Muhamad Thaher Hanubun

Bangun Pendidikan Daerah 3T dengan Aplikasi

Bangun Pendidikan Daerah 3T dengan Aplikasi
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun ( Foto: Suara Pembaruan/Maria Fatima Bona / Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / IDS Jumat, 15 November 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Banyak cara bisa dilakukan untuk memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tetinggal (3T). Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Itulah yang dilakukan Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun. Ia memanfaatkan TIK dengan membentuk sejumlah aplikasi untuk mempermudah seluruh masyarakat di kabupatennya, termasuk untuk guru dan tenaga pendidik. Selain itu, Maluku Tenggara juga memiliki keberpihakan kepada bidang pendidikan berupa pengalokasian anggaran murni pendidikan dari APBD sebesar 20% untuk membangun pendidikan termasuk TIK.

Oleh karena itu, ia pun menyabet penghargaan Anugerah Kihajar 2019 yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (14/11/2019) malam.

Thaher mengatakan, penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah pusat terhadap komitmen Kabupaten Maluku Tenggara sebagai daerah 3T dalam meningkatkan mutu dan akses pendidikan.

“Partisipasi Kabupaten Maluku Tenggara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan ini dilakukan dalam karangka kebijakan, anggaran, program, implementasi, dan dampak,” kata mantan guru olahraga SMAN 3 Jakarta ini kepada SP sebelum acara digelar.

Selanjutnya, ia menuturkan, untuk pembangunan pendidikan yang belum merata seperti Maluku Tenggara, peran TIK sangat penting. Ia mengakui, memperkenalkan para guru dengan TIK bukan hal mudah. Oleh karena itu, ia melibatkan komunitas anak muda Maluku Tenggara untuk terlibat langsung melatih para guru agar melek teknologi.

“Anak muda Maluku Tenggara ini banyak yang melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa seperti Yogyakarta dan Malang. Ketika mereka kembali ke kampung halaman, ilmu yang mereka dapat dimanfaatkan untuk melatih para guru. Anak-anak muda ini semua tergabung dalam komunitas sehingga mudah untuk melibatkan mereka,” ujarnya.

Menurut Thaher, pihaknya melibatkan anak muda atau kaum milenial karena mereka benar-benar paham akan TIK. Mereka pun bersedia bersama-sama membantu daerah untuk meningkatkan kualitas para guru menjadi lebih baik. “Dengan begitu para guru dan tenaga pendidik mengubah cara pandang mereka dengan segera memanfaatkan teknologi baru untuk menyampaikan materi yang lebih efektif,” ujarnya.

Selain memanfaatkan TIK untuk pembenahan administrasi untuk memudahkan dan mensinkronisasi semua kebijakan, ia juga fokus pada peningkatan mutu dan kreativitas para guru yang menjadi kunci utama pendidikan. Menurut dia, secara kurikulum, para guru telah memahami. Yang menjadi kelemahan selama ini adalah membentuk kreativitas guru.

Ada beberapa prinsip penerapan TIK untuk Maluku Tenggara. Pertama, pemberdayaan yakni memberdayakan sekolah, guru, staf, dan masyarakat sekitar dengan tujuan keterlibatan memberikan motivasi bagi siswa untuk belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya.

Kedua, bottom up yakni tumbuh dari bawah ke atas sehingga program TIK dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Maluku Tenggara. Ketiga, pendekatan pembelajaran modern dengan strategi pembelajaran siswa aktif yang berorientasi kepada siswa.

“Tugas saya sebagai kepala daerah memberi kebebasan kepada para guru untuk mengekspresikan atau memperlihatkan sesuatu yang baik dari guru. Karena metode berupa kurikulum telah ada, kita harus membuat guru kreatif,” ujarnya.

Dia melanjutkan, para guru kreatif ini diberi dukungan berupa penghargaan dan beasiswa pendidik bagi yang belum memiliki ijazah sarjana (S1) sesuai persyaratan Undang-Undang Guru dan Dosen untuk menjadi guru.

“Saya memberi penghargaan guru yang punya prestasi. Misalnya ide untuk mata pelajaran matematika, bagaimana guru tersebut melakukan kreativitas dalam mengajar, maka mereka akan diberi penghargaan hingga beasiswa pendidikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menuturkan, selain kreativitas, para guru ini didorong untuk melek teknologi. Para guru diajari untuk mampu menggunakan gawai. Sebab, segala informasi penting terkait perkembangan guru, administrasi hingga kebijakan semua transparan berada di web yang dapat diakses oleh siapa pun.

UNBK
Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Kemdikbud, Gogot Suharwoto mengatakan, Maluku Tenggara dipandang sudah melakukan pelayanan yang total di bidang pendidikan. Pasalnya, seluruh sekolah menengah pertama (SMP) di kabupaten tersebut sudah terkoneksi dengan internet, sehingga memungkinkan para siswanya menempuh ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

"Meski tertinggal, ternyata semua sekolah SMP sudah mendapatkan fasilitas TIK. Ini patut diapresiasi," ujarnya.

Gotot juga menuturkan, selain Maluku Tenggara, ada 15 kepala daerah lainnya yang juga mendapat penghargaan serupa. Menurutnya, 16 kabupaten/kota tersebut benar-benar berkomitmen tinggi untuk melakukan sejumlah inovasi dalam pendidikan dengan memanfaatkan teknologi.



Sumber: Suara Pembaruan