Anak Garuda, Perjuangan Anak-anak SPI Bangkit dari Kemiskinan

Anak Garuda, Perjuangan Anak-anak SPI Bangkit dari Kemiskinan
Siswa dan alumni SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) menjawab pertanyaan pers dalam roadshow film Anak Garuda, di Semarang,Jawa Tengah, Selasa, 29 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JEM Rabu, 30 Oktober 2019 | 07:34 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Perjuangan anak-anak pinggiran untuk bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan, menjadi tema besar dari Film Anak Garuda. Film yang disutradarai Faozan Rizal itu mengangkat kisah nyata tujuh alumni SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur.

Ketujuh alumni SPI itu adalah Sheren, Dilla, Olfa, Robet, Yohana, Sayyidah, dan Wayan. Mereka adalah anak-anak yang menderita luka batin dan kepahitan hidup akibat belenggu kemiskinan, ditinggal mati ayah atau ibu, atau disia-siakan orang tua.

Jangankan untuk melanjutkan sekolah, sebab untuk makan pun sulit. Maka, saat Julianto Eka Putra, membangun SMA SPI pada 2007 silam, sontak impian anak-anak kurang beruntung itu pun terwujud. Bukan hanya bersekolah gratis, mereka pun diajarkan pendidikan karakter dan enterpreunership.

"Ini betul-betul mimpi yang terwujud. Saya tak pernah membayangkan bagaimana masa depan saya, tapi karena SPI saya bisa membuat mimpi saya jadi kenyataan. Itu semua karena kemuliaan dan anugerah Tuhan," ungkap Sheren, alumni angkatan ke-2 SPI, dalam roadshow film Anak Garuda, di Semarang, Selasa (29/10/2019).

Menurut Julianto, film ini mengisahkan bagaimana dirinya sebagai mentor memiliki metode yang unik dalam menangani anak-anak yatim piatu dengan banyak luka batin dan kepahitan hidup, lalu mentransformasi mereka menjadi pribadi yang bernilai.

Dia berharap film Anak Garuda dapat menyentuh berbagai kalangan. Sebelumnya, kisah Anak Garuda lebih dulu tayang dalam bentuk komik digital sejak 17 Mei 2019. Ceritanya terangkum dalam 24 babak yang ditayangkan selama enam bulan. Film itu sendiri akan diputar di bioskop Tanah Air mulai 2 Desember mendatang.

Johan Budiman Raharjo, mentor yang juga founder SPI menambahkan, SMA SPI sendiri merupakan sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang tidak bisa lanjut sekolah karena terkendala biaya. Baik itu kaum dhuafa, anak yatim maupun yaitim piatu.

SPI yang setiap tahun menerima sedikitnya 100 siswa itu, diasuh oleh 25 guru profesional dengan memperoleh selain pelajaran teori dan sebagian besar diutamakan pratikum di berbagai bidang entrepreneur.

“Mereka juga belajar bagaimana mengatasi perbedaan suku, ras, agama, mengatasi luka batin dan kepahitan hidup yang pernah mereka alami, serta menjadi pengendali bagi diri mereka sendiri dan segala masalahnya minder, kemarahan, kebencian, iri hati, dan sebagainya,” tutur Johan.

Menurutnya, mereka ini boleh dibilang berjuang dari titik nol atau bahkan minus untuk membalikkan keadaan dan menjadi orang-orang yang berhasil. Kisah perjuangan anak-anak ini yang harus disampaikan ke seluruh Indonesia melalui film Anak Garuda.

Tak hanya kisah tentang perjuangan tujuh alumni dengan latar keluarga tidak mampu untuk menjadi individu sukses (from zero to hero), film ini juga mengangkat kisah di balik berdirinya Sekolah Selamat Pagi Indonesia, yaitu Julianto Eka Putra sebagai pendiri sekaligus mentor bagi mereka.

“Di sini adalah cerita bagaimana anak-anak di pelosok dengan berbeda suku, agama, ras, mereka bekerja sama. Itu yang diangkat, terinspirasi dari kisah-kisah nyata mereka. Bisa dibilang ini film cukup personal, mimpinya bukan hanya destinasi, tapi transformasi untuk menjadi sukses,” ujar Johan.



Sumber: Suara Pembaruan