Yu Sing

Arsitek Peduli Kemanusiaan

Arsitek Peduli Kemanusiaan
Yu Sing ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / JAS Sabtu, 8 Desember 2018 | 13:49 WIB

Arsitek asal Indonesia, Yu Sing (42) adalah seseorang yang peduli pada kemanusiaan, termasuk bencana alam, pelestarian lingkungan, budaya, lokalitas, sampai bencana alam. Keberpihakan pada masalah sosial dan kemanusiaan mengantarkan Yu Sing melahirkan karya-karya yang cemerlang. Seperti rumah tanggap bencana dengan sentuhan bahan-bahan murah.

Pria kelahiran Bandung ini berpatok pada konsisi alam dan budaya yang majemuk. Bahkan dirinya rajin mengumpulkan contoh desain rumah di beberapa daerah Indonesia untuk menggali nilai lokal yang ada. Dari perjalanannya tersebut, ia menemukan jawaban bahwa rumah dengan arsitektur tradisional merupakan sebuah tempat hunian yang ramah lingkungan bahkan tanggap bencana.

Namun, sayangnya ia mengatakan saat ini stigma masyarakat modern sudah berubah. Tidak sedikit yang menganggap, membuat rumah tradisional itu ketinggalan zaman atau kuno, serta tidak layak huni. Untuk mengejar status sosial, mereka lebih senang membangun rumah dengan arsitektur bangunan bergaya Eropa, yang jelas tidak sesuai dengan kondisi iklim dan juga alam di Indonesia.

“Bersama studio Akanoma (Akar Anomali) yang saya bentuk sejak 2008 ini ingin menyosialisasikan dan menyebarkan virus rumah ramah lingkungan, sehingga banyak masyarakat yang bergantung pada alam. Karena saat ini banyak masyarakat kita belum banyak yang bisa mengelola kekayaan alam. Akhirnya alam kita tinggalkan dan tidak dipedulikan sampai habis. Karena ditebang untuk keperluan pembangunan rumah-rumah modern,” terangnya kepada wartawan di Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018, di gedung Kemendikbud, Jakarta.

Pun demikian, efek domino akan terjadi. Saat alam rusak, maka akan timbul bencana yang disebabkan manusia, seperti banjir. Jika pemukiman di Indonesia masih mengikuti arsitektur tradisi dengan penggunaan rumah panggung, menurutnya hal itu akan memperkecil kerugian dan kerusakan yang terjadi akibat bencana tersebut.

“Karena air butuh ruang, kita bisa bikin banyak rumah-rumah panggung. Walaupun rumah panggung bangunannya mengisi 60 persen dari lahan, tetapi di bawah bangunan itu bisa dimanfaatkan sebagai ruang air. Jadi air bisa meresap melalui tanah, kembali lagi ke permukaan, dan juga bisa ditampung untuk keperluan lain,” jelasnya.

Selain rumah panggung, untuk menampung air hujan yang berlebih, ia juga memberikan inovasi untuk membuat atap berbentuk cekung atau seperti payung terbalik. Atap tersebut dirancang agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, dapat digunakan lagi.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk membuat rumah ramah lingkungan tidak perlu khawatir untuk persoalan biaya. Pasalnya Yu Sing juga merupakan seorang arsitek yang peduli masyarakat hingga akar rumput. Menurutnya, rumah sebagai tempat tinggal dan berlindung, beristirahat, dan bercengkerama dengan keluarga, tidak mengenal status sosial.

Sedangkan arsitek sebagai profesional terdidik dan terlatih seharusnya mampu memberi sentuhan arsitektural sambil mengatasi berbagai masalah desain, termasuk keterbatasan anggaran. Seni dan kreativitas tidak terbatas oleh keterbatasan dana. Yu Sing juga mengatakan “Indah tidak selalu harus mahal.”

Menurut Yu Sing, konsep rumah ramah lingkungan bisa menjadi murah dengan cara menyiasati arah bangunan untuk mendapatkan cahaya dan udara alami. Selain itu, juga dengan memperbanyak tanaman dan memanfaatkan material bekas. Bisa juga menggunakan konsep unfinished agar biaya tak melambung tinggi.

“Intinya kembali ke awal, kita harus kembali bergantung pada alam kita, dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan. Kalau kita terus menerus beli, maka bergantung pada ekonomi pasar. Kemudian berujung pada kemiskinan dan banyak orang yang tidak mampu untuk membeli,” jelasnya. 



Sumber: Investor Daily