Rahartati Bambang Haryo

Penerjemah Bukan Pekerjaan Mudah

Penerjemah Bukan Pekerjaan Mudah
Rahartati Bambang Haryo, Penerjemah Asterix ( Foto: Istimewa )
O-1/Nadia Felicia / AB Senin, 17 Februari 2014 | 11:42 WIB

Penyuka komik di Tanah Air tentu tak asing dengan karakter Asterix. Lelaki mungil berambut pirang asal Desa Galia yang menjalani petualangan bersama sahabatnya yang besar dan kuat, Obelix. Komik Asterix yang berasal dari Prancis dan terbit pertama kali di Indonesia pada 1980-an itu meledak di pasaran Indonesia bahkan hingga dicetak ulang belasan kali.

Kesuksesan komik yang dikenal penuh guyonan membumi dan mengena itu di Indonesia tak lepas dari peran salah satu penerjemahnya, Maria Antonia Rahartati Hardjasoebrata Bambang Haryo (71). Berikut wawancara dengannya.

Seperti apa awal mula Ibu menerjemahkan komik Asterix?
Waktu itu saya bertemu teman dari penerbit majalah Kuncung, sekitar 1982. Ketika itu saya disodorkan beberapa halaman komik Asterix yang berjudul Negeri Dewa-dewa. Saya bertemu teman yang tahu saya bisa berbahasa Prancis, lalu dia menawarkan untuk menerjemahkan komik itu. Saya langsung diberi beberapa kopi komik Asterix untuk diterjemahkan. Dalam sehari, saya bisa menerjemahkan sekitar 1-2 komik.

Apa yang membuat Ibu tertarik untuk menerjemahkan komik Asterix?
Komik ini mengajak pembaca untuk berpikir, ketimbang komik lain yang cenderung menyuapi pembacanya. Pembaca Asterix harus orang yang fleksibel, karena ceritanya sulit ditelan. Pembaca harus mengenal sejarah dan banyak hal untuk bisa memahami komik itu. Pada masa itu, sekitar 1980-an, sudah dimasukkan mengenai tokoh-tokoh internasional, seperti Sean Connery, Jacques Chirac, dan sebagainya. Kalau tidak tahu hal-hal semacam itu, agak sulit untuk mengerti benar komik ini. Menurut saya, pembaca komik ini cukup selektif. Gambarnya pun bukan seperti komik kebanyakan, cenderung kasar. Karena pada dasarnya, si pembuat komik ini, Uderzo, buta warna. Dia harus dituntun kakaknya untuk menentukan warna yang sebaiknya digunakan pada gambar-gambarnya. Jadi, gambar-gambarnya sebenarnya lebih kuat pada guratan garis.

Apa yang membuat komik Asterix berbeda?
Saya ingat saat pertama kali bertemu dengan Uderzo pada 1995 (pertemuan kedua pada 1997). Saat itu nama Uderzo dan rekannya, Goscinny sangat besar. Mereka dianggap orang penting. Kenalannya pun petinggi-petinggi negara. Waktu itu saya tanya kepada Uderzo, mengapa tidak mencoba membuat nama mereka besar, seperti pembuat cerita anak lain yakni Walt Disney atau Hanna-Barbera. Jawaban Uderzo,"Saya tidak mau menjual murah Asterix." Jadi, bagi dia, komik adalah sesuatu yang sangat berharga di antara komik buatannya yang lain. Meski terakhir saya dengar belakangan ini ada masalah di keluarga Uderzo mengenai cara menjalankan bisnis komik mereka.

Siapa tokoh-tokoh favorit di komik Asterix?
Obelix. Menurut saya, dia yang paling manusiawi dengan segala kesukaannya. Dia juga bisa mencintai perempuan. Asterix cenderung misoginis (tidak suka perempuan). Untuk tokoh yang paling lucu menurut saya Assurancetourix. Dia sangat ingin bernyanyi, tetapi semua orang sangat ingin dia tidak bernyanyi. Lucunya di situ. Betapa dia menggebu-gebu ingin menyanyi, tetapi semua orang tidak mau mendengar suara paraunya. Meski sudah diminta tidak menyanyi, dia terus saja percaya diri.

Komik Asterix di Indonesia kerap dipuji dan dibicarakan karena kata-kata di dalam percakapannya sangat lucu dan membumi, bahkan hingga sekarang. Bagaimana bisa demikian?
Bagi saya, penerjemahan adalah hal yang sangat susah. Kebanyakan orang menerjemahkan secara harafiah. Misalnya, bila saya katakan,“The quick brown fox jumps over the lazy dog," bagaimana Anda akan menerjemahkannya? Kebanyakan orang akan menerjemahkannya dengan mengatakan,'Rubah cokelat yang lincah melompati si anjing pemalas'." Padahal bukan itu maksudnya. Itu sebenarnya adalah cara orang dulu menguji mesin ketik. Karena, di kalimat itu terdapat semua huruf alfabet, dari A sampai Z. Jadi, menerjemahkan sebuah tulisan itu harus paham amanat dan pesan di baliknya.

Uderzo pernah bertanya ke saya,"Bagaimana Anda bisa menerjemahkan Asterix. Memangnya bisa?" Saya jawab, "Yang saya lakukan adalah mengadaptasi dan melakukan alih gagasan, bukan sekadar alih bahasa." Contohnya, di salah satu cerita Asterix ada prajurit yang mencuci pakaian. Bila di komik aslinya, dia menyanyikan lagu dengan lirik yang sangat tidak masuk di masyarakat kita. Akhirnya, saya masukkan saja lirik lagu Titiek Puspa yang saat itu sedang populer, yakni Marilah ke Mari. Baru bisa lebih masuk dengan masyarakat di sini.

Dari mana ide tentang kata-kata lucu itu muncul?
Mengenai kelucuan dari adaptasi, yang sepertinya cair, saya banyak terpengaruh dari lingkungan sekitar. Keluarga saya yang paling banyak memberi pengaruh, terutama anak-anak. Kami terbiasa bersikap fleksibel dan penuh canda di keseharian. Anak-anak saya sering iseng dan bercanda. Saya banyak mendapat ide dari mereka. Saya membiasakan diri untuk meng-update informasi supaya mengerti keadaan sekitar dan bisa keep up dengan apa yang sedang terjadi. Jadi, saya katakan, penerjemah adalah pekerjaan yang sulit. Harus mengerti banyak hal. Lebih lagi, harus memiliki imajinasi dan pikiran yang sangat terbuka.

Termasuk memahami pola pikir si penulis?
Ya. Penerjemah harus rajin melakukan riset untuk mengerti banyak hal. Setiap hari saya selalu mencoba untuk membaca dan mempelajari banyak hal baru. Setidaknya di internet. Mengapa? Karena, otak manusia itu terbatas. Kalau tidak menyadari hal ini dan merasa sudah pintar segalanya, maka hasil yang dibuat bisa jadi sangat jelek. Itu berbahaya. Jangan pernah merasa sudah pintar.

Seperti apa sosok Uderzo di mata Ibu?
Dia adalah sosok yang sangat sederhana dan justru tidak humoris di kehidupan aslinya. Tetapi, pada dasarnya dia orang yang sangat baik. Kalau melihat perawakannya, tidak seperti seseorang yang humoris, sebagaimana cerita-cerita dalam komik karyanya.

Bagaimana Ibu bisa menjadi seorang penerjemah?
Ibu yang meminta saya untuk menjadi penerjemah. Awalnya dia melihat bakat saya menulis. Waktu kelas lima SD, sepulang sekolah dan setelah melihat hasil tugas mengarang yang saya buat, Ibu saya bilang,"Disimpan, Tati. Ucapan bisa hilang, tetapi tulisan akan abadi." Lalu, ketika beranjak dewasa, Ibu tahu saya menguasai beberapa bahasa (Jawa, Indonesia, Prancis), dia mendorong saya untuk menjadi penerjemah. Bahkan, saat dia sedang terbaring sakit dan sudah mulai tidak bisa ingat banyak hal, dia pernah menyapa saya,“Ini Tati, ya? Anak saya yang penerjemah”. Itu sangat mengena di dalam diri saya. Terbukti, saya pun menikmati pekerjaan ini.

Apa kesulitan menjadi penerjemah?
Saya sempat dibayar sekitar Rp 350.000 per buku. Namun, di balik itu, yang saya tidak tahu, komik Asterix diproduksi ulang atau dicetak ulang berkali-kali. Bahkan, ada yang hingga 19 kali cetak ulang. Sedangkan, bayaran saya tetap dan tidak ada royalti apa pun. Suatu waktu, saya kedatangan orang Prancis yang belajar di Universitas Indonesia. Dia mengaku belajar bahasa Indonesia lewat komik Asterix yang di Indonesia. Di negaranya, Asterix sangat terkenal, sehingga dia lebih mudah untuk mempelajari bahasa Indonesia, karena sudah tahu ceritanya.

Saat bicara dengannya, dia iseng bertanya mengenai honor. Lalu saya ceritakan apa adanya. Dia bilang seharusnya tidak begitu. Ada aturannya. Rupanya dia berprofesi sebagai pengacara. Lalu dari sana, dibantu teman dari Prancis itu, mulai saya minta penyesuaian harga jasa menerjemahkan. Bayangkan, komik Asterix itu terbit terus, sekitar 19 buku saya terjemahkan, bertahun-tahun. Harga dolar fluktuatif, tetapi bayaran saya tetap sama. Dari dia saya mengerti tentang pentingnya menghargai diri sendiri dalam menerjemahkan. Karena, sejujurnya, pekerjaan menerjemahkan itu sangat tidak mudah. Karena itu, sepertinya saat ini saya menjadi penerjemah termahal, karena bayaran saya dihitung per huruf, ketika penerjemah lain per kata.

Ibu terlihat masih bersemangat dan berkarya, apa rahasianya?
Orang-orang di sekitar saya, terutama anak-anak dan cucu-cucu. Saya pernah mengajak cucu yang saat itu baru berusia 5-6 tahun untuk berkhayal tentang masa depan. Saya tanya, kalau sudah besar dia mau menjalani profesi apa. Dia bilang mau menjadi ahli dinosaurus. Lalu saya tanya,"Eyang Putri bagaimana?" Dia menjawab,"Eyang sudah menjadi fosil." Namun, kemudian dia selalu bilang kalau saya akan terus hidup sampai usia mencapai empat digit. Hal-hal semacam ini membuat saya merasa masih dibutuhkan. Itu yang membakar semangat saya.

Sudah berapa banyak karya yang dihasilkan?
Sudah ada sekitar 78 puisi dan lagu, sekitar 52 lagu berbahasa Prancis, dan 12 lagu anak-anak. Dulu saya bertekad untuk menghasilkan satu karya per hari. Namun, sejak suami saya tutup usia pada 2010, saya kehilangan semangat berkarya. Sedikit menurun. Peran dia sangat penting bagi saya dalam membuat karya.

Ibu juga menulis lagu?
Ya. Ayah saya adalah seorang musikolog dan guru. Ibu saya juga guru. Ayah saya adalah orang pertama yang menciptakan lagu-lagu berbahasa Jawa dengan ketukan 3/4. Ia adalah pengarang lagu Gundul Pacul. Dari kedua orangtua saya belajar banyak hal, terutama tentang cara mendidik.

Tentang mendidik anak, hal apa yang penting?
Mengenai pendidikan, saya belajar banyak dari orangtua. Ayah saya selalu mengajak kami berdelapan untuk belajar musik. Ia juga tidak pernah memarahi kami. Ia hanya menanamkan budi pekerti lewat nasihat-nasihat yang mengena.

Satu contoh, ketika saya mematahkan batang pohon mawar milik Ibu. Ayah melihat ketika saya membenamkan batang patahnya ke tanah. Ia bertanya mengapa saya berbuat begitu. Saya jawab,"Supaya enggak kelihatan orang. Kan, jelek." Ayah hanya menjawab,"Ya, tetapi kamu tahu itu."

Ayah juga mengajar kami lewat sistem yang mendidik sambil menghibur. Saya dulu sering duduk di pangkuannya. Lalu, dia akan menepuk pahanya untuk membuat irama. Ia akan meminta saya membuat lirik dari irama itu. Ketika kami naik kereta dan mendengar derunya, dia juga meminta saya untuk membuatkan liriknya, di tempat dan langsung. Dari situ saya belajar mengenai ketukan dan kenyamanan membuat kalimat. Untuk menyusun ikatan kata, kita tidak boleh mengerem. Biarkan saja mengalir. Setiap suku kata harus dihitung. Dia juga memicu imajinasi saya dengan cara menyenangkan di saat-saat seperti itu.

Jadi, menurut saya, mendidik dan menghibur adalah hal penting. Saya sering bicara mengenai hal ini dan pernah diundang untuk membicarakan hal ini di Yunani. Musik dan bahasa itu adalah hal yang berdampingan. Sangat mudah untuk memasukkan pesan atau belajar lewat musik. Lewat musik, seseorang juga bisa menjadi pribadi yang percaya diri.

Pendidikan yang menghibur lebih mudah dipahami anak?
Lewat mendidik dan menghibur pula, anak bisa lebih cepat paham. Saya juga membuat beberapa buku cerita anak. Saya membuat cerita-cerita ringan mendidik lewat tokoh anak-anak yang belajar budi pekerti melalui kejadian-kejadian keseharian. Ada beberapa hal yang harus dicontohkan. Misalnya, pada salah satu cerita yang saya buat, si anak yang menjadi tokoh utama memberikan minuman kepada tukang pos yang sering mengantarkan surat.

Apa ada mimpi Ibu yang ingin diwujudkan?
Saya ingin membuat sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu. Saya ingin ada sekolah yang bisa mengajarkan musik dan bahasa, tetapi pengajarnya profesional, bukan yang asal-asalan. Saya sering mengajak anak-anak kurang mampu di sekitar rumah untuk berkumpul di sini (rumah, Red), bernyanyi, dan bercerita. Mimpi lainnya adalah mengumpulkan karya-karya musik ayah saya untuk diterbitkan. Ini bentuk balas budi saya kepada orangtua.

Sumber: Suara Pembaruan