicara PB IDI, dr Halik Malik mengatakan, PSBB serentak masional bisa saja dilaksanakan. Bisa belajar dari DKI Jakarta yang kasusnya makin turun beberapa hari terakhir sejak PSBB mulai diperketat.

PSBB DKI dinilai berhasil menekan penambahan kasus aktif Covid-19. Jumlah kasus aktif menurun dari 49 persen selama 30 Agustus sampai 11 September menjadi 12 persen selama 12-23 September 2020.

Ini juga terlihat dari penurunan keterpakaian tempat tidur di 67 rumah sakit rujukan di Jakarta per 27 September menjadi 78 persen pada ruang isolasi, dan 72 persen pada ruang ICU. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 24 September menyebutkan, keterpakaian tempat tidur Covid-19 di Jakarta turun sejak 17-20 September 2020.

"Jika keberhasilan PSBB menekan penambahan kasus aktif di DKI Jakarta diterapkan secara menyeluruh dan serentak di Indonesia berpotensi mengendalikan virus ini. Membatasi pergerakan orang dari satu daerah ke daerah lain untuk beberapa saat menekan transmisi," kata Halik.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kombinasi Swab Antigen Percepat Temuan Kasus Covid-19

Kombinasi beberapa metode pemeriksaan mungkin akan membantu mempercepat penemuan kasus positif Covid-19 di Indonesia. Salah satunya "swab" antigen.

KESEHATAN | 28 September 2020

Tips Menghindari Emotional Eating di Masa Pandemi

Stres dapat memicu kebiasaan makan yang kurang sehat dan akhirnya berdampak kurang baik pada tubuh.

KESEHATAN | 28 September 2020

Pentingnya Konsumsi Vitamin di Masa Pandemi Covid-19

Asupan vitamin dapat membantu daya tahan tubuh secara optimal di tengah pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 28 September 2020

Angka Harapan Hidup Pasien Gagal Jantung Rendah

Penyebab terbanyak pasien gagal jantung adalah hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes.

KESEHATAN | 28 September 2020

Kenali Beda Sesak Napas Akibat Covid-19 dengan Serangan Jantung

Kejadian sesak napas yang dialami oleh penderita Covid-19 dan serangan jantung berbeda.

KESEHATAN | 28 September 2020

Survei BPS: 17% Responden Yakin Tak Akan Tertular Covid-19

Responden dengan tingkat pendidikan rendah lebih yakin tidak akan tertular Covid-19.

KESEHATAN | 28 September 2020

Survei BPS: Kesadaran Masyarakat untuk Cuci Tangan Menurun

Perempuan lebih patuh menjalankan protokol kesehatan dibandingkan laki-laki.

KESEHATAN | 28 September 2020

Menlu Retno Tegaskan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Berjalan Lancar

Relawan yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 belum ada yang terkena efek samping berat.

KESEHATAN | 28 September 2020

Doni Monardo: Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 Meningkat Pesat

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemkes) hingga 27 September 2020, pasien sembuh mencapai 203.014 orang.

KESEHATAN | 28 September 2020

Ruang Isolasi di DKI Masih Tersedia 3.546 Tempat Tidur

Menurut Doni, tempat tidur untuk ruang isolasi yang tersedia di DKI Jakarta termasuk rumah sakit rujukan Covid-19 dan Wisma Atlet, masih ada 3.546 bed.

KESEHATAN | 28 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS