Logo BeritaSatu

Rahmad Maulizar

Hadirkan Senyum dan Harapan Baru untuk Anak Sumbing di Aceh

Kamis, 30 Desember 2021 | 14:00 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com – Senang melihat orang senang, semangat saling membantu. Moto hidup inilah yang selalu menyertai langkah Rahmad Maulizar, pemberi senyum dan harapan baru bagi anak-anak penderita bibir sumbing.

Tak kenal lelah, hampir setiap hari pemuda berusia 28 tahun ini berkeliling ke penjuru desa di Provinsi Aceh untuk mencari anak-anak penderita bibir sumbing. Ia ajak pasien dan keluarganya untuk datang ke rumah sakit agar bisa mendapatkan pelayanan operasi bibir sumbing gratis dari Smile Train Indonesia, badan amal internasional untuk anak-anak yang memberikan operasi perbaikan sumbing gratis serta perawatan sumbing komprehensif kepada anak-anak.

Bibir sumbing sendiri merupakan salah satu kelainan bawaan yang paling sering terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun Smile Train Indonesia dari para ahli, secara global satu dari 700 anak terlahir dengan bibir sumbing dan/atau langit-langit sumbing. Kondisi ini ditandai dengan adanya celah pada bibir yang bisa muncul di tengah, kanan, atau bagian kiri bibir.

Pada anak-anak yang tidak menjalani operasi perbaikan bibir sumbing, mereka kerap mengalami susah makan, sulit bernapas dan bicara. Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan tubuh penderitanya, tapi juga secara psikologis, terutama jika anak terlambat mendapatkan penanganan medis. Merasa minder karena menganggap dirinya berbeda seringkali dialami penderita bibir sumbing. Apalagi mereka juga kerap mengalami perundungan yang bisa merusak kesehatan mentalnya.

Hadirkan Senyum dan Harapan Baru untuk Anak Sumbing di Aceh

Rahmad Maulizar berkeliling ke penjuru desa di Provinsi Aceh menggunakan motor trail untuk mencari anak-anak penderita bibir sumbing

Kondisi ini juga pernah dialami Rahmad Maulizar. Selama 18 tahun pemuda kelahiran Meulaboh, Aceh, 20 September 1993 ini harus menjalani beratnya hidup dengan bibir sumbing. Ejekan, dipandang rendah, sudah jadi makanan sehari-hari. Tiap kali mencoba untuk berbicara, banyak temannya yang tidak memahami sepatah katapun yang dia ucapkan, hanya ejekan yang dilontarkan. Rahmad bahkan hampir tidak menyelesaikan pendidikannya karena merasa dirinya tak punya masa depan, hanya jadi bahan ejekan orang-orang.

"Selama 18 tahun saya merasakan pahitnya menjadi orang yang menderita bibir sumbing. Tidak nyaman, tidak percaya diri, dan juga tidak berani bercita-cita yang lebih besar. Ini sungguh tidak mudah dijalani," ungkap Rahmad Maulizar saat menjadi narasumber dalam webinar "Lomba Foto Astra dan Anugerah Pewarta Astra 2021: Tersenyumlah Indonesia" baru-baru ini.

Namun, Rahmad tidak pernah kecewa kepada Tuhan. Baginya, pemberian Tuhan adalah yang terbaik. Ia meyakini, Tuhan pasti memiliki rencana yang indah untuk hidupnya.

Buah dari kesabarannya itu, ia pun kini bisa memiliki senyum sempurna seperti yang lain. Setelah 18 tahun menjalani beratnya hidup dengan bibir sumbing, Rahmad akhirnya mendapat kesempatan menjalani operasi bibir sumbing gratis di Rumah Sakit Malahayati di Banda Aceh yang difasilitasi oleh Smile Train Indonesia.

"Lewat program Smile Train Indonesia, saya bisa dioperasi gratis yang dipimpin langsung oleh dr Muhammad Jailani, ahli bedah plastik yang sudah senior di Aceh. Dia yang membantu saya mendapatkan senyum baru,” tutur Rahmad penuh syukur.

Keberhasilan menjalani operasi membawa pengaruh besar pada hidupnya. Setelah bisa tersenyum sempurna, Rahmad mulai menjadi pribadi yang jauh lebih percaya diri. Ia tidak lagi takut punya cita-cita tinggi. Selain itu, pengalaman pahitnya menderita bibir sumbing juga membuatnya jadi sosok yang peduli.

Mimpinya, semua anak-anak penderita bibir sumbing harus bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengannya, menikmati keberhasilan operasi bibir sumbing. Untuk itu, Rahmad sejak 2010 mulai bergabung dengan Smile Train sebagai pekerja sosial, berkeliling hingga ke pedalaman Aceh untuk mensosialisasikan adanya operasi bibir sumbing gratis dan mencari anak-anak penderita bibir sumbing untuk dioperasi.

"Sebagai orang yang pernah mengalami bibir sumbing, saya bisa merasakan beratnya hidup mereka. Karena itu, saya putuskan untuk mengabdikan diri membantu penderita bibir sumbing untuk bisa memiliki senyum baru yang sempurna," kata Rahmad yang merupakan alumnus Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Teuku Umar.

Pengabdian Penuh Tantangan
Mencari anak-anak penderita sumbing di Aceh untuk dioperasi gratis bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi sebagian besar penderita bibir sumbing berasal dari keluarga tidak mampu yang tinggal di desa-desa dengan kondisi geografis yang menantang. Dengan menggunakan motor trail, medan sulit di pedalaman Aceh tetap disambanginya.

Tantangan berikutnya datang dari masyarakat yang akan dibantu. Pasalnya sebagian warga masih menggap bibir sumbing sebagai aib yang tidak bisa disembuhkan, sehingga bila ada anggota keluarganya yang menderita bibir sumbing akan disembunyikan. Rahmad juga pernah menjumpai ada seorang bayi yang wajahnya ditutupi kain karena orang tuanya malu memiliki anak dengan bibir sumbing. Padahal sumbing merupakan kondisi medis yang bisa ditangani dengan operasi rekonstruksi. Namun hal ini kurang dipahami karena minimnya akses informasi.

"Banyak warga yang masih menganggap bibir sumbing sebagai aib. Tidak sedikit orang tua yang menolak anaknya dioperasi dan menganggapnya sebagai takdir. Saya bahkan pernah diusir, disiram pakai air saat hendak masuk ke rumah salah satu keluarga penderita bibir sumbing,” cerita Rahmad.

Hadirkan Senyum dan Harapan Baru untuk Anak Sumbing di Aceh

Sekitar 5.000 penderita bibir sumbing mendapatkan operasi gratis dari Smile Train Indonesia

Perlakuan yang kurang mengenakkan itu tak lantas membuat Rahmad hilang semangat. Ia tak pernah lelah mencari anak-anak penderita bibir sumbing dari desa ke desa. Rahmad memaklumi, penolakan itu terjadi karena kurangnya pemahaman warga tentang bibir sumbing.

"Untuk menjadi pekerja sosial, kita harus mengerti kondisi lapangan dan harus banyak bersabar. Mungkin pada awalnya mereka merasa tersinggung. Alhamdulillah, dengan saya berikan pemahaman, saya ceritakan pengalaman setelah operasi, banyak orangtua yang akhirnya bersedia anaknya dioperasi secara gratis. Saya bahagia sekali, dengan operasi ini akhirnya bisa memberikan senyum baru bagi penderita bibir sumbing,” tuturnya.

Selain berkeliling ke penjuru desa di Provinsi Aceh, informasi terkait operasi bibir sumbing gratis ini juga banyak ia bagikan di media sosial, stiker hingga kalender. Tidak jarang informasi adanya penderita bibir sumbing disampaikan langsung oleh warga. Tiap kali mendapatkan informasi, keesokan harinya Rahmad langsung menyambangi rumah penderita bibir sumbing tersebut, meskipun lokasinya berada di daerah terpencil.

Rahmad menjelaskan, untuk bisa menjalani operasi bibir sumbing, syaratnya usia minimal 3 bulan dengan berat badan 5 kilogram. Sementara itu untuk operasi celah langit-langit, syaratnya minimal usia 9 bulan dengan berat badan minimal 10 kilogram.

"Dari 2007 sampai 2021 ini, sudah banyak anak-anak Aceh yang dibantu operasi bibir sumbing oleh Smile Train Indonesia, jumlahnya hampir 5.000 operasi yang dilakukan di rumah sakit oleh ahli bedah plastik,” ungkapnya.

Diakui Rahmad, membuat orang lain bahagia memberi kepuasan batin tersendiri. Bila orang yang dibantunya bahagia, ia juga ikut bahagia. Kerja sosial yang dilakukan Rahmad ini juga mendapatkan dukungan penuh dari sang istri, meskipun ia kerap tidak bisa pulang ke rumah selama beberapa hari karena berada jauh di pedalaman desa.

"Sebelum menikah, saya mencari istri yang bisa mendukung kegiatan saya. Sebab kalau lagi berkeliling ke desa-desa mencari penderita bibir sumbing, bisa sampai 10 hari tidak pulang ke rumah. Alhamdulillah, istri saya memahami apa yang saya lakukan. Semua ini demi membantu anak-anak di Aceh bisa tersenyum,” ungkap Rahmad.

Raih Satu Indonesia Awards 2021
Atas semangat dan ketulusannya membantu anak-anak penderita bibir sumbing, Rachmad menjadi salah satu penerima apresiasi "12th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021" untuk bidang kesehatan. Penghargaan ini diberikan oleh PT Astra International Tbk bagi generasi muda yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat.

"Sebelumnya saya tidak pernah menyangka bisa mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Awards 2021. Apresiasi ini membuat saya semakin bersemangat untuk membantu anak-anak Aceh penderita bibir sumbing mendapatkan senyum baru dan harapan hidup baru,” ungkap Rahmad.

Baginya, manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi orang banyak. Ia berharap apa yang dilakukan bisa memberi inspirasi bagi banyak orang khususnya generasi muda untuk terus memberi manfaat pada sesama.

"Manusia itu harus bermanfaat bagi orang banyak. Saya mengajak anak-anak muda di seluruh Indonesia, lakukan apa yang bisa kalian lakukan untuk membantu orang lain memiliki hidup yang lebih baik,” pesan Rahmad.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Tragedi Kanjuruhan, PSSI Hentikan Liga 1 Selama Sepekan

Buntut tragedi Kanjuruhan, PSSI memutuskan untuk menghentikan BRI Liga 1 2022/2023 selama satu pekan dan melarang Arema FC menjadi tuan rumah.

NEWS | 2 Oktober 2022

Korban Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan Dikabarkan Bertambah Jadi 62 Orang

Korban tewas dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dikabarkan bertambah menjadi 62 orang. 

NEWS | 2 Oktober 2022

Arema FC Akan Dilarang Jadi Tuan Rumah di Sisa Musim Liga 1

Komisi Disiplin PSSI menegaskan bahwa Arema FC bisa terkena sanksi tidak dapat menjadi tuan rumah di sisa laga BRI Liga 1 2022/2023.

NEWS | 2 Oktober 2022

Video: Gas Air Mata Bikin Massa di Kanjuruhan Panik

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya, Sabtu (1/10/2022) diduga disebabkan karena penggunaan gas air mata di Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan, Ini Video Ribuan Suporter Merangsek Masuk Lapangan

Beredar video yang menunjukkan suporter merangsek masuk lapangan usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan: Aturan FIFA, Gas Air Mata Terlarang

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) diduga disebabkan karena penggunaan gas air mata.

NEWS | 2 Oktober 2022

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, PSSI: Arema Bisa Kena Sanksi Keras

Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan setelah laga BRI Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, Sabtu, 1 Oktober 2022.

NEWS | 2 Oktober 2022

Persebaya Berduka atas Korban Tewas dalam Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Persebaya Surabaya menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan usai laga melawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi di Kanjuruhan, PSSI Segera Investigasi

PSSI segera melakukan investigasi terkait kerusuhan yang berujung tragedi di dalam Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022).

NEWS | 2 Oktober 2022

Gas Air Mata Dituding Penyebab Jatuhnya Korban di Kanjuruhan

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dipandang karena tembakan gas air mata di dalam Stadion Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Tekan <em>Stunting</em>, BKKBN Sulsel Sosialisasikan Bangga Kencana

Tekan Stunting, BKKBN Sulsel Sosialisasikan Bangga Kencana

NEWS | 1 jam yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings