Menyingkap Peran Perempuan dan Tradisi Budaya Sumba

Menyingkap Peran Perempuan dan Tradisi Budaya Sumba
Adegan dalam film dokumenter " Perempuan Tana Humba" ( Foto: istimewa )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 13 Mei 2019 | 15:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua film dokumenter bertajuk The Woven Path dan Perempuan Tana Humba, karya Lasja F. Susanto akhirnya telah rampung dan siap mengembara. Film ini dibuat untuk merangkum sekaligus menyingkap peran perempuan, tradisi, dan budaya di tanah Sumba.

The Woven Path adalah film dokumenter pendek berdurasi 10 menit. Film ini memuat dua puisi bertemakan Ibu yang ditulis oleh dua penyair dari dua generasi berbeda, yatu Diana Timora dan Umbu Landu.

Puisi seolah mejadi narasi yang berpadu apik dengan gambaran peran seorang perempuan di Tanah Sumba yang melahirkan aneka takdir dalam kehidupan.

Puisi-puisi dalam film ini juga melibatkan bintang papan atas, sebut saja Wulan Guritno, Kelly Tandiono, Maudy Koesnaedi, Dian Sastrowadoyo, Adinia Wirasti, Jefri Nichol, dan seorang putri kelahiran Sumba, Nirvani Amabel Ananda.

Sedangkan, dalam film ke dua, yaitu Perempuan Tana Humba menyingkap aneka perspektif lebih dalam terhadap peran perempuan dan tradisi budaya di tanah Sumba.

Film Berdurasi 30 menit ini tidak hanya mengulas tentang kekayaan dan kekentalan tradisi yang masih dipertahankan di zaman modern ini, tetapi juga dampaknya terhadap perempuan itu sendiri.

Perempuan Tana Humba dibagi menjadi tiga babak, yaitu Marapu, Belis, dan Perkawinan. Memulai dari babak Marapu, penonton akan mengikuti rangkaian upacara yang dilakukan di Sumba, mulai dari ritual perkawinan hingga kematian. Melalui rangkaian ritual tersebut, penonton diharapkan dapat memahami betapa pentingnya tahapan-tahapan ritual tesebut bagi masyarakat Sumba.

Kemudian, dalam babak Belis, penonton akan kembali mengikuti secara detail apa yang disebut dengan Belis, atau mas kawin dalam bahasa Sumba. Sistem yang lebih dikenal sebagai sistem jual beli.

Belis yang diminta bukan seperti cincin emas atau perangkat ibadah, melainkan puluhan bahkan ratusan hewan ternak yang akan diserahkan oleh pihak calon pengantin perempuan. Setelah pemberian Belis, maka pengantin perempuan menjadi hak dari keluarga pengantin laki-laki.

Melalui babak ini, penonton juga akan melihat bagaimana pengaruh Belis terhadap posisi perempuan Sumba dalam keluarga dan masyarakat.

Sedangkan dalam babak terakhir yaitu, Perkawinan merupakan babak yang menunjukkan bagaimana ritual perkawinan dijalankan di Sumba, dan apa dampaknya bagi peran perempuan dalam keluarga.

Dalam sebuah narasi, seorang pria asli Sumba mengatakan, “Orang Sumba dulu sering bilang ‘bayar’ (Belis). Kita bayar dengan hewan, kita dapatkan perempuan”. Kemudian, seorang narasumber laki-laki lainnya mengatakan, “Peranan perempuan kalau di Sumba selalu pertahanan belakang. Mengurus dapur saja”.

Menurut para perempuan Sumba, adat Belis merupakan sebuah rasa penghormatan yang diberikan calon pengantin laki-laki dan keluarganya untuk menghormati calon pengantin perempuan. Sebagai gantinya, perempuan yang sudah di Belis harus menguntungkan pihak keluarga laki-laki.

“Perempuan Sumba terlalu kaku. Harus tunduk sama laki-laki. Dan ketika saya pulang ke Sumba, tidak perlu lagi seperti itu. Harus ada yang kita ikuti, ada juga yang harus kita lawan, menurut saya. Tidak mesti ikuti persis seperti zaman dulu,” ungkap salah satu narasumber perempuan muda.

Sutradara film The Woven Path dan Perempuan Tana Humba, Lasja F. Susatyo, mengatakan sudah lama tertarik dengan tema perempuan dalam adat tradisi di Sumba Timur hari ini, terutama kaitannya dengan belis (mahar) dan perkawinan yang kerap masih sangat memberatkan.

"Perubahan dan perbaikan tak terelakkan, seiring dengan kemajuan zaman. Namun perbaikan harus dilakukan dengan bijaksana karena tatanan satu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan lainnya. Film ini bermaksud membagi pengalaman para ibu Sumba dan mengangkatnya dalam puisi mengenai perempuan, ibu, dan Ibu Pertiwi,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, produser film Mandy Marahimin mengatakan, dua film dokumenter tersebut tidak akan tayang di bioskop konvensional, melainkan akan membuka penayangan keliling ke sekolah serta perguruan tinggi di Sumba dan seluruh Indonesia pada Juli 2019.



Sumber: BeritaSatu.com