Cycloop Rusak karena Salah Kelola


Jeis Montesori / AB
Rabu, 27 Maret 2019 | 14:04 WIB

Sentani, Beritasatu.com - Perambahan hutan yang tidak terkendali di kawasan Pegunungan Cycloop menjadi salah satu penyebab malapetaka banjir bandang yang menelan korban jiwa maupun materiel di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Banjir bandang yang muncul tiba-tiba Sabtu (16/3/2019) malam memorakporandakan beberapa distrik. Data sementara hingga Rabu (27/3/2019) menunjukkan 105 orang meninggal dunia dan 94 orang hilang terseret banjir. Sebanyak 107 korban mengalami luka berat dan 808 orang luka ringan.

Tercatat sedikitnya enam distrik dari 19 distrik di Kabupaten Jayapura terdampak banjir parah, yakni Distrik Sentani, Kemiri, Sentani Barat, Waibu, Depapre, dan Ravenirara. Puluhan kampung dan kelurahan tergenang banjir. Lebih dari 11.500 jiwa mengungsi. Limpahan air banjir merembet sampai ke Danau Sentani. Air danau yang memiliki luas 9.360 hektare (ha) ini meluap dan menggenangi 25 kampung di sekitarnya. Sekitar 2.000 warga kampung terpaksa mengungsi karena rumah mereka tergenang banjir hingga satu sampai lima meter.

Bencana alam sedahsyat itu belum pernah terjadi sebelumnya di daerah yang dikenal memiliki vegetasi hutan yang asri itu. Hutan cagar alam yang seharusnya berperan menjaga keseimbangan lingkungan telah kehilangan daya dukung akibat perambahan selama bertahun-tahun tanpa kontrol ketat dari pemerintah daerah.

Selain perambahan hutan, faktor perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem juga menjadi penyebab banjir bandang. Curah hujan yang sangat tinggi hingga 248,8 milimeter per hari di Pegunungan Cycloop memperparah bencana tersebut. Curah hujan sebanyak itu biasanya terjadi dalam waktu satu bulan

Alih fungsi hutan untuk perkebunan dan permukiman warga di kawasan cagar alam Cycloop diperkirakan telah berlangsung lama. Masyarakat Sentani yang tinggal dekat kaki Gunung Cycloop menjadi saksi hidup.

“Kayu-kayu besar di lereng-lereng Gunung Cycloop ditebang dan dijual ke masyarakat umum, sementara lahan yang ada diolah jadi kebun,” kata pendeta Frans Kafiar, mantan Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Daerah Misi Papua kepada Beritasatu.com, Minggu (24/3/2019).

Warga menyelamatkan barang berharga dari rumahnya yang rusak akibat banjir bandang di kawasan Danau Sentani.

Pelaku perambahan umumnya adalah masyarakat asli yang masih berperilaku nomaden yang datang dari wilayah pegunungan di Papua. Faktor desakan ekonomi dan minimnya lapangan kerja, membuat masyarakat tidak memiliki pilihan lain, kecuali bertani dan membuka kebun dengan cara merambah hutan. Mereka menanam berbagai jenis tanaman palawija, seperti singkong, keladi, ubi jalar, dan berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, sawi, dan kacang panjang.

Hasil berkebun dijual ke pasar-pasar tradisional setempat. Sebagian besar dijual ke Pasar Doyo Baru, Sentani, dan juga Pasar Lama Sentani. Harga jual bervariasi, mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per tumpuk keladi, singkong atau ubi jalar, tergantung besar kecilnya umbi tersebut.

Demikian juga sayur sawi, kacang panjang, bunga pepaya, dijual minimal Rp 5.000 per ikat kecil. Masyarakat mengangkut sendiri hasil pertanian mereka dari Gunung Cycloop. Mereka menyewa angkot atau ojek motor.

“Dari hasil kebun yang dijual ke pasar itulah yang menghidupi warga selama ini,” ujar Frans Kafiar.

Warga berada di dekat pesawat udara yang terdampak banjir bandang di Sentani.

Perladangan Berpindah
Aktivitas perladangan secara berpindah-pindah di dalam kawasan cagar alam Cycloop meluas dari tahun ke tahun, sementara kontrol pemerintah daerah sangat minim. Vegetasi alami Cycloop yang memiliki kemiringan hingga 45 derajat pun terus menurun, terutama yang mengarah ke permukiman masyarakat di wilayah Sentani. Turunnya daya dukung lingkungan yang signifikan dari tahun ke tahun menyebabkan Cycloop yang tadinya kokoh, kini rawan longsor, banjir, dan erosi.

Frans Kafiar yang juga mantan guru di Perguruan Advent, Doyo Baru, mengatakan selama berpuluh tahun masyarakat yang mendiami wilayah Sentani belum pernah ditimpa bencana banjir separah tahun ini.

“Walaupun terjadi hujan deras dari atas Pegunungan Cycloop, tetapi tidak pernah sampai terjadi banjir yang parah, sampai menelan banyak korban seperti sekarang ini,” kata Frans Kafiar.

Sebelum tahun 1990-an, kata Frans Kafiar, hutan-hutan di sekitarnya sangat dijaga dan tak ada perambahan seperti sekarang ini. Namun, sekitar 30 tahun terakhir, seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, terjadi perambahan hutan oleh masyarakat untuk membuka ladang atau perkebunan di kawasan cagar alam.

Faktor lainnya, menurut Frans Kafiar, adanya pembangunan perumahan-perumahan masyarakat dalam wilayah Kabupaten Jayapura yang dilakukan secara serampangan dan mengabaikan faktor lingkungan.

“Rumah-rumah pribadi maupun perumahan yang dibangun para pengembang, banyak yang dibangun di daerah-daerah aliran sungai sehingga merusak ekosistem yang ada. Batu-batu besar yang berfungsi sebagai penahan air, dibongkar dan dipindahkan dari tempatnya semula demi untuk membangun rumah di tempat itu,” kata Frans Kafiar.

9.400 Ha Dirambah
Data World Wild Fund for Nature (WWF) Papua menyebutkan, sekitar 9.400 hektare (ha) atau 29,86 persen kawasan cagar alam Cycloop sudah dirambah dan dijadikan perkebunan oleh masyarakat. Direktur WWF Indonesia Program Papua, Benja V Mambai kepada Beritasatu.com, Minggu (24/3/2019), menyatakan dari luas cagar alam Cycloop sekitar 31.479 ha, saat ini sekitar 2.469 ha dalam kondisi sangat kritis, 3.563 ha kritis, 244 ha agak kritis, dan potensial kritis seluas 3.193 ha.

Pegunungan Cycloop secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan surat keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 782/Menhut-II/2012. Ada 34 sungai di dalam kawasan Cycloop, tetapi yang masih mengalirkan air tinggal 14 sungai. Sebagian dari sungai-sungai itu mengalir melewati permukiman-permukiman penduduk di Kabupaten Jayapura dan bermuara di Danau Sentani.

Ketika curah hujan sangat tinggi mencapai 248,5 milimeter per hari selama beberapa hari pada Maret 2019 di Kabupaten Jayapura, sejumlah sungai meluap dan menimbulkan banjir bandang. Tingginya curah hujan tak mampu lagi terserap oleh lapisan tanah yang sudah renggang akibat kerusakan hutan. Air bercampur lumpur dengan kekuatan besar mengalir di permukaan-permukaan tanah menghanyutkan batu, kerikil, batang kayu besar, dan menyeret apa saja yang berada di bawah kaki Gunung Cycloop.

Kawasan-kawasan perumahan penduduk yang sebagian besar dibangun di daerah-daerah alisan sungai (DAS) berubah menjadi alur sungai. Tak sedikit rumah, mobil, motor dan harta berharga lainnya hanyut dibawa banjir. Ruas-ruas jalan tertutup lumpur serta gelondongan kayu yang tercabut dari akarnya di kawasan Gunung Cycloop.

Seorang warga mengevakuasi ternak miliknya akibat banjir bandang di Sentani.

Hujan Ekstrem
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho juga menyatakan faktor perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem menjadi penyebab utama banjir bandang di Sentani.

“Jadi penyebabnya memang ada dua kombinasi antara faktor alam dan faktor ulah manusia,” kata Sutopo saat menyampaikan rilis kepada wartawan di Jakarta, Minggu (17/3/2019), terkait banjir bandang di Sentani.
Hasil analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)
menunjukkan ada tiga hal yang menyebabkan banjir bandang di Sentani, yaitu curah hujan yang besar, morfologi dan bentuk DAS yang curam, serta ada indikasi kerusakan lahan dalam bentuk pembukaan lahan di beberapa tempat di daerah aliran sungai.

Kepala Bidang Diseminasi Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, Priyatna mengatakan hasil analisis satelit cuaca Himawari-8 pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 menunjukkan curah hujan yang diestimasi lebih dari 50 mm dan curah hujan ini cukup untuk menyebabkan banjir di suatu tempat. Morfologi DAS yang sangat curam menyebabkan air akan mengalir deras jika turun hujan.

"Jika wilayah ini tidak ditumbuhi hutan lebat maka aliran sungainya akan semakin deras," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/3/2019).

Pembukaan lahan di hutan juga berkontribusi pada banjir bandang yang melanda permukiman yang berada di lereng daerah aliran sungai.

Pembalakan Liar
Secara terpisah, Kepala Sub-Bidang Pelayanan Jasa BMKG V Jayapura, Suroto, mengakui aktivitas pembalakan liar di kawasan Cycloop sebagai penyebab banjir bandang. Masyarakat yang tinggal di wilayah cagar alam ini membuka kebun dengan menebang pohon.

“Kerusakan cagar alam menjadi salah satu penyebab banjir bandang ini,” kata Suroto kepada wartawan di Jayapura.

Namun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua, lebih didominasi fenomena alam. KLHK menegaskan tidak ada perambahan dan penggundulan hutan.

Sejak 2012 sampai 2017, perubahan tutupan lahan tidak signifikan, yakni hanya 495,47 ha atau sekitar 3,3 persen. Kemudian, luas tutupan lahan pertanian kering dan permukiman di dalam kawasan hutan pada daerah tangkapan air banjir mencapai 2.415 ha atau 15,8 persen dari 15.199,83 ha luas daerah tangkapan air di wilayah Sentani.

"Jika dilihat, kondisi tutupan lahan relatif stabil. Saat banjir bandang, pohon yang terbawa arus pun pohon utuh hingga ke akarnya,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung KLHK, Ida Bagus Putera Parthama kepada wartawan di Jakarta, Selasa (19/3/2019).

Ke depan, Putera berharap ada upaya mitigasi di kawasan hilir dengan mengkaji tata ruang, khususnya bangunan dan permukiman yang ada.

Senada dengannya, Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK, M Saparis Sudaryanto mengatakan tidak ada perambahan hutan karena secara adat lahan tersebut dikelola suku-suku yang mendiami wilayah tersebut. Ada lima suku besar di sana yang mengelola kebun campur.

“Kita bekerja dengan masyarakat adat. Hutan di sana masih bagus, hanya saja memiliki lereng yang tajam. Oleh karena itu, walaupun hutan tidak rusak, kalau kemiringannya tajam, curah hujan sangat ekstrem akan berdampak besar pada wilayah perkampungan,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan

Relokasi dan Ekowisata Jadi Solusi


Jeis Montesori / AB
Rabu, 27 Maret 2019 | 12:18 WIB

Sentani, Beritasatu.com - Dalam jumpa pers di Sentani, Senin (18/3/2019), Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengakui adanya kerusakan hutan yang cukup parah di Pegunungan Cycloop. Pihaknya sudah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tak merambah dan membuka permukiman di Pegunungan Cycloop karena masuk wilayah cagar alam.

Pemkab Jayapura, katanya, juga membuat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Dalam perda tersebut diatur tentang zona-zona yang berfungsi sebagai penyangga aktivitas kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat, pengatur tata air, daerah tangkapan air, sumber plasma nutfah dan habitat dari beraneka ragam flora dan fauna, pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian, serta keindahan alam.

Seorang warga menerobos banjir yang melanda permukiman mereka di dekat Danau Sentani.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengatakan, perda tersebut sudah disosialiasikan dengan baik kepada masyarakat sehingga dapat diketahui dan dipatuhi.

“Tetapi imbauan pemda tidak diindahkan warga. Rusaknya cagar alam Cycloop memperparah bencana banjir di Sentani,” kata Mathius Awoitauw.

Menurut Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, masyarakat yang merambah di cagar alam Cycloop sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Jayapura, yaitu di daerah-daerah pedalaman di Papua, seperti Kabupaten Wamena dan sekitarnya.

Relokasi Warga
Pascabencana, Pemprov Papua berencana merelokasi warga yang tinggal di kawasan cagar alam Cycloop sebagai upaya antisipasi agar ke depan tidak lagi terjadi bencana banjir yang parah dan menelan korban besar seperti tahun ini.

Gubernur Papua, Lukas Enembe saat mengunjungi lokasi banjir di Sentani mengatakan warga yang tinggal dan bermukim di kawasan cagar alam Cycloop akan dipindahkan ke Kota Jayapura dan Kabupaten Wamena. Namun, data riil mengenai jumlah warga yang sudah merambah dan mendiami kawasan cagar alam Cycloop, sejauh ini belum ada.

Pemprov Papua juga belum menentukan kawasan tertentu di Kota Jayapura dan Wamena yang akan menjadi lokasi hunian baru warga yang ada di kawasan Cycloop. Lukas Enembe hanya mengatakan bahwa rencana relokasi itu sudah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. “Rencana ini sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo dan direspons positif, hanya saja mengenai lokasi pastinya belum ditetapkan,” kata Lukas Enembe.

Di lokasi yang baru, selain mendirikan perumahan, Pemprov Papua juga akan membangun fasilitas pelayanan publik, seperti sekolah dan rumah sakit.

“Rencana relokasi harus disosialisasikan lebih dahulu. Warga mau tidak mau harus direlokasi. Kami akan siapkan permukiman dan fasilitas lainnya bagi warga," ujarnya.

Warga terpaksa tinggal di tenda darurat di perbukitan guna menghindari banjir bandang susulan.

Sumber Penghidupan

Direktur Walhi Papua, Aiesh Rumbekwan mengatakan perubahan iklim yang terjadi secara global menimbulkan curah hujan tinggi dan banjir bandang tak terelakkan. Selain curah hujan, masyarakat yang merambah hutan di lereng-lereng Gunung Cycloop juga ikut menjadi penyebab bencana.

Perambahan hutan oleh masyarakat terjadi karena mereka tidak memiliki alternatif sumber penghidupan. “Ini menjadi satu rangkaian tanggung jawab pemerintah untuk memastikan ruang-ruang wilayah kelola yang bisa memberikan sumber penghidupan bagi masyarakat,” kata Aiesh Rumbekwan kepada Beritasatu.com, Minggu (24/3/2019).

Menurut Aiesh Rumbekwan, kepentingan konservasi alam hendaknya tidak mengabaikan faktor kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus dapat memberikan solusi sumber ekonomi alternative kepada warganya. Pemerintah harus bisa memberikan alternatif mata pencarian atau mendidik masyarakat untuk mendapatkan keterampilan kerja yang baru, sehingga tidak lagi bergantung pada hutan di sekitarnya.

“Relokasi harus dilakukan secara manusiawi, jangan sampai kebijakan tersebut justru membuat rakyat semakin menderita di atas tanahnya sendiri,” kata Aiesh Rumbekwan.

Aiesh Rumbekwan juga melihat lemahnya koordinasi antarinstansi terkait di lingkup Pemerintah Kabupaten Jayapura maupun Provinsi Papua. Setiap terjadi masalah, selalu saja tidak bisa ditangani dengan baik karena koordinasi yang lemah.

Sistem mitigasi bencana di daerah ini juga belum disiapkan dengan baik, sehingga ketika terjadi bencana, seperti banjir bandang di Sentani, jumlah korban tidak dapat diminimalisasi.

“Tahun 2007 pernah terjadi banjir yang cukup besar di wilayah ini, sehingga pemerintah seharusnya sudah melakukan langkah-langkah mitigasi yang cukup baik untuk mengurangi risiko bencana,” kata Aiesh Rumbekwan.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kota Jayapura, dan Pemerintah Kabupaten Jayapura, diminta segera menyinkronkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pascabanjir bandang Sentani.

“Pastikan lagi RTRW sesuai kondisi terkini, karena bencana banjir masih terus mengintai dan setiap saat bisa berpindah-pindah tempat, tergantung situasi masing-masing daerah, termasuk faktor aktivitas perambahan hutan,” kata
Aiesh Rumbekwan.

Pelajaran Berharga
Direktur WWF Indonesia Program Papua, Benja V Mambai mengatakan bencana banjir bandang di Sentani harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak jika ingin melihat masa depan lingkungan Papua tetap terus terjaga dengan baik. Setiap kegiatan yang tidak sesuai dengan tata ruang, khususnya di kawasan cagar alam, tidak boleh dibiarkan. Pemerintah daerah harus bertindak tegas untuk menghentikannya. “Harus ada penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada setiap pelaku yang melanggar aturan,” kata Benja V Mambai.

Untuk memulihkan kondisi Cycloop, kata Benja, ada dua instansi pemerintah yang paling berperan penting, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai unit pelaksana teknis (UPT) di daerah dan pemerintah daerah melalui Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda).

Kawasan Cycloop sebagai cagar alam berkaitan erat dengan kawasan di luar sebagai kawasan penyangga. Karena secara administrasi, Pegunungan Cycloop berada di dua wilayah, yaitu Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, maka kewenangan pengendalian berada pada Bappeda Provinsi Papua. Bappeda Papua harus mengambil tanggung jawab dan secara bersama-sama memulai perencanaan partisipastif untuk memulihkan kondisi lingkungan. Perguruan tinggi, LSM, tokoh-tokoh masyarakat, pemuda, dan kaum perempuan, harus dilibatkan.

Benja V Mambai melihat ada sejumlah potensi ekonomi yang dapat dikembangkan bagi masyarakat lokal, sehingga mereka tidak perlu merambah hutan. Di Cycloop terdapat air terjun yang sangat indah meluncur dari atas ketinggian gunung dan bisa dikembangkan sebagai objek pariwisata bagi masyarakat domestik maupun mancanegara. Satwa langka, serta hewan dan vegetasi hutan endemik, juga bisa dijadikan objek wisata.

“Cycloop bisa dikembangkan sebagai daerah ekowisata terlangka di dunia karena kelebihan-kelebihannya yang unik dalam kawasan daratan Papua yang luas dan masih asli,” kata Benja V Mambai.



Sumber: Suara Pembaruan

“Kembalikan Sentani yang Asri”


Jeis Montesori / AB
Selasa, 26 Maret 2019 | 18:27 WIB

Sentani, Beritasatu.com - Dengan air mata berlinang, Carolina Henny Kaway memandang sekeliling tempat tinggalnya di Doyo Baru, Sentani.

“Oh, sungguh benar-benar menyedihkan,” katanya.

Kampung yang dahulu sejuk, asri, dan nyaman, kini telah berubah menjadi tanah gersang, berlumpur, dan berdebu. Tak terlihat lagi pepohonan dan rerumputan hijau yang tumbuh subur di sepanjang perkampungan dan pinggiran-pinggiran sungai.

Di sana-sini yang tampak onggokan batu-batu besar, batang-batang kayu, dan lumpur yang hanyut dibawa banjir dan menutupi rumah-rumah warga serta ruas jalan raya.

Pada, Selasa (26/3/2019), warga terlihat masih berusaha membersihkan lumpur di atas puing-puing rumah mereka yang hancur dihantam banjir bandang. Mereka mencoba mencari sisa-sisa harta benda yang mungkin masih bisa digunakan untuk bertahan hidup.

“Oh di mana kiranya kampungku yang dahulu itu? Apakah masih bisa ditemukan dan dipulihkan kembali seperti dahulu lagi?” tanya Carolina Henny Kaway penuh kesedihan.

Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba sekitar pukul 21.00 Wita, Sabtu (16/3/2019) malam lalu, telah meluluhlantakkan sebagian besar permukiman warga di Doyo Baru. Kampung yang masuk dalam wilayah Distrik Waibu ini berada di kaki Gunung Cycloop. Kampung ini termasuk yang terparah dilanda banjir. Rumah-rumah warga rusak diterjang banjir bercampur lumpur.

Lapangan terbang untuk pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) di Doyo Baru, tergenang banjir cukup tinggi. Pesawat terbang misi yang sedang parkir di lapangan terbang tersebut ikut terseret arus banjir hingga ke jalan raya dan rusak parah.

Brent Kafiar, warga Sentani lainnya mengatakan, bencana tersebut telah menghilangkan kondisi asli Sentani-Doyo yang eksotis di bawah kaki Cycloop.

"Duhulu, kami suka bermain-main di sepanjang pinggiran sungai sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Kami mendengar kicauan burung-burung yang terbang bebas di angkasa luas, tetapi bencana banjir telah meluluhlantakkan semua itu,” kata Brent.

Ulah Manusia
Dikutip dari BBC.com, kepala suku yang juga tetua di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Amos Ondi, menyebutkan kerusakan hutan di Pegunungan Cycloop atau disebut Dobonsolo oleh warga Sentani, sudah dimulai sejak 1980-an. Kerusakan hutan terjadi sejak apa yang mereka sebut “kedatangan perambah hutan”.

“Akhirnya ada yang ikut-ikut melakukan penebangan. Tanpa izin. Kita di sini itu orang adat tahu diri. Kepala suku bilang wilayah ini boleh, wilayah ini jangan. Alam kita juga berubah. Kalau sejak dahulu orangtua kita meminta kita tidak boleh tebang-tebang, jaga dia. Kali itu juga sumber kehidupan, tetapi saudara dari gunung datang, mereka punya budaya lain dengan orang Jayapura asli," ujar pria yang berusia 77 tahun ini.

Musibah ini, lanjut Amos, bukan karena alam, melainkan karena ulah manusia. "Musibah ini kita sendiri yang undang datang. Ini akibatnya,” kata Amos Ondi.

Amos Ondi menuturkan Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pasalnya, beberapa aliran sungai dari Pegunungan Cycloop bermuara di Danau Sentani. Kerusakan yang terjadi di hulu, tentu berdampak ke hilir.

“Kalau gunung selamat, danau pasti selamat. Kalau gunung rusak, danau juga rusak,” kata Amos Ondi. 

 



Sumber: Suara Pembaruan