Birds of Prey Puncaki Box Office

Birds of Prey Puncaki Box Office
Birds of Prey. ( Foto: Istimewa )
Dina Fitri Anisa / WBP Selasa, 11 Februari 2020 | 13:39 WIB

Los Angeles, Beritasatu.com - Karakter Harley Quinn kembali dihidupkan di film baru berjudul Birds of Prey. Pada pekan perdana penayangan, film ini berhasil menjadi jawara box office dengan pendapatan US$ 33 juta (Rp 451,6 miliar) di 4.235 layar.

Walau peringkat box office telah diraih, sayangnya pendapatan film produksi Warner Bros ini meleset dari yang diharapkan yaitu sekitar US$ 45 juta. Bahkan pendapatan film ini jauh dari angka yang didapat film Suicide Squad, di mana Harley Quinn pertama kali muncul di layar lebar, yaitu sekitar US$ 133,5 juta.

Padahal bila dilihat dari kualitas film, sutradara Cathy Yan mendapat respons cukup positif. Situs penilaian film digital Cinemascore memberikan nilai ‘B+’. Sedangkan 295 kritikus di RottenTomatoes membuahkan angka persentase sekitar 80 persen. Nilai yang cukup baik untuk film aksi fantasi seperti ini. “Dengan perspektif baru, beberapa teman baru, dan banyak aksi cepat, Birds of Prey mampu menangkap semangat anarkis penuh warna dari Harley Quinn karya Margot Robbie,” tulis kesimpulan ulasan di situs RottenTomatoes.

Memang bukan tanpa alasan film ini berjalan di luar espektasi. Berbeda dengan Marvel, Warner Bros ingin menghadirkan film dengan pakem gaya mereka yang lebih bebas. Seperti terdapat beberapa konten dewasa yang hadir di film ini.

Dengan menerapkan konsep tersebut, film ini mengantongi peringkat penayangan untuk segmentasi usia yang terbatas yaitu, R. Sedangkan Suicide Squad saat itu hadir dengan peringkat PG-13, sama seperti film-film Marvel yang bisa dinikmati oleh keluarga.

Alasan selanjutnya seperti yang dilansir dari ScreenRant, film yang dirilis di Indonesia sejak 5 Februari 2020 ini memilih waktu penayangan yang salah. Biasanya, periode Januari dan Februari adalah waktu untuk para studio besar di AS merilis film-film yang dinilai kurang memiliki kualitas baik alias minim pendapatan. Dengan demikian, logika industri masih berpikir bahwa bulan-bulan pasca Natal atau pra-musim semi tidak bagus untuk rilis film.

Kekecewaan Warner Bros tidak sampai di situ. Pendapatan film secara internasional pun mengalami pelemahan yaitu, US$ 46,5 juta (Rp 636,3 miliar). Salah satu alasannya karena adanya wabah virus corona yang menyebar dari Tiongkok dan sejumlah negara lainnya. Akibat dampak dari wabah tersebut, banyak industri di seluruh Tiongkok yang ditutup, termasuk beberapa bioskop di sana.

Hal ini akhirnya menyebabkan penurunan pendapatan di box office Tiongkok dan sampai sekarang tak ada yang tahu kapan tepatnya penyebaran virus ini dapat segera dikendalikan. Atas kejadian tersebut, banyak studio film yang mengalami kerugian, mengingat Tiongkok adalah salah satu pasar terbesar industri perfilman Hollywood.

Selanjutnya di posisi ke dua diisi oleh Bad Boys for Life. Mantan jawara box office minggu lalu ini mengantongi US$ 12 juta (Rp 164,2 juta) di minggu pertamanya. Bila ditotal, pendapatan film yang diproduksi Sony Pictures di pasar domestik mencapai US$ 166 juta (Rp 2,2 triliun), sedangkan di pasar internasional film ini sudah mencapai US$ 170 juta (Rp 2,3 triliun).

Film tiga besar box office terakhir adalah film fenomenal, 1917. Film yang telah diganjar banyak penghargaan ini meraih US$ 9 juta (Rp 123 juta). Film Sam Mendes ini berhasil mengumpulkan US$ 132,7 juta (Rp 1,8 triliun) di pasar domestik, dan US$ 157,8 juta (Rp 2,1 triliun) di pasar internasional.

Dalam ajang penghargaan Academy Awards film 1917 membawa pulang tiga piala. Di antaranya yakni Sinematografi Terbaik, Visual Efek Terbaik, dan Tata Suara Terbaik.

Berikut 10 film box office pekan lalu:

1. Birds of Prey - US$ 33 juta

2. Bad Boys for Life - US$ 12 juta

3. 1917 - US$ 9 juta

4. Dolittle - US$ 6 juta

5. Jumanji: The Next Level - US$ 5 juta

6. The Gentlemen - US$ 4 juta

7. Gretel & Hansel - US$ 3 juta

8. Knives Out - US$ 2 juta

9. Little Women - US$ 2 juta

Star Wars: Episode IX - The Rise of Skywalker - US$ 2 juta



Sumber: Suara Pembaruan