Anton Hendra Kusuma

Anak PKH yang Sukses Berlaga di Kompetisi Sains Dunia

Anak PKH yang Sukses Berlaga di Kompetisi Sains Dunia
Anton Hendra Kusuma (19) mendapatkan penghargaan sebagai Anak Program Keluarga Harapan (PKH) berprestasi tingkat nasional dalam ajang Appreciation Day 2019. Penghargaan itu diberikan oleh Kementerian Sosial di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (27/11). ( Foto: Suara Pembaruan/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Sabtu, 30 November 2019 | 13:14 WIB

Makassar, Beritasatu.com - Anton Hendra Kusuma (19) mendapatkan penghargaan sebagai Anak Program Keluarga Harapan (PKH) berprestasi tingkat nasional dalam ajang Appreciation Day 2019. Penghargaan itu diberikan oleh Kementerian Sosial di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (27/11/2019) lalu.

Saat dijumpai SP, Anton bercerita bahwa seluruh prestasi yang diraih adalah bukti baktinya pada kedua orang tuanya, termasuk prestasi gemilang yang ia raih di sejumlah kompetisi sains tingkat internasional.

Anton berhasil mengharumkan nama Indonesia di beberapa kompetisi sains seperti Expo Science Asia (ESA) di Korea Selatan pada 2018 dan Expo Sciences International (ESI) di Abu Dhabi pada September 2019 lalu. Ia melanglang buana berkat inovasi alat pendeteksi angin tornado yang dibuatnya.

Bukan perkara mudah bagi Anton untuk dapat menjejakkan kaki dan meraih penghargaan di dua kompetisi internasional itu. Bertahun-tahun ia harus berjuang hingga bisa berdamai dengan kegagalan. Meski terasa pelik, ia terus mendapat dorongan dari ke dua orang tuanya, Asenan dan Ulfiyah.

"Latar belakang keluarga saya ini tukang becak. Bapak tukang becak, ibu hanya menjadi ibu rumah tangga. Dari kondisi ini, saya mendapat banyak tekanan sosial. Namun, hal itulah yang mendorong saya memberikan yang terbaik, terutama untuk keluarga," ungkap Anton sambil memegang plakat penghargaan dengan erat.

Namun, Anton mengaku tak pernah puas dan akan terus membahagiakan kedua orangtuanya. Ia mengatakan, bahwa membahagiakan orang tua adalah merupakan impian terbesar yang selalu ia kejar.

"Saya selalu mendengar pesan orang tua. Salah satunya 'Jangan takut untuk gagal. Kalau kita direndahkan tinggikan harapanmu. Kalau kita ditinggikan rendahkan hatimu.' Pesan ini menjadi penyemangat saya," tuturnya.

Anton bercerita, sejak duduk di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kepanjen Malang, ia sangat menyukai seni, terutama menggambar. Lewat hobinya itu, ia telah memiliki puluhan sertifikat menggambar.

Kemudian, sejak masuk SMA Anton memulai mengenal riset dan melakukan penelitian setelah di sekolahnya mengambil jurusan IPA. Hobi barunya ini semakin berkembang saat ia memutuskan bergabung dengan Rumah Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Indonesia yang dibimbing oleh Bayu Satriyawan.

Anton mengatakan, berkat bimbingan dari Bayu, ia berhasil terpilih menjadi 100 peserta terpilih di ESI Abu Dhabi yang diikuti oleh 1.875 peserta dari 57 negara. Prestasi itu kemudian akan membawa dirinya mewakili Indonesia untuk mengikuti Young Citizens Conferences (YCC), dengan pemateri langsung dari NASA.

“Saya meneliti analogi tanaman Putri Malu. Ketika disentuh daunnya kan mengatup. Lalu saya implementasikan analogi itu ke konsep alat Tornado Detector System,” ujar Anton.

Aerodinamik
Kala dipamerkan di ajang tersebut, alat itu menjadi perhatian serius para juri dan tamu yang hadir. Dijelaskan Anton, cara kerja alat itu adalah mendeteksi kecepatan angin yang datang.

Ketika angin datang dengan kecepatan tinggi, maka secara otomatis baling-baling akan menutup dan alarm menyala. Hal itu menandakan adanya potensi terjadinya tornado.

Di samping itu, alat yang ia buat dari panci masak milik ibunya itu juga berhasil dimaksimalkan dengan konsep aerodinamik. Dengan demikian, para juri dan pengunjung pameran ESI pun berharap agar alat tersebut dikembangkan untuk kemajuan negara Indonesia.

“Hingga kini alat yang saya buat juga bisa mendeteksi kehadiran tsunami. Jadi saya menggabungkan alat ini dengan sistem blokade buka tutup. Kalau ditutup, bisa jadi di jalan raya, kalau ada gempa yang berpotensi tsunami alarm akan menyala, masyarakat dievakuasi, kendaraan dilarang melintas, dan blokade akan otomatis terbuka,” terangnya.

Dirinya pun berharap, pemerintah Indonesia dapat mengimplentasikan penelitiannya ini ke dalam pembangunan-pembangunan infrastruktur di Indonesia. Menurutnya dengan analogi dari alam, masa depan pembangunan bisa dilanjutkan dengan aman.



Sumber: Suara Pembaruan