Film untuk Keluarga
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 473 (4)   |   COMPOSITE 5928 (47)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1400 (9)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 165 (0)   |   IDX30 468 (4)   |   IDX80 126 (1)   |   IDXBASIC 1227 (14)   |   IDXBUMN20 356 (2)   |   IDXCYCLIC 731 (3)   |   IDXENERGY 739 (8)   |   IDXESGL 128 (1)   |   IDXFINANCE 1321 (7)   |   IDXG30 132 (2)   |   IDXHEALTH 1286 (3)   |   IDXHIDIV20 414 (2)   |   IDXINDUST 951 (5)   |   IDXINFRA 866 (3)   |   IDXMESBUMN 101 (0)   |   IDXNONCYC 729 (12)   |   IDXPROPERT 870 (4)   |   IDXQ30 134 (0)   |   IDXSMC-COM 279 (2)   |   IDXSMC-LIQ 330 (4)   |   IDXTECHNO 3335 (-5)   |   IDXTRANS 1037 (14)   |   IDXV30 125 (1)   |   INFOBANK15 950 (3)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 403 (3)   |   ISSI 174 (1)   |   JII 570 (7)   |   JII70 202 (2)   |   KOMPAS100 1121 (10)   |   LQ45 880 (8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1578 (13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 299 (2)   |   PEFINDO25 291 (6)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 291 (3)   |   SRI-KEHATI 338 (2)   |   TRADE 872 (0)   |  

KK Dheeraj

Film untuk Keluarga

Kamis, 17 September 2015 | 10:12 WIB
Oleh : Irawati D Astuti / AB

Pada umumnya, orangtua yang memiliki bisnis keluarga ingin agar anak dan cucunya menjadi generasi penerusnya. Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara di keluarga pengusaha granit dan marmer, KK Dheeraj (30), juga diharapkan bisa meneruskan bisnis keluarganya. Namun, hal itulah yang sebenarnya tidak diinginkannya.

Walaupun begitu, KK (Keikei, Red) masih berusaha mengikuti keinginan orangtuanya, yang diawali dengan mengambil kuliah bisnis di India. Namun di negeri perfilman Bollywood tersebut, KK malah kepincut dunia yang sangat berbeda dari yang seharusnya ia pelajari, yakni film.

Diam-diam, ia pun mendaftarkan diri untuk ikut kursus film. Kebetulan, sejak kecil, ia memang hobi menonton film-film Bollywood. Karena itu, kesempatan untuk mengambil kursus film di India secara langsung tak disia-siakannya. Setelah lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, KK masih sempat mengikuti kemauan orangtuanya dengan membantu di Raspari, pabrik granit dan marmer keluarga di kawasan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Namun, hati kecilnya berontak. Ia merasa tidak betah dan ingin mewujudkan obsesinya, yakni membuat film.

Tanpa meminta restu orangtua, pada 2006, KK pun nekat membuat rumah produksi film yang diberi nama K2K Production. Saat itu, ia memilih membuat film-film bergenre horor. Alasannya, lebih kepada faktor komersial dan banyak ditonton.

“Dahulu, saya lihat film horor itu yang paling diminati, makanya saya bikin film seperti itu,” tuturnya saat berbincang di kawasan Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Agar orangtuanya tidak murka dan mengucilkan dirinya, KK masih memilih berkompromi. Pada pagi hingga siang hari, ia membantu bisnis orangtuanya. Selanjutnya, ia berkantor di K2K Production sejak siang hingga malam hari.

Awalnya, bisnis K2K Production tidak terlalu menggembirakan. Film-film produksinya kurang sukses di pasaran. Ia pun sempat mendapat cap negatif dari sesama sineas maupun para kritikus karena dinilai hanya mengedepankan film horor dengan unsur vulgar.

Namun, penggemar olahraga ini tak patah arang. Meski film produksinya jeblok berkali-kali, ia tetap berusaha tekun dan kerja keras. Pelan-pelan, hasilnya pun mulai terlihat. Beberapa film KK mampu menarik minat penonton. Yang menarik, pada saat dirinya mulai sukses, produser dari 38 film ini malah banting setir dalam tema film. Masih sambil tetap mengurus bisnis keluarga, KK memutuskan untuk berhenti membuat film horor vulgar. Ia ingin memproduksi film-film dengan nilai moral di dalam ceritanya. Apalagi, kedua orangtuanya mulai mendukung kiprahnya di dunia sinema.

Titik balik bagi KK adalah film Jokowi yang diproduksi pada 2013. Untuk film itu, ia rela menghabiskan lebih banyak waktu. Maklum, Jokowi berkisah tentang sosok yang masih hidup. KK dan tim produksinya pun harus banyak melakukan riset ke Solo, kampung halaman Jokowi.

“Bisa dibilang, film Jokowi merupakan kepuasan batin bagi saya. Bahkan, film itu menjadi trademark baru untuk saya, sebuah gerbang baru setelah sebelumnya saya lebih dikenal dengan film horor,” jelasnya.

Setelah Jokowi, ia membidik pasar keluarga dengan menghadirkan film Jomblo Keep Smile. Lagi-lagi, upayanya membuahkan sukses. Film ini cukup laris. Tak hanya di layar lebar, Jomblo Keep Smile juga sukses di televisi.

“Saya senang membuat film keluarga karena para orangtua membawa anak-anaknya menonton di bioskop bersama-sama, dan mereka bisa terhibur. Saya puas jadinya,” katanya.

Alhasil, KK kini mengubur dalam-dalam film genre horor sensual. Selain sudah beralih minat pribadi, ia melihat, selera masyarakat pun kini sudah mulai berubah lebih positif. Karena itu, KK ingin lebih banyak membuat film komedi keluarga.
Walaupun begitu, film horor tak serta-merta 100 persen ditinggalkannya. Namun, ia sangat selektif ketika memproduksi jenis horor. “Saya hanya akan buat film horor yang betul-betul horor, tanpa ada unsur lain,” tegasnya.

Kiblat ke Bollywood
Sebagai pria keturunan India, tentu wajar, KK menyukai film-film Bollywood. Apalagi, ia menilai, banyak kisah dan latar belakang film-film Bollywood yang sesuai jika diterapkan di film-film Indonesia.

“Misalnya, di film Bollywood, semua kisah pasti ada latar belakang keluarga karena kekeluargaan di sana sangat erat. Ini mirip dengan di Indonesia, kan? Berbeda dengan film Hollywood yang tak terlalu kental menampilkan nilai kekeluargaan,” katanya.

Karena itu, K2K Production pun mengambil kiblat ke Bollywood, bukan Hollywood. Namun, itu tak membuatnya langsung menjiplak semua ide cerita film-film Bollywood ke dalam karyanya.

“Saya hanya mengambil inspirasi kisah percintaan ala Bollywood ke dalam film-film saya. Lainnya enggak,” ujarnya.

Lantas dari mana ide-ide film yang ia produksi? KK mengaku, semua ide murni dari dirinya. Setiap hari, tepatnya saat dini hari tiba, ia kerap berimajinasi yang kemudian menghasilkan ide-ide untuk film buatannya. Kemudian, ide-ide tersebut ia berikan kepada tim kreatif untuk dielaborasi lebih lanjut dan siap diproduksi menjadi karya sebuah film.

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pendidikan di Indonesia Baru Tahap Menghafal

Di bidang pendidikan, Indonesia masih tertinggal karena berada di peringkat 69 dari 76 negara yang disurvei.

FIGUR | 16 September 2015

Melanjutkan Transformasi Kereta Api

Peremajaan kereta api akan terus dilakukan.

FIGUR | 15 September 2015

Tak Hanya Berkonsep

Banyak orang memiliki ide besar yang berujung pada konsep, tetapi tidak mengeksekusinya.

FIGUR | 14 September 2015

Sukses Bersama Tim

Kesuksesan suatu pekerjaan juga berasal dari kerja sama tim yang hebat dan bukan perjuangan satu orang saja.

FIGUR | 12 September 2015

Inspirator Berwirausaha

Orang-orang di sekitar Yoki juga ikut berkembang.

FIGUR | 11 September 2015

Tak Berhenti Belajar

Terus belajar akan menambah wawasan serta memperluas pergaulan.

FIGUR | 10 September 2015

Pangkat dan Jabatan Ibarat Pakaian

Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara yang telah lama mengadopsi prinsip pembangunan berkelanjutan.

FIGUR | 8 September 2015

Menciptakan Pekerja Sepenuh Hati

Pencari kerja yang mendapatkan pekerjaan sesuai harapannya akan bekerja sepenuh hati.

FIGUR | 6 September 2015

Wujudkan Impian Banyak Orang

Ortopedi membantu banyak orang meninggikan tubuhnya.

FIGUR | 5 September 2015

Bangkitkan Semangat dengan Musik

Musik jaz menjadi teman pelepas lelah.

FIGUR | 4 September 2015


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS