Mewujudkan "Art Cultural Airport"
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Budi Karya Sumadi

Mewujudkan "Art Cultural Airport"

Senin, 11 Mei 2015 | 11:04 WIB
Oleh : Yohanes Harry Douglas / B1

Bandara merupakan beranda dan pintu masuk sebuah negara. Karenanya, peningkatan kualitas bandara menjadi salah satu perhatian pemerintahan Jokowi yang getol mengundang investasi untuk masuk ke Indonesia. Karenanya, awal tahun ini Menteri BUMN Rini Soemarno menunjuk Budi Karya Soemadi menjadi direktur utama PT Angkasa Pura II (AP 2).

AP 2 merupakan pengelola 13 bandara di wilayah barat Indonesia, termasuk bandara terbesar di Indonesia, Soekarno-Hatta. Mantan direktur utama PT Jakarta Propertindo tersebut diberikan amanat untuk mengubah wajah bandara Indonesia, khususnya Soekarno-Hatta, menjadi lebih baik, cerah dan menampilkan budaya Indonesia.

Menerima amanat tersebut, Budi yang sukses membangun Ancol Ecopark dan melakukan normalisasi Waduk Pluit, menawarkan konsep smile airport dan mencanangkan target menjadikan Bandara Soekarno-Hatta sejajar dengan Kuala Lumpur International Airport dan Suvarnabhumi Airport, Thailand.

Bagaimana langkah Budi mewujudkan hal tersebut? Berikut penuturan Budi saat berbincang di salah satu hotel di bilangan Senayan, Jakarta. Dalam pertemuan pagi hari tersebut, Budi didampingi Direktur Layanan dan Fasilitas, Ituk Herarindri dan Sekretaris Perusahaan, Eko Diantoro.

Saat Anda ditunjuk menjadi direktur utama, Anda menawarkan konsep smile airport. Apa maksudnya?
Bandara itu ibarat beranda di sebuah rumah. Kalau kita kedatangan tamu di rumah, kita akan ganti baju dan tampil rapi untuk menyambut tamu di beranda. Beranda rumah juga biasanya bersih dan rapi. Sebab, kita ingin memberikan kesan yang baik. Kalau kesannya baik dia akan mau masuk ke rumah dengan senang hati. Nah, bandara itu harus seperti itu. Kita harus membuat semua orang yang datang ke bandara senang dan dia tersenyum. Sebab, kesan di beranda itu memberi kesan 30-40 persen. Jadi semua pengguna bandara, baik penumpang, investor yang mau masuk ke Indonesia dan maskapai harus tersenyum dengan bandara dan layanannya.

Kita ambil contoh di Bandara Changi, Singapura. Kalau orang terkena delay di sana, orang tidak marah, beberapa bahkan senang. Itu karena bandaranya nyaman. Nah, kita ingin kesan seperti itu juga ada di bandara kita. Memang untuk menyaingi Changi masih jauh, karena mereka pun terus meningkatkan diri. Tapi untuk bersaing dengan KLIA dan Svarnabhumi, saya pikir itu realistis. Itu yang akan kita kejar.

Bagaimana mewujudkannya?
Smile itu terjadi karena experience. Jadi kita akan utamakan experience-nya. Bagaimana caranya? Dengan kebudayaan. Jadi kalau Changi menjual green, kita akan jual art. Indonesia adalah bangsa yang memiliki banyak kebudayaan. Banyak orang di dunia, kagum akan kebudayaan kita. Tapi tempat seniman kita menunjukkan karyanya sangat sedikit. Mereka justru banyak pameran di Singapura. Ini yang akan kita pertemukan.

Di Soekarno-Hatta kita akan bangun lebih dari 10 patung di sana. Temanya adalah "Indonesia Menari". Nanti akan ada patung garuda besar yang menyambut penumpang. Kemudian patung-patung lain-lain juga. Kita akan menominasikan beberapa pematung, ada beberapa kurator yang sudah kita tunjuk.

Di Terminal 3 Soekarno-Hatta nanti kita akan buat galeri, sehingga para seniman bisa menunjukkan karya-karyanya. Di pengambilan bagasi nanti akan ada batik wall. Kita juga akan buat dua lounge besar, masing-masing 4.000 meter persegi. Kita yang akan kelola sendiri. Isinya makanan-makanan khas Indonesia. Jadi kita akan berikan experience-nya di situ.

Kita buat penumpang senyaman mungkin di bandara kita. Di terminal 2, kita saat ini saya siapkan tempat bagi area publik. Kita juga tingkatkan kebersihan dan kenyamanan. Sampai saat ini saja kita keluarkan Rp 100 miliar untuk menambah kenyamanan ini. Itu baru jangka pendek.

Apa tantangannya terbesar untuk mewujudkan itu?
Budaya di dalam. Sebab, bandara itu kan bukan seperti hotel yang harus memperbaiki diri supaya orang menginap. Jadi kebiasaan melayani itu masih harus ditingkatkan. Mindset melayaninya itu yang sekarang kita terus tingkatkan. Tidak bisa lagi pola pikir lama. Dan sejauh ini hasilnya sangat positif.

Kita lihat di Terminal 1 Soekarno-Hatta misalnya, sudah jauh lebih baik kan? Kondisi terminal sudah lebih bersih, terang, dan bersih. Alur lalu lintas juga sudah diatur sehingga lebih tertib.

Untuk para general manager (GM) di daerah, saya sudah minta mereka untuk tidak menghabiskan banyak waktu di hal teknis operasional. Itu bisa dikerjakan oleh stafnya. Saya minta mereka untuk lebih banyak jalin network dengan kepala daerah, panglima, Kepolisian, dan stakeholder terkait lainnya. Saat ini sudah banyak kemajuan. Para GM kita di daerah sudah punya hubungan baik dengan pemangku kepentingan di daerah. Kalau budaya internal ini terus ditingkatkan, kita akan bergerak lebih cepat.

Jadi sudah ada komunikasi yang baik dengan pihak luar?
Ya, karena bandara ini tidak bisa bergerak sendirian. Dibutuhkan dukungan dari pihak lain. Jadi kita komunikasi dengan semua pihak. Di Soekarno-Hatta misalnya kita sudah komunikasi dengan wali kota untuk mereka buat tempat menunggu untuk umrah. Supaya mereka tidak menunggu seharian di bandara dan membuat jadi tidak rapi kelihatannya. Nanti pemkot akan bangun tempatnya, di lokasi mereka, nanti kalau mau terbang, baru mereka ke bandara.

Dengan maskapai kita juga bangun komunikasi. Mereka adalah klien kita, jadi kita harus melayani mereka. Saya sudah komunikasi dengan beberapa maskapai untuk diskusikan bagaimana kita bersinergi. Kita tanya apa langkah mereka untuk mengembangkan bisnis? Apa yang bisa kita lakukan untuk support. Kita juga komunikasi keinginan kita. Misalnya, kita tawarkan untuk buka hub umrah dari Kualanamu, Medan, agar mengurangi beban Soekarno-Hatta. Sekarang sudah ada beberapa penerbangan umrah dari Medan, tapi kita akan maksimalkan.

Sekarang ada 2.000-3.000 orang jemaah umrah dari Jakarta, itu sama dengan 10 penerbangan per hari. Kalau yang dari Sumatera, itu sekitar 400-600 orang, kita bisa alihkan berangkatnya dari Kualanamu, maka kepadatan di Soekarno-Hatta akan berkurang. Ini juga akan menghidupkan penerbangan antarkota di Sumatera, dari Padang, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan kota lainnya. Ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Sumatera. Agar maskapai tertarik, kita beri insentif berupa keringanan biaya mendarat, service charge, dan ruang tunggu.

Untuk rencana pembangunan east cross taxiway di Soekarno Hatta, kita sedang komunikasi dengan pihak Soewarna supaya mereka tidak memperpanjang kontrak. Kita tidak bisa paksa mereka keluar sekarang, karena mereka punya hak konsesi. Tapi dengan komunikasi, kita cari solusi sehingga saling menguntungkan dari sisi bisnis, namun juga tidak salah dari sisi hukum.
(Pembangunan east cross taxiway di Bandara Soekarno-Hatta terhambat karena lahan saat ini digunakan untuk lapangan golf yang dikelola oleh PT Soewarna. Pembangunan east cross dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta, Red)

Sepertinya AP 2 fokus ke Soekarno-Hatta, kenapa?
Kita tetap memperhatikan bandara kita yang lain. Kita melakukan perbaikan di semua bandara, tapi memang harus diakui saya memberikan effort lebih ke Soekarno-Hatta. Karena 60 persen penumpang kita itu ada di Soekarno-Hatta. Sekarang masalahnya kapasitasnya sudah tidak sebanding dengan pertumbuhan penumpangnya. Jadi butuh kerja keras memang. Saat ini untuk kenyaman dan kebersihan sudah kita perbaiki. Nanti ultimate Terminal 3 sudah akan kita bisa gunakan sebagian. Ini akan menambah kapasitas sekitar 12 juta. Kalau terminal tiga sudah selesai semua, bisa sampai 25 juta kapasitasnya. Untuk terminal satu dan dua kita harap selesai pada 2017.

Di bandara kita ada banyak "penyakit sosial", mulai dari taksi gelap, porter, sampai pedagang asongan. Bagaimana mengatasinya?
Ini memang masalah yang harus segera diatasi. Awalnya saya bilang akan hapus taksi gelap, tapi melihat perkembangannya sulit. Karena memang kebutuhannya ada, apalagi jumlah taksi yang melayani bandara sedikit. Jumlah taksi ini diatur regulator. Karena itu, kita akan tertibkan. Nanti kita akan buat mereka pakai pelat kuning, sopirnya berseragam, dan lewat konter. Jadi tidak bisa kejar-kejar penumpang seperti sekarang.

Untuk portir, juga sama. Kita mau hilangkan, tapi pasarnya ada. Artinya penumpang kita juga butuh mereka. Padahal, bandara sama sekali tidak dapat uang dari mereka. Karena itu kita tertibkan. Mereka tidak boleh langsung bertemu penumpang, tapi melalui konter dengan tarif sama. Portir juga tidak bisa pegang trolley sehingga penumpang tidak bisa pakai. Sekarang ini ada tiga koordinatornya. Kita akan keluarkan satu yang jelek dan kita dorong mereka kompetitif meningkatkan layanan.

Apakah bisa dilakukan, mengingat selama ini tidak bisa berhasil?
Kita akan panggil mereka. Kita akan komunikasi dan mereka harus mau, ini untuk kebaikan bersama. Sekarang sebenarnya sudah mulai tertib. Tapi nanti kita akan kerja sama dengan Paskhas dan Marinir untuk membantu keamanan. Kalau itu sudah terlaksana, saya pikir akan lebih tertib. Sekarang kan baru satpam dan keamanan kita. Kalau ada support dari Paskhas dan Marinir pasti akan lebih baik.

Lebih susah mana menangani bandara atau properti?
Ha...ha...ha...Terus terang, memang lebih menantang mengelola bandara. Urusannya itu ke mana-mana.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Populerkan Kuliner Indonesia

Kuliner Indonesia banyak, enak, dan bergizi.

FIGUR | 10 Mei 2015

Jelajahi Kota-kota di Indonesia

Pelanggan yang membayar harga lebih murah, bukan berarti tidak bisa mendapatkan pelayanan yang memuaskan.

FIGUR | 8 Mei 2015

Lari 10 Km Tiap Hari

Olahraga lari bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat.

FIGUR | 6 Mei 2015

Tak Ada Pemimpin yang Sukses Sendirian

Konflik tidak boleh dihindari.

FIGUR | 4 Mei 2015

Idolakan Tokoh Kemerdekaan

Belum ada tokoh politik atau pejabat yang patut menjadi idola pada era sekarang.

FIGUR | 29 April 2015

Adu Argumentasi Hasilkan Keputusan Lebih Baik

Kamadjaja Logistics telah menjelma menjadi perusahaan logistik terpadu yang beroperasi di 17 kota besar dan mengelola 22 pusat distribusi.

FIGUR | 27 April 2015

Koleksi Jam dan Pulpen untuk Investasi

Keuntungan dari investasi sebuah jam berkisar Rp 5-10 juta.

FIGUR | 25 April 2015

Merasa Kaya karena Menolong

Pendampingan yang paling berat adalah saat melawan tengkulak.

FIGUR | 23 April 2015

Dorong Investasi Hijau

Ekonomi hijau merupakan solusi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

FIGUR | 21 April 2015

Perusahaan Butuh "Coach"

"Coach", guru, mentor, ataupun konsultan memberikan pandangan terhadap sesuatu yang tidak dilihat eksekutif perusahaan.

FIGUR | 21 April 2015


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS