Biden Menang, Trump Meradang
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

Home > Fokus > Biden Menang, Trump Meradang

Biden Menang, Trump Meradang

Senin, 9 November 2020 | 08:12 WIB
Oleh : Natasa Christy Wahyuni, Aditya L Djono / Anselmus Bata

Jakarta, Beritasatu.com - Kemenangan Joe Biden dalam Pilpres Amerika Serikat (AS) membuat Donald Trump meradang. Sampai saat ini, Trump belum memberi ucapan selamat kepada Joe Biden sebagaimana tradisi di AS, bahkan tengah menyiapkan gugatan atas hasil pilpres. 

Kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat dalam Pilpres AS tak tergoyahkan. Sampai saat ini, Joe Biden telah mengumpulkan setidaknya 279 suara elektoral, sedangkan Donald Trump baru mengantongi 214 suara elektoral. Perolehan suara Joe Biden sudah cukup--minimal 270 suara elektoral--untuk mengantarkannya ke Gedung Putih, meski 45 suara elektoral tersisa dari empat negara bagian akhirnya menjadi milik Trump.

Direktur ilmu pemerintahan di Bipartisan Policy Center, Washington, John Fortier, Sabtu (7/11) waktu setempat menyatakan upaya Donald Trump memenangi pilpres melalui gugatan hukum tampaknya kecil kemungkinan berhasil. Pasalnya, tidak ada instrumen federal yang bisa digunakan Trump dengan memanfaatkan kewenangan eksekutif federalnya.

“Jadi tidak ada aturan secara federal yang bisa digunakan untuk mengontrol pemilihan. Tidak seperti banyak negara lainnya, AS juga tidak memiliki lembaga di tingkat federal yang terlibat. Pemilihan diselenggarakan di level negara bagian yang masing-masing memiliki aturan main sendiri,” jelasnya.

Kesulitan lain, lanjut Fortier, gugatan penghitungan suara ulang harus dibiayai oleh calon yang menggugat. Berdasarkan aturan Federal Election Commission (FEC), kandidat tidak bisa mengumpulkan dana sembarangan. Korporasi, organisasi buruh, bank-bank nasional, maupun perusahaan multinasional dilarang memberi sumbangan dana untuk gugatan ini.

“Persoalannya aturan penghitungan ulang bisa berbeda antara negara bagian yang satu dengan lainnya, meskipun umumnya jika selisih suara tipis, penghitungan suara dibiayai negara bagian, tetapi pada kenyataannya dibiayai oleh kandidat,” jelas Fortier.

Mempersatukan
Joe Biden, Sabtu (7/11), mengumumkan kemenangannya sebagai presiden AS ke-46. Dalam pidato pertamanya, Biden mengatakan saatnya untuk melakukan pemulihan sambil mendorong persatuan, bukan perpecahan, di tengah kondisi negara yang terbelah sangat dalam selama empat tahun terakhir.

“Rakyat telah berbicara. Mereka memberikan kami kemenangan yang meyakinkan,” kata Biden dari kota asalnya, Wilmington, Delaware.

Lebih lanjut, Biden menyatakan,”Saya berjanji menjadi presiden yang bukan memecah belah, tetapi mempersatukan.”
Pada kesempatan itu, Biden juga menyinggung kekecewaan para pendukung Trump. “Mereka bukan musuh kita. Mereka warga Amerika,” katanya.

Biden juga mendorong pendukungnya untuk mengakhiri era demonization, sebuah istilah yang menunjukkan suatu hal yang jelek atau jahat, serta ekspresi ketidaksetujuan yang kuat. Dia meminta warga Amerika saling memberikan kesempatan dengan menyingkirkan retorika kasar, meredakan ketegangan, dan saling melihat, serta mendengar satu sama lain. “Ini saatnya untuk pemulihan di Amerika,” katanya.

Sementara itu, Donald Trump menolak untuk mengakui kekalahannya. Dia juga belum berbicara di depan publik, melainkan memilih bermain golf di Klub Golf Nasional Virgina saat media utama mengumumkan kekalahannya.

“Saya memenangi pemilu. Hal-hal buruk terjadi,” katanya dalam pesan di Twitter dari Gedung Putih setelah selesai bermain golf.

Dalam pernyataan sebelum bermain golf, Trump menuding Biden dan media, yang selalu disebutnya sebagai “musuh rakyat” yang telah menciptakan hasil pemilu.

“Kita semua tahu mengapa Joe Biden terburu-buru untuk berpura-pura sebagai pemenang, dan mengapa sekutu medianya berusaha begitu keras untuk membantunya. Mereka tidak ingin kebenaran diungkap,” kata Trump yang pertama kalinya keluar dari Gedung Putih sejak pemungutan suara Selasa (3/11).

“Fakta sederhana, pemilu ini masih jauh dari selesai,” lanjutnya.

Atas hasil tersebut, tim kampanye Trump mengajukan gugatan di sejumlah negara bagian penentu kemenangan Biden dengan selisih suara tipis, seperti di Nevada, Pennsylvania, dan Georgia. Partai Republik tengah berupaya menggalang dana sedikitnya 60 juta dolar AS (sekitar Rp 852,9 miliar) untuk membiayai gugatan tersebut.

Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Joe Biden dan Kamala Harris akan menghadapi tantangan luar negeri, terutama pemulihan hubungan dengan Tiongkok. Selain itu, ada permasalahan terkait Laut China Selatan (LCS), Hong Kong, dan juga Taiwan.
Dalam hubungan dengan Iran, Biden telah berjanji untuk membalik apa yang disebutnya “kegagalan berbahaya” dari Trump yang melepas perjanjian nuklir 2015 dan menggantinya dengan pengetatan sanksi, sehingga menyebabkan kerusakan parah ekonomi Iran dan membuat AS terisolasi dari dunia.

Biden juga memberi angin segar terkait larangan perjalanan pemerintahan Trump kepada pelancong dari 13 negara yang sebagian besar mayoritas Muslim atau Afrika. Larangan itu dikeluarkan Trump tak lama setelah menjabat presiden pada 2017 berupa perintah eksekutif untuk melarang pelancong dari tujuh negara mayoritas Muslim masuk ke AS. “Pada hari pertama, saya akan mengakhiri larangan Muslim Trump yang inkonstitusional,” ujar Biden.



Hampir Mustahil Gugatan Trump Bisa Gagalkan Kemenangan Biden

Senin, 9 November 2020 | 07:53 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Anselmus Bata

Jakarta, Beritasatu.com - Pada Senin (9/11/2020) waktu setempat, seperti janji Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berbagai gugatan akan dilancarkan untuk membeberkan tuduhan kecurangan dalam pemilihan presiden (pilpres), yang menurut proyeksi media berdasarkan hasil penghitungan suara di berbagai negara bagian telah memberikan kemenangan untuk Joe Biden.

Trump mengatakan “pemilihan masih jauh dari selesai” dan dia benar ketika menegaskan bahwa hasil yang muncul sekarang baru didasarkan pada proyeksi media, serta lembaga pemilihan belum membuat keputusan.

Namun, proyeksi media itu didasarkan pada analisis ilmiah tentang jumlah suara masuk, margin perolehan suara, dan jumlah suara tersisa per negara bagian. Pada titik tertentu keunggulan satu kandidat tidak akan bisa dikejar lagi dan saat itulah hasilnya disimpulkan. Setelah itu diakumulasi seluruh negara bagian dan jika ada kandidat yang memperoleh minimal 270 suara elektoral akan disimpulkan dan diberitakan sebagai pemenang pilpres.

Jika margin keunggulan sangat jauh, tetapi jumlah suara yang sudah dihitung baru 60%, maka terlalu dini untuk disimpulkan atau too early to call. Sebaliknya, meskipun 99% suara sudah dihitung, tetapi margin keunggulan di bawah 1%, maka terlalu ketat untuk disimpulkan atau too close to call. Praktik ini sudah berlangsung selama puluhan tahun dalam sejarah modern politik Amerika dan tidak pernah keliru.

Kandidat dan seluruh rakyat Amerika selalu menunggu kesimpulan dari media karena tidak ada lembaga pemilihan nasional yang bertugas mengumumkan dan menyimpulkan hasil pemilihan. Selain itu, setiap negara bagian sibuk dengan pemilihan di tempat mereka sendiri dan tidak ada yang melakukan akumulasi hasil dari tiap negara bagian, kecuali media dan lembaga riset.

Bagaimana kalau hasilnya salah? Itu hampir tidak mungkin karena setiap penghitungan suara dicantumkan terbuka di situs resmi negara bagian yang bisa diakses semua orang, sehingga pengawasan dan koreksi mudah dilakukan.

Jika menunggu hasil resmi, artinya baru muncul pada pekan pertama Januari tahun depan. Para elector di setiap negara bagian baru akan berkumpul pekan kedua Desember untuk memutuskan hasilnya, lalu mengirimnya ke Senat. Pada awal Januari, Senat akan bersidang mengumpulkan suara elektoral dari seluruh seluruh negara bagian dan mengumumkan pemenangnya. Tidak ada yang bersedia menunggu selama itu, kecuali Trump pada 2020. Namun pada 2016, Trump langsung merayakan kemenangan setelah pengumuman media tanpa menunggu hasil resmi.

Trump mungkin kandidat pertama di pihak yang kalah yang menolak memberi selamat setelah pengumuman media. Hillary Clinton menelepon dia untuk memberi selamat pada malam seusai pemilihan 2016, setelah hasilnya dirilis media. Bahkan Al Gore--yang menggugat perolehan suara George W Bush pada 2000--juga sempat memberi selamat kepada lawannya sebelum kemudian menyadari hasil di Florida sangat ketat dan bisa membalikkan hasil nasional kalau dia menang gugatan.

Hitung Ulang
Tim kampanye Trump membidik negara bagian tertentu di mana hasilnya sangat ketat, seperti Wisconsin, Pennsylvania, Georgia, Michigan, Nevada, dan Arizona. Paket gugatan itu salah satunya berisi tuntutan penghitungan suara ulang. Trump beruntung di Georgia, karena tanpa diminta pun pemerintah negara bagian memutuskan melakukan hitung ulang. Alasannya, hasil yang terlalu ketat, bukan karena dugaan kecurangan seperti klaim Trump.

Trump juga menuntut hitung ulang di Wisconsin. Di sini, dia tertinggal sekitar 20.000 suara dari kandidat Partai Demokrat tersebut. Hukum di Wisconsin membolehkan kandidat mengajukan permohonan hitung ulang jika selisih suara dalam rentang 1%. Biden sudah dinyatakan menang di Wisconsin dengan margin 0,6%.

Tuntutan hitung ulang Michigan mungkin sulit terwujud karena Biden unggul sekitar 150.000 suara. Syarat hitung ulang di sana adalah jika selisih maksimal 2.000 suara. Namun, seorang kandidat boleh mengajukan permintaan hitung ulang jika punya bukti kecurangan atau kesalahan sistem.

Para pengacara Trump pasti menyadari hasilnya tidak akan berdampak, tetapi mereka harus bekerja agar dibayar.

Berdasarkan sejarah, selama 50 tahun terakhir jarang ada hitung ulang yang mengubah perolehan suara kubu pemenang. Pada 2016, Wisconsin melakukan hitung ulang setelah Trump mengalahkan Hillary Clinton dengan lebih dari 20.000 suara. Hasil hitung ulang cuma beda 131 suara saja.

Dalam sejarah hitung ulang di Pennsylvania, Georgia, Michigan, North Carolina, Nevada, dan Arizona selama 20 tahun terakhir, tidak ada yang akhirnya mengubah pemenangnya.

Pada pilpres 2000, Bush menang atas Al Gore di Florida dengan selisih kurang dari 2.000 suara. Mahkamah Agung akhirnya tetap memutuskan Bush sebagai pemenang di Florida dengan selisih 537 suara dan memastikan tambahan 29 suara elektoral dari sana sekaligus kursi presiden.

Tanpa Dasar
Hanya tim hukum Trump yang tahu perincian isi gugatan, tetapi Trump di akun Twitter mengungkap banyak tuduhan dari pihaknya. Misalnya, dia mengatakan ada puluhan ribu suara tidak sah karena baru diterima setelah pukul 20.00 waktu setempat pada 3 November atau hari pemungutan suara di sejumlah negara bagian yang menjadi penentu, termasuk Pennsylvania. Jangankan pengadilan, bahkan Twitter langsung menandainya sebagai cuitan dengan kategori berpotensi menyesatkan.

Di Amerika, kertas suara yang dikirim via pos tetap dianggap sah walaupun masuk setelah hari pemilihan, asalkan cap pos yang tertera menunjukkan tanggal paling lambat 3 November. Memang tenggat waktu bisa berbeda di tiap negara bagian, misalnya di Pennsylvania harus masuk paling lambat 6 November, di Nevada 10 November. Namun intinya, di 22 negara bagian memang dibenarkan surat suara masuk antara 3 November sampai tenggat waktu yang ditetapkan masing-masing.

Kubu Partai Republik meminta fatwa Mahkamah Agung agar surat suara masuk setelah pukul 20.00 waktu setempat pada Selasa (3/11/2020) sampai pukul 17.00 waktu setempat pada Jumat (6/11/2020) tidak dimasukkan dalam perolehan suara di Pennsylvania yang menjadi penentu akhir kemenangan Biden.

Sekretaris negara bagian Pennsylvania, Kathy Boockvar, mengatakan kepada CNN bahwa hanya sejumlah kecil surat suara yang datang pada periode itu, terlalu kecil untuk bisa membalikkan hasil di sana.

Bahkan jika undng-undang dikesampingkan dan tuntutan kubu Trump ini dipenuhi, hasil akhir di Pennsylvania juga tidak berubah. Sebelumnya Trump menuntut dihentikannya penghitungan suara, yang bahkan para pendukungnya sendiri menilai terlalu berlebihan untuk negara sedemokratis Amerika.

Trump, seperti digambarkan Wali Kota Philadelphia Jim Kenney, membuat rumit sistem demokrasi yang menjadi fondasi Amerika sejak didirikan. Philadelphia adalah kota terbesar di Pennsylvania yang terus menjadi sasaran tembak oleh Trump.

"Ketika sebagian orang termasuk presiden terus menyemburkan tuduhan tak berdasar tentang terjadinya kecurangan, apa yang kami lihat di sini di Philadelphia semata hanyalah demokrasi yang berjalan apa adanya dan simple saja," kata Kenney.
"Menurut saya, yang perlu dilakukan presiden sekarang adalah bersikap dewasa. Dia harusnya mengakui telah kalah dan mengucapkan selamat kepada pemenang," imbuhnya.



Biden: Saya Presiden yang Mempersatukan

Minggu, 8 November 2020 | 10:30 WIB
Oleh : Aditya L Djono / Aditya L Djono

Delaware, Beritasatu.com – Presiden terpilih AS Joe Biden bersama wakil presiden terpilih Kamala Harris menyampaikan pidato pertama kemenangan mereka dalam Pilpres Amerika di Wilmington, Delaware, Sabtu (7/11/2020) sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Di hadapan pendukungnya, Biden menegaskan, dirinya adalah presiden yang akan mempersatukan seluruh warga AS

“Saya berjanji menjadi presiden yang tidak akan menciptakan perpecahan, tetapi yang mempersatukan. Siapa pun tidak akan melihat negara bagian berwarna merah atau biru, tetapi hanya melihat Amerika Serikat,” tegasnya. Warna merah dan biru yang dinyatakan Biden tersebut merujuk pada merah sebagai warna Partai Republik dan biru sebagai warna Demokrat.

Biden memenangi pilpres setelah merebut batas minimal suara elektoral 270, dari total 538 suara elektoral. Berdasarkan hasil penghitungan sementara, sebagaimana dikutip dari Fox News, Biden meraup 290 suara elektoral, sedangkan capres petahana Donald Trump memperoleh 214 suara elektoral.

Mantan wapres selama masa kepresidenan Barack Obama 2009-2017 itu mengklaim hasil sementara penghitungan suara sebagai “kemenangan yang jelas”. “Rakyat di negeri ini telah menyampaikan suaranya. Mereka mengirim pesan kepada kita kemenangan yang jelas. Kemenangan yang meyakinkan. Kemenangan bagi seluruh rakyat,” katanya.

Kepada pendukung Donald Trump, Biden menyampaikan dirinya menyadari ada kekecewaan. “Tetapi, saatnya kita memberi kesempatan satu sama lain. Kini saatnya membuang retorika yang saling menyerang, kita diinginkan suhu. Untuk mencapai kemajuan, kita harus berhenti menjadikan mereka yang tidak sependapat sebagai musuh kita. Mereka bukanlah musuh, mereka adalah sesama rakyat Amerika,” serunya.

Biden juga meminta partai-partai untuk mulai bekerja sama. “Jika kita bisa memilih untuk tidak bekerja sama, tentu kita bisa memutuskan untuk bekerja sama. Kerja sama adalah mandat dari pemiliha ini. Rakyat menghendaki kita untuk saling bekerja sama demi kepentingan mereka, dan pilihan inilah yang akan saya wujudkan,” tegasnya.

Penanganan Covid-19
Dia kembali menegaskan prioritasnya untuk menangani krisis akibat pandemi Covid-19. “Pekerjaan akan kita awali dengan mengendalikan Covid,” tegasnya.

Untuk itu, dia mengungkapkan akan membentuk sebuah panel yang terdiri dari para ahli terkait penanganan pandemi, di dalam tim transisi. “Semua hal yang akan terjadi sangat bergantung pada bagaimana kita membuat pandemi ini di bawah kendali kita,” jelasnya.



Lima Faktor Penentu Kemenangan Biden

Minggu, 8 November 2020 | 09:55 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com - Setelah 50 tahun memegang jabatan publik dan memendam ambisi menjadi presiden, Joe Biden akhirnya memenangkan jalan ke Gedung Putih.

Pemilihan presiden kali ini tidak seperti yang diperkirakan banyak orang, karena berlangsung di tengah pandemik dan ketegangan sosial. Lawan dia adalah petahana yang non-konvensional, orang yang selalu menentang anggapan umum. Namun, dalam upaya ketiganya menuju kursi presiden (setelah dua kali gagal di konvensi Partai Demokrat), Biden dan timnya menemukan cara untuk menyingkirkan hambatan politik dan merebut kemenangan dengan selisih di atas 4 juta suara atas Donald Trump.

Seoerti diulas BBC, ada lima alasan kenapa putra seorang salesman mobil asal Delaware ini akhirnya memenangkan jabatan presiden.

1. Covid, Covid, Covid
Mungkin alasan terbesar Biden menang adalah hal yang sepenuhnya di luar kendali dia.

Pandemik virus corona selain menewaskan lebih dari 230.000 warga Amerika juga telah mentransformasi kehidupan dan politik di negara itu. Di hari-hari terakhir kampanye, Trump sendiri tampaknya mengakui hal tersebut.

"Semua berita bohong ini isinya hanya Covid, Covid, Covid, Covid," kata presiden dalam kampanye pekan lalu di Wisconsin, di mana kasus positif melonjak pesat beberapa hari terakhir.

Wabah Covid ini merontokkan kinerja ekonomi dan mengikis senjata ampuh yang menjadi topik andalan Trump dalam kampanye yaitu pertumbuhan dan kesejahteraan. Gara-gara Covid tingkat popularitas Trump anjlok sampai 38% menurut survei Gallup, dan kemudian dieksploitasi oleh tim Biden.

2. Kampanye Terbatas
Sepanjang karir politiknya, Biden sering mendapat masalah karena cara bicaranya. Gagap yang dia alami sejak kecil membuatnya gagal dalam upaya pertama menuju kursi presiden pada 1987, dan juga dalam upaya kedua 2007.

Dalam percobaannya yang ketiga kali ini, kendala bicara itu masih ada tetapi jarang terekspos sehingga tidak menjadi masalah besar.

Penyebabnya adalah dia bukan orang yang banyak dicari sebagai sumber berita. Di samping itu, ada berita yang lebih besar -- pandemik Covid, kerusuhan pasca-pembunuhan George Floyd, dan masalah ekonomi -- yang menyita perhatian nasional.

Tim kampanye dia layak dipuji karena menerapkan strategi untuk membatasi penampilan Biden dan meminimalkan risiko kelelahan atau kecerobohan yang bisa menimbulkan masalah.

Mungkin dalam kondisi normal, ketika warga Amerika tidak terlalu khawatir tertular virus, strategi ini bisa menjadi bumerang. Dan mungkin ledekan Trump tentang “menyembunyikan Biden” akan berhasil.

Tim Biden tetap membatasi geraknya dan membiarkan Trump menjadi pihak yang termakan omongannya sendiri. Pada akhirnya, strategi ini membawa hasil.

3. Asal Jangan Trump
Sepekan sebelum hari pemungutan suara, tim Biden meluncurkan iklan televisi dengan pesan bahwa pemilihan kali ini adalah “pertempuran membela jiwa Amerika” dan kesempatan untuk mengakhiri pertikaian saudara dan kekacauan dalam empat tahun terakhir.

Di balik slogan itu ada kalkulasi simpel. Biden mengandalkan peruntungannya pada anggapan bahwa Trump terlalu sering memecah belah dan terlalu nyinyir, sementara apa yang diinginkan rakyat Amerika adalah pemimpin yang lebih tenang dan stabil.

"Saya sudah sangat jenuh dengan sikap Trump sebagai pribadi," kata Thierry Adams, warga keturunan Prancis yang telah tinggal di Florida selama 18 tahun dan untuk pertama kali memberikan suara di pemilihan presiden.

Partai Demokrat berhasil menjadikan pemilihan ini sebagai hari penghakiman untuk Trump, bukan pilihan antara dua kandidat yang ada.

Pesan yang disampaikan Biden sederhana saja, bahwa “dia bukan Trump". Yang sering diulang-ulang oleh Demokrat adalah frasa bahwa kalau Biden menang, warga Amerika bisa melewatkan waktu berpekan-pekan tanpa sekali pun memikirkan politik. Ini memang dimaksudkan sebagai candaan, tetapi di dalamnya tersimpan kebenaran yang dicari masyarakat awam.

4. Tetap di Tengah
Dalam perjuangan memenangkan pencalonan di Partai Demokrat, lawan Biden berasal dari kelompok kiri liberal, seperti Bernie Sanders dan Elizabeth Warren yang punya modal kuat untuk menggelar kampanye dengan massa sebanyak penonton konser musik rock.

Biden tetap memilih jalan tengah, menolak ajakan kelompok kiri untuk mendukung jaminan kesehatan universal yang dijalankan pemerintah, menggratiskan uang kuliah, dan pajak kekayaan. Ini membuat dia bisa menarik kelompok moderat dan sebagian kalangan Partai Republik.

Strategi ini tercermin dari keputusan Biden untuk memilih Kamala Harris sebagai cawapres ketika sebetulnya dia punya opsi lain untuk orang yang lebih didukung kelompok kiri.

Hanya soal lingkungan dan perubahan iklim Biden bisa lebih dekat dengan Sanders dan Warren, dan itu menjaring pemilih muda yang lebih memiliki perhatian pada isu-isu tersebut.

5. Banyak Uang, Sedikit Masalah
Awal tahun ini, kas tim kampanye Biden kosong. Dia masuk kampanye tertinggal dari Trump, yang telah meraup dana mendekati US$ 1 miliar.

Namun mulai April, tim Biden berubah menjadi magnet donasi yang luar biasa dan akhirnya memiliki posisi finansial yang lebih kuat dari lawannya. Pada awal Oktober, nilai uang di tangan yang dimiliki tim Biden US$ 144 juta lebih banyak dari dana tim kampanye Trump, sehingga mampu mengubur lawannya dalam iklan kampanye di televisi nyaris di semua negara bagian yang diperebutkan.

Tentu saja uang bukan segalanya. Pada 2016, tim Hillary Clinton juga punya dana lebih banyak tetapi kalah.

Namun pada 2020, ketika kampanye tatap muka dibatasi karena pandemik dan warga Amerika melewatkan lebih banyak waktu menyimak berita di rumah, keunggulan dana Biden membuatnya mampu menjangkau lebih banyak audiens dan terus membanjiri mereka dengan pesan sampai hari terakhir.

Kondisi itu membuatnya mampu memperluas peta kampanye hingga ke negara bagian yang dikuasai Partai Republik seperti Texas, Georgia, Ohio dan Iowa. Sebagian besar tidak membawa hasil tetapi mampu menekan Trump di posisi bertahan. Selain itu, dia mampu unggul di Arizona dan Georgia yang dulu milik Trump.

Setidaknya, uang memberi lebih banyak opsi kampanye dan inisiatif -- Biden bisa memanfaatkan itu sebaik mungkin.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS