Mimpi Besar Hanung Bramantyo

Mimpi Besar Hanung Bramantyo
Sutradara Hanung Bramantyo ( Foto: Antara/Julius Wiyanto )
Rizky Amelia / MUT Selasa, 20 Januari 2015 | 08:11 WIB

Jakarta - Sutradara Hanung Bramantyo sudah membesut puluhan film dengan berbagai genre. Satu varian film yang belum pernah disutradarainya adalah film action. Namun membuat film action bukan jadi mimpi besar Hanung. Sineas asal Yogyakarta itu ingin membuat film Mahabharata.

Suami dari aktris Zaskia Adya Mecca ini menceritakan bahwa film Mahabharata yang diimpikannya bukan diambil dari kisah pewayangan versi India maupun Jawa. Ia bakal membuat Mahabharata versinya sendiri. Meski versi sendiri, namun Hanung tetap akan memakai tokoh-tokoh yang ada di cerita Mahabharata seperti Pandawa dan Kurawa.

"Pandawa representasi orang baik, Kurawa itu orang jahat, Astina Pura itu negara. Kita berbicara tentang negara yang dikuasai oleh orang baik dan jahat. Tapi siapa orang baik dan orang jahatnya kan nggak harus pakai wayang-wayangan,” kata Hanung yang ditemui di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (20/1).

Tak hanya membuat versi sendiri dari Mahabharata, namun Hanung juga memimpikan untuk mendesain konstum dan setting sendiri. Mimpi Hanung membuat film tersebut tampaknya belum akan terlaksana dalam waktu dekat. Karena Hanung masih melakukan pendekatan kepada produser agar mau membiayai idenya tersebut. Kata Hanung, film Mahabharata akan menghabiskan biaya produksi yang besar.

“Kalau bisa ya didanai sendiri, ya saya danai sendiri. Tapi melihat Hijab (film yang diproduseri oleh Hanung dan Zaskia) kayak begitu, nanti dulu deh. Kita nabung dulu,” kata Hanung.

Biaya film
Hanung menjelaskan bahwa tidak mudah untuk membiayai filmnya sendiri. Hanung benar-benar dibuat belajar oleh film "Hiijab" yang keseluruhan ongkosnya ditanggung oleh dirinya dan Zaskia. Film "Hijab" yang memakan biaya produksi hingga mencapai Rp 5 miliar kurang mendapatkan respons dari penonton di Indonesia.

Di minggu pertama penanyangan film tentang istri yang berpenghasilan lebih besar dari suami, Hijab hanya bisa meraup 48.000 penonton. Kata Hanung, jumlah penonton film "Hijab" tidak sesuai dengan ekspektasinya. Padahal film Hijab mendapatkan review positif dari kritikus film.

“Saya pikir dengan komunitas hijab akan meng-grab komunitas hijaber. Ternyata memang benar. Tapi komunitas hijaber ternyata tidak cukup terwakili dengan film ini. Saya menduga mereka terlalu ditelanjangi habis-habisan di film ini. Seperti nonton dirinya sendiri kemudian mereka denial. Sementara penonton di luar hijaber menganggap ini bukan filmnya,” terang Hanung.

Hanung berpendapat tidak banyaknya jumlah penonton "Hijab" dikarenakan film ini tidak berasal novel, tokoh ataupun peristiwa besar yang terjadi di negara ini. Tidak seperti Habibie Ainun yang diangkat dari tokoh Mantan Presiden ketiga Indonesia. Hijab juga tidak seperti "Dibalik 98" yang mengusung drama percintaan dengan balutan peristiwa kerusuhan Mei 1998.

“Itulah salah satu alasan kenapa setiap kali bikin film kita butuh cerita yang sudah dikenal oleh masyarakat atau novel yang sudah dikenal oleh masyarakat. Hal-hal itu akan menjadi sebuah film,” ucap Hanung.

Walaupun tidak sesuai harapan, namun Hanung melihat bahwa film "Hijab" menjadi awalan yang baik untuk rumah produksi miliknya, yaitu Dapur Film. Di samping itu, film "Hijab: juga mendapatkan pelajaran bahwa menjual film jauh lebih sulit dibandingkan dengan membuat film.

“Penonton sedikit itu, ya sudahlah itu kita belum jago jualan. Memarketkan film itu ternyata lebih sulit dibandingkan membuat film,” ungkap Hanung.

Selagi menunggu merealisasikan mimpinya membuat film Mahabharata, Hanung tetap berkarya baik sebagai produser mampun sutradara. Di film terbarunya, Hanung akan duduk di kursi produser. Hanung hanya akan mensupervisi kerja sutradara film komedi romantis Seno Aji.

Film terbaru Hanung mengangkat kisah tentang pemuda India yang datang ke Yogykarta untuk mencari makam kakeknya. Di sana, pria India tersebut akan bertemu dan berkonflik dengan seorang wanita asal Yogyakarta. Konflik tersebut akan berujung pada drama cinta antara keduanya.

Tokoh pria India akan diperankan oleh Shareer Sheikh, aktor drama seri Mahabharata asal India. Sementara peran perempuan akan dimainkan oleh aktris Kirana Larasati.

Hanung bercerita bekerjasama dengan orang India dalam sebuah film adalah pengalaman pertamanya. Menurut Hanung, Shareer menunjukan keseriusan untuk ambil bagian dalam filmnya tersebut. Hanung bercerita bahwa keseriusan Shareer dalam bermain film ditunjukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pemeran Arjuna dalam drama seri mahabharata tersebut.

“Karena itu ketika dia di sini dia diajak bermain film, dia sampai tanya kita pakai kamera apa? Menghadapi aktor semacam ini tuntutannya besar dan akhirnya kita ganti kamera. Saya jadi senang karena produser memang harus dibenturkan dengan hal-hal seperti ini,” ujar Hanung.

CLOSE