Promosikan Film Indonesia, FFI Gandeng MRT Jakarta

Promosikan Film Indonesia, FFI Gandeng MRT Jakarta
Para komite Festival Film Indonesia (FFI) 2019 berfoto bersama usai jumpa pers di Jakarta, Senin (23/9). ( Foto: Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 24 September 2019 | 14:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Festival Film Indonesia (FFI) 2019 kembali digelar. Mengusung tema besar #FilmBagusCitraIndonesia, FFI berikhtiar terus memajukan industri film Indonesia dengan mencari, memilih, dan mempromosikan film-film dan kerja artistik terbaik. Khusus di tahun ini pula FFI menggandeng Moda Raya Baru (MRT) di kawasan Jakarta sebagai lahan promosi.

Ketua Komite FFI tahun 2018-2020, Lukman Sardi menyampaikan, akan ada banyak program dan acara baru. Program-program tersebut sengaja dirancang untuk meningkatkan kualitas karya film dan juga menjalin hubungan baik dengan masyarakat film Indonesia.

"FFI itu bukan hanya milik orang film, tetapi juga milik kita bersama,” jelasnya saat pembukaan peluncuran FFI 2019, di kawasan Jakarta Selatan, Senin (23/9/2019).

Lukman menilai, perkembangan film nasional di era digital ini sangat pesat. Oleh karena itu, beberapa program di FFI mencoba berbicara dan menghubungkan industri film dengan era digital, tidak hanya di kota besar, tetapi juga daerah-daerah lain di Indonesia.

Semisal di bulan Oktober, FFI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan melakukan kegiatan di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) untuk pemutaran film, temu sapa, dan realisasi pengembangan pendanaan. Pemutaran film akan diisi oleh film-film Indonesia yang mendapatkan nominasi Piala Citra dari tahun 2015-2018. Sedangkan temu sapa akan menghadirkan para sineas dan bintang film dari para kompetitor tahun ini. Para sineas dan bintang film bertemu dengan pengunjung PKN dan berdiskusi mengenai film mereka.

"Perkembangan film Indonesia diharapkan sejalan dengan kemampuan literasi yang baik terhadap film itu sendiri. Diharapkan review dan juga diskusi film yang terjadi akan membuat film semakin berkembang secara kualitas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan lebih banyak konten budaya lokal dan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten,” ungkapnya.

Selain PKN, FFI sengaja memanfaatkan MRT di kawasan Jakarta untuk mendekatkan serta menumbuhkan rasa cinta masyarakat atas karya-karya anak bangsa.

"Kita akan membuat program FFI di sepanjang MRT. Nantinya akan ada nonton bareng (nobar), dan diskusi film bersama di kawasan stasiun MRT yang bisa menampung banyak orang," ungkapnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid juga kembali memberikan dukungan kepada FFI. Menurutnya dukungan ini diberikan karena beberapa alasan, salah satunya FFI menjadi festival yang terlembaga, solid dan kuat. Selain itu, FFI juga memilih film-film dengan kualitas terbaik yang menampilkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yaitu keberagaman. Ia pun berharap festival ini mampu mengingatkan masyarakat bahwa keberagaman di Indonesia itu terus bertumbuh.

"Indonesia memiliki semua hal yang unik dan aneh. Itu tidak apa-apa, begitulah bangsa Indonesia. Saya kira yang penting untuk bisa berkarya, kita harus memelihara kebebasan," tegas Hilmar disambut tepuk tangan meriah.

Program Lanjutan
Program lanjutan FFI juga diadakan pada November 2019, yakni malam pengumuman nominasi dan eksibisi Piala Citra 2019. Setelahnya, dilakukan pemutaran film nominasi Piala Citra 2019 dan temu sapa di 3-5 kota yang memiliki bioskop dan sekolah seni.

Ketua Komite Penjurian, Nia Dinata menjelaskan, dalam memilih nominasi komite FFI telah melakukan evaluasi untuk mencari tahu apa yang harus diperbaiki tahun ini. Setelah dua tahun sebelumnya menerapkan sistem baru, penilaian semakin diperkuat dengan penambahan proses seleksi. Tahun ini dibentuk tim seleksi yang berisikan kurator dari berbagai profesi, yaitu akademisi, jurnalis, dan pekerja film.

"Mereka bertugas menyeleksi seluruh film yang lulus sensor dan ditayangkan di bioskop Indonesia. Film-film terpilih ini kemudian akan dinilai oleh asosiasi profesi untuk menetapkan nominasi dalam beberapa kategori," terangnya.

Pemilihan pemenang kemudian akan dilakukan dengan mekanisme voting oleh anggota FFI. Film yang berhak mengikuti seleksi adalah film yang sudah ditonton di bioskop periode 1 Oktober 2018-30 September 2019.



Sumber: Suara Pembaruan