Logo BeritaSatu
Home > Fokus > BRICS, Kecil Jumlahnya Dahsyat Pengaruhnya

BRICS, Kecil Jumlahnya Dahsyat Pengaruhnya

Kamis, 23 Juni 2022 | 14:07 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Jakarta, Beritasatu.com – Kelompok ini hanya terdiri dari lima negara, tetapi di dalamnya termasuk dua negara paling padat penduduknya, satu negara produsen minyak nomor dua di dunia, satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, dan mereka tersebar di empat benua.

BRICS merupakan organisasi kerja sama multilateral yang namanya merupakan akronim negara-negara anggota dalam Bahasa Inggris, yaitu Brazil, Russia, India, China dan South Africa.

“Populasi negara-negara BRICS mencakup 41% populasi global, PDB mereka setara dengan 24% total PDB dunia, dan nilai perdagangan negara-negara tersebut mencakup 18% nilai total perdagangan dunia,” kata pendiri Lippo Group Mochtar Riady dalam sebuah seminar di Beijing, Rabu (22/6/2022).

“Negara-negara BRICS sendiri adalah masyarakat ekonomi yang besar dan lima negara itu memiliki keunggulan masing-masing. Tiongkok diberkati dengan mata rantai pasokan yang paling komprehensif [di dunia], India punya mata rantai rantai industri padat karya, Rusia sangat kuat di bidang militer dan manufaktur, sementara Brasil dan Afrika Selatan kaya dengan sumber daya mineral dan pertanian,” ulas Mochtar yang berbicara secara daring lewat video.

Pengusaha yang sudah berusia 93 tahun itu mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu panelis di Forum Bisnis BRICS di Beijing yang dibuka langsung oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dan dihadiri secara virtual oleh empat kepala negara anggota yaitu Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Forum bisnis digelar sebagai bagian dari rangkaian KTT ke-14 BRICS yang diketuai oleh Tiongkok, yang sejak awal menekankan bahwa kehadiran BRICS bertujuan untuk membantu emerging markets membiayai pembangunan di dalam negeri dan mendapat bagian kue ekonomi global yang lebih besar.

Di sinilah BRICS punya kekuatan yang sangat besar untuk menentukan arah perekonomian dunia dan membantu pemulihan global karena fokus pada kelompok negara berkembang tanpa imbal balik politik seperti paket bantuan yang diberikan negara-negara maju.

Bahkan, kalau perlu BRICS menciptakan rezim nilai tukar dan cadangan devisa sendiri yang tidak bergantung pada dolar Amerika.

Keunggulan kelompok ini juga terletak pada visi ke depan mereka untuk membantu negara berkembang dalam pembangunan ekonomi digital, bukan melulu infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan. Mereka ingin negara-negara anggota dan negara-negara berkembang lain bisa menikmati kue pertumbuhan ekonomi yang mulai digerakkan oleh ekonomi digital.

“Kita harus membantu negara-negara berkembang mempercepat pembangunan ekonomi digital dan transformasi hijau,” kata Presiden Xi dalam sambutannya di Forum Bisnis BRICS.

Kita tahu Tiongkok dan India adalah tulang punggung dunia dalam industri teknologi informasi dan telekomunikasi.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok terjun ke pedalaman Indonesia seperti Papua untuk membangun jaringan telekomunikasi dan internet dan menyediakan generator tenaga surya jika belum ada sumber listrik yang dibutuhkan, membantu pemerintah dalam mewujudkan konektivitas yang menjangkau pulau terluar.

Berbeda dengan pendapat umum, Tiongkok justru negara yang paling getol mengejar keterbukaan ekonomi global dan penghapusan hambatan dagang, investasi, dan teknologi.

“Sejumlah negara berusaha untuk memisahkan diri dari yang lain, memperlemah rantai pasokan, dan menciptakan ‘halaman kecil dengan pagar tinggi’,” kata Xi.

Pemerintahan Xi sangat menentang hegemoni dan beragam tarif serta hambatan dagang lainnya yang dikaitkan dengan isu politik dan hak asasi manusia, dan di sisi lain mengejar sistem ekonomi global yang terbuka, adil, saling menguntungkan, dan patuh pada hukum internasional.

“Kita sebagai bagian dari masyarakat internasional harus menolak zero-sum games [kebijakan mau menang sendiri] dan bersama-sama menentang hegemonisme dan politik kekuasaan. Kita harus membangun tipe hubungan internasional baru yang didasarkan pada sikap saling menghormati, kesetaraan, keadilan, dan kerja sama saling menguntungkan,” kata Xi.

Tinju
Pada KTT BRICS tujuh tahun silam, Xi mengibaratkan negara-negara anggota sebagai lima jari: berbeda panjangnya jika meregang, tetapi menjadi tinju yang kokoh jika dirapatkan bersama.

"BRICS bukan ajang bincang-bincang, tetapi satgas yang bertugas menyelesaikan masalah,” kata dia waktu itu.

Sebagai bukti ucapannya bahwa BRICS adalah forum kerja sama yang konkret, kelompok tersebut sudah mendirikan bank pembangunan sendiri, yang diberi nama New Development Bank (NDB).

Sejak didirikan, bank tersebut sudah membiayai 80 proyek pembangunan dan memberikan pinjaman senilai US$ 30 miliar.

Lima negara anggota ini memang memiliki skala ekonomi luar biasa. Pada 2021 saja, nilai perdagangan di antara mereka sudah mencapai US$ 8,55 triliun atau naik 33,4% dari tahun sebelumnya.

Negara Lain
Tiongkok tidak hendak mempertahankan eksklusivitas BRICS atau membatasi manfaatnya di antara mereka sendiri.

Ketika menjadi ketua BRICS pada 2017, Tiongkok mengusulkan mekanisme kerja sama "BRICS Plus" yang membuka pintu bagi negara-negara di luar lima anggota dan menjadi model kerja sama Selatan-Selatan agar lebih dirasakan manfaatnya bagi banyak negara berkembang.

Bulan kemarin, dialog "BRICS Plus" sudah diterapkan di tingkat menteri luar negeri yang dihadiri oleh Kazakhstan, Arab Saudi, Argentina, Mesir, Indonesia, Nigeria, Senegal, Uni Emirat Arab, dan Thailand.

BRICS menjadi sangat relevan dalam konteks geopolitik global saat ini karena mereka memberi fokus pada negara-negara berkembang yang menjadi kunci pemulihan ekonomi global.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Mochtar Riady: Kerja Sama BRICS Mampu Menjangkau Seluruh Dunia

Rabu, 22 Juni 2022 | 22:50 WIB
Oleh : Aditya Laksmana Yudha / Aditya L Djono

Jakarta, Beritasatu.com – Pengusaha nasional Mochtar Riady menilai, forum kerja sama lima negara yang tergabung dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) mampu menjangkau dan membantu umat manusia di seluruh dunia. Sebab, kelima negara itu merupakan negara besar yang masing-masing memiliki keunggulan, dan secara geografis membentang cukup luas sehingga manfaatnya dirasakan banyak negara.

“Saya percaya kerja sama di antara negara-negara BRICS tidak terbatas pada lima negara itu saja. Manfaatnya mampu menjangkau orang-orang seluruh dunia. Saya juga percaya banyak orang yang akan bersedia berbagi manfaat melalui kerja sama semacam ini,” ujar Mochtar saat menjadi panelis pada sesi yang membahas kerja sama bidang kesehatan di tengah pandemi, dalam BRICS Business Forum 2022, yang digelar secara online, Rabu (22/6/2022). Dalam forum bisnis tahun ini, Beijing bertindak selaku tuan rumah.

Pendiri dan Chairman Lippo Group Dr Mochtar Riady menjadi panelis dalam BRICS Business Forum, Kamis, 22 Juni 2022. Topik yang dibahas bersama panelis dari Tiongkok, Brasil, India, Afrika Selatan, dan Uzbekistan, mengenai kerja sama bidang kesehatan di tengah pandemi.
Pendiri dan Chairman Lippo Group Dr Mochtar Riady menjadi panelis dalam BRICS Business Forum, Kamis, 22 Juni 2022. Topik yang dibahas bersama panelis dari Tiongkok, Brasil, India, Afrika Selatan, dan Uzbekistan, mengenai kerja sama bidang kesehatan di tengah pandemi.

Mochtar Riady tampil bersama tujuh panelis yakni duta besar dan pelaku usaha sektor kesehatan dari Brasil, Tiongkok, India, Afrika Selatan, dan Uzbekistan. BRICS Business Forum 2022 dibuka oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan ditandai dengan pidato dari kepala negara BRICS lainnya, yakni Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil Jair Messias Bolsonaro, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Mochtar Riady, yang merupakan pendiri dan Chairman Lippo Group tersebut menjelaskan, sikap saling membantu dan melengkapi semacam itu sangat penting untuk kemajuan umat manusia dalam kehidupannya sehari-hari. “Sikap saling menghormati masing-masing negara menjadi dasar untuk mengembangkan sikap saling membantu,” ujarnya.

Dia menambahkan, kelima negara BRICS merupakan negara besar di kawasan masing-masing. Dampaknya, negara-negara di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan juga Eropa turut merasakan manfaat dari keberadaan BRICS.

“Tiongkok, Rusia, dan India, tiga negara ini sudah menghubungkan Eropa dan Asia Tengah. Wilayah yang secara geografis membentang luas ini telah membentuk sebuah konektivitas, sehingga membuka banyak peluang,” jelasnya.

Menurut Mochtar Riady, BRICS merupakan sebuah kekuatan besar. Dari sisi populasi, BRICS mencakup 41% populasi dunia. Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara BRICS mencapai 24% dari total PDB dunia. Sedangkan, dari sisi perdagangan, volume perdagangan kelima negara tersebut mengambil porsi 18% dari total volume perdagangan dunia.

Selain itu, masing-masing negara BRICS merupakan negara besar. Sebagai sebuah komunitas ekonomi, kelimanya memiliki keunggulan masing-masing.

“Tiongkok memiliki mata rantai industri yang paling lengkap di dunia. India memiliki kekuatan mata rantai industri padat karya. Rusia kuat di industri militer dan sumber daya alam. Adapun Brasil dan Afrika Selatan dianugerahi kekayaan sumber daya mineral,” ungkapnya.

Kerja Sama Kesehatan
Mengenai kerja sama bidang kesehatan, Mochtar Riady menilai, apa yang dilakukan negara-negara BRICS juga berjalan sangat baik, sehingga memberi dampak signifikan tidak hanya di antara negara anggota, tetapi juga negara lain, termasuk Indonesia.

“Selama Covid, kami sungguh merasa Tiongkok telah memberikan bantuan yang luar biasa kepada Indonesia dalam menghadapi pandemi yang sangat berat. Tiongkok telah menyediakan bantuan kepada negara tetangga, seperti vaksin. Atas nama rakyat Indonesia saya menyatakan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Tiongkok,” ujarnya.

Menurutnya, pelayanan bidang kesehatan dapat dibagi menjadi tiga aspek, yakni diagnosis, perawatan, dan pencegahan. Ketiga aspek tersebut membutuhkan alat-alat kesehatan.

Saat ini ada tiga nama yang terkenal di dunia sebagai produsen alat kesehatan, yakni Philips, Siemens, dan GE.

“Tiga nama besar ini, telah meng-outsource pabriknya ke Tiongkok. Sehingga dalam hal alat-alat kesehatan Tiongkok memiliki kapasitas yang memadai,” kata Mochtar.

“Indonesia bersyukur bisa bermitra dengan Tiongkok selama respons terhadap pandemi melalui kerja sama bilateral,” tambahnya.

Di hadapan peserta, Mochtar Riady juga mengungkapkan, Lippo Group saat ini memiliki 41 rumah sakit. Semua rumah sakit tersebut berada di bawah naungan Siloam Hospitals Group. 



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BRICS Desak Sistem Keuangan Global yang Lebih Adil dan Aman

Rabu, 22 Juni 2022 | 18:20 WIB
Oleh : Surya Lesmana / Surya Lesmana

Beijing, Beritasatu.com - KTT BRICS ke-14 yang digelar pada hari Kamis (23/6/2022) di Beijing, Tiongkok. bakal menyuarakan harapan agar mekanisme BRICS dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mempromosikan keadilan dan keamanan dalam tatanan keuangan dan perdagangan global.

BRICS adalah akronim dari lima negara yang ekonominya pesat di dunia, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (Afsel). Mekanisme BRICS bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, keamanan, pembangunan dan kerja sama.

Dalam rilis yang dikutip dari media Tiongkok, Global Times, Rabu (22/6/2022) disebutkan, saat ini, sanksi Barat terhadap Rusia telah memicu berbagai krisis yang dihadapi oleh ekonomi global, dan memberikan pukulan berat bagi tatanan ekonomi dan keuangan internasional yang diandalkan oleh negara berkembang untuk bertahan hidup.

Sampai batas tertentu, sanksi-sanksi tersebut telah menyadarkan negara-negara BRICS akan urgensi untuk memperkuat kerja sama dan solidaritas mereka. Sebagai ekonomi pasar berkembang utama dengan pengaruh global, negara-negara BRICS sekarang memiliki keinginan yang sama untuk mendorong reformasi besar yang menangani sistem pembayaran global.

Tak satu pun dari negara-negara BRICS telah bergabung dengan negara Barat dan sekkutunya menjatuhkan sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia. Alasan mengapa negara-negara BRICS selain Rusia semuanya menolak untuk bergabung dengan sanksi tersebut adalah karena mereka memiliki antipati yang sama terhadap sanksi sepihak yang dijatuhkan oleh Barat.

“Sekarang sangat jelas bahwa kekuatan Barat melindungi kepentingan diri mereka sendiri yang hegemonik melalui sanksi, tanpa memperhatikan kepentingan negara berkembang. Di balik sanksi adalah hegemoni dolar”.

Selama beberapa dekade, dolar telah menjadi mata uang cadangan terpenting di dunia dan mata uang yang paling banyak digunakan untuk penyelesaian ekonomi dan perdagangan global. Peran besar dolar dalam sistem pembayaran global tidak hanya menawarkan AS keuntungan finansial yang besar dalam tatanan ekonomi dunia, tetapi juga memungkinkannya untuk menggunakannya secara efektif sebagai senjata untuk menghukum musuh-musuhnya. Akibatnya, interaksi BRICS dalam hal keuangan, perdagangan, investasi, dan bidang lainnya sering kali terpengaruh hingga tingkat yang berbeda-beda.

“Perlu ditegaskan, tujuan pendirian BRICS tidak pernah ditujukan untuk membentuk klik kecil yang menyasar pihak lain. Alasan mengapa negara-negara BRICS bersatu adalah karena kebutuhan bersama untuk mengatasi ketidakadilan dan ketidakadilan dalam sistem ekonomi, keuangan dan perdagangan internasional yang ada dan untuk mencari reformasi dan penyesuaian dalam tatanan ekonomi global untuk mengatasi kekhawatiran yang sah dari negara-negara berkembang”.

The New Development Bank (NDB), juga dikenal sebagai Bank BRICS, merupakan uji coba penting oleh negara-negara anggota BRICS untuk mempromosikan tidak hanya kerja sama intra-blok tetapi juga keadilan dalam tata kelola keuangan internasional, meskipun NDB telah memiliki andilnya. tantangan, seperti mekanisme pembayarannya yang tunduk pada hegemoni dolar AS.

Memang, implikasi finansial dari sanksi AS telah meningkatkan urgensi de-dolarisasi di seluruh dunia. Bukan hanya BRICS, tetapi juga banyak negara berkembang lainnya yang menyadari kebutuhan untuk mengurangi peran dolar dalam pembayaran global. Dalam pengaturan bilateral, diskusi tentang mengeksplorasi mata uang baru untuk penyelesaian perdagangan menjadi semakin populer dan umum, sebuah indikasi bahwa penyalahgunaan kekuatan keuangan AS telah memicu tren de-dolarisasi.

Oleh karena itu, salah satu pertanyaan utama yang dihadapi BRICS adalah bagaimana mengintegrasikan lebih lanjut kebutuhan ini di antara berbagai negara dengan meningkatkan penyelesaian mata uang baru dan membangun sistem pembayaran baru yang lebih aman, antara lain. Jika mereka dapat mencapai tujuan itu, negara-negara berkembang lainnya juga akan bergabung di dalamnya ketika mengembangkan infrastruktur keuangan alternatif sebagai tanggapan atas sanksi AS.

Sehingga dapat diharapkan kebutuhan BRICS untuk melangkah dan mengupayakan tatanan ekonomi dan keuangan internasional yang lebih adil, aman, semakin mendesak. Masa depan BRICS bergantung pada kemampuan mereka untuk memperdalam kerja sama dan mengatasi tantangan. Bagaimanapun, tidak mungkin ekonomi global diperintah selamanya oleh hegemoni dolar AS yang sewenang-wenang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Presiden Xi: Tiongkok Akan Terus Membuka Diri untuk Bisnis

Rabu, 22 Juni 2022 | 19:12 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beijing, Beritasatu.com – Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa negaranya akan terus membuka diri untuk menciptakan lingkungan bisnis yang didasarkan pada prinsip-prinsip pasar dan patuh hukum serta standar internasional.

Hal tersebut disampaikan Xi saat membuka forum bisnis BRICS (Brazil, Russia, India, China and South Africa) secara virtual di Beijing, Rabu (22/6/2022).

“Kita harus tetap berkomitmen pada keterbukaan dan inklusivitas, menghapus semua hambatan bagi pembangunan dan produktivitas, dan mengendalikan globalisasi ke arah yang benar,” kata Xi.

“Hal seperti ini akan meningkatkan arus modal dan teknologi, menghasilkan potensi maksimal dari inovasi dan kreativitas, dan membentuk sinergi guna mendorong pertumbuhan ekonomi global,” imbuhnya.

Xi mendorong para pengusaha untuk berinvestasi dan mengembangkan diri di Tiongkok, mempererat kerja sama dagang dan ekonomi, serta berbagi peluang pembangunan.

Xi juga menyerukan semua negara agar mematuhi sistem perdagangan multilateral yang dipayungi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan menghilangkan hambatan dagang, investasi, dan teknologi untuk menciptakan perekonomian dunia yang terbuka.

“Kita harus mempertahankan sistem perdagangan yang bersentral pada WTO, menghapus hambatan-hambatan dalam perdagangan, investasi, dan teknologi, dan menjaga perekonomian global agar tetap terbuka,” kata Xi.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Mengenal Forum Bisnis BRICS

Rabu, 22 Juni 2022 | 18:38 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beijing, Beritasatu.com – Forum bisnis kelompok negara yang tergabung dalam BRICS (Brazil, Russia, India, China and South Africa) memulai forum bisnis secara virtual dibuka langsung oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing, Rabu (22/6/2022) petang waktu setempat.

Para kepala negara BRICS hadir memberikan sambutan melalui video, termasuk Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Sejumlah pengusaha kelas dunia juga berpartisipasi di forum tersebut, termasuk pengusaha asal Indonesia Mochtar Riady.

BRICS mewakili sekitar 40% populasi global dan mencakup 25% dari perekonomian global.

Sejak 2009, para kepala negara kelompok ini rutin bertemu setiap tahun. Tahun lalu, Modi menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-13 yang juga digelar secara virtual akibat pandemi Covid-19.

Pada tahun pertama pertemuan mereka, Afrika Selatan belum bergabung sehingga kelompok itu masih bernama BRIC.

Kelompok ini juga mendirikan Bank Pembangunan Baru atau New Development Bank (NDB) yang bermarkas di Shanghai untuk membantu negara-negara anggota membiayai pembangunan dalam negeri mereka dan membantu pemenuhan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang dicanangkan PBB.

Bank ini telah membiayai lebih dari 80 poryek di negara-negara anggota hingga Mei 2021, dengan portofolio senilai sekitar US$ 30 miliar.

NDB juga berencana menyiapkan dana US$ 30 milar lagi bagi negara-negara anggota periode 2022 sampai 2026, di mana 40% dana tersebut akan digunakan untuk upaya-upaya menangani pemanasan global.

Para anggota BRICS adalah produsen dan konsumen besar produk pertanian, dan memainkan peran penting dalam sistem pangan dunia.

Sampai dengan Mei tahun ini, tiga dari empat produsen pangan terbesar di dunia adalah anggota BRICS. PDB produk pertanian BRICS mencakup lebih dari setengah angka global.

"Expor barang oleh negara-negara anggota BRICS mencakup 19,8% dari nilai dunia dan impor mencakup 16,4% pada 2020 silam,” menurut laporan Center for International Knowledge on Development.

Pada 2021, terlepas dari dampak pandemic Covid-19, total volume dagang negara-negara BRICS melonjak 33,4% menjadi US$ 8,55 triliun, year-on-year, menurut data resmi kelompok tersebut.

Tiongkok tentu saja menjadi mitra investasi dan perdagangan yang sangat penting dalam BRICS. Menurut Xinhua News Agency, nilai perdagangan Tiongkok dengan negara-negara BRICS yang lain naik 12,1% menjadi US$ 195,96 miliar.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini


BAGIKAN
Share to WhatsApp


TAG POPULER

# Pertalite


# Kepala RS Tewas Ditikam


# Timnas U-19


# Presidential Threshold


# Covid-19 di Jepang


B1 Livestream

TERKINI
Saatnya Jadi Milenial Cerdas Keuangan dan Investasi

Saatnya Jadi Milenial Cerdas Keuangan dan Investasi

EKONOMI | 2 jam yang lalu









BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings