Makin Banyak Negara Melarang Boeing Max 8


Heru Andriyanto / HA
Rabu, 13 Maret 2019 | 06:24 WIB

Beritasatu.com – Setelah Tiongkok dan Indonesia memerintahkan dikandangkannya pesawat generasi terbaru Boeing 737 Max 8, banyak negara lain melakukan langkah serupa.

Singapura dan Australia menghentikan sementara pengoperasian seluruh Boeing 737 MAX masuk atau keluar wilayah udara mereka. Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa dikabarkan bersiap mengikuti langkah tersebut.

Semua itu dipicu oleh jatuhnya pesawat Max 8 milik Ethiopian Airlines di Addis Ababa hari Minggu (10/3/2019) lalu, kurang dari lima bulan setelah pesawat sejenis milik Lion Air jatuh di Laut Jawa. Dua kecelakaan itu menewaskan 346 orang.

Yang terbaru, Inggris memberlakukan larangan keluar-masuk Boeing Max 8 di wilayah udaranya, dan cukup mendadak sehingga terjadi insiden pesawat yang dipaksa putar balik sebagai akibatnya.

Insiden itu menimpa dua pesawat Turkish Airlines yang harus memutar di udara karena larangan yang baru saja berlaku.

Pesawat itu lepas landas dari Istanbul menuju Birmingham dan Gatwick, Inggris. Mereka berangkat sebelum diumumkannya larangan oleh Otoritas Penerbangan Sipil para pukul 13.00 waktu Inggris.

Penerbangan menuju Birmingham oleh pesawat nomor TK1969 sedang mendekati Frankfurt, Jerman, setelah tiga jam dari empat jam rencana penerbangan.

Sementara penerbangan ke Gatwick oleh pesawat nomor TK1997 sudah melampaui setengah jarak perjalanan dan sedang berada di kawasan udara Cheska ketika diperintahkan untuk kembali.

Para penumpang terpaksa dilaihkan ke penerbangan lain dari Bandara Istanbul, tempat mereka berangkat beberapa jam sebelumnya.

Namun, tidak semua negara serta merta melarang terbang Max 8, khususnya Amerika Serikat sebagai negara asal Boeing.

Berikut respons maskapai atau regulator di berbagai belahan dunia terkait boleh tidaknya Max 8 terbang.

AIR CANADA
“Kami telah menawarkan bantuan dan mengikuti dengan cermat jalannya investigasi. Kami telah mengoperasikan tipe pesawat ini sejak 2017 dan sekarang ada 24 unit dalam armada kami. Pesawat-pesawat ini berkinerja sempurna dari sisi keselamatan, reliabilitas, dan kepuasan pelanggan.”

AMERICAN AIRLINES
Perusahaan mengatakan tetap yakin sepenuhnya atas kemampuan pesawat ini dan mengikuti jalannya investigasi dengan cermat.

OTORITAS KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL AUSTRALIA
Pihak regulator tersebut mengatakan telah melarang sementara Boeing 737 Max untuk masuk atau keluar dari negara itu.

REGULATOR PERHUBUNGAN UDARA BRASIL
Menyatakan tidak mengandangkan pesawat ini sembari mencermati jalannya investigasi.

CAYMAN AIRWAYS
Telah mengandangkan dua jet Max 8 miliknya sampai mendapat informasi lebih lanjut soal kecelakaan sebelumnya.

REGULATOR PENERBANGAN TIONGKOK
Tiongkok mengandangkan 96 Max 8 termasuk yang dioperasikan oleh Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Hainan Airlines.

Secara gabungan, Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines mengoperasikan 45 pesawat Max 8.

COMAIR
Maskapai Afrika Selatan itu mengatakan akan menghapuskan 737 Max 8 dari jadwal penerbangannya. Perusahaan telah memesan delapan unit tipe pesawat ini, tetapi baru menerima satu.

FIJI AIRWAYS
Maskapai ini mengoperasikan dua pesawat Max 8 dan tetap yakin dengan kemampuannya.

FLYDUBAI
“Kami memonitor situasi dan terus berkomunikasi dengan Boeing. Kami tetap yakin dengan kelaikan armada kami.”

Maskapai ini memiliki 12 jet Max 8 di armadanya.

DITJEN PENERBANGAN SIPIL INDIA
Berencana menerbitkan instruksi keselamatan tambahan bagi seluruh maskapai India yang memiliki Max 8, termasuk Jet Airways dan SpiceJet Ltd.

SPICEJET
Maskapai bujet rendah India ini mengatakan 12 Max 8 miliknya tetap terbang dan telah memesan 155 pesawat tipe Max lainnya.

NORWEGIAN AIR
Perusahaan untuk sementara mengandangkan 18 jet Max 8 miliknya atas saran regulator Eropa.

“Setelah adanya keputusan dari badan-badan regulator terkait untuk menghentikan sementara pengoperasian Boeing 737 Max, Norwegian Air tidak akan melakukan penerbangan dengan tipe pesawat ini sampai pemberitahuan lebih lanjut.”

OTORITAS PENERBANGAN SIPIL SINGAPURA
Melakukan suspensi terhadap pengoperasian seluruh pesawat keluarga Boeing 737 Max masuk dan keluar negara itu.

Singapore Airlines mengatakan anak perusahaan Silk Air untuk sementara mengistirahatkan enam Max 8 miliknya.

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN KOREA SELATAN
Korea Selatan melakukan inspeksi darurat atas dua pesawat Max 8 milik Eastar Jet. Maskapai itu mengandangkan dua pesawatnya mulai Rabu (13/3/2019) ini.

SOUTHWEST AIRLINES
Maskapai Amerika Serikat ini mengatakan tetap yakin sepenuhnya atas kinerja pesawat dimaksud dan tetap mencermati jalannya investigasi.

TUI AIRWAYS
TUI Group, kelompok usaha penerbangan dan wisata terbesar Jerman, mengatakan telah menghentikan penerbangan seluruh Boeing 737 Max 8 milik para maskapai yang tergabung dalam grup tersebut.

TURKISH AIRLINES
“Kami berkomunikasi dengan Boeing, pembuat pesawat ini, tentang pengoperasian Boeing 737 Max. Keselamatan penerbangan adalah prioritas kami, dan kami mengikuti dengan cermat perkembangannya. Kami beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan pada tingkat tertinggi.”

Perusahaan punya 13 pesawat Max 8.

OTORITAS PENERBANGAN SIPIL UEA
Ikut bergabung dengan tim investigasi kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines dan akan mengumpulkan data dengan Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat dan Boeing.

OTORITAS PENERBANGAN SIPIL INGGRIS
Inggris melakukan suspensi terhadap penerbangan pesawat 737 Max di atas wilayahnya.

“Sebagai tindakan berjaga-jaga, kami telah menerbitkan instruksi untuk menghentikan setiap penerbangan komersial dari operator yang tiba, berangkat, atau terbang melintasi wilayah udara Inggris.”

OTORITAS PENERBANGAN SIPIL VIETNAM
Tidak akan menerbitkan izin bagi maskapai lokal untuk mengoperasikan Boeing 737 Max sampai penyebab jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines diketahui.

BAMBOO AIRWAYS
Maskapai Vietnam ini berencana membeli 25 Boeing 737 Max, tetapi tidak berkomentar apa pun.

VIRGIN AUSTRALIA
Sudah memesan pesawat Boeing 737 Max 8 tetapi pengiriman paling cepat baru November nanti.

WESTJET
“Kami memonitor situasi dengan cermat dan tidak akan berspekulasi tentang penyebab insiden. Kami punya 13 pesawat MAX di antara 121 pesawat Boeing 737 dalam armada kami.”

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN INDONESIA
Memerintahkan dua maskapai pemilik Max 8, Garuda Indonesia dan Lion Air, untuk mengandangkan pesawat itu agar dapat dilakukan inspeksi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Lion memiliki 10 Max 8, Garuda satu.

GARUDA INDONESIA
"Garuda Indonesia melakukan grounded atas pesawat B 737 Max 8 (hanya satu unit) sejak Selasa sore sampai pemberitahuan lebih lanjut."



Sumber: Reuters, Independent

Apa Bedanya Boeing 737 Max dengan 737 yang Lain?


Heru Andriyanto / HA
Rabu, 13 Maret 2019 | 11:02 WIB

Beritasatu.com - Kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines nomor penerbangan 302 hari Minggu (10/3/2019) -- lima bulan setelah tipe pesawat yang sama milik Lion Air juga jatuh -- telah menimbulkan pertanyaan tentang pesawat Boeing 737 Max 8.

Saat ini ada dua tipe pesawat Boeing 737 yang dioperasikan di seluruh dunia, yang terlihat sama tetapi faktanya sangat berbeda dalam hal teknologi. Boeing 737 Max 8, model yang terlibat dalam dua kecelakaan fatal itu, adalah pengganti keluarga Boeing 737 Next Generation (NG).

Boeing 737NG adalah nama yang sudah lama diberikan sejak dimulainya produksi tipe ini pada 1991. Nama ini mencakup Boeing 737-600, Boeing 737-700, Boeing 737-800 dan Boeing 737-900, variasi yang didasarkan pada kapasitas tempat duduk.

Boeing 737NG menawarkan kapasitas tanki BBM yang lebih besar, sayap yang 25% lebih besar, dan jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan model 737 sebelumnya. Southwest Airlines adalah maskapai pertama di dunia yang menerima 737NG pada 1997, dan pada April 2012, sudah 4.000 unit Boeing 737NG yang dikirim ke seluruh dunia.

Dua dekade setelah debut 737NG, Boeing mengumumkan rencana untuk model baru: Boeing 737 Max 8.

Hari ini, ada lebih dari 350 pesawat Boeing 737 Max 8 yang dipakai di seluruh dunia, meskipun makin banyak maskapai dan negara yang memutuskan untuk menghentikan sementara operasionalnya akibat dua kecelakaan beruntun tersebut.

Di antara maskapai-maskapai Amerika Serikat, sedikitnya ada 69 jet Boeing 737 Max 8 digunakan oleh Southwest Airlines, American Airlines, dan United Airlines.

Apa yang membuat Boeing 737 Max 8 Beda?
Saat mengumumkan rencana produksi 737 Max 8 pada 2011, Boeing mengatakan pesawat baru ini "akan menjadi pesawat yang paling hemat BBM dan paling mumpuni dengan biaya operasional paling rendah di pasar pesawat satu gang (single-aisle)."

Salah satu keunikan yang menonjol dibandingkan pendahulunya, Boeing 737 Max 8 memiliki sistem perangkat lunak yang berbeda. Perangkat lunak inilah yang sekarang menjadi fokus para penyidik.

Max 8 memakai mesin yang lebih besar dan lebih hemat BBM dibandingkan model sebelumnya. Tambahan bobot serta posisi mesin-mesin itu menggeser pusat gravitasi (center of gravity) pesawat lebih ke depan. Hal ini menambah risiko hidung pesawat mendongak terlalu tajam (pitch up) setelah lepas landas.

Untuk mencegah risiko ini, Boeing mengembangkan software yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Pesawat Max 8 dilengkapi sensor untuk membaca sudut pesawat relatif terhadap terpaan angin, dan akan membuat MCAS bekerja secara otomatis untuk menurunkan sudut hidung pesawat ketika mendapat data tertentu.

Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) melakukan inspeksi pada pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Garuda Indonesia di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, 12 Maret 2019. (Kemhub)

Namun, masalah bisa timbul kalau MCAS mendapatkan data yang keliru dari sensor. Sistem ini akan secara otomatis memaksa hidung pesawat turun, dan bisa membuat kaget pilot yang belum terbiasa dengan sistem ini, bisa juga mengambil alih komando manual pilot.

Inilah yang diyakini para investigator terjadi pada pesawat naas Lion Air sebelum jatuh pada 29 Oktober 2018 lalu. Penyelidik juga mencari kemungkinan hal serupa menimpa pesawat Ethiopian Airlines penerbangan 302. Kasus terakhir ini masih dalam awal penyelidikan sehingga belum bisa diambil kesimpulan apa pun.

Menurut The New York Times, ketika Boeing pertama kali meluncurkan 737 Max 8, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan bahwa tidak ada cukup perbedaan antara model baru ini dengan 737 sebelumnya yang mengharuskan pilot melakukan pelatihan simulator.

Keputusan ini bagi Boeing sangat menghemat waktu dan biaya, sehingga model baru tersebut menjadi lebih kompetitif. Namun, ini berarti para pilot tidak terbiasa dengan MCAS, padahal sistem ini berperan penting dalam mengendalikan pesawat pada kondisi tertentu.

Dan, meskipun sistem ini bisa dipengaruhi oleh cara kerja sensor yang keliru, The New York Times melaporkan: "tidak ada bukti bahwa Boeing pernah melakukan uji terbang MCAS dengan data sensor yang keliru, dan tidak jelas apakah FAA juga melakukannya."

Lebih jauh lagi, model 737 yang lebih tua dilengkapi teknologi yang memungkinkan pilot untuk mengendalikan pesawat secara manual cukup dengan memundurkan tuas pengendali. Menurut The New York Times edisi Februari, fitur itu dihilangkan dari Max 8 ketika MCAS sedang aktif -- perubahan yang tidak mungkin diketahui sebelumnya oleh para pilot.

Baik Boeing maupun FAA telah merilis pernyataan untuk menggarisbawahi keamanan pesawat 737 Max 8. Selasa (12/3/2019) kemarin, Boeing mengatakan: "Kami sepenuhnya yakin dengan faktor keselamatan pesawat Max."

Hari sebelumnya, FAA mengatakan akan "terus memeriksa dan mengawasi faktor keselamaran pesawat-pesawat komersial AS. Kalau kami mengidentifikasi satu masalah yang berdampak pada keselamatan, FAA akan mengambil tindakan yang cepat dan tepat."

Baca juga: Boeing Terbitkan Buletin ke Pilot Pascakecelakaan Lion

Dua insiden di Amerika
Sedikitnya dua penerbangan di Amerika Serikat mengalami insiden turunnya hidung pesawat Boeing 737 Max 8 secara mendadak tahun lalu.

Pilot dua penerbangan itu mengatakan bahwa segera setelah autopilot diaktifkan, hidung pesawat turun dengan tajam. Pada kedua kasus tersebut, pesawat bisa pulih setelah autopilot dimatikan, seperti diberitakan The Associated Press, Rabu (13/3/2019).

Peristiwa ini memang tidak ada kaitannya dengan dugaan penyebab kecelakaan Lion Air, seperti yang akan dijelaskan berikutnya.

Laporan para pilot itu disampaikan ke data base yang dihimpun oleh NASA. Laporan ini sifatnya suka rela dan tidak menyebutkan nama para pilot, maskapai, atau lokasi kejadian.

Belum jelas apakah laporan mereka ini ditindaklanjuti oleh FAA atau maskapai tempat mereka bekerja.

Dalam salah satu laporan, kapten pesawat mengatakan ketika dia menjalankan pesawat dalam mode autopilot, kopilotnya berteriak "menurun", lalu diikuti peringatan audio kokpit "jangan menukik, jangan menukik!"

Kapten segera memutus autopilot dan pesawat kembali menanjak.

“Dengan kekhawatiran atas masalah hidung MAX 8 yang turun, kami berdua berpendapat ini hal yang tepat untuk menjadi perhatian Anda," tulis kapten.

Dalam penerbangan lainnya, kopilot mengatakan bahwa beberapa detik setelah autopilot dihidupkan, hidung pesawat turun dan pesawat ikut turun dengan kecepatan 365-460 meter per menit. Seperti dalam kasus satunya, sistem peringatan audio tentang low altitude juga berbunyi.

Kapten mematikan autopilot, dan pesawat kembali naik. Alasan hidung pesawat menurun secara agresif tidak diketahui pasti oleh pilot dan kopilot.

Kasus Lion Air diduga beda penyebabnya. Sistem anti-stall MCAS diduga membuat hidung pesawat turun otomatis akibat kesalahan data dari sensor dan pilot tidak bisa mengatasi. Namun, MCAS ini baru berfungsi kalau autopilot dimatikan, menurut dokumen yang dibagikan Boeing.

Sementara pada dua kasus di Amerika, hidung pesawat turun mendadak ketika autopilot hidup, dan kembali normal setelah autopilot dimatikan.

Pilot ketiga mengeluh bahwa Boeing tidak memberi penjelasan atas perubahan yang telah dilakukan pada otomatisasi pesawat.

“Saya ingin tahu, apa lagi yang tidak saya ketahui?" tulis pilot tersebut. "Buku Manual Penerbangan tidak memadai, dan nyaris melanggar hukum karenanya."




Sumber: CBS News, AP

Australia, Singapura Larang Masuk Boeing 737 Max


Heru Andriyanto / HA
Selasa, 12 Maret 2019 | 17:46 WIB

Beritasatu.com - Para pejabat penerbangan Singapura dan Australia telah memutuskan untuk melarang sementara penerbangan Boeing 737 Max masuk dan keluar dua negara tersebut.

Keputusan itu diambil setelah pesawat Ethiopian Airlines tipe Boeing Max 8 jatuh hari Minggu (10/3) lalu, menewaskan 157 orang di dalamnya.

Ini merupakan kecelakaan kedua model pesawat yang sama dalam kurang dari lima bulan, setelah pesawat Lion Air jatuh Oktober 2018.

Bandara Changi di Singapura adalah bandara keenam tersibuk di dunia dan merupakan hub yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Amerika Serikat. Namun, hanya sejumlah kecil kecil pesawat seri Max yang keluar masuk negara itu.

Sementara itu, tidak ada maskapai Australia yang memiliki Boeing 737 Max, dan hanya dua maskapai asing yang menggunakan pesawat itu untuk rute Australia yaitu SilkAir dan Fiji Airways.

Shane Carmody, pejabat keselamatan penerbangan di Civil Aviation Safety Authority, Australia, mengatakan suspensi ini akan terus dterapkan sembari menunggu informasi untuk mereview risiko keselamatan.

Sejumlah maskapai dan regulator di berbagai belahan dunia telah mengandangkan model Max 8 menyusul kecelakaan tersebut. Korea Selatan sudah meminta Eastar Jet, satu-satunya maskapai di negara itu yang memiliki Max 8, untuk mengandangkan pesawatnya mulai Rabu (13/3/2019) besok.

Otoritas penerbangan Singapura mengatakan maskapai yang terdampak termasuk SilkAir, yang memiliki enam pesawat Boeing 737 Max 8, China Southern Airlines, Garuda Indonesia, Shandong Airlines, dan Thai Lion Air.

Di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA) menyampaikan ke para maskapai, Senin (11/3), bahwa Boeing 737 Max 8 laik terbang terlepas dari dua kecelakaan tersebut.

Mengenal Boeing 737 Max
Armada pesawat Boeing 737 Max adalah barisan model terakhir dari keluarga 737 yang sangat sukses. Model ini termasuk Max 7, 8, 9 dan 10.

Pada akhir Januari 2019, Boeing telah mengirim 350 pesawat Max 8 dari total pesanan 5.011 unit. Sejumlah kecil Max 9 juga sudah beroperasi.

Model Max 7 dan 10 belum ada pengiriman, masih menunggu peluncuran beberapa tahun lagi.

Max 8 yang jatuh hari Minggu lalu adalah satu dari 30 pesawat serupa pesanan Ethiopian Airlines. Pada 4 Februari, pesawat itu sudah menjalani pemeriksaan menyeluruh dipicu oleh kecelakaan pesawat serupa milik Lion Air Oktober 2018, kata maskapai tersebut.

Pada kasus Lion Air, para penyidik mengatakan pilot pesawat naas itu kesulitan dengan sistem otomatis yang mencegah pesawat kehilangan daya angkat, fitur terbaru pada jet tersebut.

Belum jelas apakah sistem anti-stall itu juga menjadi penyebebab kecelakaan hari Minggu.



Sumber: BBC

Ditjen Hubud Inspeksi Boeing 737 Max 8 di Bandara Soetta


Jaja Suteja / Thresa Sandra Desfika / JAS
Selasa, 12 Maret 2019 | 16:06 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) hari ini telah melakukan inspeksi pada pesawat Boeing 737 Max 8 di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Total pesawat Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia sebanyak 11 unit, 10 unit dimiliki oleh maskapai Lion Air dan 1 dimiliki oleh maskapai Garuda Indonesia.

Inspeksi dilakukan untuk memastikan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia dalam keadaan laik terbang. “Inspeksi yang dilakukan oleh Inspektur dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, untuk memastikan bahwa pesawat Boeing 737 Max 8 di Indonesia laik terbang,“ kata Dirjen Hubud Polana B Pramestri dalam siaran pers, Selasa (12/3/2019).

Kegiatan inspeksi oleh para inspektur penerbangan dimulai sejak Selasa (12/03/2019) diawali dengan melakukan pengecekan langsung pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Garuda Indonesia yang sedang berada di hanggar komplek Garuda Maintenance Facilities.

Hal senada disampaikan oleh Vice President Airworthiness Garuda Indonesia, Purnomo. "Pengecekan kali ini memastikan sistem air speed, altitude, dan angle of attack beroperasi dengan baik, jika ada temuan kita akan langsung tindak lanjuti. Sementara untuk pesawat Boeing 737 Max 8 kita grounded sampai menunggu arahan Dirjen Perhubungan Udara," papar Purnomo.

Sementara maskapai Lion Air yang memiliki 10 pesawat jenis pesawat Boeing 737 Max 8 , menjelaskan bahwa pesawat jenis Boeing 737 Max 8 sedang berada di beberapa lokasi, yaitu enam berada di Bandar Udara Soekarno-Hatta, dua di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, satu di Bandar Udara Hasanuddin, dan satu di Bandar Udara Sam Ratulangi, semua dalam keadaan tidak beroperasi sesuai instruksi Dirjen Perhubungan Udara.

"Merespons instruksi dari Dirjen Perhubungan Udara untuk melakukan pengecekan terhadap seluruh pesawat jenis Boeing 737 Max 8 yang ada di Indonesia, sekaligus melaksanakan rekomendasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait kejadian yang menimpa PK-LQP. Saat ini kami sudah melarang pengoperasian pesawat tersebut , dan dua pesawat yang berada di Bandar Udara Soekarno-Hatta sedang dalam proses pengecekan oleh para inspektur dari DKPPU," ujar Managing Director Lion Air Group, M Rusli.



Sumber: Beritasatu.com/PR