Perjalanan Dora Menjadi Petualang Sejati

Perjalanan Dora Menjadi Petualang Sejati
Eva Longoria, Michael Peña, dan Isabela Moner dalam film Dora and the Lost City of Gold (2019) ( Foto: imdb.com )
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 8 Agustus 2019 | 13:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Masih ingat film kartun Nickelodeon berjudul Dora the Explorer? Kartun yang menceritakan petualangan seorang remaja latin dan peliharaannya seekor monyet kini diadaptasi menjadi live-action berjudul Dora and The Lost City of Gold. Bedanya, dalam kisah layar lebar garapan Paramount, Dora dikisahkan sudah beranjak remaja.

Film berawal dari kisah Dora (Isabela Moner) yang hidup bahagia bersama orang tua arkeolognya (Michael Pena dan Eva Longoria). Dia menghabiskan hari-harinya menjelajahi hutan terdalam. Menyanyikan lagu-lagu bahagia setiap saat, dan bercengkrama bersama hewan buas.

Tiba-tiba kehidupan Dora berubah drastis, saat orang tuanya menemukan petunjuk tentang lokasi sebuah kota Inka yang terkenal. Mereka memutuskan perjalanan itu terlalu berbahaya untuk seorang gadis remaja. Akhirnya, Dora dikirim ke kota besar untuk tinggal dan sekolah bersama sepupunya, Diego (Jeff Wahlberg).

Mulanya, Dora tidak terbiasa dengan tempat yang dinamakan sekolah. Keramahtamahannya, optimisme yang tak kenal lelah, dan tas ransel yang sarat dengan perlengkapan untuk bertahan hidup, termasuk tenda darurat, kerap diejek oleh para siswa yang sombong. Dora selalu menjadi sumber rasa malu bagi sepupunya.

Sedihnya lagi, orang tua Dora tiba-tiba menghilang dalam ekspedisi. Serangkaian peristiwa yang tak terduga akhirnya membawa Dora, Diego, dan dua teman lainnya masuk ke hutan tertutup. Mereka berlari dari kejaran tentara misterius untuk menemukan orang tua Dora, dibantu seorang profesor yang bodoh (Eugenio Derbez).

Interaksi
Khusus untuk film layar lebar ini untungnya dibuat lebih segar tanpa meninggalkan materi ikonik dari sumber aslinya. Dora adalah seorang gadis Latin dan ia bangga akan hal tersebut. Berbagai dialog diucapkan menggabungkan frasa dan terminologi Spanyol, terutama ketika Dora berinteraksi dengan kerabatnya.

Seperti dalam kartun, Dora sangat gemar mengajak penontonnya berkomunikasi, terutama untuk mengulang kata yang telah dia ucapkan. Tidak hanya dengan penonton, ia juga sering melakukan percakapan dengan Boots, monyet peliharaannya.

Tidak jarang, ekspresi pemain yang bingung dengan perilaku aneh Dora justru membuat penonton tertawa terpingkal. Hal ini menunjukkan keberhasilan penulis skenario, Nicholas Stoller dan Matthew Robinson, meramu dialog yang cerdas.

Khusus untuk plot film diakui lebih fokus pada karakter daripada cerita. Semisal Terdapat seekor rubah buatan CGI mengenakan topeng bandit yang disebut Swiper (Benicio del Toro), yang sesekali muncul untuk mencuri barang-barang mereka.

Sementara untuk karakter Dora, dipilih aktris Isabela Moner yang sukses menghidupkan karakter remaja dalam dirinya. Isabela berhasil menangkap kepribadian karakter yang optimis dan positif.

Dora and Lost City of Gold akan beresonansi dengan anak-anak generasi alfa dan juga penggemar yang tumbuh bersama dengan Dora. Film ini menyajikan bahan dasar yang sangat ramah keluarga, dan anak-anak adalah target audiens dan akan sangat terhibur melihat film yang akan tayang pada 9 Agustus 2019.



Sumber: Suara Pembaruan