Film Kemarin Angkat Kisah Perjalanan Panjang Band Seventeen

Film Kemarin Angkat Kisah Perjalanan Panjang Band Seventeen
(ki-ka) Ifan Seventeen bersama sutradara Upie Guava dan Juliana Moechtar, istri dari mendiang gitaris Seventeen dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019. ( Foto: Beritasatu.com/Chairul Fikri )
Chairul Fikri / CAH Rabu, 30 Oktober 2019 | 22:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Musibah tsunami yang menerjang ujung barat, Banten pada akhir Desember 2018 lalu menjadi mimpi buruk buat band Seventeen. Bagaimana tidak, band asal Jakarta itu harus kehilangan tiga orang personelnya, dua kru band dan juga istri sang vokalis yang diterjang tsunami. Saat bencana terjadi, band Seventeen tengah manggung di Tanjung Lesung Resort.

Tragedi itu kemudian menginspirasi Mahakarya Pictures untuk mengabadikan perjalanan panjang band Seventeen dalam sebuah film berjudul Kemarin

"Ketika ada pihak rumah produksi yang mengutarakan keinginan itu (membuat film) saya pastinya menyambut baik karena ini pastinya akan jadi penghargaan buat mereka juga," ungkap Ifan Seventeen dalam jumpa pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019).

Ifan mengungkapkan dirinya sempat emosional ketika kumpulan video para personel Seventeen yang telah meninggal akan ditayangkan di bioskop. Dia mengaku butuh waktu lama baginya untuk menerima permintaan dari Mahakarya. 

"Pastinya seperti nggak percaya sih. Kok yang difilmin yang anak-anaknya sudah nggak ada. Temen-temenku, sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku. Ya pastilah. Sedihnya pasti. Pasti banyak. Karena memang masih sangat susah untuk mengambil keputusan buat bikin dokumenter ini. Ya mungkin setelah lebaran kemarin baru benar-benar mau menerima dengan footage video yang ada, kita tayangkan di bioskop" jelasnya.

Ifan berharap film ini akan jadi kenangan manis buat dirinya karena di film tersebut juga ada kisah tentang dirinya bersama almarhumah istri, Dylan. "Masing-masing personil juga ada tentang keluarganya, jadi ini akan jadi kenangan yang manis insya Allah akan jadi kenangan yang manis buat kita," tambahnya.

Pihak Mahakarya Pictures yang diwakili Upie Guava sang sutradara mengaku awalnya kesulitan membujuk Ifan agar dirinya mau membuat kisah perjalanan Seventeen diangkat dalam layar lebar. Lantaran Ifan sendiri punya kenangan sendiri terhadap rekan-rekannya juga mendiang sang istri.

"Titik awal pembuatan film ini kan dokumenter. Jadi banyak ngobrol sama Ifan dan yang survive di kejadian itu. Kalau membayangkan mereka saat itu banyak emosi yang saya rasa tidak cukup. Makanya perlu ada reka adegan di laut supaya tahu rasanya gimana ifan dua jam survive di laut. Reka adegannya itu saja sih. Itu yang awalnya membuat kami kesulitan meyakinkan Ifan bahwa film ini akan banyak bercerita tentang mereka. Bersyukur setelah kami berikan pemahaman Ifan merekalah kisah hidup mereka diangkat dalam sebuah film layar lebar," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com