Logo BeritaSatu
Home > Fokus > Belajar dari Gempa Cianjur

Rawan Gempa, Indonesia Patut Waspada

Selasa, 13 Desember 2022 | 08:05 WIB
Oleh : Yudo Dahono / Anselmus Bata

Jakarta, Beritasatu.com – Berada di kawasan ring of fire alias cincin api yang rawan bencana gempa tektonik dan vulkanik membuat Indonesia patut waspada. Selama sepekan terakhir, sejak Senin (5/12/2022), sedikitnya terjadi 20 gempa dangkal maupun dalam yang mengguncang Tanah Air. Dari 20 gempa tersebut, lima di antaranya berkekuatan di atas magnitudo 5.

Salah satu gempa yang memakan banyak korban jiwa adalah gempa Cianjur yang terjadi pada 21 November 2022. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa dengan magnitudo 5,6 tersebut mengakibatkan 334 korban meninggal dunia (sampai Senin, 12 Desember 2022), korban luka 7.729 orang, serta total pengungsi mencapai 108.720 orang. Gempa Cianjur juga mengakibatkan 47.769 rumah rusak ringan dan berat.

Data berbeda disampaikan Bupati Cianjur Herman Suherman yang menyebutkan korban meninggal mencapai 602 jiwa. Data ini didapat dari laporan warga, RT/RW, lurah, dan camat.

BMKG memaparkan bahwa gempa Cianjur merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal. Berdasarkan pantauan BMKG hingga Kamis (8/12/2022) pada pukul 12.00 WIB telah terjadi 402 kali gempa susulan yang kekuatannya semakin melemah secara fluktuatif dengan frekuensi kejadian makin jarang. Gempa susulan di kawasan Cianjur tersebut memiliki magnitudo terbesar 4,3 dan terkecil 1,0.

Gempa Cianjur menelan ratusan korban jiwa karena meski ukuran gempanya sedang, tetapi hiposentrumnya kurang dari 60 kilometer atau disebut sebagai gempa dangkal. Bahkan, BMKG memprediksi gempa Cianjur berpotensi untuk berulang setiap 20 tahun. Prediksi ini berdasarkan analisis bahwa gempa di Cianjur sebelumnya terjadi pada 2000 dan juga pernah terjadi pada 1982.

Patahan Baru
Sebelumnya, gempa Cianjur diduga disebabkan aktivitas sesar Cimandiri karena pusat gempa berada di dekat sesar tersebut. Namun, setelah dilakukan analisis focal mechanism serta sebaran titik gempa susulan, analisis citra satelit dan foto udara, serta survei lapangan secara detail oleh BMKG terhadap pola sebaran dan karakteristik surface rupture (retakan/rekahan permukaan tanah), sebaran titik longsor, kelurusan morfologi, dan pola sebaran kerusakan bangunan, maka disimpulkan bahwa gempa Cianjur disebabkan oleh sesar baru Cugenang.

BMKG akhirnya menyimpulkan bahwa gempa Cianjur disebabkan oleh patahan yang baru teridentifikasi, yaitu patahan Cugenang. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa selama ini patahan Cugenang, pemicu gempa Cianjur, Jawa Barat, belum pernah teridentifikasi.

"Jadi di Indonesia sudah diidentifikasi 295 patahan aktif. Namun, patahan Cugenang ini belum termasuk yang teridentifikasi," katanya dalam konferensi pers daring, Kamis (8/12/2022).

Dwikorita mengatakan zona patahan Cugenang menjadi penting untuk diperhatikan lantaran harus dikosongkan. Berdasarkan analisis mekanisme pergerakan patahan dan episentrum gempa utama serta susulan, patahan tersebut mengarah ke N 347 derajat timur dan kemiringan (dip) 82,8 derajat dengan mekanisme gerak geser menganan (dextral strike-slip).

BMKG mengeluarkan rekomendasi agar pemukiman di daerah seluas 8,09 kilometer persegi yang memiliki 1.800 rumah yang berada di dalam zona bahaya patahan geser Cugenang, meliputi sebagian Desa Talaga, Sarampad, Cibulakan, dan Nagrak, direlokasi.

Terdapat 10 desa yang dilintasi sesar Cugenang, sembilan di antaranya masuk dalam Kecamatan Cugenang. Kesembilan desa itu adalah Desa Ciherang, Ciputri, Cibeureum, Nyalindung, Mangunkerta, Talaga, Sarampad, Cibulakan, dan Benjot. Satu desa terakhir, Nagrak, berlokasi di wilayah Kecamatan Cianjur.

Zona bahaya merupakan zona yang rentan mengalami pergeseran atau deformasi, getaran dan kerusakan lahan, serta bangunan. "Jadi kalau membangun kembali, belum tahu patahan yang ada di mana? Dikhawatirkan zona yang patah atau bergeser itu akan dibangun lagi, dan kurang lebih 20 tahun kemudian akan runtuh lagi," ujar Dwikorita.

BMKG menyatakan bahwa penemuan atau penetapan zona patahan ini sangat vital dalam mendukung pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak. Salah satu dasar pertimbangan untuk menentukan strike atau patahan adalah rupture atau pecahnya permukaan tanah yang lurus atau sebagai manifestasi dari perpotongan bidang patahan dengan permukaan lintasan.

Strike ini harus diwaspadai, sekaligus dihindari, saat melakukan pembangunan kembali. Sebab, patahannya merupakan patahan aktif Cugenang yang saat ini baru teridentifikasi. Kemudian, berdasarkan mekanisme gempa-gempa susulan yang direkam oleh sensor-sensor BMKG, sampai sekarang sudah lebih dari 400 kali terjadi gempa susulan.

Patahan yang digambarkan dengan garis putus-putus tegak lurus dari Desa Nagrak hingga Desa Ciherang ke arah timur laut adalah jalur yang harus kosong dari hunian dan tidak boleh dibangun lagi. Pasalnya, jika terjadi gempa susulan dalam kurun waktu sekitar 20 tahun, bangunan-bangunan di sekitar lokasi patahan akan terdeformasi dan bisa mengalami getaran yang kuat dan pada akhirnya menyebabkan keruntuhan.

BMKG meminta agar zona-zona yang direkomendasikan direkolasi itu sebaiknya bebas permukiman. Zona bahaya yang dikosongkan tersebut masih bisa dimanfaatkan, tetapi bukan untuk permukiman.

"Zona bahaya itu dikosongkan dari hunian, tetapi bisa dimanfaatkan untuk nonhunian, misalnya untuk persawahan, area resapan, konservasi, atau dihutankan. Jangan dibangun rumah lagi," tuturnya.

Relokasi
Pemerintah melalui BNPB telah menyiapkan 16 hektare lahan sebagai tempat relokasi warga korban gempa Cianjur. Lahan tersebut nantinya ditempati warga yang rumahnya rusak berat.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan daerah relokasi dan pemerintah pusat akan membangunkan rumah warga yang rusak. Bagi warga yang rumahnya direlokasi akan mendapatkan ganti rumah di tempat yang telah disediakan. Rumah yang lama tidak diperbolehkan lagi dihuni masyarakat!

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktur Jenderal Perumahan akan membangun 1.864 rumah tahan gempa tipe 36 dengan luas tanah 75 meter persegi. Rumah-rumah tersebut akan tahan gempa hingga berkekuatan magnitudo 7.

Dua titik relokasi yang disiapkan pemerintah terletak di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku dengan luas 2,5 hektare untuk 200 unit rumah dan di Kecamatan Mande dengan luas 30 hektare yang dapat dibangun 1.664 unit rumah.

Dirjen Perumahan Iwan Suprijanto mengatakan untuk membangun satu unit rumah tahan gempa hingga magnitudo 7 di Cianjur dibutuhkan biaya Rp 150 juta. Dengan demikian, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 279,60 miliar. Pembangunan 80 rumah tahan gempa di Desa Sirnagalih telah dimulai pada Senin (5/12/2022) dengan target 80 unit rumah dan siap ditempati pada minggu ketiga Desember 2022. Pembangunan rumah tahan gempa di lahan relokasi di Kecamatan Mande sebanyak 1.664 unit rumah ditargetkan tuntas sebelum Idulfitri 2023.

Antisipasi
Tinggal di kawasan rawan gempa membuat masyarakat harus melakukan berbagai antisipasi. Menurut BMKG, kunci utama antisipasi terhadap gempa adalah mengenali gempa itu sendiri. Rumah tahan gempa merupakan salah satu langkah mitigasi terhadap ancaman gempa di Tanah Air. Perhatikan apakah struktur dan letak rumah atau hunian dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan gempa bumi. Gempa tersebut bisa terdiri dari longsor atau pencairan tanah (likuefaksi tanah) dan lain-lain.

Kemudian, melakukan evaluasi terhadap hunian serta merenovasi ulang struktur bangunan agar dapat terhindar dari bahaya gempa. Hal yang kerap luput dari perhatian adalah membangun hunian yang tahan terhadap gempa. Tinggal di rumah yang tahan terhadap gempa akan mengurangi atau meminimalisasi risiko terkena dampak gempa.

Berdasarkan pedoman dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terdapat sejumlah prinsip dasar bangunan tahan gempa. Rumah tahan gempa adalah hunian yang apabila terkena guncangan gempa lemah, bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali. Apabila diguncang gempa dengan kekuatan sedang, maka bangunan hanya mengalami kerusakan non-struktural dan jika terkena gempa berkekuatan besar, bangunan mengalami kerusakan, tetapi tidak runtuh.

Konsep rumah tahan gempa ini dapat diaplikasikan pada semua jenis hunian, tidak terkecuali rumah sederhana. Dikutip dari BNPB, persyaratan rumah tahan gempa harus memperhatikan sejumlah aspek yang terdiri dari: bahan bangunan, struktur utama, serta pengecoran beton.

Antisipasi terhadap gempa juga bisa dilakukan dengan mengenali lingkungan tempat bekerja. Perhatikan tata letak pintu, lift, serta tangga darurat, sehingga apabila terjadi gempa, sudah diketahui tempat paling aman untuk berlindung.

Setelah terjadi gempa, hindari berjalan di daerah sekitar gempa karena kemungkinan terjadinya gempa atau bahaya susulan. Masyarakat diminta tidak mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya (hoax).

Tinggal di wilayah rawan gempa membuat masyarakat harus waspada dan melakukan berbagai antisipasi agar terhindar dari bahaya tersebut. Berbagai persiapan perlu dilakukan sejak memilih lokasi tempat tinggal, membangun hunian, hingga saat dan setelah terjadi gempa. Berbagai langkah tersebut patut diperhatikan agar masyarakat dapat terhindar dari ancaman gempa yang bisa terjadi sewaktu-waktu.



Cianjur Revisi Rencana Pembangunan Sesuai Analisis BMKG

Sabtu, 10 Desember 2022 | 01:30 WIB
Oleh : / Yudo Dahono

Cianjur, Beritasatu.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, Jawa Barat, merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sesuai hasil analisa BMKG terkait Patahan atau Sesar Cugenang yang melarang berdirinya bangunan di sembilan desa yang masuk dalam tiga kecamatan seperti Pacet, Cugenang dan Cianjur.

Bupati Cianjur, Herman Suherman di Cianjur, Jumat (9/12/2022), mengatakan bahwa terkait sembilan desa yang masuk dalam Patahan Cugenang, membuat tata ruang Cianjur segera direvisi dan ditetapkan karena masuk dalam zona berbahaya dengan bentangan sepanjang 9 kilometer persegi.

"Kita akan melakukan pendataan sebenarnya di lapangan yang akan dicocokkan dengan foto udara dari BMKG, sehingga tata ruang harus direvisi. Saya sudah meminta Bapelitbangda Cianjur dan dinas terkait lainnya segera melakukan perbaikan," katanya.

Berdasarkan analisa BMKG, kata dia, Patahan Cugenang membentang mulai dari Desa Ciherang, Ciputri, Cibeureum, Kecamatan Pacet dan Desa Nyalindung, Mangunkerta, Sarampad, Benjot, dan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang yang ujungnya di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur.

Sehingga sembilan desa yang dilintasi patahan harus disterilkan atau dikosongkan dari bangunan pemukiman karena dikhawatirkan patahan kembali aktif sehingga menimbulkan gempa, tercatat 1.800 rumah di sepanjang Patahan Cugenang harus direlokasi.

"Kami sudah menyiapkan lahan relokasi di Kecamatan Cilaku yang akan dibangun 200 rumah, sedangkan di Kecamatan Mande dengan luas tanah 30 hektar akan dibangun 1.600 rumah, sehingga jumlah rumah relokasi sesuai dengan catatan yang diberikan BMKG," kata Herman Suherman.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan dampak gempa yang sangat merusak di Cianjur diakibatkan kedalaman pusat gempa yang dangkal, dan lokasi permukiman berada di lahan tanah lunak/lepas (efek tanah lunak) dan perbukitan (efek topografi) dan struktur bangunan yang tidak memenuhi standar aman gempa.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga Kamis 8 Desember 2022, telah terjadi 402 kali gempa susulan yang makin melemah secara fluktuatif dengan frekuensi kejadian makin jarang dengan kekuatan getaran terbesar 4,3 magnitudo dan terkecil 1,0 magnitudo.

"Memasuki hari ke-19 getaran gempa terus melemah, secara teknis tekanan yang dialami pada kejadian gempa di Cianjur tekanan utamanya dari bagian selatan zona subduksi. Semua sistem sesar yang ada di pulau Jawa, sumber utamanya dari zona subduksi yang menimbulkan patahan di pulau Jawa," demikian Daryono.



Anak-anak Korban Gempa Cianjur Bersekolah di Tenda Darurat

Senin, 12 Desember 2022 | 10:10 WIB
Oleh : Guruh Permadi / Fana F Suparman

Cianjur, Beritasatu.com - Anak-anak korban gempa Cianjur di Kampung Panyaweuyan, Desa Ciherang, Kecamatan Pecat, Kabupaten Cianjur kembali bersekolah. Namun, mereka terpaksa bersekolah di tenda-tenda darurat lantaran sekolah mereka rusak berat dan tidak layak untuk ditempati.

Anak-anak tersebut bersekolah di tenda-tenda berukuran besar yang didirikan oleh personel Brimob dan Kementerian Sosial di sebuah tanah lapang, tidak jauh dari lokasi pengungsian.

Pembelajaran di sekolah darurat ini sudah berlangsung selama sepekan terakhir.

"Sekolah dari hari Senin (pekan kemarin) soalnya sekolahnya rusak, ambruk. Dindingnya ambruk," ujar Auranita Tifhana, salah satu siswa kelas 4 SDN Panyaweuyan, Senin (12/12/22).

Meski bersekolah di tenda darurat, Aura mengaku cukup senang karena ia dan teman-temannya bisa kembali bersekolah setelah musibah gempa yang mengguncang pada 21 November lalu.

"Senang soalnya bisa ketemu lagi sama temen-temen bisa sekolah lagi," ungkap dia.

Aura sangat berharap bisa kembali bersekolah di sekolahnya yang dulu. Ia berharap sekolahnya dapat segera dibangun atau direnovasi kembali. Selain itu, Aura juga berharap gempa tak kembali terjadi.

"Biar tidak terjadi lagi gempa dan sekolah dibangun lagi," harapnya.

Sementara, Kepala SDN Panyaweuyan Ani Murhayani menyatakan, bangunan sekolah yang rusak dan ambruk mencapai lebih dari 70 persen. Ani mengatakan, pihaknya memilih menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di tenda untuk keamanan anak didik. 

"Khawatir kalau misalnya ada apa-apa karena ada tembok yang ambruk, atapnya juga runtuh. Beberapa kelas yang lainnya juga. Jadi biar aman sekolahnya di tenda," jelasnya.

Ani menjelaskan dari total 276 siswa, hanya sekitar 95% saja yang kembali bersekolah. Sedangkan 5% sisanya tidak bersekolah karena mengikuti orang tuanya mengungsi di rumah kerabat atau saudara serta keluarga di kota lain.

Antusias anak-anak untuk kembali bersekolah sangat tinggi meski melaksanakan proses belajar mengajar di tenda.

"Awal dibuka itu sekitar 90% yang masuk. Tetapi sampai hari ini terus bertambah sampai 95% sisanya ikut mengungsi ke rumah keluarganya di kota yang lain," jelasnya.

Pihak sekolah mengatur jadwal masuk anak didik menjadi dua shift karena tenda yang tersedia hanya tiga buah. Masing-masing shift bersekolah selama 2 jam saja. Durasi bersekolah itu tidak sepenuhnya diisi pelajaran, tetapi juga disisipi dengan materi berkenaan dengan bencana gempa dan trauma healing.

"Iya,diisi dengan trauma healing juga, baik itu oleh anggota Korps Brimob, Kemensos ataupun oleh guru-guru kami sendiri," terangnya.

Ani juga mengaku tidak bisa memastikan sampai kapan pembelajaran di sekolah darurat ini berlangsung. Pihak sekolah masih menunggu renovasi atau perbaikan gedung sekolah atau sampai layak untuk kembali digunakan.

"Kalau pastinya kami tidak bisa memprediksi tetapi kami berharap sekolah kami bisa secepatnya direnovasi dan diperbaiki, sehingga anak-anak bisa sekolah lagi di kelas," harapnya.



Gempa Cianjur, Bantuan untuk Korban Terus Mengalir

Selasa, 13 Desember 2022 | 07:00 WIB
Oleh : / Iman Rahman Cahyadi

Cianjur, Beritasatu.com - Bantuan untuk korban gempa Cianjur, Jawa Barat masih terus mengalir. Kali ini, giliran Depo Bangunan yang membantu warga Cianjur yang menjadi korban gempa bumi dengan kekuatan 5,6 SR itu.

Direktur Utama Depo Bangunan Kambiyanto Kettin mengatakan, Depo Bangunan bersama komunitas produsen dan pemasok bahan bangunan berhasil mengumpulkan bantuan lebih dari Rp 200 juta.

“Kami berharap bantuan ini bisa meringankan beban korban gempa Cianjur. Bantuan ini juga merupakan bentuk kepedulian Depo Bangunan kepada masyarakat. Bantuan yang berhasil dikumpulkan dalam bentuk mie instant, obat-obatan, terpal alas tidur, selimut, popok bayi, sarung, beras, susu, biskuit serta pakaian layak pakai,” kata Kambiyanto, Senin (12/12/2022).

Kambiyanto menambahkan, bantuan sudah diantar langsung ke pendopo Pemkab Cianjur dan diterima oleh BNPB.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada perwakilan dari Pemkab Cianjur dan juga BNPB yang sudah menerima bantuan ini secara langsung. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi korban gempa yang saat ini masih tinggal di pengungsian. Kami tentu berharap para korban yang rumahnya rusak akibat gempa bisa segera diperbaiki dan mereka bisa memulai kehidupan secara normal,” ujar Kambiyanto.

Sebelumnya, Pemerintah sudah memastikan rumah warga Cianjur yang rusak akibat gempa akan dibangun lagi dengan model rumah tahan gempa. BNPM memperkirakan puluhan ribu rumah warga korban gempa selesai diperbaiki pada Juni-Juli 2023.

Sementara itu Palang Merah Indonesia (PMI) memfokuskan distribusi air bersih dan membangun sanitasi air terutama di wilayah yang kehilangan sumber mata air di wilayah yang terdampak.

Humas Tanggap Darurat Bencana PMI Cianjur, Ikbal Selamet mengatakan hingga saat ini warga di sejumlah desa di Kecamatan Cugenang, seperti Cibulakan, Benjod, Sarampad, Mangunkerrta dan Nyalindung, tidak lagi memiliki sumber air bersih bawah dan permukaan tanah yang hilang karena retakan akibat gempa Cianjur.

"Sehingga sejak gempa hingga saat ini, kami dari PMI memfokuskan pendistribusian air bersih yang sangat dibutuhkan warga setiap harinya mulai dari pengungsian sampai ke perkampungan terdampak, dan fasilitas umum di sejumlah wilayah," katanya.

Setiap harinya 16 unit truk tangki PMI dengan kapasitas 5.000 liter per unit dapat menyuplai kebutuhan air sebanyak 3 kali, sehingga tercatat sampai hari ke-22 setelah bencana gempa, pihaknya telah menyuplai air bersih lebih dari 2 juta liter.

Sedangkan pelayanan kesehatan 24 jam, sejak dua hari setelah gempa hingga enam bulan ke depan akan terpusat di posko terpadu atau camp Joglo di Jalan Pangeran Hidayattulah, sehingga bagi warga penyintas gempa yang membutuhkan pelayan kesehatan dapat datang langsung atau mendapat pelayanan kesehatan mobile.



Jokowi Tinjau Rumah Contoh Tahan Gempa di Cianjur

Kamis, 8 Desember 2022 | 15:04 WIB
Oleh : / Bernadus Wijayaka

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Jokowi meninjau rumah contoh yang tahan gempa di Yonif Raider 300, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (8/12/2022). Ada dua skema pembangunan rumah yang diperuntukkan bagi korban gempa Cianjur itu.

"Ada dua skema, yang pertama, kalau memang yang punya rumah itu mampu, dia bisa mengerjakan sendiri dan didampingi supaya rumah yang diperbaiki tetap tahan gempa; yang kedua, kalau ingin menyerahkan kepada pemerintah, nanti ada TNI dan pihak ketiga, ada rumah contoh. Beberapa rumah contoh sudah dibangun dan nanti yang akan dilihat di Yonif 300 Raider," kata Jokowi di Cianjur, Jawa Barat.

Rumah contoh tersebut memiliki spesifikasi berupa fondasi batu kali dengan struktur baja CNP yang dibungkus mortar. Dinding rumah tersebut menggunakan bata ringan yang diaci dan dicat, sedangkan kusen dan rangka atapnya memakai baja ringan.

Rumah tahan gempa serupa juga pernah dibangun sebagai hunian tetap (huntap) korban gempa di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menjelaskan rumah tahan gempa itu merupakan salah satu skema untuk perbaikan rumah warga terdampak gempa Cianjur.

Dia mengatakan pencairan bantuan bagi perbaikan rumah warga yang rusak akibat gempa Cianjur akan terbagi dalam lima tahap. Ia pun berharap seluruh rumah warga sudah selesai diperbaiki pada Juni-Juli 2023.

"Kami perkirakan sampai lima tahap ini, secara terus-menerus kami akan data sampai betul-betul by name by address jelas. Ini anggarannya akan terus kami ajukan ke Kementerian Keuangan untuk diberikan ke masyarakat," kata Suharyanto.

BNPB sudah membuat jadwal pelaksanaan rehabilitasi rumah terdampak gempa untuk masyarakat.

"Harapan kami, di Juni atau Juli 2023 ini, semuanya sudah selesai diperbaiki," ujarnya.

Selain Suharyanto, turut mendampingi Jokowi dalam peninjauan tersebut ialah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Bupati Cianjur Herman Suherman.








TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


B1 Livestream

TERKINI
Viral, Rekaman CCTV Pelempar Batu Dikeroyok Sekelompok Orang Diduga Pemain Persis Solo

Viral, Rekaman CCTV Pelempar Batu Dikeroyok Sekelompok Orang Diduga Pemain Persis Solo

NEWS | 4 jam yang lalu









CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE