Theodore Permadi Rachmat

Sang Dermawan

Sang Dermawan
Theodore Permadi Rachmat. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / AB Sabtu, 7 Desember 2019 | 17:00 WIB

November dan Desember 2019 adalah dua bulan yang berkesan dalam hidup pengusaha nasional, Theodore Permadi (TP) Rachmat. Pada 13 November 2019, ia mendapatkan Lifetime Achievement Award 2019 dari Ernst & Young, sedangkan pada 4 Desember pekan lalu, founder Triputra Group ini dinobatkan Forbes sebagai orang terkaya kedua yang paling dermawan di Asia. Dalam laporan bertajuk Asia’s 2019 Heroes of Philanthropy, Forbes mengidentifikasikan 30 nama miliarder Asia yang dinilai sebagai orang paling dermawan.

Azim Premji (74 tahun) dari India berada di urutan pertama sebagai orang terkaya Asia paling dermawan. Peringkat kedua adalah TP Rachmat (76 tahun) dari Indonesia. Pengusaha Indonesia lainnya yang mendapatkan award sebagai filantrop Asia 2019 adalah Belinda dan Anderson Tanoto.

Penghargaan demi penghargaan yang diraih mantan dirut PT Astra International Tbk ini merupakan apresiasi terhadap kontribusinya bagi sesama. Menurut pria kelahiran 15 Desember 1943 ini, semua yang dilakukan selama hidupnya didorong oleh filosofi hidup yang jelas.

"Semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan kita harus kembalikan kepada Tuhan lewat sesama. Semakin banyak yang kita terima dari Tuhan, semakin banyak pula kita dituntut," kata TP Rachmat.

Theodore Permadi Rachmat.

Suka dan duka, kegagalan dan keberhasilan, juga sehat dan sakit, kaya dan miskin, sepenuhnya dan seluruhnya adalah berkat Tuhan. "Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita, untuk sebisa mungkin membagikan berkat yang telah Tuhan berikan bagi keluarga, perusahaan, masyarakat, terlebih bangsa Indonesia. Bangsa yang telah memberikan begitu banyak kesempatan bagi kita semua," ujarnya.

Pendiri dan bos dari Triputra Group ini sejak tahun 2018 telah menyumbangkan hampir US$ 5 juta atau sekitar Rp 70 miliar (dengan kurs Rp 14.000/dolar) untuk A&A Rachmat Compassionate Service Foundation miliknya. Yayasan ini mendukung peluang pendidikan, perawatan kesehatan, dan panti asuhan.

Selain membangun bisnis bernama Triputra Group, TP Rachmat juga mendirikan Yayasan A&A Rachmat yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, dan beasiswa. Didirikan tahun 1999, yayasan ini sudah memberikan beasiswa kepada 21.000 siswa dengan nilai dengan nilai US$ 12,5 juta atau sekitar Rp 175 miliar. Dana ini dikucurkan untuk memastikan bahwa siswa tetap sekolah dan belajar secara efektif dari tahap awal. Selain itu, yayasan ini juga menyelenggarakan program pelatihan tahunan untuk guru sekolah dasar.

Melihat kebutuhan masyarakat, pada 2005, yayasan ini juga memberikan layanan kesehatan dengan mendirikan klinik di daerah perdesaan dengan biaya perawatan sekitar Rp 5.000-Rp 10.000 per kunjungan. Ia bertekad untuk terus memperluas pelayanan kesehatan ke seluruh penjuru Tanah Air.

Selain TP Rachmat, Belinda dan Anderson Tanoto juga masuk dalam daftar orang kaya paling dermawan versi Forbes. Tanoto bersaudara ini berhasil masuk daftar filantropi versi Forbes melalui Tanoto Foundation.

Keluarga Tanoto tahun ini menyumbangkan dana US$ 16,7 juta atau sekitar Rp 233,8 miliar, naik 30% dari 2018. Dana itu digunakan untuk mendukung dan menyediakan pendidikan bagi semua kalangan, dari anak usia dini hingga universitas.

Dari kedua Tanoto bersaudara, Belinda tercatat paling aktif di yayasan yang berfokus pada pengembangan anak usia dini. Yayasan mereka telah melatih 15.000 guru dan mendanai hampir 7.500 beasiswa universitas.

Sementara itu, Anderson Tanoto diketahui menyumbangkan sekitar seperlima waktunya untuk program pelatihan kepemimpinan di yayasan. Ia juga memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan berkelanjutan PBB.

TP Rachmat mengawali kariernya sejak berusia 25 tahun. Meski pamannya, William Soeryadjaya, kala itu menjabat sebagai CEO Astra International, dia tidak meminta jabatan tinggi. Pria lulusan jurusan teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengawali kariernya pada 1968 sebagai tenaga sales.

Pada 1972, TP Rachmat dipercaya mengelola anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang alat berat, United Tractors. Setelah 16 tahun bekerja keras dan menunjukkan dedikasi, dia diangkat menjadi CEO Astra saat usianya memasuki 45 tahun.

Sukses bersama Astra, TP Rachmat mendirikan perusahaan sendiri, PT Triputra Gorup yang kini berkembang pesat. Perusahaan tersebut kini dikelola anak-anaknya. TP Rachmat berprinsip kerja efisien, efektif, berbagi, dan jauh dari sikap serakah.

Pada 2014, Forbes menempatkan nama TP Rachmat sebagai orang terkaya di Indonesia di urutan ke-14 dengan total kekayaan US$ 1,85 miliar. 



Sumber: BeritaSatu.com