Kebanggaan Semu, Efek Inflasi, dan Proyek Cetak Uang
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Redenominasi (2-Habis)

Kebanggaan Semu, Efek Inflasi, dan Proyek Cetak Uang

Kamis, 14 Februari 2013 | 19:25 WIB
Oleh : Dwi Setyo Irawanto / AB

Selain menyederhanakan transaksi dan pelaporan, redenominasi diharapkan dapat mengembalikan kebanggaan pada rupiah. Selama ini, pecahan uang rupiah merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Kita punya uang dengan nominal Rp 100.000, pecahan yang tak ada di negara lain di Asia Tenggara, kecuali Vietnam.

”Saatnya kita membuat rupiah punya arti, bahkan satu rupiah juga punya nilai. Tidak seperti sekarang, kita tidak lagi mengenal nilai dari satu rupiah, bahkan seratus rupiah,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution.

Dalam bahasa lain, Diffi A Johansyah, juru bicara BI, menyatakan,”Redenominasi perlu untuk meningkatkan martabat rupiah.”

”Martabat” yang disebut Diffi, agaknya berkaitan dengan nilai tukar rupiah yang memang tampak kedodoran. Kita lihat saja, satu dolar AS setara dengan Rp 9.700 atau sebanding pula dengan 3,05 ringgit Malaysia, 41,92 peso Filipina, 30,52 baht Thailand, dan 1,23 dolar Singapura. Di Asia Tenggara, hanya dong, mata uang Vietnam, yang lebih ”lemah” ketimbang rupiah. Satu dolar AS setara dengan 20.000 dong. Tetapi dari deretan di negara-negara tertangga terdekat, tampak bahwa nilai tukar rupiah yang paling ”malu-maluin”. Nilai tukar mata uang negara tetangga yang lain, tak ada yang lebih besar dari 100.

Selama ini ada anggapan nilai tukar yang kecil - angkanya besar seperti rupiah terhadap dolar AS - mencerminkan perekonomian yang masih terbelakang. “Memang ada persepsi negara yang nilai tukarnya besar, perekonomiannya masih terbelakang,” kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti.

Persepsi inilah yang hendak diubah dengan mengatrol nilai rupiah melalui redenominasi. Kelak, dengan redenominasi, nilai satu dolar AS akan berkisar pada angka Rp 9,7 atau Rp 10, atau mendekati nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di masa-masa awal kelahirannya.

Lebih dari setengah abad silam, tepatnya tahun 1944, kurs rupiah hampir seimbang dengan dolar AS, yaitu Rp 1,88 per dolar AS. Setelah mengalami dua kali sanering, yakni tahun 1950 pada zaman Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara dan tahun 1959, serta hiperinflasi hingga 635 persen pada 1966, nilai tukar rupiah terus melorot, hingga pada 1971 tinggal Rp 415 per dolar AS. Selanjutnya, rupiah dihantam Keputusan November 1978 (Kenop 78) dan krisis moneter 1998, hingga terjerembab dan kini berada di level Rp 9.700 per dolar AS.

”Secara psikologis, redenominasi akan meningkatkan kebanggaan terhadap rupiah,” kata Sigit Pramono, bekas Direktur Utama Bank BNI yang kini menjabat Ketua Umum Perbanas, seperti menegaskan pernyataan Gubernur BI, Darmin Nasution.



Tidak Bermanfaat
Kebanggaan inilah yang disesalkan Rizal Ramli, ekonom senior yang pernah menjabat menteri koordinator bidang perekonomian pada zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Kebanggaan ini, bagi Rizal hanyalah kebanggaan semu. Menurut Rizal, argumentasi agar rupiah kelihatan lebih gagah atau terkesan kuat, sama sekali tidak tepat. ”Yang penting bukan nilainya, tapi stabilitas nilai tukarnya,” tegas Rizal.

Rizal memberi contoh, negara seperti China bahkan membiarkan mata uangnya melemah untuk memacu pertumbuhan industri di negerinya. Kelak, seiring kemajuan ekonomi, mata uang akan menguat sendiri, seperti yen, sehingga tidak perlu kebijakan yang bersifat artifisial seperti redenominasi. “Redenominasi tidak ada urgensinya dan tidak bermanfaat,” kata Rizal.

Menurut Rizal, redenominasi lazimnya juga dilakukan ketika suatu negara baru saja mengalami inflasi yang sangat tinggi, seperti Zimbabwe atau negara yang memasuki zona ekonomi dengan penyeragaman mata uang seperti di Eropa. Dalam kasus inflasi tinggi, redenominasi diperlukan untuk stabilitasi ekonomi. Saat ini, inflasi terkendali. “Kok ujuk-ujuk mau redenominasi?” tanya Rizal.

Selain soal kebanggaan semu, yang juga harus diwaspadai adalah efek inflatoar yang tersembunyi dalam program redenominasi. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut mengingatkan adanya ancaman inflasi tersembunyi ini.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Firmanzah, mengatakan Presiden mengingatkan semua pihak agar berhati-hati dengan dampak inflasi akibat pembulatan ke atas. ”Kalau redenominasi itu dijalankan, perlu ada undang-undang yang mengaturnya dan harus mendapatkan persetujuan DPR,” kata Firmanzah di Kantor Presiden, akhir Januari lalu, kepada wartawan.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution juga mengakui adanya ancaman inflasi gara-gara ”pembulatan” ke atas harga-harga. Harga mi instan yang biasanya Rp 1.300, misalnya, oleh para pedagang pengecer, bisa saja dibulatkan menjadi Rp 2.000 (Rp 2 uang baru), terutama jika tak cukup tersedia pecahan sen. ”Ada potensi kenaikan harga akibat pembulatan harga-harga ke atas secara berlebihan untuk kepentingan pribadi,” kata Darmin.

Namun Darmin menjamin, efek inflatoar yang bersumber dari pembengkaan jumlah uang beredar digaransi tidak ada. Ia memastikan, redenominasi tidak akan menambah jumlah uang beredar, selain yang telah ditetapkan. Bank Indonesia akan tetap menjaga agar inflasi masih sesuai dengan target semula.

“Kita bisa hitung secara tepat. Kita sudah tahu uang yang beredar di masyarakat berlebih atau tidak. Kalau berlebih, ya, ditarik. Kami punya mekanisme menyedot uang. Jadi, inflasi akan tetap aman,” katanya.

Proyek
Sebagian orang juga menghubungkan rencana redenominasi dengan proyek pencetakan uang. Besarnya biaya pencetakan uang, selama ini tidak pernah transparan. Pertengahan tahun 2012 lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas pernah mengatakan bahwa biaya pengadaaan uang cukup besar.

”Untuk beli kertas uangnya bisa mencapai Rp 2,5 triliun hingga Rp3 triliun,” katanya kepada wartawan di Gedung Bank Indonesia, 23 Juli 2012. “Biaya kertas itu memang cukup tinggi, karena kertasnya saja itu impor dari Eropa dan Rusia,” tambah Ronald.
Dengan gambaran ini, mudah dibayangkan bahwa biaya cetak uang baru akan sangat besar. Dengan kata lain, redenominasi akan menjadi megaproyek yang lumayan.

Namun sinyalemen ini dibantah oleh sumber Beritasatu.com di Bank Indonesia. Menurut sumber ini, uang baru untuk redenominasi tidak akan dicetak sekaligus, tapi dicetak bertahap, sehingga ongkosnya bisa disesuaikan dengan biaya penggantian uang lama. ”Meskipun tidak ada redenominasi, tiap tahun kita juga mencetak uang untuk menggantikan uang yang sudah lecek, lusuh, atau rusak, karena beredar terlalu lama di pasaran,” katanya.

Nah, uang baru redenominasi, katanya, bisa dicetak sebagai semacam pengganti uang rusak. “Tapi mungkin dengan kecepatan yang lebih besar,” katanya tanpa bersedia memerinci, berapa kira-kira ongkos redenominasi ini.




Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Redenominasi Rupiah, Apa Artinya bagi Kita?

Redenominasi diperlukan untuk meringkas dan menyederhanakan transaksi, input data, dan pelaporan.

FOKUS | 11 Februari 2013

Peran Jokowi dan Nasdem dalam Pesta Demokrasi 2014

'Matahari kembar' di tubuh Nasdem berpeluang menimbulkan perpecahan.

FOKUS | 24 Desember 2012

Nama-Nama Baru Muncul, Senior Tetap Dominan

Duet Megawati dan JK diprediksi menjadi kekuatan dashyat dalam Pilpres 2014.

FOKUS | 24 Desember 2012

2013 Jadi Ajang Perang Politik

Karakter politikus yang cenderung minta dilayani potensial menimbulkan konflik.

FOKUS | 24 Desember 2012

Antisipasi dan Penanganan Konflik Terkendala SDM

Hanya ada 15 orang untuk mengawasi sekitar 2.700 hektar lahan rawan konflik.

NASIONAL | 11 Desember 2012

Pelatihan Satwa Liar demi Kurangi Konflik

Sedikitnya 17 gajah ditemukan mati di sekitaran Taman Nasional Tesso Nilo.

NASIONAL | 11 Desember 2012

Saat Wilayah Jelajah Mulai Terusik Tangan Perambah

Ada kekhawatiran relokasi mengakibatkan kesulitan mendapatkan lagi tempat hidup yang layak.

NASIONAL | 11 Desember 2012

Tutupi Utang Jatuh Tempo, BUMI Matangkan Jual Anak Usaha

BUMI harus menghadapi sejumlah persoalan yakni di-deadline utang jatuh tempo dan menurunnya harga komoditas batubara di pasar global.

EKONOMI | 3 Desember 2012

Bakrie 'Lego' Jalan Tol ke Hary Tanoesoedibjo

Teka-teki 'cuci-cuci gudang' jalan tol Bakrie Group akhirnya terjawab sudah ketika MNC mengumumkan secara resmi melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI)

EKONOMI | 3 Desember 2012

Bakrie 'Cuci-Cuci Gudang'

Besarnya kebutuhan dana untuk melunasi utang jatuh tempo digadang-gadang menjadi dasar Bakrie Group menjual sejumlah asetnya.

EKONOMI | 3 Desember 2012


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS