Merayakan dan Menjaga Masa Keemasan Film Nasional

Merayakan dan Menjaga Masa Keemasan Film Nasional
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, saat memberikan sambutan di The Lounge XXI Plaza Senayan, Rabu 1 Agustus 2018. ( Foto: Beritasatu Photo/Islaq Hastita Hamzah )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 2 April 2019 | 13:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua tahun belakangan ini film Indonesia diakui mengalami masa keemasan. Bahkan hal itu pun diakui oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, saat merayakan Hari Film Nasional (HFN) ke-69, 30 Maret 2019 lalu. Wapres mengatakan dunia perfilman Indonesia bangkit, dan dibuktikan dengan jumlah produksi, penonton, hingga layar bioskop yang terus meningkat. 

Dari sisi jumlah penonton bioskop, tercatat pada 2016 sebanyak 37,2 juta orang, 2017 sebanyak 42,7 juta orang, dan 2018 sebanyak 48,6 juta orang.

"Bukan hanya jumlah penonton, produksi film juga meningkat. Dan bukan hanya di Jakarta, di Makassar industri film bertumbuh sesuai minat masyarakat pad agenre film yang ingin mereka tonton. Film-film yang mendapatkan penghargaan pun makin banyak, makin baik," diungkapkan Wapres Jusuf Kalla di Jakarta belum lama ini.

Senada dengan Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy pun menyampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selalu memberikan dorongan kepada para penggiat film untuk terus berkarya menghasilkan film-film yang bernilai tinggi dan layak ditonton.

"Kami memberi dirongan di antaranya berupa program peningkatan kompetensi insan perfilman, fasilitasi produksi, penayangan film, dan penyewaan hak tayang film," tutur Mendikbud.

Perkembangan film Indonesia juga diakui Kepala Badan Ekonomi Kreatif (bekraf), Triawan Munaf. Saat dtemui Beritasatu.com belum lama ini, ia menyampaikan lonjakan produksi film perlu dibarengi dengan penyiapan tenaga terampil perfilman. Bukan hanya mengandalkan tenaga perfilman dengan latar belakang talenta saja, tetapi juga yang melalui proses pendidikan dan pelatihan yang relevan dan meningkatkan keterampilan (skill).

"Apa yang dilakukan Kemendikbud, Bekraf, dan pihak lain pastinya sejalan. Intinya kami ingin memajukan industri ini. Sekarang bioskop jumlahnya bertambah banyak, dan jangan heran jika film yang diproduksi juga tambah banyak," ungkap Triawan.

Triawan pun mengakui industri film Indonesia memang belum tergolong industri besar. Tetapi, industri film memiliki (multiplayer effect) yang memengaruhi berbagai industri kreatif lain seperti musik, fashion, kuliner, dan pariwisata.

Khusus di tahun 2019 ini, Bekraf menargetkan sebanyak 60 juta orang menonton film nasional, dengan kontribusi pendapatan untuk industri film mencapai Rp 2,4 triliun. Nilai itu lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar Rp 2,1 triliun.

"Asalkan film Indonesia berkualitas, saya yakin penontonnya akan terus meningkat tiap tahunnya," kata Triawan. 

Untuk membuktikan peningkatan film Nasional, berikut beberapa data yang berhasil dihimpun Beritasatu.com:

Jumlah film Nasional (2014-2018)

2014: 115 film
2015: 121 film
2016: 149 film
2017: 141 film
2018: 210 film

Jumlah penonton film Nasional (2014-2018)
2014: 16 juta
2015: 16 juta
2016: 37,2 juta
2017: 42,7 juta
2018: 48,6 juta



Sumber: BeritaSatu.com