Pratiwi Sudarmono

Menikmati Pertemanan dengan Bakteri

Menikmati Pertemanan dengan Bakteri
Pratiwi Sudarmono, wanita yang sempat menjadi astronot kini menggeluti dunia penelitiaan mikrobiologi . ( Foto: SP/ari supriyanti rikin )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Kamis, 28 November 2019 | 15:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Siapa yang tak mengenal Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Namanya sangat legendaris. Astronot perempuan pertama Indonesia ini juga seorang profesor ahli mikrobiologi yang hingga kini nama dan kiprahnya masih bersinar.

Wanita kelahiran 31 Juli 1952 ini menjadi salah satu ilmuwan wanita kebanggaan Indonesia di bidang sains, teknologi, teknik (engineering) dan matematika (STEM). Oleh karena itu, Pratiwi dan empat wanita yang berkiprah di bidang STEM, di Jakarta pada Rabu (27/11/2019) meraih anugerah Inspiring Woman in STEm dari GE Indonesia.

Selain Pratiwi, empat wanita lainnya Permana Wardayanti Premadi ahli astrofisika dan Kepala Observatoruim Bosscha, Eniya Listiani Dewi profesor bidang teknologi proses elektro kimia di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Silvia Halim Direktur Konstruksi MRT Jakarta, dan Crystal Widjaja data scientist Gojek.

Dalam kesempatan itu, Pratiwi yang kini menjadi profesor mikrobiologi sekaligus Kepala Laboratorium Mikrobiologi Universitas Indonesia mengatakan, mengingat jumlah ilmuwan wanita Indonesia di bidang STEM masih sedikit, sangat penting memberikan apresiasi kepada wanita yang bekerja di bidang STEM. Sebab menurutnya, ada kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perjalanan ilmuwan Partiwi dimulai tahun 1985, ia dipilih oleh pemerintah Indonesia dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) sebagai payload specialist untuk melakukan berbagai penelitian mulai dari memantau pertumbuhan patogen manusia di luar angkasa hingga meneliti diferensiasi sel pada misi pesawat ulang alik STS-61H NASA. Sayangnya setelah bencana pesawat ulang alik Chalengger pada tahun 1986, program ini dibatalkan.

"Setelah kembali dari Amerika Serikat, saya terus terlibat dalam berbagai penelitian mikrobiologi untuk mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia,” katanya.

Saat ini, Pratiwi meneliti bakteri patogen tuberkulosis (TBC) yang resisten terhadap obat-obatan TBC. Baginya ini menjadi tantangan yang harus dipecahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Ia menceritakan di luar negeri seperti Amerika Serikat, sangat ketat ketika ada orang masuk negaranya termasuk harus bebas TBC. Dari penelitian yang ada, ia menemukan mutasi bakteri dan pola penyebarannya. Menurutnya, mutasi inilah yang menyebabkan resistensi.

Banyak faktor yang menurutnya menjadi kendala menekan sebaran TBC seperti penderita TBC tidak berobat teratur, putus obat atau tertular bakteri yang sudah resisten. Ia bertekad melalui penelitiannya ini bisa ditemukan pengobatan yang lebih efektif untuk TBC.

Semangat
Di usianya yang tidak lagi muda, semangat dan dedikasi ilmuwan masih dijiwai Pratiwi. Menyandang nama dan dikenal masyarakat hingga ke berbagai daerah justru membuatnya harus menjadi panutan bagi wanita ilmuwan lainnya.

"Di setiap bidang yang saya geluti, saya mencoba untuk mencintainya. Seperti sekarang ini saya di mikrobiologi berteman dengan bakteri yang ukurannya 0,01 mikron. Saya hidup dan bermain dengan dia yang menyebabkan orang bisa sakit, karena itu semua harus dicari sebabnya,” paparnya.

Semangat Pratiwi ingin memperbaiki derajat kesehatan manusia juga sejalan dengan ide memasyarakatkan prestasi-prestasi wanita di bidang STEM. Dengan begitu anak-anak muda bisa terdorong untuk juga mencintai profesi ilmuwan. Hal ini menunjukkan bahwa ilmuwan bukan lagi profesi yang 100% identik dengan laki-laki.

Meski menjadi ilmuwan, astronot pertama Indonesia yang melayani hampir 15.000 permintaan tanda tangan kala itu, tidak melupakan penampilannya sehari-hari. Gaya hidup dirinya sebagai perempuan tidak lantas ia tinggalkan, seperti merawat tubuh.

"Kita tidak boleh kalah cantik dengan bakteri yang warna merah, biru dan sebagainya,” ujarnya.

Bahkan pernah, ketika ada orang mengetuk pintu rumahnya dan mencari Pratiwi, tamu itu tidak percaya kalau yang membukakan pintu adalah Pratiwi yang sesungguhnya.

"Saya disebut barangkali sekretaris Pratiwi. Mungkin dalam pemikirannya, ilmuwan berkacamata tebal dan tidak terlihat menarik,” imbuhnya.

Pemberian penghargaan dari GE Indonesia ini juga dihadiri Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Soemantri Brodjonegoro. Dalam kesempatan itu Bambang mengatakan, meski prospek industri STEM cukup menjanjikan di masa depan, masih ada sejumlah tantangan dalam menarik tenaga kerja profesional perempuan untuk bekerja di industri tersebut.

Peningkatan minat dan partisipasi perempuan di sektor industri STEM sangat dibutuhkan demi meningkatkan perekonomian nasional.

"Jumlah partisipasi perempuan di industri STEM masih minor. Artinya masih banyak perempuan yang tidak atau belum bekerja di bidang STEM. Perempuan yang sekolah atau kuliah di bidang STEM sebenarnya cukup banyak, namun yang berkarier di bidang ini masih relatif rendah,” katanya.

Menurutnya, banyak unsur yang membuat perempuan tidak terlibat atau masuk ke industri STEM. Salah satu adalah persepsi lingkungan kerja di industri STEM yang melibatkan pekerjaan fisik dan didominasi pekerja laki-laki, menjadikan bidang ini tidak menarik bagi pekerja perempuan.

Ia menilai stigma ini harus dihilangkan agar keterlibatan perempuan di industri STEM semakin meningkat demi memajukan perekonomian negara.

"Perempuan memiliki potensi untuk mengembangkan industri STEM. Namun banyak hal dan pengaruh norma sosial seperti menjadi seorang istri dan ibu. Padahal Indonesia membutuhkan talenta-talenta perempuan terbaik pada bidang ini,” ungkapnya.

Jika perempuan tidak berpartisipasi artinya menggerus talenta sendiri dan kehilangan daya ungkit untuk menjadi negara maju.
Meskipun jumlah perempuan hampir setengah dari populasi dunia, diperkirakan hanya sekitar 20% para periset di bidang sains, teknologi dan inovasi adalah perempuan.

Bambang berharap, lebih banyak upaya untuk menarik dan mempertahankan perempuan berkarier di industri STEM, sehingga kesenjangan keahlian akan berkurang dan meningkatkan produktivitas untuk membawa perubahan di industri STEM.



Sumber: Suara Pembaruan