Edwin Rudianto

Asah Strategi di Meja Biliar

Asah Strategi di Meja Biliar
Edwin Rudianto, Head of Business Banking PT Bank Ekonomi Raharja Tbk ( Foto: Istimewa )
Thomas Ekafitrianus / AB Senin, 29 September 2014 | 10:02 WIB

Bermain biliar membutuhkan konsentrasi dan kesabaran tinggi, di samping menyenangkan karena bisa dimainkan secara perorangan maupun tim. Head of Business Banking PT Bank Ekonomi Raharja Tbk, Edwin Rudianto yang hobi main biliar menilai cabang olahraga ini bagus untuk mengasah strategi agar tetap bisa memukul bola, mempersempit ruang gerak lawan, dan memenangi pertandingan. Main biliar juga menjadi ajang kumpul-kumpul bersama teman.

Biliar dimainkan di atas meja dan dengan peralatan bantu khusus serta peraturan tersendiri. Biasanya, jika bermain biliar, Edwin dan rekan-rekan menggunakan bola delapan, dan kalau berdua saja bisa menggunakan bola sembilan.

“Kadang-kadang, saya dan teman-teman juga main bertiga dengan bola 15. Saya main biliar seusai bekerja bersama teman sekantor dan rekan-rekan seprofesi di industri perbankan. Saya juga suka main golf, karena olahraga ini membutuhkan konsentrasi tinggi,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

Edwin lebih suka bermain biliar di Setiabudi Building, Jakarta, karena dekat dengan kantornya. Hobi main biliar sudah ditekuninya sejak masih SMA dan kuliah di Kota Surabaya, hingga saat ini. Dia juga pernah ikut lomba biliar untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia bersama warga Indonesia ketika menempuh pendidikan perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS).

Dia menjelaskan, olahraga biliar cukup berkembang di Indonesia. Dalam sebuah literatur, permainan biliar jenis pool cukup diminati masyarakat Indonesia, seperti bola 15, bola delapan, dan bola sembilan.

“Kalau ditanya kenapa saya suka main biliar, karena olahraga ini mengharuskan pemainnya mampu memukul bola yang benar dan akurat. Pemain juga harus menguasai sejumlah teknik, seperti teknik memasang, atau teknik kunci/snook untuk mempersulit gerak lawan memukul bola. Main biliar membuat kita mengasah strategi, konsentrasi, dan sabar,” jelasnya.

Edwin mengisahkan, pertama kali main biliar karena diajak teman saat masih sekolah. Ketika bermain, dia mengaku bisa menjalaninya hingga berjam-jam. Sejak 3-4 tahun belakangan ini, di kantor tempat Edwin bekerja juga diadakan lomba main biliar untuk mengisi kegiatan peringatan 17 Agustus.

“Dulu, saya pernah punya dua stik biliar yang bagus. Tapi sekarang, saya tidak pernah lagi bawa-bawa stik. Saya hanya memakai stik yang disediakan di tempat main. Sampai-sampai, saya tidak tahu lagi di mana dua stik bagus itu saya simpan,” ujarnya..

Ingin Jadi Insinyur
Pada kesempatan itu, Edwin juga menceritakan perjalanan karier dan cita-citanya ketika masih remaja. Dia bercita-cita menjadi seorang insinyur, sehingga setelah tamat SMA di Surabaya, melanjutkan kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya, jurusan teknik sipil selama satu tahun.

Lalu, Edwin tertarik untuk mengambil beasiswa ke Selandia Baru, yang disediakan oleh Kementerian Perindustrian. Tetapi, beasiswa tersebut untuk program jurusan ekonomi. Dia akhirnya memutuskan mengambil beasiswa itu dan akhirnya pindah haluan ke program pendidikan ekonomi.

Baru satu setengah tahun di Selandia Baru, orangtuanya yang berprofesi sebagai bankir pindah tugas ke New York, AS, sehingga Edwin ikut pindah tahun 1990-1995.

“Saya pindah sekolah lagi untuk mengambil program Master (S2) di Baltimore, Marryland, AS, bidang ekonomi. Dahulu, cita-cita saya ingin menjadi insinyur, tapi akhirnya sekarang jadi bankir,” ujar Edwin yang dikaruniai tiga orang anak ini.

 

Sumber: Investor Daily