Perajin Tas Etnik Lungsin Menanti Sambutan Pasar Global
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Aulia R Rusdi

Perajin Tas Etnik Lungsin Menanti Sambutan Pasar Global

Rabu, 24 Maret 2021 | 18:07 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Jakarta, Beritasatu.com- Pandemi Covid-19 membuat banyak bisnis terpukul. Tak terkecuali, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seperti Aulia R Rusdi, pemilik merek tas tangan Lungsin. Namun saat permintaan menurun, dia justru mengambil banyak hikmahnya. Berkreasi sambil bereksplorasi kreatif, Aulia berharap produk tas etnik Lungsin disambut pasar global.

Hampir seluruh tas produksi Lungsin berciri khas etnik. Mulai dari bentuk tote bag, clutch, pouch hingga duffel bag biasanya memadukan kulit hewan dengan sepotong kain tradisional.

“Kami mulai dari tas tenun pertengahan tahun 2012, dan buat asesoris dari kulit. Awalnya cuma iseng aja, tapi kayaknya ada potential market untuk warna-warna netral. Kalau di market, warnanya lumayan bright, dan warnanya juga kadang ‘nabrak’. Belum ada produk yang warnanya senada, dan akhirnya kami coba bikin,” kenangnya.

Mengandalkan pasar lokal dan segmen yang fleksibel, produk Lungsin yang eksklusif dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 3 juta.

“Jadi eksklusif itu sesuatu, karena ini pekerjaan tangan dan prosesnya panjang. Diusahakan, satu kain tradisi itu cuma jadi untuk tiga model tas. Sementara dari segi pewarnaan dilakukan tersendiri. Besar kecilnya juga beda. Meskipun tampaknya sama, kadang motifnya kembali ke perajin,” paparnya.

Meskipun kerap mengikuti tren, Lungsin juga punya idealisme dalam desain. Mulai dari pemilihan kulit domba, kambing., sapi atau bahkan ular elaphe, Aulia juga sangat bersemangat untuk mengangkat beragam kekayaan wastra nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Itulah sebabnya, di beberapa tas ada potongan kain songket, tenun ikat, lurik, dan kain tradisional lain.

“Kami ingin menciptakan sesuatu yang flagship, dan bagaimana caranya supaya model tas ini agak lebih klasik dan bisa dipakai lebih lama,” ujarnya.

Aulia mengaku segmen konsumen tas etnik Lungsin cukup bervariasi. Mulai dari gadis usia 20 tahunan, wanita mapan, sampai orang tua. Sejak awal berbisnis pada tahun 2012, Aulia ingin harga tas Lungsin cukup terjangkau.

“Selama pandemi Covid-19 ini memang tidak mudah bagi semua orang, termasuk kami. Sebelum pandemi, kami bisa menjual 80-100 produk. Sementara produksi sekitar 120 item. Biasanya ada pesanan dari korporat buat hadiah pemberian, sekarang tidak ada sama sekali. Nyatanya orang kan juga tidak bisa ke luar rumah, jadi tas juga jarang dipakai. Tapi kami coba mempertahankan resources, bahkan saya tidak mengurangi pegawai. Syukurlah, usaha masih bisa berjalan,” tambahnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata lungsin berarti “benang yang membujur pada barang tenunan”. Bagi Aulia, wastra nusantara atau kain tradisional bukan hal asing, yang baru dikenal hitungan bulan. Sejak kecil, dia mengenal bisnis batik dari almarhum nenek dan paman di Pekalongan dan Yogyakarta.

“Jadi selama pandemi ini, ada lebih banyak waktu untuk riset. Kami bisa berkolaborasi dengan perajin yang berbeda. Sebelumnya, kami kerap diburu waktu sehingga kurang sempat eksplorasi material dan kain dari daerah lain,” ujarnya.

Aulia mengaku tekanan bisnis yang berkurang memberi “ruang” riset tim kreatif Lungsin. Jika sebelumnya kain diambil dari pameran, Lungsin mulai memesan kain tenun dengan permintaan yang spesifik. Dari segi produksi, penjahit akhirnya juga punya waktu leluasa.

“Selama pandemi Covid-19 ini, kami angkat lagi kain songket dari Sambas dan kain tenun Palembang. Kain tenun, jika kami menginginkannya, baru selesai dua bulan lagi. Kadang perajinnya baru bekerja di luar musim tanam atau musim panen. Produksi kain seperti ini memang perlu waktu,” ujarnya.

Meskipun fokus di pasar lokal, Aulia tetap ingin mengincar pasal global. Beberapa kali, Lungsin diperkenalkan di sejumlah pameran kelas internasional. Tahun 2016, produk Lungsin pernah dipamerkan di Hong Kong, London, dan New York. Sementara tahun 2019, Aulia juga menjajaki peluang di Manila.

“Dapat pasar ekspor sih belum, tapi kami lumayan rajin ikut pameran. Kalau diajak, kami selalu ikut biasanya untuk tujuan cek market, branding dan cari ide. Saya penasaran juga market di luar itu maunya seperti apa? Di tiap daerah kan demand-nya beda-beda,” tambahnya.

Mengelola produk dengan wastra nusantara tergolong gampang-gampang susah. Menurut Aulia, dari segi material, kain tradisional punya sejumlah tantangan. Soal bahan baku, masalah warna ternyata tidak mudah.

“Kadang kami ada yang kurang cocok, mereka suka pakai warna alam. Kalau lurik, kami beli yang sudah jadi saja, kami nggak order, kain lurik sendiri itu sudah lumayan bervariatif. Kalau kain songket itu custom, kami kasih warna-warna yang soft doft. Untuk kain songket, perajin memang punya standar benang emas. Tapi kami di Lungsin ingin warna benang emasnya yang tidak mencolok, dan bright jadi kami ambil warna emasnya dari India dan Jepang, lalu kami kasih ke perajin,” tambahnya.

Setelah situs resmi Lungsin agar memperluas pasar, Aulia masih menyimpan satu idealisme yang belum terealisasi yakni mengeksplorasi kain batik untuk produk tas Lungsin. Dengan keanekaragaman jenis batik, dia melihat potensi besar di masa depan.

“Tapi buat saya, batik itu kan teksturnya tipis. Tidak seperti lurik. Jadi ya lumayan menantang untuk dipadukan di tas. Baiknya juga model seperti apa? Batiknya apa? Pokoknya ekplorasi wastra nusantara juga masih terlalu luas. Nggak tertutup kemungkinan bisa saja ke depan nanti,” ujarnya menutup wawancara.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Astronaut Wanita Tiongkok: “Ibu Akan Memetik Bintang untukmu”

Astronaut Wang Yaping menjadi wanita Tiongkok pertama yang berjalan di luar angkasa.

FIGUR | 9 November 2021

Perubahan Akan Datang, Ketika Anda Menuntut Perubahan

Greta Thunberg boleh jadi adalah nama aktivis lingkungan paling vokal yang menjadi sorotan dunia saat ini.

FIGUR | 30 Oktober 2021

Dari Pengasingan, Akvitis HAM ini Terus Berjuang Demi Afghanistan

Dua bulan setelah Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan, salah satu pemimpin wanita terkemuka, Fawzia Koofi mengunjungi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

FIGUR | 23 Oktober 2021

Pemuda Pakistan Ciptakan Sepatu Pintar untuk Tunanetra

Wasiullah, seorang penemu muda dari barat laut Pakistan telah merancang "sepatu pintar" untuk para tunanetra.

FIGUR | 21 Oktober 2021

Astronaut Wanita Arab Pertama yang Meraih Mimpi Masa Kecil

Nora Al-Matrooshi mungkin tak mengenal Soekarno. Tapi ujaran motivasi Soekarno itu bukan lagi mimpi setelah dia menjadi astronaut wanita Arab

FIGUR | 9 Juli 2021

Penyelamat Trenggiling Diganjar Hadiah Lingkungan Hidup

Direktur organisasi amal, Save Vietnam Wildlife (SVW) ini dikagumi banyak orang karena menyelamatkan ribuan trenggiling.

FIGUR | 17 Juni 2021

Kembangkan Obat Berbahan Baku Alam Indonesia

Raymond Tjandrawinata terus mengembangkan obat dari bahan baku alam Indonesia yang teruji klinis.

FIGUR | 2 Juni 2021

Entrepreneur Harus Mampu Lihat Peluang dan Melek Teknologi

Salah satu kunci sukses usaha bisa bertahan di tengah pandemi adalah harus pintar berinovasi dan mendengarkan keinginan konsumen.

FIGUR | 24 April 2021

Sukses Raup Rp 1 Miliar Sebagai Content Creator

Septian Bramandita, content creator dengan akun @bisnisbarengbram ini memiliki lebih dari 240.000 pengikut di akun instagramnya.

FIGUR | 24 Februari 2021

Belajar dari Kegagalan

Melawan arus kehidupan bukan hal baru bagi Kresna Bayu, pemilik dan Founder Hodwitch, merek fesyen untuk kaos dan hoddie.

FIGUR | 23 Februari 2021


TAG POPULER

# Kento Momota


# Prajurit Santri


# BWF World Tour


# Waskita Karya


# Omicron



TERKINI
Masihkah Bullish Aset Kripto Berlanjut Tahun Depan?

Masihkah Bullish Aset Kripto Berlanjut Tahun Depan?

EKONOMI | 16 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings