Junaidi Abdillah

Berbisnis Bukan Sekadar Mencari Untung

Berbisnis Bukan Sekadar Mencari Untung
Junaidi Abdillah. (Foto: Istimewa)
Imam Muzakir / AB Senin, 30 Maret 2020 | 20:32 WIB

Pebisnis sejati tak melulu berpikir soal untung-rugi. Ia juga berupaya agar bisnis yang digelutinya memberikan manfaat bagi banyak orang. Karena itu, selain memiliki kemampuan mengelola perusahaan, pebisnis sejati punya tanggung jawab moral, empati, dan nilai-nilai sosial lainnya.

Nilai-nilai itulah yang sedang berupaya diterapkan Junaidi Abdillah di perusahaan pengembang properti yang didirikan dan dinakhodainya, PT Arfis Daya Pratama.

“Bekerja dan membangun rumah itu jangan sekadar mencari untung. Apa yang dibangun harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” kata Junaidi.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) ini juga percaya bahwa membangun rumah murah bagi masyarakat tidak mampu atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) merupakan bagian dari amal ibadah.

“Itu yang kami sampaikan kepada teman-teman pengembang lainnya. Kalau saya membangun rumah murah, banyak doa yang dipanjatkan konsumen kepada saya,” tuturnya.

Kiprah Junaidi Abdillah di bisnis properti segmen bawah bukan tanpa alasan. “Masih banyak masyarakat kita yang kurang mampu dan belum memiliki rumah,” ujar pria lulusan Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, ini.

Berdasarkan data terakhir Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), backlog atau defisit kepemilikan hunian pada 2015 mencapai 11,45 juta unit.

Kegelisahan terhadap nasib masyarakat kebanyakan yang belum punya rumah itu pula yang mendorong Junaidi Abdillah fokus menggarap segmen rumah masyarakat bawah. Perjuangan Junaidi juga disalurkan lewat Apersi yang kerap menyuarakan jeritan rakyat bawah.

Junaidi bersumpah akan terus membangun rumah murah hingga rakyat kecil bisa menikmati tempat tinggal yang nyaman, layak huni, dengan harga terjangkau.

Empati dan tanggung jawab moral Junaidi Abdillah sebagai pengembang ternyata dilatarbelakangi oleh kehidupannya yang penuh liku. Junaidi melalui masa mudanya dengan kerja keras. Profesi sebagai pedagang pecel lele kaki lima hingga sopir dilakoninya selama belasan tahun.

“Dari kehidupan yang keras itu, saya menjadi lebih tahan banting, tak mudah menyerah, dan punya empati,” papar pria kelahiran Surabaya, 22 Juni 1972, tesebut.

Berikut penuturan lengkap Junaidi Abdillah.

Bisa cerita success story Anda sebagai pengusaha properti?
Dari dahulu hidup saya keras. Sebelum masuk dan terjun ke bisnis properti, saya pernah bekerja mengangkat tiang listrik, berjualan pecel lele di kaki lima, bahkan menjadi sopir.

Kemudian ada peluang bisnis properti kecil-kecilan, yaitu dua unit rumah sitaan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Untuk membeli dua rumah itu modalnya Rp 18 juta, lalu diperbaiki dengan modal Rp 20 juta sehingga bisa dijual. Dua rumah itu laku Rp 100 juta.

Mulai dari dua unit rumah ini, lalu saya bangun 10 unit dan seterusnya, sampai ratusan, bahkan ribuan unit. Saya fokus ke segmen rumah masyarakat bawah. Semua itu butuh kerja keras. Kita tidak akan berhasil tanpa kerja keras.

Jadi, apa kunci sukses Anda?
Kalau sudah berusaha dan kerja keras, tetapi mengalami kegagalan, segera cari tahu apa yang harus diperbaiki. Karena itu, penting sekali kita memiliki ilmu pengetahuan. Setelah tahu apa yang harus diperbaiki, lakukan. Begitu seterusnya hingga kita berhasil. Jangan menyerah. Selain itu, harus tetap berpikir jernih, tidak emosional.

Berpikir jernih, maksudnya?
Dahulu, saat masih muda, saya nyaris kehilangan nyawa. Kejadiannya gara-gara mengambil sabun mandi yang jatuh ke dasar sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Saya menyelam ke dasar sungai. Saat ke permukaan, posisi saya persis di bawah kapal. Saya panik.

Sekuat tenaga saya coba mencari jalan keluar agar tidak tenggelam di dasar sungai. Ketika itu, sinar matahari menjadi patokan saya untuk keluar dari dalam sungai. Akhirnya saya berhasil.

Nyaris kehilangan nyawa hanya karena urusan sabun mandi. Sejak itu, saya tanamkan dalam diri saya, pakailah pikiran yang jernih dan jangan emosional. Saya bilang ke diri saya, hanya karena sabun saja kamu kejar sampai ke dasar sungai dan hampir kehilangan nyawa.

Mengapa Anda fokus ke segmen rumah murah?
Saya ingin menyalurkan perjuangan. Selaras dengan latar belakang hidup saya. Masa kecil dan masa muda saya susah. Lalu, saya melihat, saat ini banyak warga tinggal di gang kecil, rumah kontrak petakan. Padahal, cicilan kontrakan itu bisa dijadikan untuk mencicil rumah.

Masih banyak orang tidak atau belum mampu memiliki rumah yang layak huni dan nyaman. Di situlah timbul pemikiran bagaimana dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu mereka agar mendapatkan rumah. Setelah memiliki rumah, kesejahteraan mereka diharapkan lebih baik.

Dari sisi profitnya bagaimana?
Bekerja dan membangun rumah itu tidak sekadar mencari untung. Apa yang kami bangun harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Membangun rumah murah bagi masyarakat yang tidak mampu itu merupakan amal ibadah. Dapat pahala.

Itu yang kami sampaikan kepada teman-teman pengembang lainnya. Dengan membangun rumah murah, banyak doa yang diberikan konsumen kepada saya.

Mereka yang tadinya belum punya rumah, lalu menjadi punya rumah akan bersyukur dan mendoakan kita. Pahalanya juga banyak. Karena itu, moto hidup saya adalah semua yang dikerjakan harus jadi ibadah.

Kendala membangun rumah murah bagi masyarakat kecil?
Kendala pasti banyak. Banyak sekali. Apalagi rumah subsidi yang dilaksanakan pemerintah, aturan dan regulasinya juga banyak sekali. Aturan itu terkadang membuat pengembang pusing tujuh keliling untuk mencari jalan keluarnya. Ya sudah, kita memang harus menjalaninya. Misalnya soal aturan spesifikasi rumah subsidi. Belum lagi aturan lain, seperti mekanisme subsidinya.

Namun saya bersama teman-teman lain sesama pengembang bersatu padu untuk mewujudkan pembangunan rumah bersubsidi. Salah satu caranya dengan berbicara kepada pemerintah sebagai pembuat regulasi. Apalagi Presiden Joko Widodo lewat Nawacitanya ingin membuatkan rumah bagi rakyat kecil lewat Program Sejuta Rumah yang digulirkan sejak tahun 2015.

Apa saja yang disuarakan?
Pertama, tentu saja menyampaikan bahwa keterlibatan pemerintah dalam pembangunan rumah murah bagi rakyat kecil adalah sangat penting. Sebab, penyediaan perumahan ini merupakan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, sehingga negara wajib memenuhi hal itu.

Apersi sebagai organisasi pengembang perumahan masyarakat berpenghasilan kecil mendesak pemerintah agar memberikan subsidi, sehingga harga rumah bisa terjangkau oleh rakyat banyak.

Kemudian, bagi rumah rakyat ini, suku bunga yang diberikan jangan disamakan dengan harga rumah yang komersial. Kalau menggunakan suku bunga rumah komersial, jatuhnya menjadi mahal. Rakyat kecil seperti tukang bakso dan tukang cukur rambut tentu tidak bisa mendapatkan rumah.

Berarti pemerintah dan perbankan harus memberikan pembiayaan yang lebih terjangkau?
Kami setuju seperti itu. Kenapa? Supaya masyarakat bisa menikmatinya. Apa tidak kasihan kepada banyak pedagang atau pekerja yang tidak memiliki rumah karena kemampuan mereka terbatas?

Kami ini hanya membantu pemerintah dalam menyediakan rumah murah bagi masyarakat. Hal itu tentu harus dibantu oleh pemerintah dan kalangan perbankan.

Kami minta pemerintah jangan terlalu menerapkan banyak aturan yang membuat pengembang sulit melaksanakannya. Misalnya aturan soal Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (Sikasep) dan Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (Sikumbang) yang diluncurkan Kempupera pada Desember 2019. Itu mubazir dan ternyata justru menyusahkan pelaku usaha. Saya usul, aturan ini ditinjau ulang.

Lalu, dana subsidi juga harus jelas, supaya kami dapat kepastian dalam berbisnis. Apalagi banyak masyarakat yang tidak bankable dan selalu gagal dalam seleksi sebagai debitur dalam kredit pemilikan rumah (KPR). Ini yang harus diperhatikan.

Bagaimana dukungan keluarga terhadap bisnis Anda?
Tentu keluarga sangat mendukung kegiatan saya. Mereka tahu bahwa membangun rumah adalah tugas berat. Keluarga selalu support, baik anak-anak maupun istri, meskipun sejak sibuk di Apersi saya jarang liburan bersama keluarga.

 



Sumber: Investor Daily