Ini Alasan Baterai Bekas Tidak Boleh Dibuang Sembarangan
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-2.72)   |   COMPOSITE 5822.94 (-12.46)   |   DBX 1088.19 (9.8)   |   I-GRADE 169.852 (-1.35)   |   IDX30 498.88 (-2.76)   |   IDX80 132.065 (-0.41)   |   IDXBUMN20 376.263 (-3.13)   |   IDXG30 135.508 (-0.99)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-1.84)   |   IDXQ30 145.713 (-1.14)   |   IDXSMC-COM 252.052 (0.88)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (0.24)   |   IDXV30 130.911 (1.46)   |   INFOBANK15 993.498 (-9.24)   |   Investor33 428.541 (-2.51)   |   ISSI 170.173 (-0.26)   |   JII 616.286 (-0.48)   |   JII70 212.951 (-0.33)   |   KOMPAS100 1185.6 (-4.97)   |   LQ45 921.176 (-4.93)   |   MBX 1613.76 (-6.11)   |   MNC36 320.851 (-1.83)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.14)   |   SMInfra18 296.861 (-1.08)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-2.5)   |  

Ini Alasan Baterai Bekas Tidak Boleh Dibuang Sembarangan

Rabu, 13 Maret 2019 | 23:57 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap rumah tangga pasti menggunakan baterai untuk keperluan sehari-hari yang akan menghasilkan sampah baterai atau baterai bekas, sampah baterai sesungguhnya termasuk sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Namun, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana bahaya baterai bekas tersebut. Sehingga ketika sudah tidak terpakai langsung dibuang ke tempat sampah, bercampur dengan sampah rumah tangga lainnya.

Padahal, baterai itu mengandung unsur-unsur yang membahayakan lingkungan maupun diri kita sendiri. Lalu, seperti bahaya baterai?

Baterai terdiri dari 2 jenis utama yaitu Baterai primer yang hanya dapat digunakan sekali dan dibuang. Contohnya adalah baterai alkaline yang digunakan untuk senter maupun berbagai alat portabel lainnya. Jenis kedua adalah baterai sekunder yang dapat digunakan dan diisi ulang beberapa kali. Contohnya, baterai timbal-asam pada kendaraan dan baterai ion litium pada elektronik portabel.

Pada baterai primer, terdapat unsur zinc, karbon, campuran MnO2 (Mangan Dioksida), serbuk karbon dan NH4Cl (Ammonium Klorida). Sedangkan baterai yang dapat diisi ulang mengandung cadmium, Nikel dan alkaline (potassium hidroksida).

Semua komponen-komponen penyusun baterai ini, akan berdampak negatif bila mencemari lingkungan, misalnya kadmium dan mangan. Kenaikan konsentrasi kadmium dalam tanah akan memperbesar penangkapan unsur logam tersebut oleh tanaman dan selanjutnya memasuki rantai makanan.

Dampak yang muncul apabila keracunan logam kadmium adalah tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, kehilangan sel darah merah, gangguan lambung serta kerapuhan tulang. Mangan dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan keracunan dan kerusakan saraf pada manusia.

Lalu, bila keracunan mangan maka akan terjadi halusinasi, pelupa serta keracunan saraf. Mangan juga dapat menyebabkan parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis. Dalam jangka panjang, kelebihan mangan dapat mengakibatkan impoten. Suatu sindrom lain yang disebabkan oleh mangan adalah memiliki gejala seperti skizofrenia, kebodohan, lemah otot, sakit kepala dan insomnia.

Sedangkan dalam baterai sekunder seperti baterai Li-Ion yang kerap digunakan untuk ponsel, gawai, laptop, hingga kendaraan kecil maupun besar, di dalamnya terkandung unsur kimia lithium yang mudah bereaksi terhadap oksigen atau air, bahkan guncangan.

Selain itu ada unsur timah, asam sulfat, dan lainnya, yang akan membahayakan tubuh manusia. Jika terhirup akan menyebabkan penyakit seperti gangguan pernapasan, gangguan otak, bahkan impotensi, termasuk juga gangguan kehamilan dan janin pada perempuan.

"Itulah sebabnya, sampah baterai ini harus ditangani dengan baik dan benar agar tidak membahayakan lingkungan maupun masyarakat, termasuk diri kita sendiri,” ungkap Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia yang juga pemerhati lingkungan, Gufron Mahmud, kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Menurut Gufron, ada beberapa langkah untuk menangani sampah B3 terutama baterai dengan baik dan benar dilingkungan sekitar. "Yang pertama adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat akan bahaya sampah baterai bagi kesehatan," kata Gufron.

Selain itu, kata Gufron, beberapa langkah bagaimana cara penanganan sampah B3 yang baik dan benar yaitu, memulai dengan memisahkan sampah B3 seperti baterai bekas di rumah dengan meletakkannya di dalam wadah khusus dan terpisah dengan sampah lainnya.

Kemudian, kumpulkan semua sampah bahan berbahaya di dalam tempat tertentu, misalnya di setiap satu RW ada satu tempat khusus untuk menampung sementara sampah berbahaya.

"Saat pengelola sampah datang untuk mengambil sebaiknya mereka juga sudah memiliki kesadaran untuk tidak mencampur sampah berbahaya dengan sampah lainnya. Setelah itu, sampah B3 ini dikirimkan ke tempat pengelola sampah B3 yang sudah memenuhi standar dan berizin," jelas Gufron.

Dalam hal ini, kata Gufron, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah dengan berperan dalam memberikan edukasi kepada para pihak yang menghasilkan limbah B3 termasuk limbah baterai dan untuk pengelolaan limbah B3 seperti limbah baterai, kami dapat memberikan solusi pengelolaannya yaitu layanan Ecofren.

"Kami bukan hanya melakukan pengambilan sampah B3, termasuk baterai ini saja, tetapi juga mencakup perencanaan, perlengkapan dan pengemasan, pengangkutan, pengolahan, pelatihan dan konsultasi, serta penempatan sumber daya manusia (managed service) dalam mengelola sampah B3 secara tepat dan sesuai dengan standar pengendalian pencemaran lingkungan hidup,” ungkap Gufron.

Harapannya, tambah Gufron, tentu masyarakat semakin aware dengan sampah B3 yang di dalamnya juga termasuk baterai bekas dan menekan serendah mungkin pencemaran lingkungan akibat dari baterai bekas ini.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Tumbuhkan Rasa Cinta Laut, Jambore Pesisir Kembali Digelar

Cinta pada laut bisa diwujudkan dengan menjaga kebersihan dan menanggulangi pencemaran laut.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Keyakinan Sulit Diubah, Istri Terduga Teroris Nekat Ledakan Bom Bunuh Diri

"Ternyata dia lebih memilih meledakkan diri. Ini merupakan masalah kepercayaan” ujar Jubir BIN Wawan Purwanto.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Mendes Ajak Kaum Muda dan Akademisi Membangun desa

Saat ini banyak desa-desa wisata yang menggerakan ekonomi yang bisa dijadikan sebagai salah satu promosi.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Polisi Amankan Bahan Peledak 300 Kg di Sibolga

Aparat kepolisian kembali mengamankan bahan peledak yang memiliki berat mencapai 300 kilogram di Sibolga.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Kepala BNN: Narkoba Ancaman Serius terhadap Bonus Demografi

- Narkoba merupakan salah satu ancaman utama terhadap bonus demografi.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Pelaku Bom Bunuh Diri di Sibolga Bernama Solimah

Identitas pelaku bom bunuh diri yang terjadi Rabu (13/3) dini hari di Sibolga, bernama Solimah, jenis kelamin perempuan, berasal dari Kota Padangsidempuan.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Kartu Prakerja Jokowi Solusi Maksimalkan Bonus Demografi

Peluncuran program Kartu Prakerja yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika terpilih kembali di periode kedua 2019-2024, memaksimalkan bonus demografi

NASIONAL | 13 Maret 2019

Pemerintah Inggris Siap Bantu Pelatihan Vokasi di Jatim

Pemerintah Inggris berjanji akan memberikan banyak hal untuk pendidikan vokasi.

NASIONAL | 13 Maret 2019

Kredit Macet di BJB Syariah, Aher: Saya Tidak Tahu-menahu

Ahmad Heryawan mengaku tidak tahu menahu tentang kredit macet di Bank Jabar Banten Syariah (BJBS).

NASIONAL | 13 Maret 2019

Kader Dipanah, Yusril Minta Kepolisian Usut Tuntas

Ketua Tim Pemenangan Partai Bulan Bintang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dipanah orang tidak dikenal saat hendak pulang ke rumahnya

NASIONAL | 13 Maret 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS