Melly Budhiman

Merawat Anak Autis dengan Cinta

Merawat Anak Autis dengan Cinta
Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI) Melly Budhiman (kiri) bersama Andio (16) peserta pameran lukisan bertema "Warna-warni Duniaku" yang digelar di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Asni Ovier DP )
Dina Fitri Anisa / IDS Jumat, 5 Juli 2019 | 14:03 WIB

Membesarkan anak dengan kondisi autisme bukanlah hal yang mudah dijalankan untuk para orang tua. Hanya merawat dengan segenap cinta dan bersabar memantau di setiap perkembangannya lah yang bisa mereka lakukan.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI), Melly Budhiman. Saat dijumpai SP usai pembukaan pameran lukisan karya individu penyandang autisme bertajuk Warna-Warni Duniaku, ia memberikan beberapa kiat mudah agar orang tua dapat membesarkan buah hati yang lahir dengan kondisi autisme.

Melly menjelaskan, autisme adalah gangguan perkembangan yang bersifat kompleks dan berawal di masa kanak-kanak. Kondisi ini memengaruhi perilaku dan kemampuan anak dalam berkomunikasi, baik lisan maupun nonlisan, serta cara anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Hal pertama yang harus dilakukan, adalah orang tua harus rajin mengumpulkan, mempelajari, dan terus memperbarui semua informasi tentang autisme. Sebab, gejala dan sifat autisme selalu berubah dalam setiap individu dari waktu ke waktu.

“Orang tua harus teliti sejak anak dalam kandungan. Jika sang ibu hamil dan terkena penyakit cacar, ada kemungkinan besar anak terlahir dengan kondisi cacat fisik ataupun autis. Hal pertama yang bisa disadari orang tua adalah saat bayi berusia dua bulan terlihat sulit merespons, tidak mau menatap mata, dan tidak peduli suara ibu, tidak suka digendong, ataupun berinteraksi dengan orang,” jelasnya di Jakarta, Kamis (4/7).

Namun, ia menambahkan terdapat kondisi di mana anak terlahir dan berkembang normal, tetapi pada di usia dua atau tiga tahun perkembangannya menjadi mundur. Dari sinilah, orang tua dituntut untuk teliti, membuka pikiran, dan berkonsultasi ke dokter agar diberikan program perawatan yang baik.

“Tiap anak, termasuk anak autis adalah unik dan memerlukan perawatan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Mulai dari terapi untuk meningkatkan kemampuan sosial, beradaptasi, komunikasi, tingkah laku, dan pencarian bakat setiap anak,” terangnya.

Melly kembali menambahkan, ketimbang menutupi kondisi anak, orang terdekat justru harus mampu menemukan potensi anak-anak itu. Menemukan potensi atau bakat anak itu merupakan hal yang penting sehingga anak menjadi percaya diri dan bisa berbaur dengan masyarakat luas.

Orang terdekat harus mengetahui ketertarikan anak autis dan mengembangkannya. Untuk melihat ketertarikan itu cukup dengan mengajak anak untuk mencoba berbagai hal mulai dari seni hingga olahraga. Menurutnya, cukup mudah untuk mengetahui ketertarikan anak autis, lantaran mereka bakal fokus terhadap hal yang mereka sukai.

“Banyak yang memandang setengah mata terhadap anak autis. Padahal mereka memiliki bakat yang mungkin jauh lebih hebat dari anak-anak normal lainnya. Terapi kreatif melalui seni adalah salah satu cara yang tepat agar mereka bisa berekspresi dengan bebas. Bahkan sejarah sudah mencatat banyak seniman dan musisi terkenal di dunia yang mengidap autis,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan