Leni Lolang

Majukan Budaya Kampung Halaman

Majukan Budaya Kampung Halaman
Leni Lolang. ( Foto: BeritaSatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / JAS Senin, 3 Desember 2018 | 14:56 WIB

Selama ini merantau merupakan hal lumrah yang dilakukan oleh warga Minang. Mereka hidup menyebar ke berbagai daerah di pelosok Nusantara, untuk mencari pekerjaan dan pengalaman. Setelah, hidup sukses, lazimnya, di antara mereka banyak yang kembali untuk membangun kampung halamannya.

Hal ini pun dilakukan oleh produser film Indonesia, Leni Lolang. Walau dirinya dilahirkan di Jakarta, tetapi darah Minang mengalir di tubuhnya. Untuk itu, saat Leni diberikan kepercayaan platform Indonesiana yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Indonesiana untuk membantu menyelenggarakan sebuah festival kebudayaan silek atau silat di kampung halamannya, Sumatera Barat.

“Saya sebenarnya dulu 'durhaka' sama kampung halaman. Saya selalu konsern terhadap kearifan lokal kawasan Indonesia Timur, karena mereka lebih terbuka, sedangkan di sini lebih tertutup karena ajaran agama dan adat yang kuat. Bahkan, sebelum acara ini saya baru empat kali mengunjungi kampung halaman," kata Leni.

"Setelah itu, saya pun akhirnya mempelajari kembali kebudayaan saya perlahan, dan langsung kagum ternyata kampung saya sangat kaya akan budaya dan filosofi, yang harus terus dilestarikan. Akhirnya, saya teruskan misi ini, karena tidak ada kata terlambat untuk bertindak, yang terpenting adalah niat,” terangnya kepada Suara Pembaruan, di Bukitinggi beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, dengan Silek Arts Festival (SAF), para paguyuban silek, pekerja seni, budayawan ataupun masyarakat yang tadinya berjalan sendiri-sendiri untuk memajukan dan merawat kebudayaan mereka, kini bisa saling bergandengan tangan untuk mencapai tujuan yang sama. Silek dipilih karena dianggap sebagai akar dari turunan seni budaya di Sumatera Barat.

“Hal ini merupakan hasil yang baik untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya di Sumatera Barat. Jadi sasarannya bukan hanya generasi muda, tetapi kita ingin para tetua bisa turun gunung dan angkat bicara mengenai akar kebudayaan silek yang telah mengakar di tanah Minang. Dengan begitu, semakin banyak pengetahuan yang bisa mempermudah perkembangan seni dan budaya di Sumatra Barat,” terang mantan Ketua Juri FFI 2017.

Walau merasa belum puas, pencapaian tersebut membuat dirinya sangat bangga. Lina pun berpikir, jika semakin banyak orang rantau yang pulang kembali ke kampung halamannya untuk pembangunan, ia yakin betul kebudayaan Indonesia akan terus lestari hingga generasi yang akan datang, sebagai pijak kehidupan di tengah perkembangan global.

“Harapan saya, tidak sampai di sini saja. Tidak hanya untuk silek, tetapi juga pelaksana kegiatan berkesian dan berkebudayaan di Sumatra Barat mulai menggali dari akar tradisi sendiri. Meskipun, kedepannya Indonesiana tidak mendampingi lagi. Anak muda sekarang bisa mengurangi rasa arogan. Jadi, setalah menuntut ilmu yang tinggi, bisa balik lagi ke kampung halaman, membangun dan mengembangkan budaya secara bersama membangun daerah asal,” tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE