Bandara Internasional Yogyakarta Akan Ditunjang Akses Tol dan KA Bandara


Thresa Sandra Desfika / FER
Rabu, 24 Juli 2019 | 19:15 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) di Kulonprogo, Yogyakarta, siap dioptimalkan pemanfaatannya baik untuk meningkatkan konektivitas maupun mendorong pertumbuhan perekonomian Yogyakarta dan sekitarnya.

Adapun optimalisasi BIY dilakukan dengan pemindahan penerbangan dari Bandara Adisutjipto, pembangunan akses jalan tol dan kereta api (KA), hingga peningkatan objek wisata dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Yogyakarta dan sekitarnya.

Demikian kesimpulan acara Bincang Santai Investor Daily dengan tajuk 'Optimalisasi Keberadaan Yogyakarta Internasional Airport' yang digelar di Hotel Swiss-Belboutique, Yogyakarta, Rabu (24/7/2019).

Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemhub) Zulmafendi, Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kempar) Rizki Handayani, Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura (AP) I Devi Suradji, dan pemerhati kebijakan publik Agus Pambagio.

Foto bersama peserta acara "Bincang Santai Investor Daily" bertajuk "Optimalisasi Keberadaan Yogyakarta Internasional Airport" (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Devi Suradji menyampaikan, sebagai tahapan awal optimalisasi pemanfaatan BIY, akan ada pengalihan 66 penerbangan domestik luar Jawa di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta ke BIY pada Oktober 2019. Pengalihan penerbangan itu pun mendesak dilakukan karena kapasitas Bandara Adisutjipto sudah tidak memadai lagi. Saat ini kapasitas Bandara Adisutjipto untuk 1,6 juta penumpang, sedangkan jumlah penumpangnya sudah mencapai 8,5 juta penumpang pada tahun 2018.

"Oktober ini akan ada 66 penerbangan domestik luar Jawa yang dipindahkan ke Bandara Internasional Yogyakarta. Saat ini, terdapat total 188 penerbangan di Bandara Adisutjipto dan secara bertahap akan pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta," ungkap Devi.

Devi menuturkan, sekarang ini Bandara Internasional Yogyakarta sudah dioperasikan sebagian sejak Mei 2019 dengan luas terminal yang dibuka sebesar 12.900 meter persegi (m2). Bandara ini ditargetkan beroperasi penuh untuk tahap pertama pada akhir 2019 atau paling lambat pada April 2020 dengan daya tampung 14 juta penumpang per tahun. Pada saat pengoperasian penuh itu, seluruh penerbangan dari Bandara Adisutjipto dialihkan ke Bandara Internasional Yogyakarta. Adapun sisi udara BIY sudah selesai 100 persen dengan panjang landasan 3.250 meter.

"Kalau masih melalui Bandara Adisutjipto itu sudah terlalu dekat dengan rumah penduduk sehingga sulit dikembangkan, padahal sudah over capacity. Potensi traffic-nya besar, belum lagi yang penerbangan internasional banyak waiting list. Karenanya, dibutuhkan bandara baru ini," imbuh Devi.

Devi Suradji (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Kendati demikian, BIY masih memerlukan dukungan tambahan akses dari dan ke Yogyakarta, seperti dengan jalan tol dan akses jalur kereta api (KA) yang masuk kawasan bandara. "Karenanya, kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak untuk mewujudkan akses ke Bandara Internasional Yogyakarta," papar Devi.

Kondisi sekarang, akses dari Yogyakarta ke Bandara Internasional Yogyakarta yang berjarak 43 km bisa melalui jalan nasional dan kereta api yang berada di luar kawasan bandara, yakni melalui Stasiun Wojo yang berjarak sekitar 3 km dari bandara.

Kepala BPJT, Danang Parikesit menyebutkan, rencana pembangunan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Bandara Internasional Yogyakarta (BIY)-Kulonprogo didukung secara positif oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Rencananya, proyek pembangunan jalan bebas hambatan senilai Rp 20,46 triliun itu mulai dilelang pada tahun ini.

"Komunikasi kami dengan gubernur cukup bagus. Terakhir kami bertemu dan beliau positif untuk dijalankan. Tetapi yang ditekankan adalah bagaimana jalan tol ini justru bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal," terang Danang.

Atas adanya permintaan mendorong perekonomian itu, Danang menyampaikan, pihaknya bersama Direktorat Jenderal Bina Marga mengkaji pembatasan rest area di koridor jalan tol dan cenderung menitikberatkan pembukaan rest area di exit jalan tol sehingga pelaku usaha kecil bisa memperoleh kesempatan berusaha di rest area jalan tol.

"Kami kemungkinan batasi rest area di koridor jalan tol tapi dipindahkan ke exit tol. Itu supaya tumbuh perekonomiannya di wilayah sekitar jadi kami mengolah exit tol. Kalau rest area di koridor kan biasanya yang banyak adalah usaha besar," papar Danang.

Selain itu, Danang Parikesit mengungkapkan, gubernur DIY juga menyarankan pembangunan Tol Solo-Yogyakarta-BIY-Kulonprogo dilakukan secara bertahap untuk ruas Solo-Yogyakarta terlebih dahulu. Hal itu mengingat trase Yogyakarta-BIY masih perlu dilakukan pendalaman dan nantinya difinalisasi oleh gubernur.

Danang menyampaikan, proyek pembangunan Tol Solo-Yogyakarta-BIY-Kulonprogo merupakan akses jalan tol yang menyambungkan Yogyakarta dan BIY sehingga dapat memperlancar arus lalu lintas dari Yogyakarta dan BIY maupun sebaliknya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemhub) Zulmafendi menerangkan, dari sisi perkeretaapian, pihaknya tengah menyiapkan konektivitas dari dan ke kawasan Bandara Internasional Yogyakarta. Saat ini, fasilitas perkeretaapian baru bisa diakses penumpang BIY melalui stasiun terdekat, yakni Stasiun Wojo dengan jarak sekitar 3 km dari BIY.

Nantinya, terang Zulmafendi, kereta bandara bisa langsung diakses dalam kawasan BIY. Panjang lintasan yang bakal dibangun sekitar 5,7 km dengan sebagian didirikan secara at grade dan sebagian lainnya elevated.

Menurut Zulmafendi, proses yang dilakukan sekarang ini adalah pembebasan lahan untuk jalur Kereta Api (KA) Bandara Internasional Yogyakarta. Rencananya, sebelum akhir tahun ini, proses pembebasan lahan sudah selesai untuk kemudian segera dilaksanakan pengerjaan konstruksi. Diharapkan KA BIY mulai beroperasi paling lambat 2021.

"Kami sudah diskusi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo terkait masyarakat yang terkena dampak pembangunan jalur KA dan sudah diadakan pertemuan. Prinsipnya, mereka mendukung," papar Zulmafendi.




Sumber: BeritaSatu.com

Bandara Internasional Yogyakarta Dorong Pertumbuhan Industri Pariwisata


Thresa Sandra Desfika / FER
Rabu, 24 Juli 2019 | 20:07 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pariwisata (Kempar) optimistis keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta, Kulonprogo bisa meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Yogyakarta. Pasalnya, sudah banyak permintaan dari sejumlah negara untuk menambah ataupun membuka penerbangan ke Kota Gudeg itu.

"Sebenarnya banyak sekali minta masuk ke Yogya, seperti dari Thailand, Kamboja, Singapura tetapi kapasitas bandara yang ada tak bisa menampung. Mudah-mudahan ke depan bisa ditampung dengan bandara baru ini," kata Deputi Bidang Pemasaran I Kempar, Rizki Handayani dalam acara Bincang Santai Investor Daily dengan tajuk 'Optimalisasi Keberadaan Yogyakarta Internasional Airport' yang digelar di Hotel Swiss-Belboutique, Yogyakarta, Rabu (24/7/2019).

Namun begitu, kata Rizki, objek atau tujuan wisata harus ditumbuhkan alternatif lain, selain Candi Borobudur, Prambanan, dan sebagainya demi menarik lebih banyak kunjungan wisman ke Yogyakarta dan sekitarnya. "Jadi, Yogyakarta ini bisa dipromosikan satu paket juga dalam Joglosemar (Yogyakarta, Solo, dan Semarang)," papar Rizki.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN, Gatot Trihargo menyatakan, pemerintah memiliki rencana ke depan terkait Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), Kulonprogo yakni untuk menjadi hub menggeser bandara di Malaysia dan Singapura.

Menurut Gatot, dengan seperti itu, Bandara Internasional Yogyakarta bisa menarik potensi lalu lintas penumpang asal Australia yang ingin kembali dari perjalanannya dari Eropa namun hendak singgah dahulu di Yogyakarta sehingga tidak perlu transit di Singapura ataupun Malaysia.

"Ada sekitar 950.000 penumpang Australia itu yang ke Yogya dan biasa ke Changi atau Kuala Lumpur dahulu. Jadi ke depan, kami ingin mencoba mendaratkan pesawat B777 atau A380 di Yogyakarta. Pesawat 777 itu dari Yogya bisa ke London," ungkap Gatot.

Maka dari itu, terang Gatot, Yogyakarta harus menguatkan sektor pariwisatanya. Hal ini sedang dan terus didorong bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait. Adapun sektor unggulan di Yogyakarta adalah pariwisata, budaya, dan pendidikan. "Jadi heritage-nya bisa juga kita dorong lagi dan diadakan kerja sama pemasaran," papar Gatot.

Gatot menambahkan, potensi Bandara Internasional Yogyakarta juga bisa mengembangkan kawasan industri di sekitarnya. Hal tersebut berdasarkan pengalaman yang terjadi dengan Bandara Internasional Soekarno -Hatta di mana industrinya di sekitarnya bisa berkembang.

"Industri yang ada di sekitar Soekarno-Hatta itu tumbuh bukan karena Pelabuhan Tanjung Priok tapi karena bandaranya. Bandara itu menimbulkan dampak ekonomi yang luar biasa. Karena itu, kami selalu minta dengan direksi Angkasa Pura I dan II jangan hanya pendapatan aero saja, tapi pendapatan non-aero ditingkatkan dengan kerja bersama pemerintah daerah," sebut Gatot.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: BeritaSatu.com

Bandara Internasional Yogyakarta Dibangun Demi Kepentingan Publik


Thresa Sandra Desfika / FER
Rabu, 24 Juli 2019 | 19:01 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - PT Angkasa Pura (AP) I menyatakan, Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) di Kulonprogo dibangun demi kepentingan publik mengingat kondisi Bandara Adisutjipto, yang sudah melebihi kapasitas dan tak bisa dikembangkan lagi.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I, Devi Suradji menyampaikan, sebagai tahapan awal optimalisasi pemanfaatan BIY, akan ada pengalihan penerbangan domestik luar Jawa di Bandara Adisutjipto ke BIY pada Oktober 2019. Pengalihan penerbangan itu mendesak dilakukan karena kapasitas Bandara Adisutjipto sudah tidak memadai lagi.

"Saat ini kapasitas Bandara Adisutjipto untuk 1,6 juta penumpang, sedangkan jumlah penumpangnya sudah mencapai 8,5 juta penumpang pada tahun 2018," ujar Devi dalam acara Bincang Santai Investor Daily dengan tajuk 'Optimalisasi Keberadaan Yogyakarta Internasional Airport' yang digelar di Hotel Swiss-Belboutique, Yogyakarta, Rabu (24/7/2019).

Devi menuturkan, sekarang ini Bandara Internasional Yogyakarta sudah dioperasikan sebagian sejak Mei 2019 dengan luas terminal yang dibuka sebesar 12.900 meter persegi (m2). Bandara ini ditargetkan beroperasi penuh untuk tahap 1 pada akhir 2019 atau paling lambat pada April 2020 dengan daya tampung 14 juta penumpang per tahun.

"Kalau masih melalui Bandara Adisutjipto itu sudah terlalu dekat dengan rumah penduduk sehingga sulit dikembangkan, padahal sudah over capacity. Potensi traffic-nya besar, belum lagi yang penerbangan internasional banyak waiting list. Karenanya, dibutuhkan bandara baru ini," imbuh Devi.

Lebih jauh, Devi menjelaskan, potensi Bandara Internasional Yogyakarta antara lain kapasitas yang lebih besar di sisi udara dan darat memungkinkan lebih banyak jumlah dan pilihan penerbangan baik domestik maupun internasional. Selain itu, kemampuan BIY untuk melayani penerbangan langsung dari hub selain Singapura atau Kuala Lumpur memungkinkan penerbangan yang lebih murah dan cepat. Kemudian, potensi lalu lintas penerbangan di Yogyakarta ini bukan hanya terkait pergerakan orang, tetapi juga pergerakan barang atau kargo.



Sumber: BeritaSatu.com

Jadi Hub Heritage, Yogyakarta Butuh Jejaring Transportasi dengan Wilayah Sekitar


Dwi Argo Santosa / HA
Rabu, 24 Juli 2019 | 21:51 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Yogyakarta diharapkan menjadi hub atau pusat kegiatan terkait heritage yang bisa mengakomodasi perkembangan kota-kota di sekitarnya seiring pembangunan dan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) di Kulonprogo. Untuk itu perlu dibangun jejaring transportasi yang menghubungkannya dengan daerah-daerah sekitar sehingga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

Hal itu diungkapkan sosiolog Imam Prasodjo dalam forum group discussion “Optimalisasi Keberadaan Yogyakarta International Airport” yang diselenggarakan Investor Daily di Yogyakarta, Rabu (24/7/2019).

Imam punya harapan yang sama pada Jakarta. “Sebenarnya saya berharap pada Jakarta (menjadi hub untuk kota-kota sekitar) tapi saya sudah hopeless (Jakarta) menjadi semacam hub. Jakarta terlalu sombong sebagai ibukota negara sehingga tidak bisa diharapkan karena adanya komplikasi politik setiap kali pilkada sehingga menjadi mengkhawatirkan,” katanya.

Pada kesempatan itu Imam mengungkapkan pentingnya Yogyakarta memetakan kekayaan wilayah. Menurutnya, kekayaan Yogya bukan pada alam melainkan pada culture capital atau budaya. “Yogya sendiri seharusnya sudah bisa memetakan culture capital. Melihat Yogya jangan kekayaan alamnya, melainkan kekayaan budayanya,” katanya.

Bila dipetakan secara keseluruhan sesungguhnya kekayaan Indonesia terletak pada culture capital. Namun selama ini entah siapa yang memulai, narasi yang berkembang adalah soal kekayaan alam. Kekayaan alam habis dieksploitasi. “Berbeda seandainya yang dieksploitasi adalah kebudayaan, saya kira kita akan lebih makmur, tidak ada bencana di mana-mana karena yang dijadikan tulang punggung adalah kekuatan otak, bukan kekuatan alam,” katanya.

Culture mapping perlu dilakukan secara detail. “Kita tahu ada Borobudur. Masak dari dulu hanya sepeti itu-itu saja. Seharusnya ada yang lebih detail,” katanya.

Imam meyakini bahwa semakin hari semakin banyak orang kreatif yang linier dengan pendidikannya di Yogyakarta. Karya tangannya dan daya imajinasi orang-orang Yogya luar biasa. “Bila orang-orang seperti ini menggerakkan Yogya, maka saya yakin Bandara Internasional Yogyakarta hanyalah supporting infrstructure saja,” katanya.

Imam juga mengingatkan fenomena disrupsi yang terjadi sekarang ini akibat kemajuan teknologi informasi lebih mendorong peningkatan lalu lintas barang, bukan manusia.

Kita perlu mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam masyarakat saat ini, yaitu tumbuhnya cyber society. “Jadi interaksi sosial saat ini tidak hanya face to face interaction atau interaksi riil. Semua serba online termasuk ticketing dan turisme," ujarnya.

Disruption luar biasa ini ujung-ujungnya membanjirnya transportasi barang ketimbang manusia. Atas dasar itu, Imam berpendapat sarana transportasi termasuk bandara harus dibangun untuk mengakomodasi peningkatan arus barang, bukan penumpang.

"Kalau DIY akan jadi hub untuk shipping industry baik menerima atau mengirim, maka yang perlu dipersiapkan adalah infrastruktur transportasi barang. Saya tak yakin bandara akan mampu menampung barang yang dikirim atau diterima," ulasnya.

Simak pernyataan Imam lebih jauh dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu.com