Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria
INDEX

BISNIS-27 446.998 (3.66)   |   COMPOSITE 5103.41 (22.92)   |   DBX 961.91 (2.39)   |   I-GRADE 139.433 (1.14)   |   IDX30 425.424 (3.73)   |   IDX80 112.732 (0.9)   |   IDXBUMN20 290.237 (3.92)   |   IDXG30 119.067 (0.52)   |   IDXHIDIV20 380.466 (2.42)   |   IDXQ30 124.992 (0.94)   |   IDXSMC-COM 219.453 (0.5)   |   IDXSMC-LIQ 253.905 (3.07)   |   IDXV30 105.587 (1.13)   |   INFOBANK15 830.947 (11.32)   |   Investor33 371.883 (3.69)   |   ISSI 150.117 (0.53)   |   JII 544.402 (1.55)   |   JII70 185.969 (0.84)   |   KOMPAS100 1019.44 (6.38)   |   LQ45 783.452 (7)   |   MBX 1412.54 (6.76)   |   MNC36 280.287 (2.27)   |   PEFINDO25 278.026 (3.1)   |   SMInfra18 241.756 (0.32)   |   SRI-KEHATI 314.153 (3.5)   |  

Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria

Selasa, 20 Agustus 2019 | 15:18 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Banyak senyawa aktif dari sumber daya hayati Indonesia yang berpotensi menjadi obat antikanker dan antimalaria. Namun, belum dimanfaatkan dengan optimal karena sebagian besar bahan baku obat masih dikuasai produk impor.

Untuk menjadi obat atau fitofarmaka butuh proses panjang, dan biaya besar. Kalangan medis juga harus berani menggunakannya untuk meyakinkan dunia industri farmasi sehingga tertarik memproduksi massalkannya.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nina Artanti, mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia menduduki urutan kedua di dunia setelah Brazil dan urutan pertama jika biota laut ikut diperhitungkan.

Dari sekitar 30.000 spesies tumbuhan yang ada di Indonesia, diperkirakan 9.600 spesies adalah tumbuhan obat, namun baru sekitar 300 spesies yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

"Lebih dari 8.000 produk telah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan sebagai jamu tetapi baru ada sekitar 60 produk obat herbal terstandar dan 21 produk fitofarmaka," kata Nina dalam orasi ilmiah pengukuhan profesor riset di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Nina menyebut, walaupun keanekaragaman hayati Indonesia begitu melimpah namun saat ini sebagian besar bahan baku obat Indonesia masih bergantung pada impor. Hampir 90 persen bahan baku yang digunakan di industri farmasi adalah impor. Indonesia mengimpor bahan baku obat dari Tiongkok, India dan kawasan Eropa.

Untuk mendukung Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 17 Tahun 2017 mengenai kemandirian bahan baku obat, sudah seharusnya pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia yang ada di darat dan di laut perlu ditingkatkan.

Penggunaan metode uji bioaktivitas in vitro yang mudah, cepat dan murah dapat menjadi cara strategis untuk percepatan penemuan potensi keanekaragaman hayati Indonesia.

"Uji bioaktivitas ini tahapan penting untuk pembuktian khasiat herbal dalam penemuan dan pengembangan obat. Bioaktivitas itu bisa berupa bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri," tandas Nina.

Masih terkait kekayaan hayati Indonesia, profesor riset Jamilah yang juga peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai bahan baku obat kanker dan malaria.

"Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen dan steroid," ucap Jamilah.

Menurut Jamilah, senyawa aktif ini fungsi antiinflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antitumor, antimalaria, antibakteri dan antiTBC.

"Peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar," tandas Jamilah.

Dalam pengukuhan profesor riset itu, dikukuhkan empat ahli peneliti utama. Dua profesor riset lain yang dikukuhkan yakni Anny Sulaswatty dari Pusat Penelitian Kimia dan Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi.

Hadir pula dalam pengukuhan profesor riset tersebut Kepala LIPI Laksana Tri Handoko. Dari pengukuhan tersebut, secara berturut-turut, para profesor tersebut menjadi profesor riset ke-131, 132,133 dan 134 dari 1.383 peneliti di LIPI. Sedangkan secara nasional, profesor riset ke-528, 529, 530 dan 531 dari 8.709 peneliti.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Tak Ada Tersangka Rusuh di Papua, Polisi Fokus Redam dan Lindungi

Polisi melanjutkan penyelidikan akun media sosial yang menyebarkan berita hoax untuk membakar massa di provinsi ujung timur Indonesia itu.

NASIONAL | 20 Agustus 2019

RUU KKS Berpotensi Munculkan Tumpang Tindih Fungsi Intelijen

BIN tidak bisa memberikan informasi atau bahan keterangan apa pun selain kepada Presiden sebagai "single client".

NASIONAL | 20 Agustus 2019

Pascakerusuhan, Pelayanan Pelni di Papua Normal

Tidak lancarnya jaringan internet di Manokwari, Papua membuat pelayanan tiket secara online terganggu.

NASIONAL | 20 Agustus 2019

Sejarah Indonesia Perlu Ditulis Ulang

"Apakah benar Indonesia terjajah?"

NASIONAL | 19 Agustus 2019

Wakil Ketua DPR: Tangani Kerusuhan Manokwari dengan Tepat

“Jangan sampai ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil."

NASIONAL | 19 Agustus 2019

PLTU Cilacap Harus Antisipasi Tsunami

Konstruksi PLTU yang tahan gempa dan tsunami merupakan desain ideal di tengah kebutuhan listrik nasional.

NASIONAL | 18 Agustus 2019

Aksi Tolak Rasisme di Sorong Berlanjut

Arus lalu-lintas pun sepi karena sejumlah ruas jalan terlebih khusus jalan utama Sorong Pusat masih diblokade warga dengan membakar ban.

NASIONAL | 20 Agustus 2019

Bupati Bogor: Wacana Provinsi Bogor Raya Sejak 2012

Sekitar 10 kota dan kabupaten yang kemungkinan bisa masuk menjadi Provinsi Bogor Raya.

NASIONAL | 20 Agustus 2019

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua: Kita Sama-sama Merah Putih

Lenis berharap agar tindakan rasial terhadap warga Papua tidak terulang.

NASIONAL | 20 Agustus 2019

Pascakerusuhan, Wiranto Berencana ke Papua

“Tanpa ada insiden, saya mau ke sana. Rencana saya untuk melakukan suatu upaya mendorong semangat bela negara sudah ada,” kata Wiranto.

NASIONAL | 20 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS