Gelombang Pertama Belum Lewat
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Home > Fokus > Gelombang Pertama Belum Lewat

Waspada, Indonesia Belum Lewati Gelombang Pertama Covid-19

Senin, 10 Mei 2021 | 00:44 WIB
Oleh : Tim BeritaSatu / Heru Andriyanto

Jakarta, Beritasatu.com - Ada alasan kuat kenapa pemerintah kembali melarang mudik tahun ini. Wabah Covid-19 masih menunjukkan tren mengkhawatirkan dan belum ada penurunan jumlah kasus harian yang drastis sejak kasus pertama dikonfirmasi pada 2 Maret 2020.

Memang dibandingkan puncak pada Desember-Februari, kasus harian sekarang lebih rendah berkisar antara 4.000 sampai 6.000-an. Namun, angka itu juga menjadi bukti bahwa tingkat penularan masih intens dan tidak ada tanda-tanda kurva kasus akan menjadi rata.

"Kita perlu melihat sejak April hingga hari ini belum juga flat. Bahkan ada kecenderungan naik," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi awal pekan ini.

Dengan kata lain, gelombang pertama Covid-19 di Indonesia belum juga berlalu dan tidak ada kepastian apakah kita bisa mencegah munculnya gelombang kedua dan seterusnya sampai angka vaksinasi mencapai paling tidak 70% dari populasi.

Sampai saat ini baru sekitar 5% penduduk yang telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19.

Ketika sebagian besar masyarakat masih menunggu giliran vaksinasi, sejumlah varian baru virus Covid-19 muncul di berbagai negara dengan sifat yang lebih mudah menular dan dikhawatirkan bisa mengalahkan vaksin yang ada sekarang.

Bahkan varian-varian baru ini menjadi tipe dominan yang memicu gelombang kedua atau ketiga di sejumlah negara di Eropa, Amerika Latin, Asia, dan Afrika.

Ini perkembangan lain yang menjadi kendala serius dalam upaya bersama untuk membendung dan menghentikan laju penularan.

Pada 3 Mei 2021, Indonesia mengonfirmasi 13 kasus Covid-19 varian mutasi virus dari Inggris (B.1.1.7), dua kasus varian dari India (B.1.617), dan satu kasus varian dari Afrika Selatan (B.1.351).

Varian-varian tersebut menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena terbukti lebih mudah menular dibandingkan virus yang orisinil.

Berkaca dari India
Saat ini, negara yang paling parah dihantam Covid-19 adalah India. Banyak pakar mengatakan penyebab utama peningkatan kasus yang drastis di India adalah kampanye politik dan perayaan keagamaan yang dibiarkan berlangsung seperti tidak ada wabah.

Selain itu, India menjadi lengah karena periode akhir tahun 2020 hingga Februari terjadi penurunan kasus yang sangat tajam dibangdingkan puncaknya sekitar bulan September-November.

Jumlah kasus harian pada Januari-Februari anjlok di bawah 20.000 dibandingkan lebih dari 90.000 kasus per hari di bulan September 2020.

Perdana Menteri Narendra Modi lalu menyatakan Covid-19 sudah dikalahkan. Meskipun dia tetap mengimbau penggunaan masker dan jaga jarak, tetapi dalam kampanye politik di lima negara bagian dia terus berpidato di depan massa yang kebanyakan tidak bermasker.

Lalu ada perayaan Hindu, Kumbh Mela, yang menyedot jutaan peserta dan dibiarkan berlangsung.

Sikap lengah dan jemawa ini membuat India sekarang menjadi episentrum baru pandemi global Covid-19.

Dan kemudian situasi memburuk sehingga wabah Covid di India menjadi krisis kesehatan yang penuh kekacauan karena beberapa hal berikut:
- kurangnya pasokan oksigen medis
- kurangnya daya tampung rumah sakit
- munculnya varian Covid baru yang lebih menular.

Secara nasional, satu dari lima orang yang menjalani tes diagnostik dinyatakan positif Covid, seperti itulah gambaran dahsyatnya gelombang kedua di India.

Indonesia pernah mengalami situasi seperti di India meskipun dalam skala yang lebih kecil.

Pada Desember 2020 digelar pemilihan kepala daerah di sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Setelah itu disusul libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Beruntung kita tidak terlalu lengah karena kampanye politik terbuka dilarang, protokol kesehatan berlaku ketat di tempat pemungutan suara, dan perjalanan antar-kota/provinsi selama libur akhir tahun dibatasi.

Tetap saja kasus harian di Indonesia melonjak pada periode Desember 2020-Februari 2021, tetapi tidak separah di India. Beberapa calon kepala daerah dan juga kepala daerah terpilih terinfeksi Covid, bahkan ada yang sampai meninggal.

Tidak terhitung masyarakat biasa yang terinfeksi dari 'klaster' pilkada dan libur akhir tahun.

Maka ketika datang Ramadan dan sebentar lagi Idulfitri -- hari libur keagamaan terbesar di Indonesia -- pemerintah tanpa ragu mengambil langkah cepat untuk melarang mudik.

Gelombang Pertama
Meskipun Indonesia sudah melewati "puncak pertama" kasus Covid-19 pada Desember 2020-Februari 2021, tetapi secara statistik dasar kurva belum terlihat.

Periode bulan ini angka harian bahkan cenderung naik, meskipun relatif landai. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa gelombang pertama Covid belum kita lewati.

Berbeda dengan India yang jelas terlihat penurunan tajam dari puncak pertama di bulan September 2020, hingga kembali mendaki tajam ke puncak baru bulan ini, atau gelombang kedua.

Perbandingan dengan negara lain bisa terlihat dalam infografis berikut ini:

Gelombang Kedua
Yang juga patut diwaspadai, gelombang kedua wabah Covid di satu negara bisa menular ke negara-negara tetangga. Hal itu juga terlihat masih dalam kasus di India.

Sejumlah negara yang berbatasan langsung dengan India juga mencatat kenaikan kasus harian Covid-19, meskipun dengan trajektori yang berbeda.

Yang paling mengkhawatirkan adalah Nepal, di mana kurvanya sangat mirip dengan India, meskipun berbeda skala.

April lalu, empat dari 10 orang yang menjalani tes diagnostik di Nepal dinyatakan positif Covid.

Nepal memiliki perbatasan darat dengan India sejauh 1.880 kilometer dan banyak orang menyeberangi perbatasan untuk urusan bisnis, wisata, atau keperluan keluarga. Baru pada 1 Mei lalu Nepal menutup 20 pintu perbatasan dengan India.

Berikutnya adalah Sri Lanka, yang juga melaporkan tren kenaikan mirip dengan India. Sri Lanka sekarang melarang perayaan keagamaan dan melarang perjalanan dari India.

Selain itu, lonjakan kasus di negara-negara tetangga India, termasuk juga Pakistan dan Bangladesh, juga dipicu oleh varian baru yang terdeteksi di India dan Inggris.

Berkaca dari situasi regional saat ini, Indonesia harus berusaha keras untuk segera mengakhiri gelombang pertama Covid dan mencegah gelombang kedua, atau kalau di India banyak disebut sebagai "tsunami Covid".

Program vaksinasi massal yang dirintis sejak 13 Januari akan sia-sia kalau varian baru yang tahan vaksin menjadi tipe dominan yang menyerang di sini.

Indonesia tidak boleh lengah, apalagi jemawa, karena sudah terbukti di negara lain sikap seperti itu akan mengundang bukan hanya gelombang kedua, tetapi tsunami Covid.



Menkes: Jangan Lengah

Jumat, 23 April 2021 | 15:34 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / Irawati Diah Astuti

Jakarta, Beritasatu.com Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia sudah berhasil menurunkan kasus Covid-19 lewat program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan vaksinasi.

Meskipun dinilai sukses, Menkes meminta pemerintah daerah jangan lengah dan tidak terburu-buru melonggarkan PPKM Mikro. Apalagi setelah melihat pengalaman lonjakan kasus Covid-19 di India.

Menkes mengatakan, India juga mengalami penurunan kasus cukup drastis sejak September 2020 karena adanya program vaksinasi massal dan pembatasan kegiatan. Namun, angka kasus tiba-tiba naik pesat setelah dilakukan pelonggaran terlalu cepat, termasuk diizinkannya festival keagamaan dan kampanye pemilu.

“Tugas kita bersama agar jangan mengulangi seperti terjadi di India. Lebih baik kita waspada sejak awal. Rumusnya sama, terapkan saja PPKM Mikro yang sudah terbukti bagus dan tidak usah terburu-buru melonggarkan dari standar PPKM Mikro sebelumnya,” kata Budi dalam media gathering Perkembangan Perekonomian Terkini serta Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), Jumat (23/4/2021).

Menkes mengingatkan terjadi tren peningkatan kasus sejak liburan Paskah dua minggu lalu. Dia menyebut kenaikannya baru sedikit, tetapi semua pihak harus berhati-hati dalam melihat tren tersebut.

“Teman-teman bisa merasakan sendiri saat PPKM mikro bagaimana mobilitas di jalan. Kalau sudah berbeda, kita tahu itu sudah berlebihan. PPKM mikro sudah melonggar,” ujarnya.

Menkes mengatakan, tren kenaikan kasus Covid-19 terlihat di rumah sakit (RS) pemerintah di Sumatera sejak April lalu terutama setelah liburan Paskah. Meskipun kenaikan masih relatif kecil, tapi harus menjadi kewaspadaan bersama agar protokol kesehatan tidak kendur.

Berdasarkan data 22 April 2021, Menkes menyebut kasus konfirmasi di Indonesia setelah liburan Paskah yaitu sekitar 2,67% dengan jumlah kasus harian per 2 April 2021 sebanyak 6.243. Menkes mengatakan sejumlah provinsi lain juga menunjukkan tren kenaikan, seperti Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Namun, angka bed occupancy ratio (BOR) masih di bawah atau belum terjadi kekurangan tempat tidur di RS.

Terkait kasus di India, selain pelonggaran protokol kesehatan, Menkes menyatakan penyebab lonjakan kasus karena kecenderungan peningkatan mutasi baru varian yang masuk sebagai variant of concern WHO yaitu B117 (Inggris), B1351 (Afrika Selatan), dan P1 (Brasil).

Selain itu, terjadi kecenderungan peningkatan varian B1617 yang membawa mutasi di dua titik yang diduga dapat membuat virus lebih infeksius atau resisten terhadap vaksin.



75,9 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Telah Diterima Indonesia dalam 12 Tahap

Sabtu, 8 Mei 2021 | 16:20 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / Irawati Diah Astuti

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia sejauh ini telah menerima total sebanyak 75.910.500 dosis vaksin Covid-19 yang tiba dalam 12 tahap kedatangan. Vaksin Covid-19 datang baik dari jalur bilateral maupun multilateral (Covax Facility).

Pada Sabtu (8/5/2021), Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyambut langsung kedatangan vaksin tahap ke-12 yang merupakan vaksin Covid-19 dari skema multilateral. Jumlahnya adalah 1.389.600 dosis vaksin Astrazeneca.

Menlu mengatakan, Indonesia patut bersyukur atas tambahan vaksin multilateral Astrazeneca hari ini. Pasalnya, dua hari lalu, Kamis (6/5/2021), Indonesia juga menerima vaksin multilateral Astrazeneca sebanyak 55.300 dosis. Artinya, jumlah vaksin multilateral yang telah diterima Indonesia dalam sepekan sebanyak 1.444.900 dosis vaksin jadi Astrazeneca.

Sedangkan, jika ditotal, jumlah vaksin Covid-19 dari jalur Covax Facility yang telah tiba di Indonesia adalah 6.410.500 dosis vaksin jadi.

Menlu memperinci 75,9 juta vaksin Covid-19 yang telah diterima Indonesia terdiri dari vaksin Sinovac sebanyak 68,5 juta dosis, vaksin Astrazeneca dari Covax Facility sebanyak 6,41 juta dosis, dan vaksin Sinopharm sebanyak 1 juta dosis.

Sebagai informasi, berikut ini 12 tahap kedatangan vaksin Covid-19 yang diterima Indonesia baik dalam bentuk bahan baku (bulk) atau vaksin jadi:

1. Vaksin Sinovac tiba pada 6 Desember 2020 sebanyak 1,2 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

2. Vaksin Sinovac tiba pada 31 Desember 2020 sebanyak 1,8 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

3. Vaksin Sinovac tiba pada 12 Januari 2021 sebanyak 1,5 juta dosis bentuk setengah jadi dan 15 juta dosis bahan baku.

4. Vaksin Sinovac tiba pada 2 Februari 2021 sebanyak 1 juta dosis dalam bentuk setengah jadi dan 10 juta dosis bahan baku.

5. Vaksin Sinovac tiba pada 2 Maret 2021 sebanyak 10 juta dalam bentuk bahan baku.

6. Vaksin Astrazeneca tiba pada 8 Maret 2021 sebanyak 1.113.600 dosis.

7. Vaksin Sinovac tiba pada 25 Maret 2021 sebanyak 16 juta dalam bentuk bahan baku.

8. Vaksin Sinovac tiba pada 18 April 2021 sebanyak 6 juta dalam bentuk bahan baku.

9. Vaksin Astrazeneca tiba pada 24 April 2021 sebanyak 3.852.000

10. Vaksin Sinovac dan Sinopharm tiba pada 30 April sebanyak 6 juta bulk vaksin Sinovac dan 482.400 dosis vaksin Sinopharm dalam bentuk jadi.

11. Vaksin Sinopharm tiba pada 1 Mei 2021 sebanyak 500.000 dosis vaksin jadi.

12. Vaksin Astrazeneca tiba pada 8 Mei 2021 sebanyak 1.389.600 dosis vaksin jadi.

Angka ini belum ditambah vaksin Astrazeneca yang diterima Indonesia terlebih dulu pada 6 Mei 2021 sebanyak 55.300 dosis vaksin jadi.



Jemawa, dan India Pun Kembali Disergap Covid

Selasa, 20 April 2021 | 00:46 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / Heru Andriyanto

Beritasatu.com – Pada awal Maret, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan mengumumkan negaranya sudah dalam “tahap akhir” perang melawan pandemik Covid-19.

Vardhan tidak lupa memuji kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang disebutnya sebagai "teladan bagi kerja sama internasional di dunia". Sejak awal Januari memang India sudah mulai mengekspor vaksin ke negara-negara lain yang mereka sebut sebagai "diplomasi vaksin ".

Optimisme Vardhan bertolak dari penurunan tajam kasus-kasus infeksi baru. Sejak masa puncak yang rata-rata mencapai di atas 93.000 kasus per hari pada pertengahan September, jumlah kasus harian terus anjlok. Pertengahan Februari, rata-rata kasus harian turun ke 11.000. Selain itu, rata-rata korban jiwa Covid-19 juga turun di bawah 100 per hari.

Euforia bahwa Covid sudah dikalahkan mulai muncul sejak akhir 2020. Para politisi, pembuat kebijakan, dan sejumlah media meyakini bahwa India sudah benar-benar mengentaskan diri dari wabah Covid.

Pada Desember, para pejabat bank sentral India mengumumkan bahwa kurva infeksi Covid sudah berhasil ditekuk. Dengan bahasa puitis mereka mengatakan perekonomian India “sedang melepaskan diri dari bayangan gelap musim dingin menuju tempat penuh cahaya matahari". Mereka juka menjuluki Modi sebagai "guru vaksin ".

Pada akhir Februari, Komisi Pemilihan Umum India menegaskan akan menggelar pemilu legislatif di lima negara bagian dengan total 186 juta pemilik suara untuk memilih 824 wakil di DPRD.

Proses pemilu daerah ini berlangsung selama satu bulan dimulai sejak 27 Maret. Di negara bagian seperti Bengal Barat, ada delapan tahapan pemilu. Kampanye juga diizinkan berjalan maksimal, tanpa protokol kesehatan dan aturan jaga jarak.

Pada pertengahan Maret, dua pertandingan kriket persahatan India versus Inggris membolehkan 130.000 penonton hadir di Stadion Narendra Modi di Gujarat, sebagian besar tidak memakai masker.

Berbalik
Tidak sampai sebulan, situasi berbalik. India mengalami serangan gelombang kedua yang jauh lebih parah dari yang pertama, sehingga banyak kota dipaksa menutup diri.

Pertengahan April, rata-rata kasus harian mencapai 100.000. Hari Minggu (18/4/2021) lalu, rekor baru pecah dengan 270.000 kasus dan 1.600 korban jiwa – dalam sehari!

Kalau tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan, jumlah korban jiwa harian akibat Covid-19 bisa melampaui 2.300 di pekan pertama Juni nanti, menurut proyeksi The Lancet Covid-19 Commission.

Maka India sekarang berada dalam status darurat kesehatan masyarakat. Jagat media sosial penuh dengan video penguburan korban Covid di pemakaman yang sudah penuh sesak, kerabat yang berduka di halaman rumah sakit, antrean panjang ambulan berisi pasien, kamar jenazah yang melebihi kapasitas, dan para pasien yang memenuhi koridor dan lobi rumah sakit. Sejumlah foto menunjukkan ada dua pasien yang terpaksa berbagi satu ranjang.

Permintaan ranjang rumah sakit, obat, dan tabung oksigen melonjak. Obat-obatan marak dijual di pasar gelap dan prosedur tes butuh berhari-hari sebelum hasilnya diumumkan.

"Mereka tidak mengabarkan sampai tiga jam bahwa anak saya ternyata sudah meninggal," seorang ibu bicara di video sambil duduk di ruang ICU.

Program vaksinasi massal yang sebelumnya begitu masif mulai limbung. Di awal, peluncuran vaksin buatan dalam negeri diwarnai kontroversi terkait tingkat efikasi yang rendah. Sampai dengan pekan lalu, India sudah menyuntikkan 100 juta dosis vaksin.

Namun, pasokan menjadi masalah saat ini. Serum Institute of India, produsen vaksin terbesar di dunia, mengakui tidak akan bisa meningkatkan produksi sampai akhir Mei karena kekurangan dana.

India juga menangguhkan ekspor vaksin di bawah lisensi Oxford-AstraZeneca karena kebutuhan dalam negeri melonjak drastis, dan bahkan mulai membuka pintu impor. Tabung oksigen juga saat ini harus diimpor.

Sementara itu, pertandingan kriket tetap digelar diam-diam setiap malam. Puluhan ribu orang mengikuti pemimpin mereka untuk ikut kampanye politik dan menghadiri perayaan Hindu, Kumbh Mela.

Para pakar meyakini bahwa pemerintah India betul-betul kehilangan kewaspadaan ketika gelombang kedua Covid mulai siap melanda.

Pada akhir Februari, BBC memberitakan adanya lonjakan kasus dan bertanya apakah India di ambang gelombang kedua.

"Kami tidak tahu apa penyebab lonjakan ini. Yang paling mengkhawatirkan adalah seluruh anggota keluarga bisa terinfeksi. Ini benar-benar tren yang baru," kata Shyamsunder Nikam, seorang dokter di distrik Maharashtra yang dilanda lonjakan kasus baru.

Arogansi
Semua sesumbar India yang menyebutkan bisa melawan Covid karena populasi anak muda, imunitas lokal, dan populasi di pedesaan yang tidak terlalu padat -- terbukti terlalu dini.

"Ini sangat khas India, kombinasi antara arogansi pejabat, nasionalisme berlebihan, sikap populis, dan birokrasi yang tanpa kompetensi mendorong lahirnya krisis ini," tulis kolumnis Bloomberg, Mihir Sharma.

Gelombang kedua Covid-19 di India juga dipicu oleh sikap masyarakat yang mulai meremehkan. Mereka tetap hadir di resepsi perkawinan atau pertemuan sosial. Selain itu pemerintah memberi pesan yang kerap campur aduk, dengan membolehkan kampanye politik dan perayaan keagamaan.

Ketika angka kasus menurun, jumlah orang yang bersedia divaksin juga ikut turun sehingga menghambat program vaksinasi massal, yang menargetkan 250 juta orang untuk tahap sampai akhir Juli.

Bhramar Mukherjee, pakar biostatistik di University of Michigan, pernah bercuit bahwa India perlu mempercepat program vaksinasi justru ketika angka kasus mulai turun, tetapi tidak ada yang menggubrisnya.

"Saat itu sedang berkobar semangat telah menang," kata Srinath Reddy, presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India.

"Sebagian orang mereasa kami telah meraih imunitas kelompok. Semua orang ingin kembali bekerja. Narasi seperti ini menjalar ke banyak telinga sehingga beberapa saran untuk tetap waspada tidak dibutuhkan lagi,” paparnya.




BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS