Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo

Kardinal Baru Indonesia

Kardinal Baru Indonesia
Mgr Ignatius Suharyo. ( Foto: Antara )
Maria Fatima Bona / IDS Jumat, 6 September 2019 | 14:28 WIB

Penunjukan Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo sebagai kardinal Indonesia bersama 12 kardinal lainnya telah disampaikan Paus Fransiskus pada 1 September lalu, usai memimpin Doa Angelus atau Malaikat Tuhan di St Peter Square, Vatikan. Berdasarkan jadwal, pengangkatan Mgr Suharyo menjadi kardinal akan diselenggarakan dalam Consistorium atau sidang para kardinal pada 5 Oktober mendatang di Vatikan.

Mgr Suharyo menuturkan, pengangkatannya sebagai kardinal bukan terkait sosoknya tetapi penghargaan Vatikan untuk gereja Katolik Indonesia dan bangsa Indonesia. Ia menilai, dirinya tak memiliki prestasi yang begitu besar sehingga bisa dipilih menjadi seorang kardinal. Namun, keberagaman dan toleransi umat beragama yang ditunjukkan masyarakat Indonesia juga peran serta gereja Katolik Indonesia dengan segala usaha untuk terlibat dalam kehidupan bangsa menjadi pertimbangan Paus Fransiskus.

"Pengangkatan saya nanti sebagai kardinal ini saya pahami dengan penuh syukur tetapi perhatian bukan tertuju pada saya, tapi tertuju pada gereja Katolik Indonesia dan kepada bangsa Indonesia. Itu simbolik yang dilakukan oleh Paus dengan menunjuk saya menjadi kardinal," terang Uskup dari Keuskupan Agung Jakarta di Gedung Karya Pastoral Katedral Jakarta, Kamis (5/9).

Selanjutnya, ia menuturkan, pengangkatan dirinya juga merupakan bentuk pengakuan Vatikan untuk Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, Vatikan termasuk salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Ini ditandai ditandai dengan adanya kedutaan besar Vatikan untuk Indonesia pada tahun 1946.

Mgr Suharyo menyebutkan, pengakuan lainnya dari Vatikan adalah gereja Indonesia yang dinilai gereja hidup, yakni benar-benar hadir di masyarakat sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Konsili Vatikan Kedua.

“Kalau dilihat, dari 10 kardinal yang diangkat, dua dari Amerika Latin, dua dari Afrika, dan satu dari Asia. Gereja-gereja ini hidupnya berbeda dengan gereja di Eropa. Gereja di sana (Eropa, red) boleh dikatakan mandek. Sementara gereja di tempat tadi itu (luar Eropa, red) tumbuh dengan subur. Ini bukan masalah jumlah penganutnya, tetapi gereja sungguh-sungguh hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.

Mgr Suharyo menambahkan, dengan mengemban jabatan yang baru, tugasnya masih sama. Ia tetap menjadi Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ketua Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Uskup TNI/Polri dari Indonesia hingga usia 75 tahun sesuai aturan gereja. Ia menjamin, tidak akan ada hal yang berubah dalam kesehariannya.

“Keseharian saya tidak akan berubah, tapi dengan menjadi kardinal tugas saya bertambah. Saya harus lebih banyak bepergian, itu saja. Sebab sebagai Uskup Jakarta, saya tidak wajib ke Jayapura ataupun ke Ambon. Namun dengan tugas sebagai kardinal, apabila ada peristiwa gerejawi besar, maka saya punya kewajiban moral untuk hadir di sana,” ujar mantan dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta itu.

Baginya, tugas sebagai kardinal ini merupakan amanah dari gereja Katolik yang berkaitan dengan tanggung jawab moral dan harus dijaga sebaik mungkin.

“Jadi di Indonesia jangan dibayangkan kalau kardinal itu pemimpinnya para uskup. Itu salah,” ujarnya.

Mgr Suharyo menjelaskan, hierarki dalam gereja adalah Paus, Uskup, dan Imam, tidak termasuk kardinal. Kegiatan keuskupan seperti KWI bukanlah organisasi di atas keuskupan. Uskup bertanggung jawab langsung ke Paus, tidak kepada KWI ataupun kardinal.

“Kardinal adalah kedudukan kehormatan yang tidak fungsional di daerah ini (gereja Indonesia, red). Kehormatan ada di mana, ya itu tadi saya katakan, penghargaan terhadap gereja Katolik Indonesia dan negara Indonesia. Jadi bukan kehormatan pribadi tetapi kehormatan untuk gereja Katolik Indonesia dan untuk bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, kardinal sebagai jabatan fungsional akan berlaku seumur hidup. Namun, untuk terlibat aktif dalam pemilihan Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik, tugasnya dibatasi hingga usia 80 tahun saja. Sementara untuk kewajiban berkunjung ke berbagai wilayah, tugas itu akan berlaku seumur hidup.

Isu Sosial
Ketika ditanya apakah ia akan menyampaikan isu-isu sosial kepada Paus, Mgr Suharyo menjelaskan, untuk menyerukan isu-isu yang sedang terjadi saat ini adalah tugas kaum awam. Pasalnya, dalam gereja Katolik terdapat tiga bagian yang sangat jelas.

Pertama, hierarki seperti Paus, Uskup, dan Iman yang berfungsi untuk menjaga moral melalui suara kenabian. Kedua, para religius yakni suster dan bruder. Ketiga, kaum awam yang tugasnya menyucikan dunia karena berperan sangat luas di semua bidang yakni sosial, politik, ekonomi, dan budaya termasuk media massa.

“Kalau saya terus yang menyuarakan itu artinya, maaf saya menghina kaum awam karena bidang sosial, politik, dan ekonomi itu bidangnya kaum awam. Fungsi hierarki mengajak dan membuat konsentiasi bersama bahwa kaum awan mempunyai tanggung jawab berat untuk menyucikan dunia,” paparnya.

Peraih gelar doktor Teologi Biblicum dari Universitas Urbania, Roma, Italia ini juga menuturkan, telah ada pihak lain yang bertugas memberi masukan kepada Paus selama ini yaitu para duta besar.

“Mereka sangat aktif membahas khususnya isu-isu yang rawan di Indonesia seperti waktu kasus Jakarta, maupun Papua sekarang ini. Kalau saya diminta, saya akan berbicara tapi biasanya sudah ada jalur itu. Tidak langsung harus lewat duta besar Vatikan untuk Indonesia,” ujarnya.

Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo yang lahir pada 9 Juli 1950 ini akan menjadi kardinal ketiga dari Indonesia. Dua orang yang sebelumnya pernah menjadi kardinal dari Indonesia adalah almarhum Justinus Darmojuwono yang dilantik pada 1967 saat masih mengabdi sebagai Uskup Agung Semarang periode 1963-1981. Sementara kardinal kedua dari Indonesia adalah Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada 1994.



Sumber: Suara Pembaruan