Polikarpus Do

Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT

Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT
Polikarpus Do
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 10 September 2019 | 14:13 WIB

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bintang Flobamora asal Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih penghargaan sebagai PKBM Nasional Terbaik Pertama Se-Indonesia dalam ajang Apresiasi Kelembagaan PKBM Terbaik Nasional Tahun 2019.

Ketua PKBM Bintang Flobamora, Polikarpus Do (37) mengatakan, menjadi terbaik bukan hal yang mudah. Semua ini tercapai berkat perjuangannya sejak 2013 mendatangi kantong-kantong anak putus sekolah dan mengajak mereka untuk kembali bersekolah melalui pendidikan nonformal atau kejar paket A, B, dan C yang setara dengan pendidikan formal SD, SMP, dan SMA.

“Mereka sudah biasa berkelana bebas dan untuk mengajak mereka kembali butuh perjuangan dengan pendekatan yang meyakinkan mereka layaknya orang lagi melakukan pendekatan dalam pacaran,” kata lulusan Seminari CICM Makassar ini saat berbincang-bincang dengan SP, usai Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2019 di Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhir pekan lalu.

Poli menuturkan, tingginya angka putus sekolah di NTT bukan dikarenakan tidak ada sarana dan prasarana (sarpras) seperti ketersediaan gedung sekolah, akan tetapi disebabkan oleh faktor lain seperti ekonomi, sosial, dan budaya setempat. Penyebab lainnya adalah, masyarakat yang belum teredukasi akan pentingnya pendidikan di abad 21 ini.

Dengan demikian, butuh kesabaran untuk kembali mengajak dan membujuk anak putus sekolah menjadi warga binaan PKBM Bintang Flobamora. Poli mengaku menggunakan strategi jemput bola, yakni mendatangi orang tua dari anak putus sekolah untuk memberi pemahaman akan pentingnya pendidikan. Pasalnya, pada umumnya masyarakat belum semuanya menjadikan sekolah sebagai bagian dari kebutuhan.

“Saya sangat prihatin terhadap masalah pendidikan di NTT yang secara kasat mata, hampir sebagian besar masyarakatnya putus sekolah dengan berbagai alasan berbeda. Saya dirikan PKBM ini untuk mengusung semangat pengabdian. PKBM yang lahir dari masyarakat ini berusaha melayani yang tak terjangkau dan menjangkau yang tak terlayani. Jadi kita harus datangi orang tuanya dan membujuk anak ini kembali ke sekolah. Masyarakat ini sudah terpola, mereka merasa sudah nyaman dengan kondisi saat ini dan beranggapan, buat apalagi melanjutkan pendidikan. Jadi penting sekali semua pihak melakukan edukasi kepada masyarakat,” terang Poli.

Selanjutnya, ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Baca NTT ini juga menuturkan, khusus untuk mengakomodasi anak putus sekolah di usia sekolah, PKBM Flobamora memiliki program khusus untuk mengajak anak kembali melanjutkan sekolah di pendidikan nonformal atau sekolah paket melalui Gerakan Kembali Sekolah (GKS).

Poli menyebutkan, berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), PKBM Bintang Flobamora memiliki 461 warga belajar usia sekolah. Tentu jumlah ini masih sangat sedikit mengingat angka putus sekolah sangat tinggi di NTT.

Poli menuturkan, GKS sukses membuahkan hasil karena anak-anak lulusan Paket C ini banyak diterima di perguruan tinggi terbaik di NTT. Bahkan sebagai besar berhasil diterima di Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Buta Aksara
Selanjutnya, Poli menuturkan, apabila anak tersebut tidak melanjutkan pendidikan ke PTN atau warga binaan usia lanjut yang berasal dari keluarga tidak mampu, PKBM Bintang Flobamora juga mencerdaskan masyarakat melalui berbagai strategis pengembangan. Salah satunya adalah fokus pada pendidikan vokasi seperti keterampilan, industri rumah tangga, hingga pengembangan koperasi untuk membantu warga binaan hidup terampil menjadi SDM yang unggul. Untuk itu, lulusan sekolah nonformal PKBM Bintang Flobamora tidak hanya mendapat ijazah, akan tetapi mereka juga mendapat keterampilan.

Poli menyebutkan, PKBM Bintang Flobamora juga melatih warga binaan melalui sejumlah keterampilan karena pada umumnya, warga binaan ini adalah masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke ibu kota provinsi tanpa memiliki keterampilan. Ini tentu saja akan menciptakan masalah baru di Kota Kupang.

Selain fokus pada anak putus sekolah dan warga usia lanjut yang tidak memiliki keterampilan, PKBM Bintang Flobamora juga hadir untuk pengentasan buta aksara. Apalagi NTT memiliki 5,24% warga yang masih buta aksara dan ini menempatkan NTT ke dalam enam provinsi dengan angka buta aksara zona merah di atas 4%. Sementara untuk data nasional, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) survei sosial market ekonomi nasional 2018, terdapat 1,93% atau 3.290.490 orang yang masih buta aksara di usia 15-59 tahun.

Poli menyebutkan, masyarakat NTT yang buta aksara umumnya berusia lanjut di atas 21 tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak baik dari masyarakat maupun pemerintah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pasalnya, dalam menuntaskan buta aksara dibutuhkan energi literasi yang kuat agar NTT bisa bebas buta aksara.

Dalam menuntaskan masalah ini, Poli berharap adanya kesadaran dari pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah daerah (pemda) untuk menjadikan penuntasan buta aksara sebagai bagian dari program prioritas. Pemda dapat menelusuri angka buta aksara ini mulai dari tingkat RT dan RW sehingga benar-benar tuntas.

“Pemerintah pusat (Kemdikbud, red) telah memiliki spirit untuk menuntaskan buta aksara. Akan tetapi yang jadi persoalannya adalah dukungan dari pemprov dan pemda. Ini perlu kesadaran dan komitmen dari gubernur dan bupati ataupun wali kota, karena hingga saat ini saya melihat belum ada komitmen untuk itu,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan