Gamal Albinsaid

Asuransi Sampah untuk Berobat

Asuransi Sampah untuk Berobat
Disna Harvens / AB Senin, 11 Agustus 2014 | 17:14 WIB

Sampah sering kali dianggap sesuatu yang tidak berguna dan cenderung menjadi sumber penyakit. Namun, bagi Gamal Albinsaid, sampah memiliki manfaat lebih bagi kehidupan. Di tangannya, bahkan sampah bisa untuk menyembuhkan penyakit.

Gamal Albinsaid dilahirkan di Kota Malang pada 8 September 1989. Pendidikannya dimulai dari madrasah ibtidaiah di Jalan Jenderal Sudirman Malang, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Malang, lalu program akselerasi di SMA Negeri 3 Malang, serta fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Berobat dengan Mengumpulkan Sampah
Pengelolaan sampah adalah masalah yang kerap dihadapi semua negara, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, sampah masih diolah dengan cara yang konvensional. Menurut Gamal, 35 persen sampah di Indonesia berakhir dengan cara dibakar, tujuh persen ditimbun, dan hanya 2,1 persen yang dikelola dengan baik. Sisanya, sampah dibiarkan tertumpuk begitu saja. Sampah masih dianggap sebagai barang yang tidak bernilai.

Kondisi tersebut membuat Gamal tergerak untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang sampah. Bersama Indonesia Medika, Gamal akhirnya membuat program Klinik Asuransi Sampah (KAS). Klinik Asuransi Sampah adalah program asuransi kesehatan dengan premi sampah sebagai pembiayaan program kesehatan. Dengan program ini, warga cukup menyerahkan sampahnya ke klinik tersebut. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai “Dana Sehat” melalui dua cara, untuk sampah organik dijadikan pupuk dengan "Metode Takakura", sedangkan untuk sampah anorganik dijual ke pengepul.

Selain kepeduliannya terhadap pengelolaan sampah, hal lain yang melatarbelakangi Gamal membuat program Klinik Asuransi Sampah adalah kisah nyata yang terjadi di Jakarta pada 5 Juni 2005. Kala itu, ada seorang anak perempuan yang tidak bisa berobat karena penghasilan ayahnya hanya Rp 10.000. Akhirnya, anak tersebut meninggal. Berdasarkan kisah tersebut, Gamal lalu mengajak kader posyandu, PKK, pemulung, dan masyarakat untuk mengembangkan KAS.

KAS mulai dilaksanakan pada 2010. Namun, sempat terhenti ketika baru enam bulan berjalan. Akhirnya, pada Maret 2013 program ini kembali dijalankan. Sejauh ini, sudah ada lima klinik di Malang yang saat ini telah menerapkan sistem asuransi sampah dengan jumlah anggota lebih dari 500 orang.

Adapun konsep asuransi ini cukup sederhana. Sebelum berobat, warga harus mendaftar terlebih dahulu menjadi anggota klinik yang menjalankan program KAS. Setiap bulan, warga yang sudah terdaftar harus menyetorkan sampah kering senilai Rp 10.000. Sampah yang dikumpulkan warga tersebut diolah menjadi uang sebagai “Dana Sehat”.

"Dana Sehat" tersebut dapat digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh), sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.

Atas inovasinya tersebut, Gamal pernah meraih penghargaan "The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur" dari Pangeran Charles di Inggris. Penghargaan tersebut diterimanya setelah melalui seleksi ketat dari tujuh finalis Unilever Sustainable Living Award di seluruh dunia, yakni Anu Sridharan dari India, Blessing Mene dari Nigeria, Surya Karki dari Nepal, Isabel Medem dari Peru, Curt Bowen dari Guatemala, dan Manuel Wichers dari Meksiko.

Selain memperoleh penghargaan, Gamal juga mendapatkan hadiah 50.000 euro atau sekitar Rp 800 juta sebagai dukungan finansial dan paket mentoring dari Universitas Cambridge yang dirancang secara individu. Dengan terkenalnya program asuransi sampah ini, Gamal berniat ingin mengembangkan klinik dengan sistem ini di kota-kota lain di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Rekomendasikan Inspiring Young Leaders 2015 di sini

---

Gamal Albinsaid adalah salah satu tokoh Inspiring Young Leader 2014 versi Beritasatu.com. Lihat hasil polling Inspiring Young Leaders 2014 favorit pilihan pembaca, klik di sini