Cheriatna

Menjaga Amanah Konsumen

Menjaga Amanah Konsumen
Cheriatna, Pemilik PT Cheria Halal Wisata ( Foto: Istimewa )
Mardiana Makmun / AB Rabu, 26 Agustus 2015 | 11:24 WIB

Di balik ujian selalu ada hikmah. Jadi, ambillah hikmahnya, dan jadikan ujian sebagai tangga untuk naik kelas menjadi manusia yang lebih baik. Filosofi itu mengakar kuat dalam hidup Cheriatna hingga berhasil membangun bisnis biro perjalananannya.

“Hidup ini banyak ujiannya. Kalau kita bisa mengambil hikmahnya, setiap ujian yang menimpa bisa membuat kita naik kelas,” kata Cheriatna saat ditemui di kantornya, Jalan Tendean, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menyimak lika-liku kehidupan lelaki kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1974 ini membuat kita kagum. Bagaimana tidak, walaupun hanya lulusan SMA, Cheriatna mampu membangun "kerajaan bisnis", meskipun masih berukuran skala kecil.

Kisahnya dimulai ketika ia terpilih sebagai perwakilan petani muda dari Jakarta untuk mendapatkan pelatihan selama delapan bulan ke Jepang pada 1998. “Di Jepang, saya banyak belajar, termasuk manajemen dan pemasaran,” kata Cheriatna, putra pedagang bunga di Rawa Belong, Jakarta.

Sepulang dari Jepang, Cheriatna meneruskan usaha ayahnya, berdagang bunga anggrek. Tapi, usahanya naik-turun dan jatuh-bangun. Selama kurun waktu 2002-2007, berbagai macam usaha pun pernah ia coba.

“Saya pernah keliling berjualan sembako pakai sepeda, mengayuh odong-odong, dan banyak lagi. Prinsip saya, mau coba berusaha, enggak mau tergantung pada orang lain dengan menjadi karyawan,” kata Cheriatna yang mengaku memiliki prinsip kuat itu berkat gemblengan selama pelatihan di Jepang.

Akhirnya, dia memilih berusaha dengan memanfaatkan internet. “Saya melakukan BDR (bisnis dari rumah). Saya berjualan makanan organik lewat internet,” cerita Cheriatna yang sangat didukung istrinya ketika menjalankan bisnisnya yang jatuh-bangun.

Usaha yang terakhir tersebut berjalan lancar, hingga ia sering dipanggil menjadi narasumber untuk seminar bertema bagaimana menjalankan bisnis secara online. “Dari makanan organik, saya ditawari oleh sebuah perusahaan travel besar untuk menjualkan paket umrah. Alhmdulillah, saya cukup banyak menyumbang penjualan,” ujarnya bangga.

Sayang, kerja sama itu berakhir. Dia sempat sedih. Tapi, bukan Cheriatna kalau tidak bisa mengambil hikmah dari "perceraian" itu. Selama menjualkan paket umrah, ada banyak hal yang dipelajarinya. Sampai pada suatu hari, ada puluhan calon jemaah umrah ngotot menitipkan uang kepadanya untuk diuruskan keperluan umrah. Padahal, waktu itu, Cheriatna sudah menegaskan sudah tidak bekerja sama lagi dengan biro travel.

“Karena mereka ngotot, akhirnya, saya berpikir, mengapa enggak membuat biro travel sendiri saja,” ujar Cheriatna yang akhirnya mendirikan PT Cheria Halal Wisata pada 2011.

Sebagai pemilik perusahaan jasa, kunci yang sangat dipegang oleh Cheriatna adalah amanah (kepercayaan). “Kita harus menjalani apa yang diamanahkan konsumen. Kita harus bisa jamin apa yang kita janjikan, sehingga enggak membuat konsumen kecewa. Karena, saya kan berharap ada repeat order dari konsumen yang puas dengan Cheria,” ujarnya.

Dia menyampaikan, bisnis jasa travel, terlebih umrah, banyak bergantung pada pihak ketiga, yaitu perusahaan penerbangan, visa yang dikeluarkan kedutaan, hingga hotel. Sebagai satu contoh, di bisnis tur dan travel, penerbangan delay itu sangat ditakuti karena hotel yang sudah dipesan di Saudi Arabia bisa batal.

Cheriatna pun berpikir kreatif dan mempersiapkan antisipasinya, antara lain dengan tidak memberangkatkan rombongan umrah dalam jumlah besar. Dia memecah rombongan menjadi kecil-kecil, misalnya 30-45 orang saja dan diberangkatkan dalam waktu dan penerbangan yang berbeda.

“Kalau ada penerbangan yang delay, rombongan yang lain kemungkinan enggak kena masalah. Kami pun tidak rugi besar,” ungkap Cheriatna yang belakangan memfokuskan pada bisnis umrah, plus wisata ke Turki.

Dia memberikan alasan, kenapa menjual paket umrah plus wisata ke Turki. Alasannya, belakangan ini semakin banyak orang Indonesia yang memilih wisata ke Turki. “Kami pun menawarkan harga murah hanya US$ 3.000 untuk umrah plus wisata ke delapan kota di Turki selama 16 hari,” kata Cheriatna yang bekerja sama dengan operator di Turki untuk mengirimkan wisatawan asal Indonesia.

Bangun Konsorsium
Cheriatna mengaku segala sesuatu yang diperoleh saat ini sangat disyukurinya. Selain mendapatkan materi, kenikmatan lain yang didapatnya adalah rasa sabar yang luar biasa mengurusi bisnis.

“Soal komplain sudah biasa. Ini menjadikan saya sangat sabar. Saya juga puas jalan-jalan hampir keliling dunia,” katanya yang pernah berjalan-jalan ke Xin Jiang, Tiongkok pada 2012.

Cheriatna sangat terkesan karena bertemu saudara sesama Muslim di Xin Jiang. “Daerahnya sangat indah karena suasananya bersalju, ada Gurun Gobi, dan punya sejarah kerajaan Mongol, bagaimana kerajaan ini menaklukkan setengah dunia. Juga, bisa lihat jalur suteranya,” tuturnya kagum.

Sudah puaskah Cheriatna? Ternyata, belum. Dia sempat gelisah karena masih banyak perusahaan tur dan travel kecil yang belum sesukses perusahaannya. Dari kegelisahaan itu, Cheriatna bersama 100 perusahaan travel kecil lainnya mendirikan konsorsium bernama PT BDR Konsorsium.

Perusahaan konsorsium dibentuk karena ada kebutuhan bersama, yaitu kebutuhan mendapatkan harga paket yang lebih baik dari mitra, seperti harga tiket pesawat, hotel, dan transportasi. “Kalau konsorsium yang maju, kami bisa dapatkan harga grosir dari mitra,” kata Cheriatna yang kini sudah berhasil mendapatkan harga grosir dari Garuda Indonesia untuk perusahaan yang tergabung dalam konsorsium.

Dengan membentuk konsorsium, perusahaan travelnya dan perusahaan sejenis kecil lain juga bisa membuat iklan promosi dan paket umrah bersama. Karena itu, tak ada lagi perusahaan umrah yang gagal memberangkatkan jemaahnya hanya karena jumlah pesertanya yang sedikit.

“Mereka bisa menitipkan konsumennya berangkat umrah atau wisata ke perusahaan travel lain sesama konsorsium, dengan transaksi pembayaran tetap di perusahaan pertama,” tegas Cheriatna.

Sumber: Investor Daily