Tak Ada Pemimpin yang Sukses Sendirian
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Dian Siswarini

Tak Ada Pemimpin yang Sukses Sendirian

Senin, 4 Mei 2015 | 14:29 WIB
Oleh : Emanuel Kure / AB

Tak ada pemimpin yang sukses sendirian. Keberhasilan sekecil apa pun yang dicapainya pasti berkat bantuan atau dukungan anak buah dan orang-orang di sekelilingnya. Dian Siswarini meyakini betul keampuhan filosofi tersebut. Filosofi itu pula yang ia terapkan di PT XL Axiata Tbk, emiten telekomunikasi bersandi saham EXCL yang dipimpinnya.

“Saya enggak bisa sendirian. Saya akan berhasil bila mendapat dukungan dari semua karyawan XL. Bagaimana caranya mendapat dukungan? Saya harus memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengembangkan potensinya,” kata Dian Siswarini di Jakarta, baru-baru ini.

Dian memang dikenal sebagai chief executive officer (CEO) yang terbuka dan mudah berinteraksi dengan karyawannya. Namun, di pihak lain, ia juga dikenal tegas, terutama ketika harus segera mengambil keputusan dan menyelesaikan konflik.

Nah, apa pendapat perempuan kelahiran Majalengka Jawa Barat, 5 Mei 1968, ini tentang konflik di perusahaan? Ternyata konflik bisa menghasilkan keputusan yang baik. Syaratnya, konflik diselesaikan secara terbuka dalam semangat kebersamaan.

“Konflik enggak boleh dihindari. Mungkin ada yang kurang nyaman menghadapi konflik. Tapi bagi saya, konflik itu kalau ditutupi suatu saat akan meledak, malah bisa berbahaya, lebih jelek dampaknya,” papar Dian. Berikut penuturan lengkap ibu tiga anak itu.

Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di bidang telekomunikasi?
Dunia telekomunikasi itu dunia yang perubahaannya sangat dinamis, sangat cepat. Kalau kita mau bandingkan dengan industri lain, misalnya otomotif, perubahannya enggak banyak. Di dunia telekomunikasi, dalam tiga tahun saja, satu teknologi bisa menjadi basi. Contoh teknologi wireless atau GSM.

Waktu saya masuk pada 2006, di dunia itu baru ada teknologi 2G. Kemudian, awal 2000-an, mulai masuk 3G, dan terus berkembang dengan 4G sekarang, bahkan 5G sudah mulai berkembang di negara lain. Jadi, perkembangan dunia telekomunikasi sungguh luar biasa. Telekomunikasi memberikan perubahan yang sangat besar bagi manusia.

Tantangannya di mana?
Karena perubahannya sangat cepat, kita enggak boleh berhenti belajar. Kalau enggak belajar, kita ketinggalan. Kita harus terus-menerus belajar. Nah, dari sisi perusahaan, dengan adanya perubahan yang sangat cepat tersebut, investasi yang diperlukan tentu sangat besar. Di Indonesia, dalam setahun investasinya bisa sampai Rp 40 triliunan. Jadi, ini industri yang padat modal. Anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) yang paling besar itu untuk jaringan.

Alasan Anda memilih profesi ini?
Saya memang dari kecil sudah senang dunia teknik. Mungkin berasal dari lingkungan keluarga. Sejak sekolah pun saya masuk teknik. Saya kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung), jurusan teknik elektro, juga dengan pemikiran saya akan bekerja di bidang telekomunikasi. Itu karena telekomunikasi merupakan industri yang perubahannya cepat, dinamis, dan memberikan dampak yang luas.

Semua orang butuh kan? Telekomunikasi sudah menjadi kebutuhan semua orang, hampir menjadi kebutuhan primer semua orang. Telekomunikasi enggak ada matinya deh. Kalau ditanya cita-cita, arahnya sudah jelas. Sebelum wisuda pun saya sudah bekerja di bidang telekomunikasi.

Cerita Anda menjadi pimpinan XL Axiata?
Perjalanannya panjang. Saya mulai masuk XL pada 1996, sebagai engineer. Levelnya staf. Setelah bekerja 11 tahun, pada 2007 saya diangkat menjadi salah satu direksi XL, yaitu direktur network services. Jadi, sebelum diangkat menjadi direksi, saya selalu bekerja di bidang teknik. Kemudian, pada 2011 saya pindah ke bagian digital services. Tugas saya adalah membangun bisnis baru. Bisnis baru yang bukan merupakan core business XL, yaitu bisnis digital commerce, digital advertising, digital payment. Kalau core business XL kan komunikasi suara, teks, dan data. Pokoknya yang di luar bisnis tersebut.

Kiat sukses Anda memimpin XL?
Banyak orang bertanya kepada saya. Waduh, kok bisa, ibu kan perempuan? Nah, saya jawab, karena perempuan maka bisa. Dalam memimpin perusahaan ini, kami harus menyelaraskan berbagai kepentingan. Ada kepentingan karyawan, ada kepentingan customer, ada kepentingan pemegang saham, ada kepentingan pemerintah. Masing-masing kepentingan bisa sejalan, bisa juga tidak sejalan.

Tugas kami, bagaimana berusaha menyelaraskan supaya semua kepentingan stakeholders bisa terlayani dengan baik. Misalnya kepada karyawan, kami tidak hanya memberikan kompensasi atau benefit yang mereka mau, tapi bagaimana mengakomodasi mereka supaya perusahaan ini bisa menjadi rumah kedua yang nyaman bagi mereka. Terus, bagaimana bisa mengembangkan potensi karyarwan, sehingga mereka bisa meniti karier dengan baik, supaya mereka bisa berkembang ke posisi yang lebih baik lagi.

Kepentingan siapa yang paling susah dipenuhi?
Yang paling susah dipenuhi tentunya yang punya uang, yaitu shareholder. Pemegang saham itu kan sudah put money, lalu dia bilang, eh kasih kami return dong? Juga pelanggan karena dari sisi pelanggan kemauannya berbeda-beda. Kalau zaman dulu service voice dan short message service (SMS) enggak terlalu berbeda. Tapi sekarang, pemakaian data pasti beda. Misalnya ada yang lebih suka buka Youtube, ada juga yang suka file transfer. Kebutuhan yang berbeda-beda itu harus dilayani dengan cara dan produk yang berbeda-beda pula.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa, terutama dalam menyelesaikan persoalan?
Kalau semuanya sedang adem-ayem, tentu enggak susah. Tapi kenyataannya, dalam berinteraksi pasti ada perbedaan pendapat, perbedaaan keinginanan, tujuan, dan lainnya. Nah, setiap perbedaan harus dibicarakan secara terbuka. Misalnya ada konflik, enggak boleh dihindari.

Bagi beberapa orang mungkin ada yang kurang nyaman menghadapi konflik. Tapi bagi saya, konflik itu kalau ditutupi suatu saat akan meledak, malah bisa menjadi berbahaya, lebih jelek dampaknya. Konflik harus diselesaikan secara terbuka. Kadang-kadang konflik bisa menghasilkan keputusan yang baik. Kalau sudah ada keputusan, setiap orang akan bisa bekerja lebih maksimal.

Strategi Anda memajukan perusahaan?
Dunia telekomunikasi sedang menghadapi banyak tantangan karena memang penetrasinya sudah lumayan tinggi. Itu sebabnya, operator telekomunikasi harus lebih kreatif, lebih inofatif. Kami harus mencari cara supaya bisnis terus berkembang. Kemudian, kan layanan data sekarang naik pesat. Maka kami fokus pada layanan data. Bisnis voice dan SMS juga turun.

Kami harus berupaya bagaimana caranya supaya masyarakat bisa menggunakan layanan data lebih optimum. Bagaimana supaya mereka memahami layanan data ini bisa membuat hidup mereka lebih mudah atau produktif dalam bekerja. Kalau pemahaman itu sudah ada, kita enggak perlu menyuruh-nyuruh lagi supaya pakai internetnya. Bila pemahaman masyarakat sudah tinggi, akan makin banyak lagi yang memakai layanan data. Revenue akan datang dengan sendirinya.

Bukankah masih banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan feature phone?
Betul. Ini salah satu masalahnya. Sekitar 70 persen masyarakat Indonesia itu masih memakai feature phone (transisi handphone biasa dengan smartphone). Contohnya 3G. Walau kita sudah memulainya dari 2005, penetrasi 3G handphone masih 30 persen. Tapi dua atau tiga tahun belakangan ini pertumbuhannya luar biasa. Akhir-akhir ini sekitar 50 persen handset smartphone yang masuk ke Indonesia adalah 3G. Tapi, dari total base perkembangannya belum signifikan. Meski demikian, ke depan, perubahannya akan lebih cepat.

Kami berupaya agar lebih banyak masyarakat menggunakan 3G. Kalau kita pakai data service di 2G itu kan kurang nyaman, speed-nya kurang, tidak efisien, dan mahal. Makanya kami buat service dan produk yang berbeda di 3G, sehingga masyarakat lebih banyak pakai 3G.

Gebrakan fenomenal yang pernah Anda capai di perusahaan?
Pertama, sebetulnya XL pada 2007 melakukan gebrakan dengan strategi yang disebut minute factory. XL yang pertama kali menghadirkan service sangat terjangkau, sehingga kebanyakan masyarakat level bawah bisa menikmati layanan telekomunikasi. Langkah kami kemudian diikuti operator lain. Gebrakan itu boleh dibilang fenomenal, karena makes every one can call.

Kedua, akuisisi Axis. Di negara lain, proses akuisisi banyak yang gagal. Perjalanannya tidak mudah. Untuk mendapat izin akusisi saja hampir setahun. Yang paling lama itu proses mendapatkan izin dari pemerintah. Kemudian, akusisi ini bukan pekerjaan mudah. Di dunia, proses akuisisi kurang dari 20 persen yang berhasil, kebanyakan gagal.

Alhamdulillah XL bisa menyelesaikan proses akuisisi dan integrasi, malah lebih cepat dari jadwal. Padahal, integrasinya kompleks sekali. Sebab, yang kami integrasikan bukan hanya masaalah organisasi, tapi network-nya, kemudian sistem information technology (IT)-nya, jalur distribusi, marketing, dan customer-nya. Banyak item-nya. Ini proyek yang sangat kompleks.

Visi bisnis XL ke depan?
Kami ingin membawa masyarakat telekomunikasi di Tanah Air menjadi lebih digital, sehingga pemanfaatan internet lebih optimum. Kami ingin membawa masyarakat Indonesia ke tingkat hidup yang lebih baik. Salah satu contohnya adalah aplikasi mFish yang kami luncurkan di Lombok, NTB. Tujuannya supaya nelayan lebih produktif, supaya kehidupan ekonomi lebih baik. Kami bukan sekadar berjualan SIM card atau apalah, tapi benar-benar ingin membantu masyarakat Indonesia supaya lebih produktif memanfaatkan teknologi.

Filosofi Anda dalam memimpin perusahaan?
Yang paling penting, saya enggak bisa sendirian. Bahwa saya akan berhasil bila saya mendapat dukungan dari semua karyawan XL. Bagaimana caranya mendapat dukungan? Saya harus memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengembangkan potensinya. Jadi, trust itu penting, dan juga openness. Harus terbuka. Harus memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memberikan pemikiran, masukan. Tidak satu arah. Enggak ada istilah pemimpin yang sukses sendirian.

Anda puas dengan pencapaian XL?
Kalau kita lihat, sejak 2006 pencapaian XL sudah luar biasa. Kami muncul di nomor tiga. Small number three, bahkan kami setengahnya dari nomor dua. Kami berkembang, sehingga menjadi operator nomor dua. Sekarang kami ingin supaya value yang kami create bisa jauh lebih baik. Value terhadap shareholder dan terhadap masyarakat. Dan, bagaimana supaya kami bisa membantu Pemerintah Indonesia. Masih banyak yang harus dilakukan.

Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?
Membagi waktu itu tidak gampang. Kuncinya adalah perencanaan yang baik, time management yang baik. Poinnya, misalnya dengan anak-anak. Saat bersama mereka, saya harus bisa menghargai mereka. Jangan sampai saat bersama mereka, saya malah sibuk dengan pekerjaan. Anak-anak pasti tahu, ibunya secara fisik ada di sini, tapi pikirannya enggak ada di sini. Mereka sensitif untuk hal-hal seperti itu. Misalnya ketika sedang bersama mereka, saya sibuk main handphone, balas SMS, atau email, mereka tahu itu.

Bukan soal kuantitas, tetapi kualitas ketika berada bersama keluarga. Saat di rumah bersama keluarga, semua perhatian harus dicurahkan kepada keluarga. Saat berada di rumah, saya fokus pada tugas rumah, di kantor saya fokus pada tugas kantor. Saya punya tiga anak, satu perempaun dan dua laki-laki. Yang perempuan sudah lulus S1, sedang ambil master.

Ada kegiatan sosial khusus saat weekend?
Sekarang enggak banyak. Kalau weekend saya lebih suka berada di tengah keluarga. Kalau sudah tidak aktif lagi mungkin saya akan lebih banyak ke arah kegiatan sosial. Dulu sempat punya yayasan untuk membantu yang kurang mampu, perbaikan mesjid, dan sebagainya.

Seberapa besar peran keluarga bagi karier Anda?
Peranan keluarga sangat penting. Tanpa bantuan keluarga, tidak mungkin saya bisa sampai posisi sekarang. Suami saya sangat mendukung, anak-anak saya sangat pengertian, termasuk keluarga besar saya. Ibu saya bisa berperan menggantikan saya menjaga anak-anak bila saya ke luar kota. Jadi, extended family juga sangat mendukung. Perannya luar biasa.

Yang pasti, saya menjadi partner bagi suami saya untuk mendidik anak-anak, membantu anak-anak belajar. Suami kadang mengambil peran saya, misalnya mengantar anak ke sekolah atau mengambil rapor anak-anak di sekolah. Begitupun anak-anak. Mereka sangat pengertian terhadap peran saya sebagai perempun karier. Misalnya akan ada pembagian rapor di sekolah, jauh-jauh hari mereka sudah memberitahukannya. Kalau saya berhalangan, mereka tidak keberatan, termasuk jika yang mengambil rapor adalah ayahnya.

Apa saja yang memotivasi Anda, sehingga tetap komit terhadap keluarga dan pekerjaan?
Apa yang saya lakukan di perusahaan ini untuk masyarakat sangat besar. Saya yakin sekali apa yang saya lakukan bisa membantu dan bermanfaat bagi orang banyak. Itu yang memotivasi saya.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Idolakan Tokoh Kemerdekaan

Belum ada tokoh politik atau pejabat yang patut menjadi idola pada era sekarang.

FIGUR | 29 April 2015

Adu Argumentasi Hasilkan Keputusan Lebih Baik

Kamadjaja Logistics telah menjelma menjadi perusahaan logistik terpadu yang beroperasi di 17 kota besar dan mengelola 22 pusat distribusi.

FIGUR | 27 April 2015

Koleksi Jam dan Pulpen untuk Investasi

Keuntungan dari investasi sebuah jam berkisar Rp 5-10 juta.

FIGUR | 25 April 2015

Merasa Kaya karena Menolong

Pendampingan yang paling berat adalah saat melawan tengkulak.

FIGUR | 23 April 2015

Dorong Investasi Hijau

Ekonomi hijau merupakan solusi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

FIGUR | 21 April 2015

Perusahaan Butuh "Coach"

"Coach", guru, mentor, ataupun konsultan memberikan pandangan terhadap sesuatu yang tidak dilihat eksekutif perusahaan.

FIGUR | 21 April 2015

Kuba yang Tak Terlupakan

Bidang kesehatan sangat menarik karena berhubungan dan melibatkan banyak orang.

FIGUR | 20 April 2015

Aktualisasi Diri Lewat Mengajar

Forum Dokter dan Psikologi Indonesia akan mengembangkan pendidikan berfokus pada keseimbangan otak kiri dan kanan.

FIGUR | 18 April 2015

Kuasai Ilmu Pengetahuan

Pemimpin yang baik selalu mampu memperhatikan bawahannya.

FIGUR | 17 April 2015

Tak Bisa Jauh dari Dunia Ritel

Bisnis ritel di Indonesia tidak ketinggalan dibanding luar negeri.

FIGUR | 15 April 2015


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS