Depak Edy Rahmayadi Sekarang Juga


Hendro D Situmorang / Alexander Madji / AMA Selasa, 27 November 2018 | 12:16 WIB

Jakarta - Kegagalan Tim Nasional (Timnas) Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2018 adalah sebuah pukulan telak untuk sepakbola Indonesia. Bukan hanya hasilnya yang mengecewakan. Cara bermain skuat besutan Bima Sakti itu juga sama sekali tidak enak ditonton dan memuakkan. Tidak ada pola permainan yang jelas. Yang penting bola ditendang jauh ke depan dan para pemain sayap berlari sekencang-kencangnya. Kesalahan-kesalahan elementer, seperti salah umpan sangat sering terjadi. Warisan yang ditinggalkan pelatih asal Spanyol Luis Milla sama sekali tidak berbekas. Padahal, sebagian besar pemain yang dipilih Milla juga dipakai Bima Sakti. Bima Sakti sendiri sudah “sekolah” pada Milla sejak awal kedatangan mantan pemain Barcelona dan Real Madrid tersebut.

Dari empat laga di Grup B, Indonesia hanya sekali menang, dua kali kalah, dan sekali imbang. Di laga pertama, Indonesia yang sejak awal dibebani target tinggi menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara langsung keok di tangan tuan rumah Singapura dengan skor 1-0. Kekalahan ini sedikit terobati saat menang 3-1 atas Timor Leste di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada laga kedua. Meskipun, gawang Indonesia sempat bobol terlebih dahulu. Kemenangan ini sempat menghidupkan peluang Indonesia lolos ke semifinal. Namun, langkah mulai berat ketika tim Merah Putih kalah telak 2-4 dari tuan rumah Thailand di Bangkok pada laga ketiga.

Masih ada celah sedikit dengan harapan Filipina kalah dari Thailand. Sayang, laga kedua tim di Filipina, Rabu (20/11) berakhir imbang dan seketika itu juga, peluang Indonesia melaju ke semifinal pun langsung tertutup rapat. Maka laga terakhir melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (25/11) menjadi tidak berarti apa-apa lagi.

Meski demikian, pelatih Bima Sakti dan para pemain tetap bertekad menang sebagai pelipur lara para pencinta sepakbola yang terlanjur kecewa atas kegagalan Indonesia melaju ke semifinal kejuaraan sepakbola bangsa-bangsa Asia Tenggara ini. Sayang, tekad hanya sebatas tekad. Mereka hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Dan, Filipina pun lolos ke semifinal sebagai runner up Grup B di bawah Thailand.

Sejak Indonesia dipastikan gagal melaju ke semifinal, suara-suara yang mendesak Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi segera mundur makin kencang. Sebab kegagalan ini adalah buah dari ketidakbecusannya memimpin federasi. Belum lagi “mulut kasar”-nya membuat publik makin marah.

Tuntutan
Tuntutan Edy mundur tersebar luas (viral) di media sosial dengan tanda pagar #EdyOut. Sejumlah poster bertuliskan #EdyOut juga tampak ketika Timnas Indonesia menghadapi Filipina pada laga terakhir Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (25/11). Yel-yel 'Edy Out' juga sempat terdengar dari tribun penonton.

Tuntutan lain disampaikan lewat petisi #edyout di change.org yang digagas Emerson Yuntho. Menurut Emerson, banyak hal yang membuat prestasi sepakbola Indonesia jalan ditempat. Mulai dari pengelolaan timnas yang tak profesional dan bermartabat, pengelolaan kompetisi yang dipenuhi pengaturan skor, pengaturan juara, pengaturan promosi sampai kepada rangkap jabatan di PSSI yang menghadirkan konflik kepentingan.

“Banyak pengurus PSSI yang rangkap jabatan membuat roda organisasi PSSI tidak berjalan dengan baik. Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi rangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara, pemilik saham PSMS Medan dan pembina PS Tira, dua tim yang saat ini berjuang di zona degradasi. Belum lagi, pengurus lainnya yang juga menjadi pemilik saham di klub Persija, Arema, Bali United dan lainnya. Rangkap jabatan harus segera dicarikan solusi," jelasnya.

Untuk itu, pengurus PSSI diminta memilih salah satu agar PSSI bisa fokus membangun prestasi. Profesional bermartabat jangan lagi hanya sebatas jargon. Kegagalan timnas senior di Piala AFF harusnya jadi evaluasi dan renungan. “Sudah waktunya pengurus PSSI yang gagal mundur agar sepakbola kita tidak jalan di tempat. Benang yang kusut harus diurai. Bila sudah sulit, pilihan terbaik adalah buang benang kusutnya dan ganti dengan benang yang baru agar bisa menyulam kain yang punya nilai tinggi,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan

Rombak Total Kepengurusan PSSI


Hendro D Situmorang / AMA Selasa, 27 November 2018 | 12:20 WIB

Jakarta - Desakan agar Edy Rahmayadi didepak dari Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) juga disuarakan para pengamat sepakbola. Bahkan, mereka menuntut bukan hanya Edy Rahmayadi yang didepak, tetapi juga seluruh kepengurusannya. Kepengurusan PSSI harus dirombak total sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka atas kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018.

Pengamat sepakbola Akmal Marhali saat dihubungi di Jakarta, Senin (26/11) malam menilai, kegagalan Timnas Indonesia merupakan buah karya dari blunder massal yang dilakukan pengurus PSSI. Seluruh pengurus PSSI seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan ini dengan legowo mundur dari jabatan masing-masing.

“Kalau mau tegas dan ekstrem, ya bubarkan PSSI. Bentuk federasi baru lalu install kembali. Caranya, semua anggota PSSI termasuk klub-klub buat mosi tidak percaya kepada lembaga pimpinan Edy ini. Jangan bermimpi di level yang lebih tinggi Asia dan dunia, kalau di regional saja tak bisa dipersiapkan dengan matang,” katanya

Lebih lanjut Koordinator Save Our Soccer (SOS) itu menilai, sebuah prestasi selalu lahir dari sebuah persiapan yang matang. Prestasi bukan sebatas slogan yang diucapkan dengan persiapan asal-asalan.

Senada dengan itu, Rayana Djakasurya dihubungi terpisah menegaskan, jika sepakbola nasional Indonesia ingin maju di tingkat internasional, maka hulunya, yakni PSSI, harus dibenahi. Kepengurusan saat ini diganti semua oleh orang-orang yang benar-benar baru.

“Jangan ada lagi orang-orang lama yang saat ini masih bercokol di dalamnya. Lihat saja, kepengurusan saat ini. Orangnya itu lagi, itu lagi. Yang berganti hanya ketua umum PSSI saja. Mereka seakan sudah menggurita di dalamnya,” ungkap Rayana.

Ketidakbecusan dan ketidakprofesionalan PSSI dalam mengelola sepakbola Indonesia juga diperlihatkan saat mereka tidak mampu mempertahankan pelatih berkualitas asal Spanyol, Luis Milla. Menurut Rayana, Milla enggan memperpanjang kontrak karena pengurus PSSI bekerja tidak profesional.

Menanggapi kritikan-kritikan itu, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Gusti Randa mengatakan pihaknya seperti diserang dari empat penjuru mata angin terkait tuntutan suporter Timnas Indonesia yang meminta Edy Rahmayadi mundur dari jabatan sebagai ketua umum. PSSI, kata dia, sangat sadar dan tidak menutup mata terhadap adanya tuntutan tersebut.

Bahkan tuntutan itu menjadi satu topik pembahasan di rapat Exco PSSI, Minggu (25/11). “Karena PSSI dapat atensi negatif dari empat arah mata angin. Pertama dari Selatan, publik ini sudah muak dengan PSSI. Lalu dari Utara ada tekanan, bisa dilihat pemerintah gesturnya sudah marah ke PSSI. Dari kiri-kanan media pun menekan ini. PSSI pun harus punya sikap,” ucap Gusti.

Hanya saja, sejak menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, Edy sulit diajak berkomunikasi. Soal rangkap jabatan pun sudah pernah dibahas, tapi yang bersangkutan tidak pernah hadir dalam rapat. “Exco cuma bisa menyarankan, tapi orangnya (Edy) tidak ada. Kemudian masalah waktu, tapi bagaimana bisa dibicarakan kalau ketumnya tak ada,” kata Gusti.



Sumber: Suara Pembaruan

Bima Sakti Tidak Salah, Dia Hanya Korban


Jaja Suteja / JAS Kamis, 29 November 2018 | 10:31 WIB

Jakarta - Tim Nasional Indonesia gagal total di Piala AFF 2018. Alih-alih mewujudkan target menjadi juara, prestasi Tim Merah Putih malah jeblok. Hansamu Yama dan kawan-kawan terhenti di babak awal.

Mereka tak mampu lolos setelah hanya menempati posisi keempat dari lima tim yang bersaing di Grup B. Indonesia takluk 0-1 oleh Singapura, lalu menang 3-1 dengan perjuangan yang alot atas Timor Leste.

Saat tandang ke Thailand, Tim Garuda kembali mengalami kekalahan. Kali ini gawang Indonesia yang dijaga Awan Setho dibobol empat kali. Sementara Indonesia hanya mampu membalas dua kali.

Indonesia dipastikan tersingkir sebelum memainkan laga terakhir setelah Thailand dan Filipina bermain imbang pada 21 November.

Laga terakhir melawan Filipina pun menjadi partai formalitas bagi Indonesia. Stefano Lilipaly dan kawan-kawan sebenarnya bermain ngotot untuk bisa meraih kemenangan. Namun serangan demi serangan tak juga membuahkan gol. Laga berakhir imbang tanpa gol.

Indonesia pun mengulangi kegagalan seperti pada Piala AFF tahun 2007, 2012, dan 2014. Pada tahun-tahun tersebut, Tim Garuda juga memang terhenti di babak grup.

Tudingan pun mengarah kepada pelatih kepala Timnas Indonesia, Bima Sakti. Dia dianggap sebagai biang kegagalan skuat Garuda mewujudkan impian merebut juara.

Bima mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan ini. "Saya pikir ini bukan kesalahan pemain, tetapi pelatih," ujar Bima Sakti, 22 November lalu seperti dikutip dari Antara.

Oleh karena itu, lanjut Bima, dirinya dan seluruh staf pelatih timnas siap menerima keputusan apapun dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terkait masa depan mereka.

Bima menegaskan siap jika tidak lagi melatih tim nasional lagi. "Kami tim pelatih menerima seluruh konsekuensi dan keputusan yang diambil federasi," kata Bima.

Bima Sakti mewakili tim nasional Indonesia juga mengucapkan permintaan maaf kepada masyarakat Tanah Air atas prestasi Indonesia di Piala AFF 2018.

Namun pantaskan kesalahan ditimpakan kepada pelatih berusia 42 tahun itu? Padahal Bima sebenarnya tidak dipersiapkan mengemban tugas yang amat berat ini.

Persiapan Timnas Indonesia menjelang Piala AFF 2018 memang jauh dari ideal. Saat akan menghadapi turnamen penting di Asia Tenggara ini PSSI justru tengah dalm proses negosiasi, tepatnya tarik-ulur, soal perpanjangan kontrak pelatih Luis Milla.

Negosiasi kontrak ini ternyata tak sesuai harapan. Milla menolak melanjutkan perannya di Timnas Indonesia. Saat mengucapkan salam perpisahan lewat media sosial Instagram, sosok yang pernah memperkuat Barcelona sebagai pemain ini mengungkapkan beberapa hal negatif selama dirinya “berurusan” PSSI.

Meski mengaku senang dan bahagia selama tinggal di Indonesia, namun Milla tak menampik dirinya mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan selama menangani timnas Merah Putih. Dalam unggahan tersebut, ia juga menyentil kinerja buruk manajemen yang dinilainya tidak profesional.

“Sebuah proyek yang berlangsung lebih dari satu setengah tahun telah berakhir. Meskipun dengan manajemen yang buruk, pelanggaran terhadap kontrak yang terus-menerus, dan rendahnya profesionalisme para pemimpin selama sepuluh bulan terakhir. Saya pergi dengan perasaan telah melakukan pekerjaan yang baik,” papar Milla dalam unggahan pada 21 Oktober lalu.

Bima Sakti, yang selama ini menjadi asisten Milla, akhirnya ditunjuk sebagai pelatih kepala setelah PSSI gagal “merayu” pelatih asal Spanyol itu untuk bertahan. Seperti sudah diutarakan sebelumnya, Timnas ternyata gagal bersinar. Untuk keempat kalinya dari 12 edisi Piala AFF, Indonesia terantuk di babak grup.

Bima pun dituding tidak becus menangani Hansamu Yama dan kawan-kawan. Namun beberapa kalangan membela pelatih kelahiran Balikpapan ini.

Pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni menyatakan kesalahan justru ada pada pihak PSSI. “Ini kesalahan PSSI karena menunjuk pelatih dengan pengalaman terbatas. Sebagai pelatih, Bima tidak bisa menolak penunjukan itu,” paparnya.

“Buat saya, Bima justru korban dari sikap gegabah PSSI dalam menunjuk pelatih. Saya ikut bersimpati atas banyaknya kritik publik kepada Bima. Padahal Bima hanya korban,” kata sosok yang pernah mengelola klub Liga Primer Indonesia, Bandung FC ini.

Menurut alumni Institut Teknologi Bandung tersebut, pelatih tim nasional itu lebih ketat kriterianya. Selain harus berpengalaman, dia juga harus punya rekam jejak yang bisa diterima publik. Supaya dukungan terhadap tim nasional juga kuat.

Kusnaeni juga membantah anggapan bahwa Bima tak bisa menyerap “ilmu” dari Milla. “Setelah jadi asisten harusnya Bima diberi kesempatan menangani tim secara penuh tetapi bertahap. Misalnya pegang timnas U-16 dulu, lalu U-19, U-23, baru timnas senior,” papar sosok yang kerap menjadi komentator acara olahraga di televisi itu.

“Jangan ujug-ujug pegang timnas senior. Prosesnya terlalu dipercepat sehingga pelatih potensial seperti Bima pun jadi gagap. Seperti mengalami gegar budaya,” katanya lagi.

Hal senada juga diungkapkan pengamat sepakbola lainnya, Akmal Marhali. “Ya...Bima adalah korban. Dia tidak dalam posisi yang patut disalahkan,” ujarnya.

“Begitu juga pemain adalah korban. Bagaimana bisa fokus dan konsentrasi penuh ketika event Piala AFF digelar kompetisi tetap berjalan bahkan memasuki fase krusial penentuan juara dan degradasi,” ungkapnya.

Menurut dia, Bima sebenarnya memiliki prospek yang bagus sebagai pelatih muda potensial. “Cuma belum dimatangkan dalam iklim yang kompetitif. Bima belum sekalipun jadi pelatih kepala di kompetisi,” ujar koordinator Save Our Soccer ini.

Bima, kata Akmal lagi, belum punya pengalaman ketika harus melakukan perubahan strategi di lapangan atau transisi permainan serta pergantian pelatih saat tim dalam tekanan.

“Seharusnya Timnas Indonesia tidak ditarget juara (setelah pergantian pelatih). Seperti Fandi Ahmad yang menangani Timnas Singapura. Fandi tidak dibebani target juara karena bermaterikan pemain muda. Mungkin itu bisa dicoba kepada Bima,” katanya lagi.

Namun karena PSSI tetap menargetkan juara, beban berat pun harus dipikul Bima. “Bisa apa tanpa pengalaman dan cuma punya waktu persiapan seminggu?”

Akmal mengungkapkan, seharusnya PSSI merevisi target ketika menunjuk Bima Sakti. “Itu akan fair buat Bima. Masyarakat saya kira juga akan memahaminya,” tuturnya lagi.

“Persiapan mepet, jadwal kompetisi yang bentrok dengan timnas. Fisik dan mental pemain terkuras. Sulit untuk mewujudkan target Juara. Bukan salah Bima Sakti. Bukan salah para pemain. Semua karena salah PSSI,” paparnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com

CLOSE